
Valendino, laki-laki yang biasanya tak peduli pada wanita itu tertawa saat Allena akhirnya mau memakan brokoli di garpunya. Gadis itu melahap semua brokoli yang ada di piring Valendino. Setelah semua brokolinya habis barulah Valendino mulai menyantap makanannya.
"Tunggu tuan, garpunya diganti dulu dengan punyaku. Ini masih bersih," ucap Allena sambil menyodorkan garpu miliknya dengan kedua tangannya.
Valendino tersenyum namun tetap saja melahap makanan itu menggunakan garpunya sendiri. Allena tercengang, tidak terlihat kesan jijik bagi Valendino saat menyantap makanannya menggunakan garpu bekas dirinya.
Pemandangan yang sangat akrab itu tak luput dari tatapan mata Zefran, membuat Frisca heran karena beberapa kali dia bicara, Zefran seperti mengabaikannya. Frisca menoleh ke arah pandangan Zefran, Frisca terkejut saat melihat Allena menyantap sarapannya bersama Valendino.
"Itu…, itu bukannya Valen? Dia bersama Allena? Apa mereka saling mengenal? Di mana? Sejak kapan?" bertubi-tubi pertanyaan terlontar dari mulut Frisca.
Zefran tidak menjawab, laki-laki itu kembali sibuk menyantap makanannya namun tetap saja kadang-kadang mata itu melirik pada pasangan muda yang cantik dan tampan itu.
Valendino bertingkah sangat gentleman saat melihat sesuatu mengotori bibir Allena. Dengan senyum yang tak lepas dari mulutnya, Valendino mengusap sudut bibir gadis itu dengan ibu jarinya. Allena kikuk namun Valendino tidak peduli. Sementara Zefran menghembuskan napas berat.
Valendino menatap lembut wajah Allena yang menyantap makanannya dengan canggung. Valendino yang melihat Allena makan dengan tidak nyaman akhirnya berpura-pura sibuk menyantap makanannya.
"Siang ini aku ada pertemuan bisnis dengan rekan kerja. Setelah itu aku tidak punya acara apa-apa lagi, apa aku bisa menemuimu saat itu?" tanya Valendino.
"Oh itu, saya kurang tahu Tuan," jawab Allena.
"Jangan panggil aku Tuan, aku bukan atasanmu. Rasanya aneh bukan? Kamu sudah menghabiskan semua brokoli milikku padahal kita masih belum berkenalan," ucap Valendino sambil tertawa.
Allena juga tersenyum, Valendino terpesona menatap manisnya senyum Allena. Tanpa sadar laki-laki itu menatap Allena sambil tersenyum. Setelah sadar barulah Valendino memperkenalkan dirinya.
"Aku Valendino, kamu boleh memanggilku Dino, Valen, Val, apa saja. Aku boleh dipanggil apa saja, asal jangan dipanggil KPK," ucap Valendino.
Spontan Allena tertawa, Valendino yang berkata dengan ekspresi serius itu akhirnya ikut tertawa melihat respon gadis itu.
"Jangan tertawa, aku bicara serius," ucap Valendino sambil tersenyum.
"Ya sama, aku juga melengos kalau dipanggil presiden," ucap Allena.
"Kamu berani melengos dipanggil presiden?" tanya Valendino dengan senyum.
"Ya, karena namaku bukan presiden, namaku Allena," ucap Allena sekaligus juga memperkenalkan diri.
Valendino tertawa.
"Senang berkenalan denganmu Allena, gadis yang tak peduli kalau dipanggil presiden," ucap Valendino sambil tertawa.
Allena juga tertawa, Valendino terpesona menatap gadis yang tertawa dengan sangat manis itu.
Apa kamu masih sendiri Allena, adakah seseorang yang memilikimu? batin Valendino.
"Jadi di antara semua panggilan itu, Tuan lebih suka dipanggil apa?" tanya Allena.
"Apa saja yang kamu suka, Val, Valen, Dino, Valen in love juga boleh," ucap Valendino.
Kembali Allena tertawa.
"Yang ada itu falling in love Tuan," ucap Allena sambil tertawa yang dibalas dengan senyuman oleh Valendino.
Ya benar falling in love, jika seperti ini terus aku bisa jatuh cinta padamu, batin Valendino.
Valendino dan Allena tertawa sambil menikmati sarapan mereka. Sementara Zefran lebih banyak diam, padahal Frisca begitu semangat menceritakan peristiwa seru di kantornya. Wanita yang saat ini menjabat sebagai Direktur Bisnis di perusahaan keluarganya itu sering menemui pengusaha-pengusaha dari perusahaan yang bekerjasama dengannya.
Kadang-kadang wanita itu bercerita betapa rekan bisnisnya sangat mengidolakan dirinya. Menceritakan betapa mereka patuh dan selalu setuju ide-ide yang dikemukakan Frisca. Namun, respon Zefran sangatlah datar, tak ada raut penasaran, bangga ataupun cemburu. Membuat Frisca menjadi kesal, lagi-lagi Frisca menoleh pada Valendino dan Allena.
"Aku akan menyapa mereka," ucap Frisca sambil berdiri.
"Untuk apa?" tanya Zefran langsung sambil menatap Frisca.
"Untuk memancing perhatianmu, dari tadi aku bicara tapi kamu sama sekali tidak peduli dengan ucapanku," ucap Frisca.
"Aku mendengar ceritamu tapi aku harus berkata apa? Kamu memang mempesona, dari dulu orang-orang menyukai dan selalu mendukung ide-idemu lalu apa yang aneh dari cerita itu?" tanya Zefran sambil menyantap Omelette di hadapannya.
"Kamu tidak cemburu?" tanya Frisca.
"Kenapa aku harus cemburu? Aku lebih baik dari mereka dan kamu juga sangat mencintaiku," ucap Zefran dengan percaya diri.
"Artinya kamu tidak takut kehilanganku, kamu tidak takut kalau aku bergaul dan dekat dengan pengusaha-pengusaha muda lain. Kamu terlalu percaya diri kalau aku sangat mencintaimu," ucap Frisca.
"Kamu lebih memilihku daripada anak senator itu, tentu saja aku percaya diri," ucapnya sambil terus menghabiskan omelette di hadapannya.
__ADS_1
"Kamu lebih cemburu pada Allena," ucap Frisca memancing perhatian Zefran.
Zefran terpancing, laki-laki itu berhenti menatap makanannya dan mengalihkan pandangannya pada Frisca
"Aku tidak peduli padanya, aku hanya takut dia menceritakan tentang kita. Kamu pikir aku bangga memiliki dua istri? Orang-orang akan menghujatku sebagai suami yang tidak bersyukur. Memiliki istri sempurna sepertimu tapi masih menikah dengan wanita lain," ucap Zefran panjang lebar.
Zefran terlihat emosi dituduh cemburu pada Allena. Laki-laki itu berdalih dengan memberi kesan menyanjung istrinya. Membuat Frisca melambung dan urung untuk menyapa Allena dan Valendino.
Saat Valendino dan Allena selesai dengan sarapan mereka, Zefran kembali melirik sahabat dan istri keduanya itu. Terlihat mereka berjalan berdua keluar dari restoran. Zefran menghembuskan napas berat.
"Apa rencana kita sekarang? Kita jalan-jalan sambil belanja?" tanya Frisca memberi usul.
Zefran mengangguk, apa yang mereka lakukan selain bersantai dan menikmati liburan mereka.
"Apa kita akan mengajak Allena?" tanya Frisca ingin tahu pendapat suaminya.
Zefran menolak, dia tidak ingin suasana santai yang ingin dinikmatinya bersama Frisca berubah menjadi tidak nyaman karena kehadiran Allena. Mendengar itu Frisca tersenyum senang, dalam hatinya sangat yakin kalau cinta Zefran belum beralih dari dirinya.
Frisca mengetuk pintu kamar Allena, gadis itu segera membuka pintu kamar yang di tempatinya itu.
"Kami ingin jalan-jalan, kamu mau ikut? Kalau mau bersiap-siaplah," ajak Frisca sambil memandang penampilan Allena.
Baju-baju terbaik gadis itu dianggap baju biasa bagi Frisca. Wanita itu meminta Allena untuk menggantinya dengan yang lain.
"Tidak usah Nyonya, silakan Nyonya Frisca dan Tuan Zefran pergi berdua. Saya tinggal di kamar saja," ucap Allena menolak secara halus.
"Kamu tidak bosan di kamar terus?" tanya Frisca.
"Tidak Nyonya, saya bisa menonton siaran televisi atau berjalan-jalan di sekitar hotel. Tidak apa-apa Nyonya Frisca. Tuan dan nyonya silakan pergi saja," ucap Allena.
"Baiklah kalau begitu, kami pergi. Hati-hati sendirian ya, kamu ingin pesan sesuatu?" tanya Frisca.
"Tidak Nyonya, terima kasih," ucap Allena.
Frisca mengangguk lalu kembali melangkah ke kamarnya. Zefran menunggu di depan pintu sambil mondar-mandir. Saat Frisca mengetuk pintu, laki-laki itu langsung membukanya.
"Apa katanya? Kenapa pakai diajak segala?" ucap Zefran dengan wajah panik.
Frisca tertawa melihat ekspresi suaminya.
"Kamu tidak menjawab pertanyaanku. Kenapa pakai diajak segala? Untung dia tidak mau ikut. Kalau mau, bagaimana?" tanya Zefran.
"Kita harus tetap basa-basi dengannya, agar dia tidak membenci kita. Lagipula aku yakin kalau dia tidak akan mau ikut. Dia itu tidak percaya diri bergabung dengan kita," jelas Frisca.
"Baiklah istriku yang cerdas, kamu memang mengerti segala hal," ucap Zefran sambil mengecup bibir istrinya.
"Aku mengerti tipe gadis sepertinya karena itu aku sangat setuju kamu dijodohkan dengannya. Dia bukan tipe penggoda dan tipe orang yang ingin menguasai. Ditambah lagi dia berpendidikan rendah hingga membuatnya menjadi tidak percaya diri. Sementara dia menjadi istrimu, kita bisa bebas dari rongrongan Mommy," jelas Frisca dengan senyum yang mengembang.
"Tapi sampai kapan? Mommy meminta dia untuk segera melahirkan anak. Itu tujuan Mommy menyuruhku menikah dengannya," ucap Zefran kembali risau.
"Jangan pikirkan itu, bebas dari desakan Mommy dan bersantai di sini mungkin saja bisa membuatku hamil," ucap Frisca sambil menangkup wajah suaminya.
Zefran tersenyum, laki-laki itu langsung menghempaskan istrinya ke ranjang.
"Kita jalan-jalan nanti sore saja, sekarang ini waktunya membuatmu hamil," ucap Zefran sambil melepas kaos berkerah branded itu.
Frisca tertawa saat melihat suaminya melempar pakaian yang dikenakannya satu per satu hingga membuat kamar itu menjadi berantakan. Zefran melancarkan aksi dan berharap tugas mulianya untuk menghamili istrinya bisa segera terwujud.
Jika aku bisa menghamili Frisca, mungkin aku tidak perlu mempertahankan pernikahanku dengan gadis itu, batin Zefran semakin gencar berusaha memuaskan diri mereka.
Sementara itu Allena menekan tombol remote control televisi untuk mematikannya. Channel sekian banyak sama sekali tidak menarik untuk ditontonnya. Gadis itu memilih membuka pintu geser menuju ke balkon. Allena berdiri memandang kolam renang hotel yang dipenuhi oleh pengunjung yang ingin bersantai. Sesekali gadis itu tersenyum melihat tingkah orang-orang di bawah sana.
Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah memikirkan sulitnya menjalani hidup. Orang-orang yang mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan dan tidak perlu mengintip label harga setiap kali berbelanja, jerit hati Allena.
Gadis itu menghembuskan napas berat, setitik bening jatuh menetes di pipi putihnya.
Ya ampun, aku tidak boleh mengeluh, harusnya aku bersyukur dengan hidupku. Hingga detik ini aku masih bisa bertahan tidak terjerumus ke dalam dunia kelam. Banyak dari wanita-wanita yang tidak punya pilihan lain selain menjual diri mereka demi bertahan hidup, ampuni aku Tuhan, ampuni aku, batin Allena sambil menghapus air matanya.
Allena kembali menikmati pemandangan di bawah sana dan kembali tersenyum-senyum sendiri. Allena bertekad tidak akan menyesali apa pun lagi. Meski saat ini dirinya hanya dijadikan tumbal untuk keutuhan rumah tangga Zefran dan Frisca. Allena bersyukur karena dirinya dan ibunya telah lepas dari satu beban yaitu hutang yang tak pernah bisa dilunasi.
Bosan berada di kamar, Allena memilih jalan-jalan di sekitar hotel. Melihat aneka kerajinan lokal yang begitu menarik. Allena telah dibekali yang saku dan kartu kredit tanpa limit oleh keluarga kaya itu. Namun, tak sedikit pun terlintas di pikirannya untuk berfoya-foya. Terbiasa hidup sederhana dan apa adanya tetap dijalani Allena meski sekarang telah menjadi menantu dari keluarga kaya.
"Jangan dilihat saja nona, dibeli, dibeli," ucap seseorang sambil menepuk pundaknya.
__ADS_1
Allena langsung berpaling dengan ekspresi kesal untuk melihat orang yang lancang itu. Allena langsung kaget dan tertawa, laki-laki yang menepuk pundaknya ternyata adalah Valendino.
"Oh, aku belum hafal suara tuan," ucap Allena.
Dan memang Valendino memberatkan suaranya saat menegur Allena. Laki-laki itu ikut tertawa melihat ekspresi Allena yang cepat berubah setelah tahu siapa yang menegurnya.
"Aku baru selesai meeting, saat kembali ke hotel aku melihatmu di sini. Kebetulan bukan? Aku tidak perlu mencarimu ke kamar hotel," ucap Valendino sambil menggandeng tangan Allena mengajaknya berjalan-jalan.
Allena terkejut menatap tangannya yang digenggam Valendino. Allena beralih menatap wajah pria tampan yang asyik memandang ke kiri dan ke kanan itu. Berjalan begitu santai dengan tangan kanan yang masuk ke saku dan tangan kirinya menggenggam tangan Allena.
Berjalan dengan perlahan, Valendino terlihat sangat menikmati jalan santai mereka. Hanya Allena yang merasa tidak nyaman dengan situasi itu. Bagaimanapun juga statusnya saat ini adalah istri orang. Seorang istri yang berjalan bergandengan tangan dengan laki-laki yang bukan suaminya membuat gadis itu merasa bersalah.
Namun, Allena tidak bisa berbuat apa-apa. Allena tidak mungkin mengungkapkan hubungannya dengan Zefran, karena Zefran justru ingin menutupi pernikahan keduanya itu.
Valendino dan Zefran bersahabat namun itulah sebabnya Allena tidak bisa menceritakannya. Karena jelas Zefran ingin menutupi pernikahannya dengan Allena hingga sengaja tidak mengundang semua fraternity-nya.
"Oh, ada toko bunga, ayo mampir ke sana," ucap Valendino sambil menarik tangan Allena.
"Selamat datang ada yang bisa kami bantu?" tanya karyawan toko.
"Aku ingin memesan buket bunga tapi dia yang merangkainya," ucap Valendino sambil menunjuk Allena.
"Oh, pacar tuan bisa merangkai bunga juga? Cantik dan memiliki bakat. Tuan pasti sangat suka rangakaian bunga buatannya?" tanya penjaga toko bunga itu.
Valendino mengangguk kuat, Allena terperangah. Valendino tidak peduli kalau penjaga toko itu salah mengira kalau Allena adalah pacarnya. Laki-laki itu tidak menyangkalnya sama sekali, membiarkan penjaga toko itu mengira mereka berpacaran.
"Nona orang yang seperti apa? Bunga kesukaannya apa? Dan ingin buket yang kecil, sedang, besar atau super besar?" tanya Valendino berlagak seperti penjaga toko.
Penjaga toko yang sesungguhnya langsung tertawa, Allena tak dapat menahan senyumnya.
"Dia sangat cantik saat tersenyum bukan? Karena itu aku harus selalu menggodanya agar dia selalu tersenyum," ucap Valendino pada penjaga toko.
"Benar tuan, pacar tuan cantik sekali," ucap penjaga toko itu mendukung Valendino.
Allena tertunduk malu. Valendino mengecup punggung tangan gadis itu. Allena semakin tercengang lalu memalingkan wajahnya.
"Sudah tuan jangan digoda terus lihatlah pipi nona ini sudah memerah," ucap penjaga toko.
"Baiklah kalau begitu pilihlah bunga kesukaanmu," ucap Valendino pada Allena.
Gadis itu bingung, dalam hatinya sangat ingin menolak perlakuan manis Valendino, juga tawaran untuk memesan bunga kesukaannya. Melihat keraguan Allena, Valendino jadi angkat bicara.
"Bunga ini bukan untukmu tapi untuk pacarku. Hanya saja aku tidak tahu bunga kesukaannya. Kamu pilihkan saja bunga kesukaanmu," bisik Valen.
Allena akhirnya memilih bunga-bunga kesukaannya, Valen dan penjaga toko hanya diam mengamati. Allena memilih bunga-bunga dari jenis bunga-bunga liar seperti Baby’s Breath, Aster mini dan bunga Chrysanthemum. Semua bunga yang dipilihnya berwarna putih.
"Bunga yang dipilih oleh nona itu adalah Baby’s Breath atau napas bayi yang berarti sebuah kepolosan dan kesucian. Berhubungan dengan ketulusan dan cinta abadi. Yang dapat disimbolkan untuk para pasangan yang hendak memulai kehidupan baru," jelas penjaga toko sambil memperhatikan Allena yang mulai merangkai bunga.
Valendino tercenung mendengar penjelasan penjaga toko itu.
"Dan itu adalah bunga Aster dapat diartikan sebagai rasa kebijaksanaan, keberanian juga keyakinan. Bentuknya yang menyerupai bintang, dijadikan simbol cahaya dan juga harapan. Makna tersembunyi di balik bunga aster adalah pesan harapan cinta dan juga kasih sayang," jelas penjaga toko dengan suara pelan.
Valendino kembali tercenung mendengar penjelasan penjaga toko itu. Laki-laki itu tak lepas memandang Allena yang sibuk memotong, menyusun, merangkai dan mengikatnya dengan kain lace.
Allena tersenyum melihat buket bunga ukuran kecil di tangannya. Lalu tersenyum pada Valen dan melangkah mendekati laki-laki itu. Allena menyodorkan buket bunga itu padanya. Valendino menatap wajah cantik dihadapannya itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Allena merasa heran dengan tatapan Valen.
"Apa Tuan tidak suka?" tanya Allena.
Valendino tidak menjawab hanya meraih bunga itu dari genggaman Allena dan memberikan pada penjaga toko untuk dibayar tagihannya. Penjaga toko melihat hasil rangkaian bunga buatan Allena, tersenyum dan mengaguminya.
Penjaga toko itu akhirnya memberikan potongan harga untuk menghargai karya indah Allena. Valendino menolak potongan harga itu tapi penjaga toko tetap bersikeras.
"Potongan harga ini adalah bentuk harapan dari saya semoga hubungan kalian tetap langgeng," ucap penjaga toko itu.
Mendengar itu Valendino langsung tersenyum menunduk dan menyetujuinya. Sementara Allena menunjukkan wajah bingung mendengar ucapan penjaga toko itu. Setelah membayar tagihannya, Valendino kembali menggandeng tangan Allena keluar dari toko.
"Kenapa kamu memilih bunga-bunga ini?" tanya Valen sambil berjalan pelan.
"Bunga-bunga ini tadinya adalah bunga-bunga liar. Sangat cantik tapi tidak pernah menjadi pilihan utama seperti bunga mawar yang cantik, mewah dan anggun. Bunga-bunga yang kupilih ini hanyalah bunga semak yang biasa dijadikan filler atau bunga pengisi, sebagai pelengkap dalam sebuah rangkaian bunga," jawab Allena.
Valendino menyerahkan bunga itu pada Allena. Gadis itu terkejut karena tidak menyangka karena Valendino mengatakan bunga itu untuk pacarnya. Gadis itu hanya diam menatap buket bunga itu, Valendino meraih tangan Allena dan memaksa gadis itu untuk menerimanya.
Allena akhirnya menerima buket bunga itu, menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Melihat Allena yang terharu, Valendino langsung memeluk Allena, mengangkat dagu gadis itu dan mencium bibirnya.
__ADS_1
Mata Allena terbelalak begitu juga Zefran dan Frisca yang melihat dari kejauhan.
...~ Bersambung ~...