
Zefran mendengar dari para pelayan kalau Allena pergi membawa putra putri mereka. Zefran terduduk sambil mengusap wajahnya kasar, setitik bening menitik dari sudut matanya. Hanya karena kecemburuannya Zefran kembali menyakiti hati istrinya. Zefran menyesal, sangat menyesal. Laki-laki itu segera meraih ponselnya dan menghubungi Allena.
Sekian lama mendengar nada dering ponsel, namun Zefran masih belum mendengar suara istrinya. Zefran mencoba mengulangi, mengulanginya lagi namun hasilnya tetap sama. Allena tak mau menerima panggilan teleponnya.
"Ibu tolong, bantu aku temukan Allena. Aku menyesal Bu. Allena tak mau menerima panggilan teleponku," ucap Zefran menangis sambil menggenggam kedua tangan mertuanya.
Setelah mencari ke mana-mana, Zefran akhirnya pasrah mendatangi rumah ibu mertuanya dan memohon bantuan Bu Vina untuk menemukan Allena.
"Kalau sekarang mungkin Kak Allena juga tak akan mau mengangkat telepon dari kami Kak. Mungkin besok atau lusa, takutnya Kak Allena curiga kalau kami tiba-tiba menelpon," tutur Rahma.
"Rahma, tolong Kakak ya! Tolong cari tahu di mana Kak Allena. Kakak menyesal, Kakak khawatir pada mereka. Kak Allena pasti sangat marah, hingga membawa anak-anaknya pergi. Kakak tidak bermaksud menyakitinya. Sungguh, Kakak tidak bermaksud menyakitinya," ucap Zefran yang memohon sambil menangis.
Zefran tak mampu jauh dari Allena namun tak mampu mengendalikan emosi dan ucapannya. Setelah meminta maaf dan memohon dengan sangat pada Bu Vina dan Rahma. Laki-laki itu akhirnya kembali ke kantor dengan lunglai. Rebah di sofa panjang yang biasa menjadi tempat beristirahatnya.
Zefran menutupi wajahnya dengan sebelah lengannya dan menangis di situ.
Maafkan aku Allena, tolong maafkan aku. Hukum aku sesuka hatimu tapi jangan tinggalkan aku, batin Zefran menangis.
Patrick mendatangi Zefran dan duduk disampingnya. Laki-laki itu menghembuskan napas panjang. Patrick tidak suka melihat sahabatnya itu bersedih sementara dia tidak bisa melakukan apa pun. Laki-laki itu memutar otak untuk mencari jalan keluar dari masalah Zefran.
"Bagaimana ini Patrick? Apa yang harus aku lakukan?" tanya Zefran tanpa menurunkan lengannya yang menutupi matanya.
Patrick tertunduk, dia sendiri pun tak memiliki jawabannya.
"Kamu tidak mencarinya?" tanya Patrick.
"Aku sudah mencarinya ke mana-mana. Tak banyak tempat yang bisa disinggahi Allena. Aku sendiri bingung harus mencari ke mana lagi. Meski malu dan takut, tapi aku beranikan diri mencari ke rumah mertuaku tapi dia tetap tak ada di sana," jelas Zefran.
"Apa mungkin ibu mertuamu sengaja menyembunyikannya?" tanya Patrick.
"Aku rasa tidak, ibu sendiri terlihat panik saat tahu Allena pergi. Lagi pula, ibu bukan tipe seperti itu, beliau pasti justru menyuruh putrinya menemuiku. Beliau tak akan izinkan putrinya menunda menyelesaikan masalah," tutur Zefran dengan suara yang mulai serak.
Patrick terdiam sesaat, tiba-tiba teringat sesuatu.
"Kapan terakhir dia mengirim pesan padamu?" tanya Patrick.
"Kenapa?" tanya Zefran.
"Jika masih belum terlalu lama, kita masih bisa melacak alamat IP ponsel Allena," jelas Patrick.
Zefran langsung duduk dan memeriksa percakapannya dengan Allena di ponsel. Namun terlihat raut kecewa di wajahnya.
"Kami jarang berkomunikasi lewat telepon karena selalu bisa bertemu di rumah. Terakhir mengirim pesan sudah sangat lama," ucap Zefran sambil menaruh ponselnya di meja dengan kasar lalu kembali rebah di kursi panjang itu.
"Kalau kamu mencoba mengirim pesan bagaimana? Barangkali dia mau membalasnya," ucap Patrick mengusulkan.
__ADS_1
"Mana mau Patrick, aku saja meneleponnya tak pernah diangkat apalagi hanya mengirim pesan. Pasti lebih diabaikannya," jawab Zefran putus asa.
"Kalau begitu sulit melacak keberadaannya. Kalau dia tiba-tiba mengirim pesan segera hubungi aku. Kita coba melacak ponselnya setelah itu," ucap Patrick.
Patrick kehabisan akal, tak ada lagi yang bisa diusulkannya. Satu-satunya cara hanya jika Allena mengirim pesan untuk Zefran. Laki-laki itu pamit pada atasan sekaligus sahabatnya itu. Kembali ke ruangannya meninggalkan Zefran dengan hati yang penuh penyesalan.
Sementara itu Allena dan kedua anaknya beristirahat di sebuah hotel.
"Kenapa kita di sini Ma?" tanya Zefano.
"Kita sedang bersembunyi," ucap Allena sambil tersenyum. Zefano juga ikut tersenyum.
"Sembunyi dari siapa?" tanya Zefano.
"Dari Papa,"
"Kenapa?" tanya Zefano penasaran.
"Karena Mama ingin kasih pelajaran sama Papa," jawab Allena sambil tersenyum. Zefano pun ikut tersenyum.
"Kenapa? Papa nakal ya Ma?" tanya Zefano.
"Ya, makanya sementara kita di sini dulu. Zeno mau kan temani Mama di sini?" tanya Allena.
"Mau tapi kapan kita daftar sekolahnya?" tanya Zefano.
Zefano mengangguk, Allena tersenyum. Hatinya memang terluka dengan ucapan Zefran tapi wanita itu tidak bisa membenci suaminya. Hatinya memang lelah diperlakukan seperti itu. Karena itu Allena ingin memberi pelajaran pada Zefran sebelum nanti memaafkannya.
Allena menoleh ke arah ponselnya yang kembali bergetar. Entah sudah berapa ratus kali ponsel itu bergetar di atas nakas di samping ranjang hotel itu. Allena akhirnya menaruh ponsel itu ke dalam travel bag yang berisi pakaian mereka yang dibawa seadanya.
Kadang Allena merasa tak sampai hati dan ingin menerima panggilan telepon itu. Tapi dia mencoba untuk bertahan, langkahnya pergi dari rumah bersama anak-anaknya ini terbilang nekad. Tapi Allena ingin mencobanya agar Zefran bisa merasakan efek dari perbuatannya.
"Kita makan siang di kamar saja ya sayang? Apa Zeno sudah lapar?" tanya Allena yang dibalas dengan anggukan oleh Zefano.
"Ok!" Allena pun memesan layanan kamar untuk mengantarkan makan siang mereka.
Saat menyantap makan siangnya Allena termenung, teringat pada suaminya karena belakangan Zefran selalu makan siang di rumah. Bermain sebentar dengan anak-anak dan bermesraan dengannya lalu kembali berangkat ke kantor.
Sedang apa Kak Zefran sekarang? Apa dia menyantap makan siangnya? Apa aku tidak keterlaluan berbuat seperti ini? Bagaimana kalau nanti rumah tangga kami benar-benar berakhir? Aku tidak sanggup, aku tidak sanggup benar-benar berpisah darinya, batin Allena.
Wanita itu menghentikan makan siangnya. Nafsu makannya langsung hilang.
"Mama makannya udah? Kok nggak dihabisin?" tanya Zefano.
"Ya Nak, sebentar lagi Mama habiskan ya," jawab Allena.
__ADS_1
Wanita itu masih risau akan keputusannya untuk pergi dari rumah. Bukan istri yang baik menurutnya, pergi tanpa izin suami tapi Allena juga ingin menunjukkan kemarahannya pada Zefran. Kali ini wanita itu tak akan semudah itu memberi maaf. Meski Zefran langsung menyesali dan meminta maaf tapi Allena berpikir rasa penyesalan Zefran tak cukup untuk membuatnya berubah.
Allena bertahan di hotel itu bersama anak-anaknya. Sementara Zefran setiap hari menunggu di depan perusahaan fashion berharap istrinya akan mampir ke perusahaan tempat wanita yang dicintainya itu bekerja.
Namun Zefran selalu kecewa, Allena tak pernah muncul sekali pun di perusahaan itu. Laki-laki itu putus asa, kembali bertanya pada ibu mertuanya dan Rahma.
"Maaf Kak, aku sudah mencoba menghubunginya tapi tak pernah diangkat. Ibu juga mencoba tapi hasilnya sama saja," jawab Rahma saat Zefran menanyakan.
"Ibu juga telah mencoba dengan menggunakan ponsel ibu sendiri tapi anak itu tetap tak menerima panggilan ibu. Dia seperti hilang ditelan bumi," ucap Vina bersedih.
"Nggak Bu, Kak Allena nggak hilang Bu, Kak Allena baik-baik saja. Cuma Kak Allena tak ingin kita mengganggunya. Ini terbukti Kak, berkali-kali ponsel Kak Allena kami hubungi, ponsel itu tak pernah mati. Selalu aktif cuma dia tak mau menerima panggilan telepon dari kita," jelas Rahma.
Zefran tertunduk, air matanya menetes.
Andai waktu bisa kembali, aku akan bersabar. Aku akan memilih diam daripada melontarkan kata-kata yang bisa menyakitinya. Maafkan aku Allena, aku menyesal, lakukan apa pun untuk meluapkan kekesalan hatimu tapi jangan tinggalkan aku. Jangan tinggalkan aku Allena, aku mohon, jerit hati Zefran sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Laki-laki itu pamit pulang ke rumah namun akhirnya mampir ke Night Club. Laki-laki itu ingin melupakan kesedihannya dengan berkumpul dengan teman-temannya.
"Ada apa Zefran? Kamu ke sini tapi pikiranmu entah ke mana," ucap Valendino.
"Ya, dari tadi cuma minum tapi tak bicara apa pun. Apa kamu sedang dalam masalah? Kamu bertengkar dengan Allena?" tanya Altop.
Zefran tetap diam dan masih terus meminum minumannya. Laki-laki itu seperti tak ingin mendengar apa pun.
"Kamu bertengkar dengan Allena?" tanya Valendino mengulang pertanyaan yang tak dijawab Zefran.
Mendengar nama Allena kembali disebut laki-laki itu mengangkat wajahnya menatap teman-temannya.
"Maaf aku ingin pulang," ucap Zefran akhirnya.
Laki-laki itu berdiri dengan sempoyongan.
"Zefran, aku antar kamu pulang," ucap Valendino.
Zefran menggelengkan kepalanya begitu juga kedua tangannya yang melambai menolak.
"Kamu kembali ke kantor?" tanya Valendino lagi.
Terlihat Valendino yang begitu khawatir, begitu juga dengan teman-temannya yang lain. Zefran mengangguk dan Valendino pun membiarkan laki-laki itu keluar dari Night Club. Zefran memang kembali ke kantornya.
Merebahkan dirinya di kursi panjang yang biasa menjadi tempatnya beristirahat. Zefran ingin beristirahat, sangat ingin beristirahat karena hati dan tubuhnya yang terasa lelah. Namun laki-laki itu justru tak bisa tidur.
Zefran memutuskan untuk pulang. Dalam keadaan yang tak stabil laki-laki itu justru ingin segera sampai ke rumahnya. Dengan kecepatan tinggi laki-laki itu melajukan mobilnya meninggalkan gedung perusahaannya.
Sesekali menggelengkan kepalanya saat pandangannya mulai terasa kabur. Itu dilakukannya beberapa kali hingga di satu saat pandangan kabur itu terjadi lagi. Zefran, kembali menggelengkan kepalanya hingga tak menyadari mobilnya mengarah pada separator jalan.
__ADS_1
Dengan kecepatan tinggi mobil itu menabrak beton yang digunakan untuk membagi jalan menjadi dua arah itu. Mobil itu terguling beberapa kali. Pandangan Zefran kabur namun dia tak mampu lagi menggelengkan kepalanya. Pandangannya kabur, semakin kabur hingga akhirnya gelap gulita.
...~ Bersambung ~...