
Keesokan harinya Allena memanggil dokter untuk memeriksakan keadaan suaminya. Allena menceritakan kejadian tadi malam, saat Zefran tanpa sengaja menggerakkan kakinya. Dokter pun melakukan pemeriksaan terhadap kondisi kaki Zefran.
"Benar, fungsi sensorik dan motorik pada tungkai bawah telah jauh membaik. Tapi untuk saat ini Tuan Zefran harus tetap melakukan fisioterapi untuk mengembalikan kekuatan otot dan fungsi bagian tubuh yang mengalami cedera serta mencegah kecacatan dan mengurangi risiko cedera di kemudian hari," jelas dokter itu.
"Tentu dokter, aku akan menuntaskan pengobatan. Saat ini telah bisa digerakkan namun masih menyisakan rasa sakit. Saya juga tidak ingin ada masalah di kemudian hari," jelas Zefran.
Dokter menyetujui, setelah memberikan penjelasan lebih lanjut, dokter itu pamit meninggalkan ruangan. Ny. Mahlika langsung memeluk putranya yang masih duduk di kursi roda.
"Selamat sayang, Mommy sangat senang mendengar berita ini," ucap Ny. Mahlika.
Zefran membalas pelukan ibunya, juga pelukan ibu mertuanya. Semua mengucapkan selamat atas perkembangan kesembuhan Zefran.
"Terima kasihku yang sangat besar pada putri Ibu yang sudah menjaga dan merawat saya dengan sangat baik," ucap Zefran.
"Oh ya? Apa Allena bisa galak padamu?" tanya Vina.
"Kalau galak mungkin tidak Bu, tapi aku sangat takut kalau dia ngambek lagi dan pergi kalau aku tidak patuh padanya. Kemana harus aku istri sebaik dan secantik dia," ucap Zefran.
Sambil menggenggam tangan Allena yang berdiri di sampingnya. Tak ada yang lebih telaten dalam mengurus Zefran selain Allena. Wanita itu melakukan segalanya demi kesembuhan Zefran. Meski untuk itu selama hampir dua bulan wanita itu harus bekerja work from home.
Sehari-hari Allena melukis sketsa design busana saat Zefran tertidur. Wanita itu, kadang melukis wajah suaminya saat idenya buntu. Dan itu menjadi candaan baginya saat melukis wajah suaminya.
"Masa wajahku seperti ini sih?" tanya Zefran saat Allena menunjukkan sketsa wajah Zefran yang terlihat acak-acakan.
"Mata orang jenius akan melihat ini lebih tampan dari aslinya," ucap Allena.
"Jadi aku kurang jenius gitu?" tanya Zefran.
"Bisa jadi," ucap Allena sambil menahan senyum.
Tiba-tiba para sahabat datang dan langsung ikut nimbrung pembicaraan mereka.
"Apa sih itu? Siapa yang kurang jenius?" tanya Shinta tiba-tiba menyela.
"Ini, orang jenius akan melihat lukisan ini lebih tampan dari aslinya. Ya 'kan?" tanya Allena sambil menunjukkan lukisan sketsa wajah Zefran.
"Wah, imajinasimu terlalu tinggi. Zefran tak setampan ini," ucap Shinta langsung.
Zefran membelalakkan matanya. Valendino juga langsung ikut melihat.
"Allena jangan takut melukis wajah aslinya, kenapa harus lukis dia setampan ini?" tanya Valendino.
Zefran ternganga.
"Masa seperti ini, tampan sih?" tanya Zefran lagi.
"Coba kulihat!" seru Altop.
"Oh, emang nggak mirip," ucap Altop.
"Betul 'kan?" tanya Zefran.
__ADS_1
"Ya, gantengan lukisan ini," ucap Altop lalu tertawa.
"Kalian semua nggak jujur," ucap Ronald langsung melihat lukisan di tangan Altop.
"Nah, Ronald nih yang jujur," ucap Zefran serasa mendapat dukungan.
Ronald menatap lukisan itu lalu menoleh pada Zefran lalu menatap lukisan lagi, berulang kali membuat Allena cekikikan.
"Allena, kamu takut dimarahi Zefran ya? Kamu sengaja melukis Zefran lebih ganteng di lukisan ini?" tanya Ronald.
Semua tertawa, Zefran berharap sahabatnya yang satu ini akan membelanya namun Ronald justru sama seperti yang lainnya. Zefran melempar bantal ke arah sahabatnya itu.
"Aku tidak datang ke pestamu!" ucap Zefran pura-pura merajuk.
Semua tertawa, Allena mendekati suaminya dan memelukku.
"Meski semua orang-orang jenius ini mengatakan lukisan itu lebih tampan dari Kakak, tapi aku tetap cinta Kakak," ucap Allena merangkul Zefran dari sisi ranjang rumah sakit.
"Terima kasih sayang," jawab Zefran langsung mengecup bibir istrinya.
Semua bertepuk tangan riuh. Mereka tertawa bersama melihat kemesraan Zefran dan Allena. Zefran ingin duduk di kursi roda, Allena pun membantunya. Valendino langsung mengambil alih. Laki-laki itu mendorong kursi roda Zefran menghadap ke sofa.
"Orang jenius nomor empat ingin menyampaikan pengumuman ya," ucap Ronald.
"Jenius nomor empat?" tanya Zefran.
"Ya, yang pertama itu Shinta, lalu Valen kemudian Altop dan terakhir aku. Sayangnya kamu tidak termasuk," jawab Ronald menunjuk pada Zefran.
"Pengumuman apa itu?" tanya Allena sangat penasaran.
"Kami sudah menentukan tanggal pernikahan kami, bulan depan," jawab Ronald.
"Wah, selamat Kak, cepat sekali," ucap Allena.
"Rupanya diam-diam sedang mempersiapkan pernikahan, pantas jarang nongol di Night Club," ucap Altop dan langsung memeluk sahabat sejatinya itu.
Semuanya pun bergantian mengucapkan selamat. Ronald berharap bulan depan kondisi kesehatan Zefran sudah membaik. Begitu juga dengan Frisca yang masih menjalani rutinitas kemoterapinya.
"Baiklah, aku sudah siapkan seragam pengantin kalian di studio ku. Datang saja ke perusahaan fashion Ny. Marilyn, temanku Vivi akan memandu kalian kalau ingin fitting. Sebenarnya aku ingin menemani tapi aku tidak bisa meninggalkan kekasihku," ucap Allena sambil memeluk Zefran dari belakang kursi rodanya.
Zefran menoleh sambil tersenyum.
"Terima kasih Allena. Kamu masih ingat janjimu padahal mengingat masalah yang kalian hadapi. Aku tak bisa berharap lagi," ucap Ronald.
"Tentu ingat dong Kak, aku sudah janji sama Kayla. Nanti bisa ngamuk dia, lagi pula selama menemani Kak Zefran aku tetap bekerja kok. Jadi semua tetap beres, kalau mau jasa melukis wajah juga, aku bisa lakukan untuk kalian di sini," ucap Allena sambil tersenyum.
"Makasih ya, nggak usah. Kalau harus jadi orang jenius dulu untuk melihat lukisanmu," ucap Ronald.
Allena dan yang lain tertawa bahkan terbahak. Mereka menghabiskan malam dengan berbincang-bincang. Kemudian berpamitan, meninggalkan Allena dan Zefran di ruang rawat inap itu berdua.
"Sekarang waktunya Kakak tidur," ucap Allena.
__ADS_1
"Masa baru jam segini udah mau tidur sih," ucap Zefran sambil menggenggam kedua tangan istrinya.
"Besok Kakak ada jadwal fisioterapi lagi. Tubuh Kakak harus fit, sekarang waktunya istirahat ya," ucap Allena sambil membantu suaminya pindah kembali ke ranjang rumah sakit.
"Apa masih terasa nyeri dan kaku?" tanya Allena.
"Sudah berkurang banyak," jawab Zefran.
"Syukurlah," ucap Allena.
Zefran rebah di ranjang rumah sakit itu dan segera menggeser posisinya. Tangannya menepuk di sebelah tubuhnya, meminta Allena untuk segera naik ke atas ranjang itu. Allena tersenyum dan memenuhi permintaan suaminya. Segera naik ke ranjang itu dan Zefran langsung memeluknya.
"Terima kasih untuk segalanya sayang," ucap Zefran sambil mengecup puncak rambut istrinya.
"Untuk segalanya? Apa maksudnya itu?" tanya Allena.
"Semuanya yang kamu lakukan untukku dan teman-temanku. Kamu tak cukup hanya memberikan kebahagiaan padaku, memberikan anak-anak untukku. Bahkan kamu juga menyayangi teman-temanku. Dibandingkan kebaikan kamu, kebaikanku belum seberapa," tutur Zefran.
"Oh, tidak apa-apa, asalkan Kakak tidak membenci teman-temanku. Kakak sayang padaku dan anak-anakku, itu sudah cukup. Yang bahaya kalau Kakak sayang pada wanita lain," ucap Allena.
Zefran tertawa, semakin mempererat pelukannya.
"Aku cuma sayang dan cinta sama kamu," jawab Zefran.
Zefran membenamkan bibirnya ke bibir wanita itu, Allena tersenyum saat merasakan tarikan-tarikan lembut di bibirnya.
"Aku bahagia berdua saja denganmu tapi aku bosan berada di rumah sakit. Apa kita bisa segera pulang ke rumah dan melakukan rawat jalan saja?" tanya Zefran.
"Baiklah, besok aku tanyakan ke dokter. Kakak sudah kangen rumah?" tanya Allena.
"Ya sayang, aku sangat kangen kamar kita," jawab Zefran.
Allena mengangguk dan seperti janjinya, keesokan harinya meminta izin pada dokter agar Zefran bisa rawat jalan. Dokter mengizinkan, dengan penjagaan Allena, dokter yakin Zefran bisa dapat sembuh dengan cepat.
Allena kaget saat sampai di rumah tapi tidak ada siapa pun. Sambil mendorong kursi roda Zefran, Allena memanggil-manggil namun tak ada yang mendatangi. Bahkan para pelayan pun tak ada yang menampakkan puncak hidung mereka. Namun tiba-tiba terdengar suara bayi
"Mma-mma." Allena langsung berlari ke arah suara.
"SURPRISE!!!" terdengar teriakan dari orang-orang yang tiba-tiba muncul.
Allena dan Zefran terkejut, hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Zara nggak asik nih, mengacaukan rencana aja," ucap Ronald sambil mencubit pipi tembem bayi itu.
"Zara kangen sama Mamanya Om," ucap Rahma.
Allena langsung menggendong putrinya, dan mencium pipi bayi yang cantik itu. Sementara Zefano mendekati ayahnya dan memeluk laki-laki itu. Allena dan Zefran bahagia, mendapat surprise dari keluarga dan teman-temannya.
Mereka termangu saat muncul seorang gadis cantik berpakaian perawat dan langsung mengenalkan diri sebagai perawat yang akan menjaga Zefran di rumah. Allena dan Zefran langsung saling berpandangan.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1