Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 131 ~ Di Mall ~


__ADS_3

Zefano dan Zefania bertemu di arena bermain di Mall. Mereka tertawa bersama karena merasa lucu bisa punya pemikiran yang sama untuk bermain di Mall itu.


"Oh, kamu main di sini juga Zeno?" tanya Zacko yang datang menghampiri.


"Ya Uncle Zack," jawab Zefano.


"Sama siapa?" tanya Zacko, pandangan matanya langsung mengitari ke sekeliling area bermain itu.


"Zeno! Ya ampun kamu di sini, Mama susah cari-cari kamu, kenapa pergi nggak bilang-bilang?" tanya Allena menghampiri lalu terkejut karena Zacko dan Zefania yang langsung menoleh ke arahnya.


"Oh ternyata sama kamu," jawab Zacko langsung.


Allena terperangah, tak menyangka. Mereka mendatangi Mall karena ingin menghindar dari Zacko di taman tapi justru bertemu dengan laki-laki itu dan putrinya di Mall.


"Zeno sudah lama tidak main di taman jadi aku ajak ke sini," jawab Allena akhirnya.


"Aku juga tidak ke taman sejak kejadian itu. Aku tidak enak hati padamu. Aku rasa Zefran pasti salah paham, apa kalian baik-baik saja? Zefran tidak marah padamu?" tanya Zacko akhirnya bicara mendekat karena penasaran dengan apa yang terjadi dengan Allena sejak kejadian di taman sore itu.


"Dengan situasi seperti itu, tidak mungkin dia tidak marah. Tapi syukurnya, kami masih bisa mengatasi," jawab Allena.


Zacko mengangguk sambil tersenyum, terlihat raut wajahnya yang lega.


"Aku bimbang, beberapa hari ini. Rasanya aku ingin datang untuk melihat keadaan kalian dan menjelaskan situasi yang sebenarnya. Tapi aku ragu, apa kedatanganku bisa membantu atau justru akan menambah masalah. Aku takut datang di waktu yang tak tepat," jelas Zacko.


"Tidak perlu, kami baik-baik saja," ucap Allena sambil mengamati anaknya yang telah asyik bermain dengan Zefania.


"Saat melihatmu, aku teringat pada istriku …"


"Sudah pernah dengar," ucap Allena langsung.


Zacko tertawa. "Ya, maksudku saat kejadian kemarin, persis seperti apa yang aku lakukan pada istriku."


Allena menoleh ke arah Zacko dengan tatapan heran.


"Ya! Aku juga pernah menyeret istriku saat dia bersama dengan seorang laki-laki. Kejadian kemarin benar-benar mengingatkan aku pada kejadianku di masa lalu. Tanpa memikirkan perasaan istriku dan orang yang bersamanya. Tanpa memikirkan betapa malunya dia, tanpa memikirkan betapa sedihnya diperlakukan seperti itu. Menatap wajahmu yang sangat sedih saat ditarik oleh Zefran. Aku baru sadar, Cindy juga pasti sangat sedih saat itu. Aku baru sadar apa yang aku lakukan itu adalah tindakan arogan untuk menunjukkan kalau Cindy dan laki-laki itu adalah orang-orang yang bersalah," jelas Zacko.


Allena menunduk, persis seperti yang diucapkan Zacko perasaan diseret dengan cara seperti itu juga dirasakannya seperti seorang yang dianggap bersalah dan menunggu hukuman.


"Padahal kita tidak melakukan apa-apa. Untuk menjelaskan juga tidak bisa. Meski Cindy berkata tidak terjadi apa-apa, mereka hanya berteman dan berbagai alasan yang diberikannya sama sekali tak kudengar. Mengingat itu aku … aku hanya bisa terpaku menatapmu pergi, karena Zefran sama seperti aku yang tidak akan menerima jawaban apa pun saat situasi seperti itu," jelas Zacko dengan raut wajah menyesal.


Menyesal karena terjadi hal seperti itu pada dirinya dan Allena. Menyesal karena dia dulu juga orang yang pernah berbuat seperti itu. Zacko dan Allena beralih menatap anak-anak mereka yang sedang bermain. Allena yang juga datang bersama baby sitter-nya sesekali menatap baby sitter itu sedang bermain dengan Zifara.


Tiba-tiba Zefania didatangi oleh seorang wanita. Zefania terlihat senang, berlari menghampiri serta memeluknya. Zacko terkejut, dadanya langsung berdebar kencang. Allena menatap heran dan langsung beralih menatap Zacko yang sedang termangu.


"Siapa dia?" tanya Allena heran.


"Dia … dia Cindy, Mamanya Zia," ucap Zacko begitu pelan.

__ADS_1


Allena tersenyum, melihat Zacko yang masih terpesona melihat istrinya itu. Tapi senyum itu tiba-tiba meredup saat Allena melihat seorang laki-laki datang membawakan minuman untuk wanita itu. Tak lama kemudian Zefania menunjuk ke arah Zacko. Wanita itu pun menoleh dan terpaku menatap Zacko.


Laki-laki itu langsung menunduk, bukan karena tak mampu beradu mata dengan mantan istrinya itu. Tapi rasa cemburunya pada laki-laki yang berdiri di samping Cindy. Zacko tiba-tiba menoleh ke arah Allena.


"Allena tolong bantu aku," ucap Zacko.


"Apa?" tanya Allena heran.


"Jadilah calon istriku."


"APA?" tanya Allena setengah berteriak karena kaget mendengar permintaan Zacko.


"Hanya pura-pura," jawab Zacko.


"Kenapa harus pura-pura?"


"Jadi sebenarnya? Memangnya boleh?" tanya Zacko lalu tertawa.


"Kamu gila! Maksudku kenapa harus pura-pura punya calon istri?" tanya Allena lagi.


"Kamu tidak lihat itu, dia sudah punya pendamping sedangkan aku belum punya," jawab Zacko.


"Lalu kenapa kemarin-kemarin tidak cari calon istri yang sebenarnya?" tanya Allena lagi.


Zacko diam tanpa tahu harus menjawab apa, demi mempertahankan harga dirinya.


"Aku tahu, karena kamu masih berharap pada istrimu. Kamu tidak bisa melupakannya. Kamu tidak bisa mencari pengganti yang lebih baik darinya. Kamu belum bisa beralih darinya karena kamu masih mencintainya," ucap Allena panjang lebar.


"Ya! Ya! Ya! Semua yang kamu katakan itu benar. Karena itu aku tidak mau kalah darinya. Dia telah move on, dengan mudah melupakanku, dengan mudah mendapat penggantiku. Aku tidak mau kalah darinya, tolonglah Allena. Hanya kali ini saja, aku tidak mau dipermalukan di depan laki-laki itu. Jika hanya Cindy sendirian, aku tidak akan peduli tapi laki-laki itu pasti tertawa melihat kekalahanku," jelas Zacko sekaligus memohon.


"Memangnya dia laki-laki yang dituduhkan berselingkuh dengan Cindy waktu itu?" tanya Allena penasaran.


"Entahlah, aku lupa wajahnya, mana mungkin aku mengingat-ingat wajah laki-laki yang ingin merebut istriku. Yang aku ingat aku pernah menonjok mukanya tapi tak mengingat wajahnya. Kalau dia tahu aku masih sendiri dia pasti tertawa dalam hati," ucap Zefran.


Allena menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Kadang meski telah dewasa tapi demi gengsi orang rela melakukan tindakan kekanakan-kanakan. Wanita itu belum sempat menyatakan setuju atau menolak, Cindy dan laki-laki itu telah datang menghampiri.


Zacko langsung bersiap menunggu. Cindy tersenyum sambil menyapa. Zacko pun menjawab seadanya.


"Tak menyangka ternyata bisa bertemu di sini," sapa Cindy sambil tersenyum pada Zacko dan langsung beralih memandang Allena.


"Oh ya, kenalkan ini calon istriku," ucap Zacko langsung merangkul bahu Allena.


Wanita itu kaget, tapi berusaha bersikap wajar. Belum sempat menyatakan setuju, Zacko telah memutuskan untuk mengenalkannya. Untuk menyangkal pun Allena tak tega. Senyum di wajah Cindy langsung mengurang drastis.


Namun wanita itu masih bisa mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri. Allena menyambut jabat tangan itu dan menyebutkan namanya. Wajah Cindy agak berubah tapi dengan cepat kembali bersikap wajar. Cindy juga memperkenalkan laki-laki di sampingnya itu.


Mereka saling bertanya kabar. Cindy mengatakan sangat merindukan putrinya.

__ADS_1


Kalau begitu kembalilah bersama kami, tinggalkan laki-laki itu, batin Zacko.


"Kapan kalian akan menikah?" tanya Cindy.


"Oh kami belum menetapkan tanggal, tapi segera! Kami ingin menikah segera," ucapnya sambil tersenyum pada Allena.


Allena membalas senyumannya itu dengan canggung.


"Kalau begitu aku ingin mengucapkan selamat lebih cepat, tidak apa-apa ya? Aku takut nanti tak sempat," ucap Cindy kembali mengulurkan tangannya.


"Kenapa terburu-buru, mengucapkan?" tanya Zacko sambil menyambut uluran tangan istrinya.


"Seperti yang aku bilang tadi, mungkin aku tidak sempat mengucapkan selamat nanti. Kamu pasti tidak akan mengundangku 'kan?" tanya Cindy.


Apa yang mau diundang, aku tidak akan menikah lagi, batin Zacko.


"Oh ya bolehkah aku mengambil foto kalian berdua? Allena adalah calon istri yang cantik tapi aku sulit untuk mengingat wajah. Aku takut suatu saat bertemu tapi tidak mengenalimu. Jika aku memiliki fotomu aku bisa melihat kembali jika lupa," jelas Cindy.


"Oh tentu!" jawab Zacko sambil kembali merangkul bahu Allena.


Allena kaget, dalam hati tidak setuju tapi juga tak tega menolak. Cindy pun mengambil foto mereka. Setelah mengambil beberapa jepretan, wanita itu tersenyum dan pamit untuk pulang. Allena dan Zacko menyalami Cindy dan laki-laki bernama Feri itu.


Setelah pamit dengan mencium dan memeluk anaknya, Cindy pergi sambil melambaikan tangannya. Zacko menatap kepergian wanita yang dicintainya itu. Dalam hati Zacko ingin memeluk wanita itu untuk mencegahnya pergi. Tapi tak bisa dilakukannya saat menoleh ke arah laki-laki yang berjalan di sampingnya.


"Kenapa harus berbohong? Segera menikah? Mana mungkin. Itu kebohongan yang pasti terbongkar," ucap Allena langsung saat melihat Cindy telah pergi.


Lamunan Zacko buyar lalu beralih menatap Allena.


"Ya, nanti tinggal bilang kalau rencana pernikahan batal karena tidak ada kecocokan. Itu saja, nggak bakalan susah. Setidaknya sekarang di depan laki-laki itu aku tidak malu-malu amat. Aku masih laku, dapat calon istri, cantik lagi," ucap Zacko lalu tertawa.


Allena pun ikut tertawa.


"Nanti kalau dinyatakan batal? Tidak malu lagi?" tanya Allena.


"Ya, kalau di belakangku dia tahu aku batal dapat istri, bodo amat aku tak peduli. Asal jangan di depanku," jawab Zacko.


Zacko tertawa, Allena pun ikut tertawa. Tawanya terhenti karena merasakan ponselnya bergetar. Allena segera meraih ponselnya dan melihat siapa yang menelpon. Kening langsung mengernyit, sedikit heran karena Allena menerima telepon dari suaminya.


"Kamu di mana?" tanya Zefran saat Allena menyapanya.


"Di Mall, ada apa Kak?" tanya Allena.


"Sama siapa?" tanya laki-laki itu tanpa menjawab pertanyaan Allena.


"Aku ke Mall bersama Santi dan anak-anak," jawab Allena.


Pembohong, batin Zefran lalu langsung mematikan ponselnya.

__ADS_1


Allena kaget karena tiba-tiba Zefran langsung memutus panggilan teleponnya. Tanpa disadari wanita itu, Zefran sedang berusaha sekuat tenaganya menahan amarah. Dengan tangan yang gemetar menggenggam ponsel yang menampilkan foto-foto Allena dirangkul oleh Zacko.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2