
~ Selain dirimu sendiri, jangan sodorkan lagi wanita mana pun padaku. Mengerti! ~
Kata-kata itu sangat berkesan, baik di hati Allena maupun di hati Zefran. Dari situ Allena tahu kalau Dr. Devan kesal karena di jodohkan dengan wanita lain. Bagi Zefran kata-kata dokter itu dengan nyata menginginkan istrinya.
Perlahan Allena mengangkat wajahnya ingin menatap wajah suaminya karena wanita itu ingin tahu reaksi laki-laki itu yang jelas-jelas telah membaca pesan di ponselnya.
"Aku …" Allena tak tahu apa yang akan diucapkannya.
"Kamu ingin menjodohkan Dok-ter Devan dengan Santi?" tanya Zefran dengan menekankan profesi temannya itu.
"Apa itu masuk akal? Apa tidak berpikir dulu sebelum menjodohkan orang? Hanya karena kamu berhasil menjodohkan Rahma dengan Patrick, bukan berarti kamu bisa menjodohkan semua orang?" ungkap Zefran.
"Bu-bukan begitu. Aku …"
"Tapi baguslah ... karena ulahmu Devan nyata-nyata mengatakan inginkan dirimu. Apa kamu senang akhirnya dia mengatakan itu. Jangan Allena ... jangan jodohkan aku dengan wanita lain. Aku cuma inginkan kamu ... Kamu senang mendengar itu? Atau jangan-jangan menjodohkan Santi dengan Devan itu hanya akal-akalan kamu agar bisa bertemu lagi dengannya, karena kamu tahu, Devan pasti akan menolak Santi," tanya Zefran seperti meledek Allena.
Allena diam menatap lurus ke mata Zefran. Diam, hanya diam dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Di pandangi seperti itu Zefran terkejut, mulai sadar kalau ucapannya menyinggung perasaan istrinya. Allena berdiri dari ranjang itu dan berjalan ke balkon. Berdiri menunduk di pagar pembatas balkon itu. Allena ingin menenangkan hatinya agar jangan sampai timbul keinginan untuk pergi.
Karena jika seperti itu, Zefran sudah tidak berhak lagi melarangnya. Allena memendam kesedihannya, bertahan berdiri diam di balkon samping kamar itu. Tiba-tiba tangan Zefran melingkar di dada dan pinggang.
"Maafkan aku."
Allena diam. Zefran panik, laki-laki itu memejamkan matanya menyesali ucapnya sendiri. Laki-laki itu menunduk mencium pangkal leher wanita yang dicintainya itu. Sadar telah melanggar janjinya sendiri untuk tidak mengucapkan kata maaf lagi, tapi seharusnya berusaha menahan diri dan ucapannya.
"Maaf … Ah, tidak … maksudku … aku tidak bermaksud seperti itu, maafkan aku," ucap Zefran.
Kata-kata yang begitu terbiasa diucapkannya, bahkan tanpa sadar.
Maaf, maaf, maaf, kenapa mudah sekali keluar dari mulutku, setelah menyakiti hatinya. Begitu ringan mulut ini berkata maaf, batin Zefran.
Allena ingin bergerak pergi, Zefran mengetatkan pelukannya.
"Aku mencintaimu," ucapnya tiba-tiba membuat kening Allena mengernyit.
Ini lebih baik daripada terus berkata maaf, bagi Allena maaf adalah pengakuan rasa bersalah dan tidak akan mengulanginya. Aku harusnya tak menggunakan kata itu lagi, batin Zefran.
"Aku hanya ingin kamu berpikir, mana mungkin Devan mau dijodohkan dengan seorang baby sitter," ucap Zefran mengalihkan kesalahannya tadi karena menuduh Allena mencari alasan untuk menemui Dr. Devan.
"Bukan begitu, Dr. Devan itu salah, Santi sebenarnya …" ungkap Allena tertahan.
"Apa?" tanya Zefran tak mengerti maksud ucapan istrinya karena tiba-tiba terhenti begitu saja.
Allena ragu mengungkapkan jati diri Santi karena Allena sendiri belum tahu banyak tentang siapa gadis itu dan apa rencananya. Bingung menjelaskannya, Allena memutuskan beranjak dari tempat itu namun tangan Zefran semakin kuat melilit tubuhnya.
__ADS_1
"Tolong mengertilah perasaanku Allena, menurutmu seperti apa perasaanku saat membaca pesan itu. Sahabatku menggoda istriku, menginginkan istriku, apa … aku hanya boleh diam? Untuk menjaga perasaanmu apa aku hanya boleh diam? Kamu tahu berapa lama aku diam menatapmu sedang tertidur? Selama itu aku menguatkan hatiku, berusaha menahan amarahku, berusaha memilih kata-kata untuk di ucapkan padamu. Tapi … jika kenyataannya seperti itu kata-kata yang terucap padamu setelah berusaha menahan diri, apa kamu masih ingin meninggalkan aku? Apa … masih ingin mengancamku untuk pergi? Jika seperti itu kamu masih marah, kali ini … bolehkan aku meminta maaf?" tanya Zefran dengan mata berkaca-kaca, sangat takut wanita itu menuntut janji untuk membiarkannya pergi.
Allena terdiam lalu menunduk memandangi tangan suaminya yang melingkari tubuhnya. Allena tersenyum, dalam hatinya juga tak ingin kehilangan pelukan itu. Dia juga tak ingin kehilangan suaminya yang begitu mengharapkannya itu. Allena menyentuh kedua tangan Zefran.
"Jangan lepaskan! Aku mohon," bisik Zefran.
"Aku tidak ingin melepaskannya, tapi … jika seperti ini, bagaimana cara aku membalik badan ke arah Kakak?" tanya Allena.
Zefran tersenyum, perlahan mengendurkan dekapannya hingga Allena bisa berbalik badan ke arahnya. Zefran menatap wajah cantik istrinya itu. Kembali memeluk dan menyatukan bibir mereka. Zefran bahagia, karena Allena tak membiarkan masalah mereka makin membesar. Zefran semakin erat memeluk wanita yang dicintainya itu dan ciuman mereka pun semakin memanas.
Tiba-tiba Zefran melepas ciumannya dan menoleh ke ranjang mereka.
"Bisakah? Aku pindahkan Zara dulu ya sayang?" tanya Zefran yang sama sekali tak memerlukan jawaban.
Allena hanya perlu mengikuti Zefran yang memindahkan Zifara ke ranjang bayi. Selanjutnya, Zefran telah mendorong perlahan istrinya ke ranjang mereka. Melanjutkan ciuman yang tadi terputus, menyesap manisnya mulut beraroma mint vanilla itu.
Zefran dan Allena melepas hasrat mereka, sesekali terdengar desah Allena dan Zefran bergantian hingga berakhir saat mencapai apa yang mereka inginkan. Mengatur napas sambil berpelukan, tak lupa Zefran mengungkapkan rasa cintanya pada wanita cantik itu dan mengakhirinya dengan kecupan di kening dan bibirnya.
"Santi bukan baby sitter sungguhan," ungkap Allena tiba-tiba.
"Apa? Apa maksudmu?" tanya Zefran heran.
"Dia hanya menyamar jadi baby sitter di rumah kita, aku belum tahu pasti identitasnya tapi … aku sudah tahu apa tujuannya. Jadi sebelum itu tercapai aku ingin membantunya memutar haluan," jelas Allena.
"Apa maksudmu ini? Aku tidak mengerti. Apa tujuannya menyamar?" tanya Zefran bertubi-tubi.
"Ya? Ada apa sayang?" tanya Zefran.
"Aku tidak memanggil Kakak. Aku memberi tahu tujuannya menyamar adalah Kakak," ungkap Allena akhirnya.
"Apa?" tanya Zefran sambil menghadap ke arah istrinya.
Zefran menatap wajah istrinya itu dan ingin melihat kesungguhan ucapannya.
"Aku sendiri belum pasti siapa dia sebenarnya, aku hanya mencoba untuk mengalihkan perhatiannya dari Kakak. Jika bisa jatuh cinta pada Dr. Devan dan sebaliknya, itu bagus 'kan?" tanya Allena, menunduk dengan jari telunjuknya bergerak menelusuri otot dada suaminya.
Zefran tersenyum mendengar pengakuan istrinya karena semua yang dilakukan Allena ternyata untuk mempertahankan dirinya. Laki-laki itu menggeser tidurnya hingga lebih merapat untuk memeluk Allena.
"Tapi, mungkin kamu salah sangka sayang. Kenapa kamu bisa yakin kalau Santi inginkan aku?" tanya Zefran.
"Aku pernah mendengar sendiri dia bicara."
"Bicara padamu?" tanya Zefran kaget.
__ADS_1
"Bukan … tapi bicara pada Zara. Dia bilang harusnya dia yang melahirkan Zara. Harusnya dia yang menjadi istri Kakak," jelas Allena.
"Apa? Oh ya ampun, dia bisa berpikir seperti itu?" tanya Zefran bicara sendiri.
"Aku pernah bicara dengan Mommy, kalau selain aku Kakak juga ingin dijodohkan dengan putri dari teman Mommy yang lain," ucap Allena.
"Oh, jadi karena itu kamu bertanya? Selain denganmu, apa Mommy menjodohkan aku dengan wanita lain?" tanya Zefran. Allena menjawab dengan mengangguk.
"Sebenarnya itu hanya pemikiranku sendiri kalau Santi adalah salah satu yang dijodohkan dengan Kakak, karena aku mendengar ucapan Santi, setelah Mommy bercerita tentang perjodohan itu. Itu membuat aku berasumsi kalau dia adalah salah satu dari putri sahabat Mommy yang dijodohkan dengan Kakak," jelas Allena.
"Bagaimana Mommy ini? Kok bisa menjodohkan aku dengan banyak orang?" tanya Zefran bingung sendiri.
"Ini bukan salah Mommy, kalau keinginan Mommy sendiri, Kakak di jodohkan denganku tapi ada sahabat Mommy yang lain, yang juga menginginkan Kakak. Jadi dia memaksa Mommy menyimpan cincin tunangan juga," jelas Allena memberi tahu agar Zefran tak salah sangka pada ibunya.
"Ya sayang ... tapi tetap saja, harusnya Mommy menolak," ucap Zefran.
"Kita tidak tahu apa yang Mommy pikirkan saat itu. Mungkin juga Mommy merasa terlanjur menjodohkan aku dengan Kakak tapi menyesal, karena ternyata sahabatnya itu juga inginkan Kakak dan Mommy lebih suka dengan sahabatnya yang itu, kalau begitu situasinya bagaimana?" tanya Allena.
"Aah, sudahlah Allena, aku tidak mau memikirkan perjodohan lagi. Kepalaku jadi pusing, pokoknya sekarang aku sudah menikah denganmu dan aku hanya mencintaimu. Aku tidak inginkan yang lain, titik!" ujar Zefran sambil memeluk erat istrinya.
Allena tersenyum dalam pelukan suaminya. Tentu saja wanita itu lega mendengar ucapan laki-laki itu. Allena membalas pelukan Zefran. Mereka ingin seperti itu lebih lama lagi, saling berpelukan tanpa ada apa pun yang membatasi. Tapi tiba-tiba Zifara terbangun dan menangis, Zefran tersenyum saat Allena menoleh padanya.
Laki-laki itu ingin bangun tapi Allena melarangnya. Allena segera bangun dan menarik kain putih pelapis selimut untuk dililitkan ke tubuh. Zefran tertawa saat Allena membiarkannya terbuka.
"Hot Mommy beraksi lagi!" seru Zefran lalu tertawa.
Allena tersenyum lalu menjulurkan lidah. Wanita itu tahu pasti, dengan tampilan seperti itu menyusui putrinya, Zefran akan bernafsu lagi. Zefran tertawa memandangi wajah istrinya yang begitu manis saat bertingkah seperti itu. Di ranjang bayi, Allena menyentuh kening dan pipi Zifara.
Oh, sudah tidak panas, Zara sudah tidak demam lagi sayang, batin Allena.
Lalu membawa putrinya ke kamar mandi, membersihkan Zifara dan kembali membawanya, ke kamar. Saat melihat Allena dan putrinya muncul, Zefran langsung menepuk ranjang di sebelahnya agar Allena duduk disampingnya.
"Bagaimana demamnya?" tanya Zefran.
"Sudah turun Kak," jawab Allena.
"Syukurlah." ucap Zefran.
Allena mengangguk sambil tersenyum. Wanita itu mulai menyusui putrinya. Zefran kembali terpana menatap pemandangan di sampingnya itu. Zefran begitu bahagia, cita-citanya untuk memiliki istri yang bisa melahirkan anak-anaknya telah terwujud. Zefran semakin mengagumi istrinya yang cantik itu.
Percayalah sayang, aku sudah mendapatkan yang terbaik, aku tidak inginkan yang lain lagi. Aku tidak akan peduli, entah itu Santi atau satu, dua, tiga wanita lain di luar sana yang telah di jodohkan denganku, aku tidak peduli lagi. Aku sudah mendapatkanmu, aku tidak butuh yang lain lagi. Aku cuma butuh kamu Allena, batin Zefran.
Zefran meraih dagu Allena dan membenamkan bibirnya ke bibir wanita yang dicintainya itu. Zefran selalu terpana menyaksikan istrinya yang sedang menyusui bayinya. Sebuah pemandangan yang diidam-idamkannya selama delapan tahun tanpa hadirnya bayi dalam pernikahannya.
__ADS_1
Kini, apa yang diidam-idamkannya itu hadir melalui wanita disampingnya ini. Apalagi yang Zefran inginkan? Selain hanya memberi dan menerima cinta, wanita cantik yang ada disampingnya itu.
...~ Bersambung ~...