
Allena duduk di sofa dalam walk in closet dan menangis sejadi-jadinya. Allena menyesal memutuskan mencari perhatian suaminya dengan cara merebut ponsel laki-laki itu.
Maafkan aku Kak, aku tidak akan pernah mengulanginya lagi. Aku tidak akan pernah menyentuh ponselmu lagi, maafkan aku, jangan bersikap dingin lagi padaku, batin Allena.
Allena menangis tersedu-sedu saat membayangkan sikap dingin Zefran saat-saat pertama mereka menikah. Allena tidak sanggup membayangkan masa-masa itu. Zefran yang bersikap kasar dan merendahkannya. Menghinanya dan bahkan membencinya. Allena benar-benar menyesal membuat laki-laki itu murka.
Wanita itu menutup matanya mengingat sesaat sebelum kejadian. Mereka masih saling berpelukan, masih saling mengucapkan kata cinta, masih saling bercanda namun semua berubah dalam sekejap. Hanya karena salah dalam memilih ucapan dan perbuatan.
Andai waktu bisa terulang, aku tidak akan melakukan itu. Aku tidak akan mengganggunya, aku akan menunggu hingga marahnya reda. Aku tidak akan menyentuh ponselnya, jerit hati Allena semakin menyesal.
Gadis itu menangis sesenggukan, hingga saat Zefran masuk ke dalam walk in closet dan langsung menatapnya. Allena menatap suaminya dan berdiri ragu-ragu.
"Maafkan aku Kak, aku tidak akan mengulanginya lagi" ucap Allena dengan suara serak.
Air mata Allena kembali mengalir deras. Wanita itu tertunduk, merasa bersalah dengan perbuatannya. Meminta maaf dengan ragu-ragu dan takut akan memperburuk masalah. Allena pasrah menunggu apa yang akan diucapkan suaminya.
Zefran menatap pipi istrinya yang telah memerah.
Kenapa aku begitu mudah menyakitinya? Kapan tanganku ini berhenti menyakitinya? Bisik hati Zefran.
Laki-laki itu melangkah mendekati Allena dan ingin mengusap pipi yang telah memerah itu. Allena kaget dan tegang saat melihat tangan itu mendekat ke arah pipinya. Wanita itu seperti trauma dan mengira Zefran akan kembali menamparnya. Melihat itu Zefran merasa sangat menyesal dan segera merengkuh istrinya ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku, maafkan aku, Allena. Reaksiku terlalu berlebihan. Maafkan aku Allena, maafkan aku sayang," ucap Zefran berulang kali meminta maaf dan semakin memeluk erat istrinya.
Laki-laki itu bahkan ikut menangis, terlebih saat mengingat tatapan takut Allena saat melihat tangannya yang mendekat ke wajahnya.
"Aku yang bersalah, harusnya aku tidak berbuat seperti itu. Maafkan aku!" ucap Allena yang kini telah berani membalas pelukan suaminya.
"Tidak sayang, aku yang salah," balas Zefran.
Zefran tak ingin Allena menyalahkan dirinya. Karena dia sendiri tahu bahwa merebut ponsel itu bukan alasan kemarahannya yang sebenarnya. Itu hanya alasan baginya untuk melampiaskan kekesalan atas kecemburuannya pada model tampan yang mengirimkan foto pada Allena.
Aku yang salah Allena, rasa kesalku yang sesungguhnya bukan karena kamu merebut ponselku. Tapi karena aku cemburu, kenapa kamu tidak mengerti, aku masih mencoba menenangkan hatiku, jerit hati Zefran.
Zefran merenggangkan pelukannya lalu mengecup pipi bekas tamparannya itu.
"Maafkan aku, maafkan aku," ucapnya setiap kali mencium pipi Allena.
Laki-laki itu melakukannya berkali-kali hingga tanpa sadar Allena tersenyum. Allena menoleh, membuat bibirnya menggantikan posisi pipinya. Zefran tersenyum lalu semakin membenamkan bibirnya ke bibir wanita itu. Allena bahagia karena Zefran telah memaafkannya, Zefran pun bahagia melihat Allena yang menerima permintaan maafnya.
Namun, meski mereka telah saling memaafkan, Zefran menganggap persoalan mereka belum tuntas. Zefran selalu menyalahkan Allena karena kedekatannya dengan Robert Daniel. Sementara model itu sama sekali tidak mengetahui masalah yang timbul dalam rumah tangganya karena tingkah lakunya yang begitu akrab dengan istrinya.
__ADS_1
Keesokan harinya Zefran berniat menemui Robert Daniel. Saat sarapan pagi laki-laki itu bertanya apakah Allena akan ke perusahaan fashion hari itu. Allena menggelengkan kepalanya, karena memang belum ada urusan, selain itu Allena merasa perusahaan itu mengingatkannya pada Robert Daniel yang membuat Zefran marah padanya.
Seperti biasa Allena mengantar hingga ke teras rumah dan biasanya Zefran akan berpamitan dengan mengecup bibirnya. Namun kali ini laki-laki itu seperti tak acuh dan berlalu begitu saja meninggalkannya.
Apa Kak Zefran masih marah? Kenapa tadi Kak Zefran bertanya aku pergi ke perusahaan fashion? Apa dia tidak percaya aku tidak ke sana? Selama sarapan tadi dia hanya diam, apa yang dipikirkannya? Apa dia tidak percaya lagi padaku? Tidak, dia tidak pernah percaya padaku, batin Allena dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Wanita itu menunduk, menatap lantai teras sambil mengerjapkan matanya agar air di pelupuk matanya segera menghilang. Tanpa disadarinya Zefran telah berdiri dihadapannya. Mengangkat dagunya lalu mengecup bibirnya kemudian memeluknya.
"Aku lupa menciummu, karena terlalu banyak pikiran, aku jadi lupa. Jangan menangis sayang, aku tidak membencimu. Aku juga tidak ingin kamu membenciku. Maafkan aku ya!" ucap Zefran sambil menangkup wajah istrinya.
Zefran menatap air mata yang masih tersisa membasahi kedua bulu mata istrinya. Zefran mengecup kedua mata itu.
Aku tidak akan menyakitimu, tidak ada niatku untuk menyakitimu. Tapi aku tidak bisa menahan rasa cemburuku, batinnya.
"Maafkan aku sayang! Jangan bersedih lagi, kalau kamu sedih, aku juga ikut sedih. Apa kamu tahu? Menyakitimu sama saja dengan menyakiti diriku sendiri. Aku tidak tahu kenapa sifatku jadi seperti ini, tapi yang aku rasakan, aku sangat tidak ingin kehilanganmu. Aku harap kamu mengerti, aku berlaku buruk karena aku takut kehilanganmu. Mulai hari ini, aku akan belajar untuk mengendalikan emosiku, apa kamu mengerti sayang?" tanya Zefran.
Allena mengangguk sambil menatap mata Zefran. Laki-laki itu tersenyum lalu mengecup bibir Allena sekali lagi dan pamit berangkat bekerja. Zefran melambaikan tangannya dari dalam mobil yang berhenti di hadapan Allena. Allena membalas lambaian tangan Zefran sambil tersenyum membuat hati laki-laki itu lega berangkat bekerja.
Melihat wanita yang dicintainya itu melalui spion sambil tersenyum hingga akhirnya keluar dari gerbang rumahnya.
Kenapa sifatku jadi seperti ini, saat bersama Frisca aku tidak seperti ini. Aku percaya sepenuhnya pada Frisca. Meski akhirnya aku dibohongi olehnya, batin Zefran.
"Ada banyak hal yang membuatmu makin posesif," ucap Patrick saat Zefran memanggil laki-laki itu ke ruangannya.
"Rasa bersalah pada dirimu sendiri karena terlalu percaya pada Frisca yang akhirnya membuatmu kehilangannya. Dia berselingkuh dan kamu menyalahkan dirimu sendiri karena terlalu percaya padanya. Sekarang imbasnya pada Allena, kamu tidak ingin apa yang terjadi pada Frisca terulang lagi pada Allena," jelas Patrick.
"Aku bahkan menampar wajahnya, apa kamu tahu? Bagaimana bisa tanganku begitu ringan melayang ke wajah selembut itu. Rasanya aku ingin memotong tanganku ini karena kesal," keluh Zefran sambil memandang telapak tangannya sendiri dan itu membuat Patrick tertawa.
"Kamu tidak ingin membuatnya menangis lagi tapi kalau kamu potong tanganmu, dia akan menangis seumur hidupnya," balas sahabat Zefran itu.
"Ini bukan pertama kalinya aku menamparnya," ucap Zefran mengaku.
"Oh ya? Apa yang membuatmu menamparnya waktu itu?" tanya Patrick.
"Aku kesal karena melihatnya jalan-jalan bersama Valen yang membelikannya banyak barang," jawab Zefran.
"Cemburu, itu intinya. Kamu tahu apa itu posesif? Rasa cemburu kelewat batas yang dibumbui dengan rasa insecure yang berlebihan. Kamu cemburu melihat Allena di bahagiakan oleh Valen. Karena merasa kamulah orang yang harusnya membahagiakan Allena dan sekarang cemburu pada model itu karena kamu takut laki-laki itu merebut Allena darimu," jelas Patrick.
"Aku berencana menemuinya hari ini, apa itu tidak berlebihan? Aku ingin laki-laki itu menjauh dari istriku," ucap Zefran.
"Lakukanlah! Tapi jangan emosi, datangi dia dan tanyakan bagaimana perasaan laki-laki itu terhadap Allena. Jika kamu tahu dari dia langsung mungkin hatimu akan tenang dan tidak selalu menyalahkan Allena," pesan Patrick. Zefran mengangguk.
__ADS_1
Siang itu Zefran menemui Robert Daniel. Model itu langsung menyambut Zefran saat diberi tahu CEO tampan itu mencarinya. Robert Daniel mengajak Zefran berbicara sambil minum di bar di lantai teratas gedung perusahaan fashion itu.
Zefran melihat sekeliling bar yang dipenuhi laki-laki tampan dan wanita-wanita modis. Mereka adalah para model yang bekerja di bawah naungan perusahaan fashion milik Ny. Marilyn.
Sebagian besar wanita-wanita itu melirik pada Zefran yang baru saja datang. Ada yang tersenyum padanya, ada yang mengedipkan matanya dan ada yang langsung menyapanya. Mereka mengira Zefran adalah model baru bimbingan Robert Daniel.
Model tampan itu langsung mengusir mereka secara halus dengan alasan bahwa Zefran bukanlah seorang model dan dia datang untuk bicara dengannya.
"Aku melihat foto-fotomu bersama istriku yang kamu kirimkan ke ponselnya," ucap Zefran, to the point.
"Kamu mengintip ponsel istrimu?" tanya Robert Daniel sambil tertawa.
Sial, dia malah tertawa. Tapi apa yang dikatakannya benar, aku telah mengintip ponsel istriku, batin Zefran.
Teringat kembali ucapan tajam yang dia lontarkan pada istrinya 'Kamu mulai tidak sopan pada suamimu, beraninya kau merebut barang pribadi orang'.
Barang pribadi? Apa masih ada sesuatu yang pribadi dalam hubungan antara suami dan istri? Tak ada yang pribadi di antara kami, harusnya semuanya terbuka. Allena tahu aku mengintip ponselnya tapi dia tidak keberatan, karena baginya tidak ada yang disembunyikan, aku bersalah. Ucapanku itu benar-benar salah, batin Zefran.
Laki-laki itu termenung mendengar ucapan Robert Daniel. Banyak pikiran dan penyesalan yang timbul karena ucapan model tampan itu. Dan selama Zefran berpikir, Robert Daniel hanya diam menatap wajah tampan Zefran yang termenung.
"Apa kamu tidak terpikirkan untuk mencari selingan menjadi seorang model? Sayang sekali wajah tampanmu itu," ucap Robert Daniel saat melihat laki-laki itu mengangkat wajahnya menatap ke arahnya.
"Tidak, aku tidak memiliki bakat menjadi model. Aku juga tidak tertarik menjadi seorang model. Aku ke sini untuk bertanya padamu. Seperti apa hubunganmu dengan istriku? Aku ingin tahu, apa kamu menyukai Allena?" tanya Zefran bertubi-tubi.
Robert Daniel tersenyum.
"Allena? Siapa yang tidak menyukainya? Dia baik, dia cantik, suka menolong dan menyenangkan. Siapa yang tidak suka padanya?" tanya Robert Daniel balik pada Zefran.
"Maksudku perasaan khusus antara pria dan wanita, cinta, menyukainya karena mencintainya?" tanya Zefran lebih tegas.
"Tidak, hubunganku dengannya tidak seperti itu. Dia adalah rekan kerjaku, temanku, sahabatku, adikku, wanita yang aku sayangi" jelas Robert Daniel langsung ke inti masalahnya.
Laki-laki itu ingin langsung memperjelas duduk masalahnya. Robert Daniel telah mengira arah pembicaraan Zefran.
"Apa kamu tahu sudah berapa lama kami berteman? Lebih dari lima tahun. Aku mengenalnya dan kami langsung akrab saat dia belajar di Paris. Dia seorang pekerja keras dan belajar dengan sangat keras." Cerita Robert Daniel yang terhenti sejenak untuk meneguk minuman di hadapannya.
"Aku yang menjadi tempat berlindungnya selama dia menjalani kehidupannya yang keras itu. Hasratnya untuk belajar sangat tinggi hingga membuatku juga ingin belajar bersamanya. Kami melanglang buana ke berbagai negara. Ke semua pusat mode dunia, London, Milan, New York. Tokyo, Amsterdam, Lisbon, Florence dan banyak lagi. Hubunganku dengannya sudah sangat dekat, tak ada rahasia di antara kami," jelas Robert Daniel sambil memperhatikan raut wajah Zefran yang semakin tegang.
"Aku menemani Allena menjalani perjuangan kerasnya untuk mencapai cita-citanya. Dia bahkan rela hanya memakan roti isi seharian atau makan mie instan demi berhemat agar bisa mengirimkan uang untuk ibu dan anaknya. Di mana kamu saat itu? Dia selalu menunjukkan jari manisnya pada setiap laki-laki yang ingin mendekatinya. Ucapan 'aku telah menikah' atau 'aku telah bersuami' selalu diucapkannya saat menunjukkan cincin kawin di jari manisnya. Tapi di mana laki-laki itu? Laki-laki yang selalu diakuinya sebagai suami? Kenapa dia hanya sendirian menjalani kehidupannya yang sulit? Itu pernah terpikirkan olehku, tapi aku tidak peduli lagi dengan jawabannya. Aku hanya ingin menemani dan akan selalu menemaninya. Jika orang lain disuruh memilih siapa di antara kita yang pantas mendapatkan cinta dan kasih sayang darinya? Menurutmu apa jawaban mereka?" tanya Robert Daniel yang membuat rahang Zefran mengeras seketika.
Zefran diam terpaku menatap wajah model tampan di hadapannya. Pikirannya buntu, memikirkan jawaban apa yang bisa dilontarkannya untuk menjawab pertanyaan Robert Daniel.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...