Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 31 ~ Welcome Home ~


__ADS_3

Zefran mengabarkan tentang kehamilan Allena pada Bu Vina. Mendengar itu ibu Vina sangat gembira. Sangat bersemangat saat diajak menjenguk putrinya. Tapi keduanya terkejut saat melihat begitu banyak buket bunga memenuhi ruang rawat inap Allena.


Raut wajah Zefran berubah saat mengetahui siapa pengirim dari buket-buket bunga itu. Zefran menatap tajam pada Allena, sementara gadis itu menatapnya dengan wajah khawatir dan merasa bersalah.


"Ibu temani Allena dulu, saya harus pergi, ada sedikit urusan. Nanti saya antar pulang lagi," ucap Zefran pada ibu Vina.


"Selesaikanlah urusanmu jangan khawatirkan ibu, kalau ibu ingin pulang ibu bisa pulang sendiri," ucap Ibu Vina.


"Baiklah," jawab Zefran, melirik pada Allena lalu pergi begitu saja.


Perasaan Allena langsung tidak enak melihat tatapan Zefran. Namun, gadis itu berusaha tersenyum dan menghilangkan perasaan galaunya dengan menyambut kedatangan ibunya. Ibu Vina langsung bertanya tentang kehamilan Allena.


"Syukurlah, ternyata Zefran benar-benar tidak bermasalah. Ibu takut jika kamu tidak kunjung hamil dia akan menceraikanmu dan mencari wanita lain sebagai gantinya. Kalau istri pertamanya itu sepertinya tidak akan pernah bisa disingkirkannya karena mereka saling mencintai. Mereka berpacaran saat kuliah di luar negeri. Zefran bahkan melanggar perintah ibunya demi menikahi istri pertamanya itu. Tapi sudahlah, sekarang kamu telah mengandung anaknya. Ibu merasa senang sekali mendengar berita ini. Setiap hari ibu berdoa agar kalian segera dikaruniai keturunan dan Zefran semakin menyayangimu," tutur ibu Vina berbinar-binar.


Ibu Vina memeluk erat putrinya dan menangis haru sambil membelai rambut putrinya.


Sementara itu Zefran mendatangi kantor Valendino. Menerobos masuk dan langsung menemui laki-laki itu. Valendino yang sedang berbicara dengan tamunya terkejut saat melihat kedatangan sahabatnya dengan ekspresi yang tidak bersahabat itu.


"Maaf saya ada sedikit urusan, bisa kita lanjutkan pembicaraan ini nanti? Saya akan datang ke kantor anda secepatnya," ucap Valendino meminta izin untuk mengakhiri pertemuan.


"Baiklah saya tunggu kedatangan anda secepatnya," ucap tamu Valendino.


Setelah tamu Valendino keluar dari pintu, Zefran yang berdiri di depan jendela kaca langsung membalik badan.


"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah tidak punya malu? Mengganggu istri orang? Apa cuma itu kepandaianmu MENGGODA ISTRI ORANG?" teriak Zefran.


"Apa yang aku lakukan? Mengirim bunga? Apa salahnya mengirim bunga? Dia sedang sakit lalu aku mengirim bunga untuknya, apa yang salah dengan itu? Atau kamu merasa tersaingi karena selama ini tak pernah memberinya bunga? Menjadi kesal karena aku mendahuluimu?" tanya Valendino.


"Apa katamu?" tanya Zefran semakin geram.


"Aku pernah bertanya padanya apa kamu pernah memberinya bunga? Dia menjawab tentu saja kamu pernah memberinya bunga tapi entah mengapa aku tidak percaya dengan ucapannya. Aku hanya ingin mengirim tiga buket bunga dari setiap toko bunga. Tapi aku tidak menyangka ada banyak toko bunga di kota ini," ucap Valendino.


"Aku ingatkan padamu, mulai detik ini jangan pernah dekati istriku lagi! Kamu sudah menginjak harga diriku sebagai suaminya. Aku tidak akan memandangmu sebagai sahabat lagi. Kamu mengerti?" ucap Zefran mengancam dengan menunjuk wajah Valendino kemudian berbalik badan hendak pergi.


"Zefran! Aku berteman dengan Allena sebelum kalian menikah. Aku menyukainya juga sebelum kamu menikahinya. Dan saat aku menyatakan cinta kamu menyembunyikan pernikahanmu dengannya. Kamu yang membiarkan cintaku berkembang hingga demikian besar lalu tiba-tiba muncul dan memintaku untuk menghentikannya? Harusnya kamu yang bertanggung jawab atas perasaanku. Karena kamu telah menipuku. Sekarang kamu tidak bisa seenaknya memintaku menghentikan perasaanku padanya," papar Valendino sambil berjalan ke hadapan Zefran.


"Allena mencintaiku, berhentilah mengharapkan cinta darinya," ucap Zefran.


"Aku sendiri yang menentukan kapan aku akan berhenti mencintainya tapi untuk saat ini aku tidak bisa!" jawab Valendino.


"Tidak ada gunanya mempertahankan perasaan cintamu padanya. Allena tidak akan membalas cintamu," balas Zefran.


"Kita lihat saja nanti, apa cinta kalian akan berkembang atau hanya akan menguap. Kamu memiliki Frisca yang akan selalu berdiri di antara kalian. Sampai di mana Allena bisa bertahan dan sampai kapan Frisca menahan diri di duakan. Pada akhirnya kamu harus memilih satu di antara mereka dan Allena akan memilih mundur untuk mencari kebahagiaannya sendiri," tutur Valendino.


Zefran telah mengepal tangannya dan siap melayangkan tinjunya pada Valendino. Tapi laki-laki itu menahannya, dia tidak ingin terpancing oleh ucapan Valendino.


"Kamu akan menyia-nyiakan waktumu menunggu Allena. Aku tidak akan menyerahkan Allena padamu. Dia miliku, lahir dan batinnya adalah milikku," ucap Zefran mengakhiri pembicaraan mereka dan pergi dari ruangan itu.


Tidak ada yang sia-sia dalam memperjuangkan kebahagiaan, apapun hasilnya itu, batin Valendino.


Zefran melangkah meninggalkan gedung perusahaan keluarga Adelard. Dengan wajah yang geram dan pikiran yang berkecamuk.


Bagaimana Allena akan bertahan jika diganggu Valen setiap saat. Apa hati Allena bisa berpaling dariku? Bagaimana cara mempertahankannya? Aku tidak bisa kehilangan Allena, aku tidak ingin kehilangannya, apa yang harus aku lakukan? jerit hati Zefran.


Laki-laki itu duduk di belakang kemudi dengan perasaan yang galau. Sekian lama menyesali apa yang pernah diperbuatnya.


Andai saat itu aku langsung menyukainya, andaikan dia tidak sempat berkenalan dengan Valen, andaikan aku segera mengakui pernikahan kami, aku salah, aku telah salah mengambil keputusan, jerit hati Zefran.


Sekian lama duduk di belakang kemudi akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk kembali ke rumah sakit menemui istrinya. Berjalan pelan di tengah-tengah pengunjung rumah sakit. Melalui lorong demi lorong, selasar demi selasar. Hingga akhirnya mendengar pembicaraan dari orang-orang yang tidak dikenalnya.


"Dari nyonya Allena di ruang VVIP membagikan kembang untuk memperindah ruangan ini," ucap seorang perawat.


"Terima kasih suster kembangnya bagus-bagus sekali," balas penghuni bangsal.


Zefran mengamati perawat yang masuk ke bangsal lain. Dan kembali membagikan buket-buket bunga itu pada penghuni bangsal lain. Zefran menghampiri seorang perawat dan bertanya.

__ADS_1


"Permisi ini buket bunga dari pasien Allena?" tanya Zefran.


"Ya tuan," jawab perawat itu.


"Kenapa di bagi-bagikan?" tanya Zefran.


"Sepertinya karena terlalu banyak tuan," jawab perawat yang satu.


"Bukan, nyonya itu tidak mau menerima buket bunganya. Awalnya ada tiga buket bunga yang datang bersamaan saat itu kami sedang memeriksa tekanan darah nyonya Allena. Nyonya itu langsung memberikannya pada kami tapi tak lama kemudian datang lagi buket bunga yang lebih banyak. Nyonya itu meminta kami untuk membagikannya pada ruangan lain. Kami pikir sudah habis tapi selalu datang lagi, datang lagi, hingga akhirnya menumpuk di ruangan nyonya Allena. Sekarang kami mau mengambilnya dan akan membagikannya lagi, apa ada yang ingin tuan tanyakan lagi?" tanya perawat itu.


Zefran menggelengkan kepala dan perawat-perawat itu pun meminta diri.


Allena tidak ingin menyimpan buket bunga dari Valen, sejak awal ingin memberikannya pada orang lain. Dia pasti tidak ingin aku merasa kesal dengan pemberian laki-laki itu. Dia tidak inginkan buket bunga itu, istriku tak ingin menerima buket bunga dari pria lain, jerit hati Zefran sambil tersenyum sendiri.


Segera laki-laki itu berlari menuju ruangan Allena. Berhenti dan terpaku menatap dari lubang kaca pintu ruangan. Terlihat gadis itu masih bermanja-manja dengan ibunya. Ibu Vina merapikan rambut putrinya dan gadis itu kembali tersenyum. Ibu Vina menyuapi putrinya untuk makan siang dan Allena juga menyuapi ibunya dengan buah-buahan.


Terlihat Allena begitu bahagia saat bersama ibunya. Gadis itu tersenyum setiap saat.


Cantik sekali, senyum Allena cantik sekali. Kenapa aku tidak melihatnya sejak dulu? Kenapa Valen yang lebih dulu melihatnya. Kenapa baru sekarang aku menyadarinya? Kenapa aku terlambat? Apa aku masih bisa mempertahankanmu? Apa bisa selamanya menjadi milikku? jerit hati Zefran sambil tersenyum memandang istrinya.


Tiba-tiba Allena melihat ke arah pintu dan menatap Zefran yang berdiri di sana, senyum Allena yang tadi mengembang perlahan menghilang. Ibu Vina langsung menoleh ke arah pintu. Zefran masuk ke dalam ruangan dan tersenyum.


"Oh, sudah kembali? Urusanmu sudah selesai nak?" tanya Bu Vina.


Zefran mengangguk sambil duduk di kursi di samping Bu Vina.


"Allena baru selesai makan siang, kalau begitu ibu permisi pulang dulu ya?" ucap Bu Vina meminta izin pada Zefran.


"Ibu sudah mau pulang? Baiklah akan saya antar," ucap Zefran berdiri dari tempat duduknya.


"Tidak usah nak, ibu pulang sendiri saja," jawab ibu Vina menahan Zefran.


"Tapi--"


Allena langsung berkaca-kaca.


"Eh, apa-apaan ini kenapa malah nangis? Bukannya ibu pernah bilang kalau kamu kangen sama ibu. Datanglah ke rumah, jangan menangis! Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu, kamu tidak boleh cengeng lagi," ucap Bu Vina.


Bu Vina menoleh pada menantunya, Zefran langsung berdiri menghormati ibu mertuanya.


"Maaf ya, Allena jadi cengeng begitu. Maklum Putri ibu satu-satunya selama ini tidak pernah berpisah barang sebentar pun. Kalau ada apa-apa suka menangis sama ibu. Sekarang ibu titip Allena ya nak, ibu mau pulang dulu," ucap Bu Vina yang dibalas anggukan oleh Zefran.


"Ya Bu, hati-hati di jalan," ucap Zefran memeluk dan mencium tangan Bu Vina.


Ibu Vina menepuk bahu Zefran, sangat bahagia melihat sikap menantunya yang begitu hormat padanya meski mereka berasal dari kelas yang berbeda.


Ibu Vina telah pergi, Zefran menunggu ibu itu hilang di balik tikungan lorong rumah sakit. Laki-laki itu kembali masuk ke dalam ruangan dan menemui istrinya. Allena menatap Zefran yang berjalan mendekatinya, air mata Allena langsung mengalir.


Hal yang ditakutkan akhirnya muncul. Allena bersiap-siap menerima kemarahan Zefran. Zefran duduk di hadapannya lalu tiba-tiba memeluknya. Allena kaget namun justru membuat gadis itu menangis tersedu-sedu.


"Maafkan aku Kak, aku tidak tahu kenapa kak Valen mengirim bunga untukku. Aku tidak pernah memintanya," ungkap Allena.


"Jangan menangis, kamu tidak boleh bersedih sayang," ucap Zefran sambil mengusap rambut gadis itu.


"Kakak tidak marah?" tanya Allena.


"Aku sedih," ucap Zefran singkat.


"Kenapa?" tanya Allena sambil menatap Zefran dengan mata yang masih berlinang.


"Kenapa aku tidak melakukannya lebih dulu, kenapa harus Valen yang lebih dulu membahagiakanmu," ucap Zefran sambil menghapus air mata Allena.


"Apa maksudnya?" tanya gadis itu polos.


"Kamu pasti bahagia menerima rangkaian bunga 'kan? Tapi aku tidak pernah memberimu rangkaian bunga," ucap Zefran.

__ADS_1


"Pernah! Kakak pernah memberiku rangkaian bunga," ucap Allena.


Zefran berpikir keras tapi tetap yakin tidak pernah melakukan itu.


"Sesaat setelah kita menikah, Kakak melempar boutonnieres di hadapanku. Aku mengambil dan menyimpannya hingga sekarang," cerita Allena.


Zefran tertawa. "Itu bukan buket bunga tapi cuma rangkaian bunga jas yang diselipkan di saku," ucap Zefran sambil tertawa.


"Tapi itu tetap rangkaian bunga meski hanya rangkaian bunga yang kecil tapi seorang florist juga memilih, merancang dan menyusunnya menjadi sebuah rangkaian bunga. Meski itu khusus untuk mempelai pria beserta pendampingnya," jawab Allena.


Zefran tersenyum mendengar penjelasan gadis itu.


"Aku janji Allena akan memberikan buket bunga untukmu setiap hari agar kamu selalu bahagia," ucap Zefran.


Allena menggelengkan kepalanya. "Bukan itu yang membuat aku bahagia," jawab Allena.


"Lalu apa?" tanya Zefran.


Mata Allena langsung berkaca-kaca lagi. "Aku akan bahagia jika aku melewati hari tanpa berbuat kesalahan. Jika aku bisa melewati hari tanpa membuatmu marah. Itulah yang membuat aku bahagia," ucap Allena menangis tersedu-sedu.


Zefran langsung memeluk gadis yang dicintainya itu erat. Membelai lembut rambut gadis itu. Zefran memejamkan mata meresapi ucapan polos dari istrinya.


Itu saja bisa membuatmu bahagia? Sulitkah mendapatkan itu? Apa karena aku selalu marah padamu? Karena aku selalu menyalahkanmu? Aku selalu menyakitimu. Aku selalu bersikap kejam padamu? Maafkan aku Allena, maafkan aku sayang, batin Zefran juga ikut menangis.


Allena balas memeluk erat Zefran. "Jangan menangis lagi Allena, kamu tidak boleh bersedih sayang," ucap Zefran menangkup wajah Allena.


Zefran mengangkat dagu Allena dan menempelkan bibirnya ke bibir gadis itu. Allena memejamkan mata meresapi ciuman hangat suaminya. Melingkarkan tangannya di leher Zefran. Membuat laki-laki itu semakin gencar menyesap bibir lembut Allena. Ciuman hangat Zefran yang bernafsu itu membuat nafas mereka memburu dan perlahan berakhir dengan tarikan-tarikan lembut di bibir Allena.


"Aku takut ada kunjungan dokter, jika tidak! Pintunya pasti sudah aku kunci," ucap Zefran sambil tersenyum.


Allena ikut tersenyum. "Jangan senyum lagi, senyummu itu magnet yang bisa menarikku untuk kembali menciummu," bisik Zefran.


Allena kembali tersenyum. Kali ini Zefran hanya memeluk Allena dia tidak ingin melanjutkan adegan ciuman di atas ranjang rumah sakit itu, laki-laki itu takut tidak bisa menahan diri. Sehari-hari Zefran menemani Allena, jika bukan gadis itu yang memaksa untuk pulang atau pergi mencari makan, Zefran tidak akan beranjak dari tempat itu. Zefran benar-benar ingin menjaga Allena dan menjaga hati gadis yang dicintainya itu. Dua hari berikutnya Allena dinyatakan sembuh dan diizinkan pulang.


"Kamu jangan bekerja di Night Club lagi ya sayang!" perintah Zefran sambil mengemudi.


Allena langsung menoleh pada suaminya dan tertunduk berpikir. "Tolong pikirkan perasaanku, bagaimana rasanya melihat istriku sendiri melayani pria lain," ungkap Zefran.


"Melayani apa?" tanya Allena.


"Melayani laki-laki lain membawakan minuman mereka. Aku sering berpikiran buruk karena itu, aku takut kamu di goda mereka. Ayolah, aku selalu mengikuti keinginanmu selama tiga hari ini," mohon Zefran sambil memelas.


"Baiklah tapi aku tetap bekerja di toko bunga ya?" pinta Allena.


Zefran mengangguk dan mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah. Hingga akhirnya memasuki garasi kediaman Dimitrios. Zefran membukakan pintu mobil untuk Allena. Laki-laki itu sangat memanjakan istrinya membuat Allena tertawa melihat tingkah suaminya. Bahkan saat memasuki rumah, Zefran pun membukakan pintu untuknya. Allena masuk dan mendapati teman-teman Zefran sudah menunggu di dalam rumah. 


"Welcome home!" teriak Altop, Ronald dan Valendino serentak.


Langsung memeluk Allena sambil menyerahkan buket bunga secara bergantian. Sikap yang biasa bagi mereka yang terbiasa dengan budaya luar. Menunjukkan bahwa mereka sudah menganggap Allena sebagai keluarga mereka. Zefran hanya diam menatap saat giliran Valendino memeluk Allena.


Sekarang berani menerobos rumahku untuk menemui Allena? Kamu pikir dengan begitu bisa lebih dekat dengannya? batin Zefran.


"Ayolah pelukannya sudah, kita makan siang dulu," ajak Mahlika.


"Aye aye, Captain!" teriak Ronald sambil mendorong Ny. Mahlika ke ruang makan.


Ny. Mahlika terlihat sangat senang melihat keempat fraternity itu berkumpul kembali di rumahnya. Kembali menikmati makan bersama seperti setiap kali mereka liburan musim panas dulu. Selalu tertawa melihat tingkah Ronald dan Altop yang bercerita. Hanya Allena yang terkadang risih, sesekali menoleh dan tersenyum pada suaminya yang duduk di sebelah kanannya lalu sesekali pada Valendino yang duduk di sebelah kirinya.


"Takdir memang sulit diprediksi Mom, sama seperti mereka. Kami mengenal Allena sebagai pacar Valendino eh akhirnya menjadi istri Zefran," papar Ronald.


"APA? ALLENA PACARAN DENGAN VALEN?" teriak Mahlika tak percaya.


Allena tersedak saat mendengar teriakan Ny. Mahlika. Zefran dan Valendino serentak memberikan gelas berisi air putih. Semua tercenung melihat Allena yang bingung memilih gelas yang disodorkan dihadapannya.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2