
Ny. Marilyn mengadakan pesta menyambut kembalinya Allena bekerja. Saat jam kerja habis, mereka bersama-sama datang ke sebuah Night Club untuk bersenang-senang. Allena ikut menikmati acara itu dengan gembira. Salah seorang crew bercerita lucu seperti seorang komika. Allena ikut tertawa saat mendengar cerita lucunya. Sesekali wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Namun, kali ini pandangannya terpaku lama, senyumnya yang mengembang langsung menghilang. Mata Allena berubah sayu saat melihat Zefran yang sedang berbincang akrab dengan seorang wanita.
Zefran bahkan menyentuh tangan wanita itu seperti menyelipkan sebuah cincin di jari manisnya lalu memandang tangan wanita itu sambil tersenyum. Sampai di titik ini Allena tak sanggup lagi menatap mereka. Allena memutuskan untuk segera pulang.
Awalnya semua karyawan menghalangi Allena untuk pulang. Mereka kecewa karena ini adalah acara untuk menyambut kehadirannya lagi di perusahaan. Namun, Ny. Marilyn mengizinkan wanita itu pulang lebih dulu seperti yang telah dijanjikannya.
Allena meminta maaf pada semua yang hadir di situ dan wanita itu pun diizinkan pulang lebih awal. Allena ingin segera keluar dari ruangan yang tiba-tiba terasa pengap baginya.
Sesampainya di belakang kemudi mobilnya Allena menangis. Bayangan suaminya yang menyelipkan sebuah cincin di jari wanita lain membuat Allena tak sanggup menyalakan mesin mobilnya. Wanita itu hanya duduk menunduk di belakang kemudi itu dengan tangan yang gemetar.
Sekian lama menangis akhirnya wanita itu berhasil menenangkan diri. Allena mencoba menyalakan mesin mobilnya dan perlahan berlalu meninggalkan gedung itu. Di saat yang sama Zefran juga telah berada di belakang kemudi. Sekilas menatap mobil yang mirip dengan mobil istrinya.
Zefran menepis prasangka kalau istrinya baru saja meninggalkan gedung itu padahal hari telah malam. Namun, saat menatap nomor plat kendaraan itu, Zefran yakin kalau Allena memang baru saja lewat menggunakan mobil itu.
Segera Zefran memacu mobilnya mengejar mobil Allena. Tak butuh waktu lama mobil Zefran telah melaju mengiringi mobil istrinya. Allena akhirnya menyadari mobil Zefran berada di belakangnya namun wanita tak peduli. Dengan air mata yang mengalir wanita itu memasuki garasi dan memarkirkan mobilnya di sana.
Segera Allena melangkahkan kakinya ke dalam rumah tak pedulikan Zefran yang juga telah memarkirkan mobilnya di sana. Namun tiba-tiba Zefran meraih lengan Allena, membuat langkah wanita itu tertahan dan terpaksa menatap wajah suaminya.
"Dari mana kamu? Apa yang kamu lakukan di gedung itu?" tanya Zefran dengan emosi.
Zefran yakin kalau Allena telah mengetahui dirinya mengikuti mobil istrinya itu. Namun Allena bersikap tak acuh saat akan masuk ke dalam rumah.
"Jawab! Kamu dari mana? Seorang ibu pulang jam segini? Apa kamu tidak memikirkan bayimu?" tanya Zefran dengan menghentakkan lengan Allena yang digenggamnya.
Allena menatap mata suaminya dengan air mata yang mulai mengalir.
"Ya, ibu macam apa aku ini? Pulang jam segini dan tidak memikirkan keluargaku hingga memilih bersenang-senang di sebuah Night Club," jawab Allena pelan dengan air mata yang telah mengalir pelan di pipinya seolah-oleh air mata itu sengaja menampakkan dirinya di hadapan Zefran.
"Allena, apa yang kamu lakukan di Night Club?" tanya Zefran mulai melunak karena menatap mata istrinya yang telah bersimbah air mata.
"Bersenang-senang! Seperti yang juga Kakak lakukan di sana, bersenang-senang!" seru Allena.
"Apa maksudmu?" tanya Zefran lagi.
"Lepaskan tanganku, aku ingin menemui anakku!" seru Allena.
"Aku tanya apa maksud ucapanmu? Bersenang-senang sepertiku? Di Night Club? Apa maksudmu?" tanya Zefran heran.
Zefran merasa tidak yakin Allena menjadi wanita yang seperti itu. Bersenang-senang bukanlah seperti Allena yang dikenalnya. Allena tak menjawab, hanya diam menatap suaminya dengan tatapan mata yang tajam. Sesaat kemudian barulah Zefran mengerti apa maksud ucapan Allena. Laki-laki itu langsung memeluk istrinya.
"Kamu pasti salah paham, kamu melihatku di Night Club itu? Dengan seorang wanita?" tanya Zefran.
Mendengar ucapan Zefran, Allena kembali membayangkan kejadian yang terpampang jelas di depan matanya. Air mata Allena semakin deras mengalir. Zefran membelai lembut rambut istrinya.
"Jangan menangis! Kamu salah paham sayang," ucap Zefran masih tetap membelai rambut Allena.
Namun ucapan Zefran bukannya membuat Allena berhenti menangis. Tapi justru membuat wanita itu semakin menangis hingga tersedu-sedu. Zefran jelas seperti melamar seorang gadis dan Zefran memintanya untuk tidak menangis. Allena merasa permintaan Zefran itu sangat keterlaluan.
Zefran menangkup wajah istrinya.
"Gadis itu adiknya Altop, kalau aku macam-macam dengan adiknya, aku bisa dibunuh oleh ketiga orang itu. Lagi pula mereka sangat menyayangimu, jika aku menyakitimu, mereka duluan yang akan protes padaku," ucap Zefran sambil tersenyum.
Kata-kata yang tidak lucu bagi Allena.
"Kenapa? Mereka juga menyayangi Kak Frisca tapi apa mereka protes saat Kakak menikah lagi?" tanya Allena.
"Tentu saja mereka protes, makanya aku menutupi pernikahanku denganmu," ucap Zefran.
"Kalau begitu, Kakak juga bisa menutupi pernikahan Kakak lagi," ucap Allena.
"Siapa yang akan menikah lagi?" tanya Zefran.
Pertanyaan yang percuma bagi Allena, jelas-jelas melihat Zefran melamar wanita itu dengan menyelipkan cincin di jari manisnya. Allena tak mau menjawab pertanyaan itu dan hanya memalingkan wajahnya.
Zefran kembali mengarahkan wajah wanita cantik itu ke hadapannya.
"Aku tidak melamarnya, aku hanya ingin membuktikan seberapa cantik cincin yang baru saja di promosikannya. Dia itu pemburu perhiasan, hobby mengoleksi berlian, dia mengerti seluk beluk batu permata itu dan membantuku memesan pada pedagang berlian khusus eksklusif dan limited edition. Tadinya ingin aku berikan padamu saat resepsi pernikahan kita nanti. Tapi daripada gara-gara itu aku kehilangan kamu, aku akan memberikan padamu sekarang sebagai bukti kalau aku tidak melamarnya tapi justru membelikannya untukmu," ucap Zefran yang langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak cincin.
Zefran membuka kotak itu dan menampilkan sebuah cincin berlian yang sangat indah dengan kilauannya yang bersinar memantulkan cahaya lampu. Allena terpaku, tidak hanya karena indahnya kilau permata itu namun juga karena kenyataan yang terjadi tak seperti dugaannya.
__ADS_1
"Aku tidak akan mengkhianatimu demi apa pun. Bagiku kamu sudah cukup, aku tidak butuhkan yang lain lagi. Jadi, jangan pernah berpikir kalau aku akan menduakanmu. Apa kamu mengerti? Istriku yang sangat aku cintai?" tanya Zefran sambil tersenyum.
Allena ikut tersenyum, mendengar penjelasan Zefran hatinya langsung lega.
"Makanya jangan asal tuduh, kamu harus diberi hukuman karena seenaknya menuduhku," ucap Zefran.
"Apa hukumannya?" tanya Allena sambil tersenyum.
"Malam ini kamu harus melayaniku," ucap Zefran sambil mengecup bibir istrinya.
"Tanpa dihukum pun aku tetap melayani Kakak," balas Allena.
"Tapi kali ini harus memberikan layanan yang spesial," ucap Zefran.
"Aah, aku tidak mengerti, aku tidak ahli memberikan layanan yang spesial," balas Allena lalu memalingkan wajahnya.
"Kamu sendiri adalah spesial, menyerahkan dirimu sendiri sudah merupakan layanan spesial bagiku. Apa lagi kalau semalaman itu lebih spesial lagi," ucap Zefran kembali menangkup wajah istrinya.
Mendengar ucapan laki-laki itu, Allena tersenyum manis.
"Membayangkan saja aku sudah tidak tahan kenapa kamu tambah dengan senyum manismu itu? Aku semakin tidak kuat menahannya," ucap Zefran sambil menarik tangan istrinya masuk ke dalam rumah dan langsung ke kamar mereka.
Tak butuh waktu lama, mereka telah tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Tak peduli lagi dengan apa pun yang barusan terjadi. Hanya desah nafas mereka yang terdengar silih berganti.
"Aku mencintaimu Allena," ucap Zefran seperti biasa saat mereka telah mencapai puncaknya.
Allena diam, hanya tangannya yang masih memeluk laki-laki itu memohon agar laki-laki tampan itu tetap di posisinya. Zefran mengecup leher Allena, wanita itu membalas dengan mencium pipi suaminya. Zefran tersenyum.
Allena merenggangkan pelukannya dan berterima kasih pada suaminya. Zefran pun melepaskan pelukannya dan rebah di samping Allena. Nafas mereka masih terdengar kencang.
Zefran menarik tubuh polos istrinya mendekat ke arahnya. Zefran mencium puncak rambut istrinya, sementara Allena mengecup otot dada suaminya lalu rebah bertumpu di dada laki-laki itu.
"Aku mendengar jantung Kakak yang berdebar kencang," ucap Allena yang mendengar debaran jantung suaminya.
"Oh ya? Apa aku boleh mendengar debar jantungmu juga?" tanya Zefran.
"Boleh, dengarlah!" ucap Allena yang masih menempelkan telinganya di dada laki-laki itu.
"Iih, dasar pemalas!" ucap Allena.
Zefran tertawa lalu kembali merebahkan wanita cantik itu. Zefran kembali di posisi atas istrinya.
"Maunya di bawah terus wanita cantik satu ini," ucap Zefran yang kemudian menempelkan telinganya di dada istrinya. Allena tertawa.
"Masih terdengar? Apa berdebar juga?" tanya Allena.
"Masih, aku rasa jantungmu selalu berdebar sejak bertemu laki-laki tampan ini," ucap Zefran.
"Apa maksudnya itu?" tanya Allena sambil tertawa.
"Aku rasa kamu sengaja jatuh dalam pelukanku karena jantungmu berdebar setiap kali melihatku datang ke Night Club itu," ucap Zefran masih terus menempel telinganya di dada Allena.
"Percaya diri yang terlalu tinggi," ucap Allena. Zefran tertawa.
Laki-laki itu bangkit dan menatap istrinya sambil menyisir helaian rambut wanita cantik itu dengan jemarinya.
"Aku tidak percaya diri sayang," ucap Zefran masih menyisir rambut Allena.
Wanita itu menunggu ucapan laki-laki itu selanjutnya.
"Karena itu aku masih cemas memikirkanmu yang akan pergi ke Paris bersama Robert Daniel …"
"Kalau bersama Robert Pattinson?" tanya Allena tersenyum sendiri.
"Aku lebih tampan darinya tapi tetap saja aku tidak percaya diri," jawab Zefran.
"Sebenarnya aku juga tidak percaya diri melihat Kakak bersama wanita mana pun. Aku selalu takut Kakak lupa padaku, lupa dengan seorang wanita yang bernama Allena," ucap Allena pelan.
"Tidak mungkin, aku tidak akan mungkin lupa padamu. Justru setiap kali bersama wanita lain otakku akan selalu mengingatkanku pada istriku. Itu juga sebabnya aku langsung mendorongmu saat pertama kali kita bertemu. Aku teringat istriku dan tubuhku akan langsung menolaknya. Tapi tak disangka gadis yang kutolak dulu justru sekarang selalu ingin aku peluk," ucap Zefran.
"Makanya, gadis yang ditolak saja bisa jadi gadis yang selalu ingin dipeluk bagaimana kalau yang tidak ditolak?" tanya Allena.
__ADS_1
"Tidak bisa, password-nya harus ditolak dulu baru dipeluk," ucap Zefran lalu tertawa.
Allena bangun dan duduk dihadapan suaminya, wanita itu langsung memeluk suaminya. Zefran balas memeluk tubuh polos itu dengan erat lalu mencium pangkal bahu wanita itu.
"Aku pikir aku akan kehilangan Kakak," ucap Allena pelan.
"Aku melepasmu, aku akan terpaksa melepas anak-anakku. Kerugian besar bagiku melepas kalian semua. Aku tidak akan mau melakukan kebodohan itu. Allena, mustahil bagiku meninggalkanmu, karena aku sendiri tidak mampu hidup tanpamu. Kamu seperti udara yang kuhirup, tanpamu aku tak akan bisa bernafas," ucap Zefran sambil terus mencium pangkal bahu wanita itu.
Allena memejamkan matanya, meresapi setiap ucapan suaminya. Wanita itu berjanji dalam hati akan berusaha menyakinkan hatinya kalau suaminya tak akan pernah meninggalkan dirinya. Mereka pun melanjutkan tidur sambil berpelukan dengan senyum yang tersungging di bibir mereka.
Keesokan harinya seperti biasa Allena menyiapkan setelan untuk suaminya bekerja.
"Kamu tidak ingin mengenakan cincin itu? Sini aku pasangkan untukmu," ucap Zefran.
"Nggak usah Kak, nanti saja. Jika memang untuk resepsi pernikahan kita. Biarlah nanti Kakak pasangkan saat itu," ucap Allena sambil menatap jari manisnya yang telah polos tanpa satu pun cincin di sana.
Wanita itu menghembuskan nafas berat, sambil terus menatap jari manisnya. Zefran tersenyum melihat tingkah istrinya.
"Kenapa menghembuskan nafas seperti itu?" tanya Zefran.
"Aku sedih, setelah sekian lama menemaniku. Akhirnya cincin itu hilang, cincin itu menjadi pengganti Kakak selama ini. Sekarang Kakak sudah di sisiku. Cincin itu pun hilang," ucap Allena masih terdengar hembusan nafas beratnya.
"Cincin pernikahan kita?" tanya Zefran yang dibalas dengan anggukan sedih oleh Allena.
"Aku dengar cincin itu yang menjadi senjatamu untuk menolak laki-laki yang ingin mendekatimu," ucap Zefran.
"Kakak tahu dari mana?" tanya Allena.
"Baca berita..," ucap Zefran lalu tertawa, Allena mengernyitkan keningnya.
"Robert Daniel, dia meyakinku kalau kamu tetap setia padaku meski banyak laki-laki yang mendekatimu," sambung Zefran. Allena mengangguk.
"Lalu di mana cincin itu?" tanya Zefran sambil tersenyum.
"Hilang, aku tidak tahu kapan hilangnya? Agak terhibur karena tidak diperlukan lagi untuk menolak laki-laki. Karena sekarang ada kakak di sampingku," jelas Allena.
Zefran tersenyum sambil merapikan dasinya.
"Cincin itu tidak hilang, tapi kamu buang," ucap Zefran.
"APA? Nggak mungkin aku membuangnya. Cincin itu jadi pelindungku selama ini. Cincin itu menemaniku menjalani hari-hariku. Jika aku teringat sama Kakak aku akan menatap cincin itu. Aku butuh cincin itu, mana mungkin aku membuangnya," protes Allena.
Zefran berjalan mendekati istrinya yang terlihat gusar.
"Kamu membuangnya di tengah-tengah meeting-ku," jawab Zefran.
"Apa?" tanya Allena heran mencoba mengingat-ingat.
Zefran menangkup wajah istrinya.
"Ya, mungkin karena emosi, kamu tak sadar melakukan itu. Kamu datang dan langsung membuangnya di tengah meeting-ku karena kesal dengan berita yang disebarkan oleh Frisca. Kamu berkata ingin bercerai dariku sambil melepas cincin itu dan membuangnya. Sampai-sampai Patrick mengancam para direksi dan manager. Mereka tidak boleh meninggalkan ruangan sebelum bisa menemukan cincin itu," jelas Zefran sambil tersenyum.
"Apa? Benarkah? Aku lupa, tidak! Aku tidak sadar telah melepasnya," ucap Allena.
"Dari situ aku sadar kalau semua bawahanku tak mengenalmu dan heran dengan status kita. Cincin itu akhirnya ditemukan setelah ke sana kemari mencari di ruangan meeting itu. Kamu adalah wanita satu-satunya yang membuat para direksi dan manager-ku harus berkeliaran sambil merangkak mencari cincin itu," jelas Zefran sambil tertawa.
"Benarkah? Mereka sampai melakukan itu? Ya ampun, aku bersalah pada mereka, pada orang yang bahkan tidak aku kenal," ucap Allena menyesal.
"Apa cincin ini masih berarti bagimu?" tanya Zefran sambil menunjukkan cincin pernikahan mereka di hadapan Allena.
Wanita itu terkejut hingga menempelkan kedua telapak tangannya ke pipi.
"Kakak menemukannya?" tanya Allena tak percaya.
"Mereka yang menemukannya. Karena itu kita harus undang mereka di resepsi pernikahan kita nanti," ucap Zefran yang dibalas dengan anggukan cepat oleh Allena.
Mata Allena berkaca-kaca saat Zefran kembali memasangkan cincin itu di jari manisnya. Allena langsung mengecup cincin di jari manisnya itu sambil memejamkan mata. Zefran kembali membuktikan ucapan Patrick bahwa apa pun yang pernah diberikan Zefran, meski itu karena terpaksa atau bahkan membuangnya, semua itu tetap berharga bagi Allena.
Zefran memang terpaksa menyelipkan cincin itu di jari manis Allena karena pernikahan mereka yang memang terjadi karena terpaksa. Namun kini laki-laki itu sadar dan ingin menunjukkannya dengan cincin yang baru.
Zefran ingin melakukannya bukan karena terpaksa tapi karena ingin menunjukkan cintanya pada Allena dan untuk menunjukkan bahwa dia ingin Allena selamanya menjadi miliknya.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...