Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 42 ~ Kembali Lagi ~


__ADS_3

Ny. Mahlika naik ke lantai atas dengan emosi yang tak tertahankan. Membuka dengan kasar pintu kamar Frisca namun tak menemukan Zefran di kamar itu. Mencari di kamar mandi, walk in closet atau pun balkon. Zefran masih belum ditemukannya.


Lalu bergegas keluar dan menatap pintu kamar Allena. Membuka pintu kamar itu perlahan, antara yakin dan tidak Zefran akan berada di situ. Berjalan ke dalam dan langsung menemukan Zefran yang tidur sambil memeluk semua gaun Allena yang pernah dibelikan olehnya.


Ny. Mahlika menitikkan air mata saat melihat putranya yang terlihat begitu menderita karena kepergian istrinya. Nyonya itu naik ke lantai atas dengan tergesa-gesa karena Zefran kembali mengabaikan pertemuan penting dengan pimpinan perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaannya.


Zefran seperti kehilangan ruh sejak tak melihat Allena lagi di kamarnya. Tatapan matanya kosong dan lebih banyak melamun. Setiap hari masuk dan tidur kamar itu, menangis hingga tubuhnya terasa lelah.


Dasar bodoh, jika kamu begitu mencintainya, kenapa tidak menghalanginya pergi? Kenapa membiarkan Frisca mengusirnya? Jika kamu mau menerima anak itu, kenapa kamu tidak mencarinya? jerit hati Mahlika.


Nyonya itu menyesali putranya yang hanya diam terpuruk di rumah tanpa berusaha mencari Allena. Setelah menghadapi kenyataan bayi yang disayanginya itu dinyatakan bukanlah darah dagingnya, Zefran merasa terpukul.


Kata-kata yang pernah diucapkannya akan tetap menerima anak itu meski dinyatakan bukan anaknya langsung buyar. Sekian lama merasa yakin bahwa bayi yang dijaga dan dirawatnya itu adalah putra kandungnya. Tiba-tiba harus dipaksa percaya oleh lembaran kertas yang menyatakan bayi itu bukanlah anak biologisnya.


Bayangan Allena tidur dengan laki-laki lain semakin membuat hatinya terasa teriris. Hatinya terasa sakit karena Zefran yakin Allena sangat mencintainya. Keyakinan itu justru membuatnya sangat terluka saat mendengar dari mulut Frisca bahwa Allena sangat mencintainya hingga sanggup melakukan segala cara agar tetap bersamanya.


Memberikan anak yang diinginkan keluarganya akan membuat Allena tetap bertahan sebagai istrinya. Hati laki-laki itu terluka, hingga tak sanggup menahan Allena yang berpamitan di depan pintu.


Hanya berdiri tertunduk di tengah kamar yang penuh dengan barang-barang yang pecah sambil terisak. Setelah gadis itu pergi barulah dia tersadar akan rasa takut kehilangannya. Berlari mengejar namun tak melihat gadis itu lagi.


Menunggu berhari-hari di depan rumah ibu mertuanya. Namun tak melihat bayangan Allena sekali pun, hingga berkali-kali masuk ke toko bunga di mana Allena bekerja. Namun tak juga menemukan gadis yang dicintainya itu.


Zefran juga coba mencari di tengah pelayan yang berlalu lalang mengantarkan minuman. Zefran seperti orang gila yang menarik tangan pelayan setiap kali melihat gadis dengan seragam yang sama dengan seragam istrinya itu.


Hingga akhirnya membuat ricuh, Manager Night Club sampai membujuk laki-laki itu dan memastikan bahwa Allena sudah tidak bekerja lagi di situ.


Zefran yang mencari-cari tak mengetahui kalau Allena yang terluka, hanya mampu duduk termenung di sebuah kamar kost. Di temani Rahma yang mengasuh bayinya hingga uang simpanan mereka habis.


Sejak itu Zefran memilih minuman keras untuk mengalihkan rasa sedihnya. Altop dan teman-temannya hanya bisa menemani Zefran yang mengamuk jika Night Club itu tidak mau menambah minumannya. Meracau sambil menuding Valendino sebagai perusak rumah tangganya.


Hingga akhirnya Ny. Mahlika melarang putranya itu datang ke kantor untuk sementara waktu hingga suasana hati laki-laki itu membaik. Nyonya itu sedih setiap malam melihat putranya harus diantar oleh teman-temannya secara bergantian.


"Allena.., Allena jangan pergi, Allena.., Allena..," ucap Zefran yang mengigau.


Ny. Mahlika membelai rambut putra semata wayangnya itu sambil meneteskan air mata. Ikut merasakan kesedihan anak kesayangannya yang begitu merasa kehilangan.


"Setiap hari kerjanya kalau tidak mabuk ya tidur-tiduran saja," teriak Frisca yang baru sampai di rumah dan melihat pintu kamar Allena yang terbuka.


Merasa penasaran dan masuk ke dalam kamar, tersenyum mengejek saat melihat ibu mertuanya sedang memandangi putranya yang mabuk setiap hari.


"Kalau tidak di Night Club, mabuk di rumah…,"


"Cukup Frisca!" bentak Mahlika.


"Mom, aku ini kesal, sangat kesal. Saat Allena hamil dia menyambut kehamilan itu dengan hati senang sekarang giliran aku hamil, dia acuh tak acuh," ucap Frisca tak kalah kerasnya.


Membuat Zefran tersentak bangun dan heran karena melihat ibunya dan istrinya berada di kamar Allena.


"Siapa yang acuh tak acuh? Apa yang kamu inginkan untuk kehamilanmu itu?" tanya Mahlika.


"Aku menyesal telah berusaha hamil, sepertinya kehamilan yang diinginkan hanya kehamilan dari Allena," ucap Frisca.


"Frisca! Jaga ucapanmu! Nanti kamu menyesal berkata seperti itu, bukannya bersyukur telah diberi kesempatan hamil lagi malah mengucapkan kata menyesal," ucap Mahlika.


Zefran perlahan duduk di sandaran ranjang lalu menatap pakaian-pakaian Allena yang bertebaran di ranjangnya, Frisca kembali tertawa mengejek.


"Lihatlah CEO Dimitrios and Son, seperti orang linglung. Setiap hari Allena, Allena, Allena, kekuatan perempuan itu memang luar biasa. Sudah pergi pun masih saja membuat orang kesal," teriak Frisca sambil keluar dari kamar Allena lalu masuk ke kamarnya.


Tinggal Zefran yang duduk tertunduk dengan lemas. Ucapan menghina dari Frisca hanya diterimanya dengan diam. Ny. Mahlika menghela nafas berat.


"Jangan mabuk lagi nak, itu tidak menyelesaikan masalah. Jika kamu sungguh-sungguh mencintainya, carilah dia. Minta maaflah padanya dan bawa dia kembali," ujar Mahlika akhirnya karena tak tahan melihat kesedihan putranya.


"Aku tidak bisa menemukannya Mom, dia seperti menghilang di telan bumi," ucap Zefran dengan ekspresi sedih.


"Mandilah atau berendam di whirlpool agar tubuhmu jadi segar. Frisca protes karena kamu tidak memberikan perhatian padanya. Perbaikilah hidupmu, ini sudah sangat lama nak. Lima tahun itu waktu yang sangat lama untuk menyimpan penyesalan. Akhiri tingkahmu ini, pasrah menerima kepergiannya atau berusaha mencarinya, pilih salah tahu. Kamu harus bangkit lagi Zefran, Mommy akan tunggu kamu di bawah saat makan malam nanti, ya Nak," pinta Mahlika.


Ny. Mahlika keluar dari kamar Allena, langkahnya terhenti sekilas saat mendengar pembicaraan Frisca melalui sambungan telepon.


"Harganya mulai dari puluhan, ratusan bahkan hingga milyaran. Aku bahkan punya beberapa koleksinya," sahut Frisca dengan nada bangga.

__ADS_1


Ny. Mahlika menggelengkan kepalanya mendengar pembicaraan menantunya. Bisa dibayangkan kalau yang dibicarakan Frisca adalah barang-barang koleksinya. Nyonya itu melanjutkan langkahnya menuruni tangga. Ny. Mahlika memilih tidak ikut campur dengan urusan menantunya.


"Aku suka semua koleksinya, jika bingung memilih aku bahkan membeli semua. Aku dengar dia akan kembali ke tanah air. Jika ada peragaan busananya aku pasti akan hadir," ucap Frisca melalui sambungan telepon.


Diam sejenak mendengar ucapan dari seberang sana lalu kembali menimpali.


"Aku suka designnya, elegan tapi nyaman. Kalau untuk busana santai meski terlihat simple tapi jika dipakai tetap terlihat mewah. Designnya jauh dari kesan murahan, yah sesuai dengan harganya puluhan juta itu adalah yang termurah," lanjut Frisca.


Frisca kembali mendengarkan ucapan temannya lalu tertawa.


"Tentu, orangnya sangat berbakat dan mengerti sekali selera orang-orang selevel kita," sambung Frisca.


Frisca terdengar asyik bicara melalui sambungan telepon. Berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya sementara Zefran berendam di whirlpool dalam kamar mandi di kamar Allena. Laki-laki itu kembali termenung mengenang saat-saat bersama gadis itu.


Memejamkan mata sambil mengingat kembali kemesraan mereka di dalam kolam air hangat itu. Zefran tersenyum merasa kembali ke masa itu. Saat dirinya menunggu di kamar Allena dan melihat gadis itu baru saja pulang kerja dari toko bunga.


Setelah melalui malam yang panas, Zefran seharian merindukan gadis itu. Akhirnya memilih pulang dan kembali ingin mengulangi aksi bercintanya namun Allena keberatan karena dirinya yang baru pulang dan berkeringat. 


Zefran tersenyum membayangkan betapa dia bersikap seperti budak yang patuh untuk menyiapkan kolam air hangat hanya untuk mendapatkan kembali sensasi bercinta dengannya.


Menggendong gadis yang telah polos tanpa mengenakan apapun itu dan merebahkannya di kolam air hangat. Zefran kembali tersenyum, matanya yang masih terpejam mengalirkan air mata saat mengingat kemesraan mereka di dalam kolam air hangat itu.


Sekian lama tenggelam mengingat masa lalu, akhirnya Zefran memutuskan untuk bangkit. Zefran bertekad akan mencari gadis itu, tak peduli kapan bisa bertemu. Menjalani hari-harinya dengan tetap menyimpan rasa cintanya pada gadis itu.


Saat makan malam Zefran turun dari lantai atas dengan wajah yang lebih segar.


"Pangeran frustasi akhirnya keluar juga dari persembunyiannya," sindir Frisca.


"Frisca! Kamu ingin mendapat perhatian dari suamimu tapi lidahmu begitu tajam padanya. Apa yang kamu inginkan sebenarnya?" tanya Mahlika yang tak bisa lagi menahan kesalnya.


"Maafkan aku," ucap Zefran singkat.


Frisca dan Ny. Mahlika reflek menoleh ke arah laki-laki yang hanya menatap lurus makanan di hadapannya.


"Apa yang kamu sesali? Mengabaikan aku atau tingkahmu yang menyebalkan itu? Setiap hari menyebut nama Allena dan menebar aroma rumah ini dengan alkohol?" tanya Frisca sarkas.


"Semuanya" jawab Zefran cepat tanpa memberi kesempatan Ny. Mahlika membelanya.


"Aku heran, saat hubungan kita hangat kamu tidak kunjung hamil tapi saat aku tidak peduli padamu kamu justru bisa hamil. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kita berhubungan?" ucap Zefran akhirnya dengan sikap tak acuh.


Ny. Mahlika tercengang mendengar ucapan putranya yang terasa vulgar dan seolah tidak peduli jika terdengar olehnya.


Zefran tidak peduli dengan pandangan ibunya terhadap istrinya. Zefran merasa kesal atas ucapan kasar Frisca yang menuduh bayi yang dilahirkan wanita yang dicintainya itu sebagai anak haram karena jauh di lubuk hatinya Zefran sangat menyayangi bayi yang dihina Frisca itu.


"Itu karena kamu mabuk hingga kamu tidak ingat kapan kita berhubungan dan aku meminum obat penyubur kandungan agar bisa hamil" jawab Frisca dengan nada tinggi.


Ny. Mahlika memijat pelipisnya yang terasa sakit. Pertengkaran suami istri itu seharusnya tak perlu di dengarnya. Masalah hubungan suami istri itu harusnya mereka bicarakan di kamar. Tapi suami istri itu seakan tidak peduli jika harus terdengar oleh orang yang lebih tua.


Ny. Mahlika segera menyelesaikan makan malamnya dan meninggalkan meja makan itu lebih cepat membiarkan kedua anaknya itu berdebat. Memilih duduk di ruang tengah sambil membaca majalah.


Tak lama kemudian Frisca melintas di ruang tengah untuk pergi keluar.


"Mau kemana Frisca?" tanya Mahlika.


"Mau menenangkan pikiran," jawab Frisca tak acuh.


Lalu berjalan keluar rumah dan tak lama kemudian terdengar deru suara mobil menjauh dari kediaman keluarga Dimitrios itu. Zefran duduk di hadapan ibunya.


"Apa maksud ucapanmu tadi, apa kamu meragukan bayi yang dikandung Frisca?" tanya Mahlika.


"Entahlah Mom, ucapan itu keluar begitu saja. Mungkin karena kesal pada ucapannya tentang bayi Allena," jawab Zefran.


Ny. Mahlika mengangguk.


"Besok kamu mulai aktif lagi di perusahaan, iyakan? Kasihan Patrick menjalankan perusahaan itu sendirian," tanya Mahlika.


Zefran mengangguk, dan benar keesokan harinya laki-laki itu telah siap berangkat ke kantornya. Memulai harinya dengan lebih semangat. Sambil terus mencari tahu tentang Allena. Meski kadang kecewa saat Patrick menggelengkan kepala sebagai tanda belum bisa memberi jawaban yang diinginkannya.


Sore harinya di bandara, Allena berjalan keluar dari pintu kedatangan internasional. Setelah menempuh perjalanan sembilan belas jam dua puluh menit akhir gadis itu menginjak kakinya di tanah air. Melihat ke sekelilingnya dan menatap langit kemudian menarik nafas dan menghembuskannya.

__ADS_1


Dengan semangat masuk ke dalam taksi dan mengantarkannya ke rumah yang sangat dirindukan. Taksi berhenti tepat di depan halaman rumah di mana dia dibesarkan. Turun dari taksi dan memandang haru ke arah pintu.


Tak lama dia menikmati rasa haru itu, pintu terbuka. Seorang anak laki-laki berlari ke arahnya sambil menjerit. Allena segera masuk ke halaman rumah dan merentangkan tangan. Anak itu menghambur ke dalam pelukannya.


Allena menitikkan air mata, memeluk anak itu lama-lama. Merasakan hangat dan wangi aroma tubuhnya. Allena berkali-kali menciumi pipi anak itu seakan-akan ingin menebus semua rasa kehilangan kesempatan itu.


Lalu menatap lekat wajah anaknya yang semakin tampan. Tersenyum namun menitikkan air mata, Zefano menghapus air mata itu lalu menarik tangan ibunya masuk ke dalam rumah. Rahma memeluk erat tubuh Allena. Gadis itu membalas sambil membelai rambut gadis muda itu.


"Terima kasih, Rahma. Terima kasih untuk segala yang kami lakukan untukku dan keluargaku," ucap Allena sambil menitikkan air mata.


Teringat kembali gadis muda itu yang menemaninya di masa sulit. Saat dirinya terpuruk dan hanya termenung di kamar kost yang sempit. Dari lubuk hatinya yang paling dalam merasa apa yang dilakukan Rahma untuknya tak akan pernah terbayarkan.


Allena beralih pada ibunya yang telah berdiri di belakang Rahma. Gadis itu segera ingin memeluk ibunya. Namun, terhenti karena tangan ibunya yang tiba-tiba terangkat tinggi dan siap-siap dilayangkan ke wajahnya.


Allena, Rahma dan Zefano kaget melihat ibu Vina berbuat seperti itu. Sementara Allena hanya tertunduk, bersiap menerima hukuman ibunya. Namun, tangan itu hanya terhenti di udara. Ibu itu meneteskan air matanya.


"Teganya kamu membohongi ibu, sekian lama menganggap kamu bahagia dengan rumah tanggamu baik-baik saja. Jika bukan Rahma yang menghentikan ibu, mungkin ibu sudah merasa malu di rumah itu. Ibu lebih dipermalukan lagi karena telah di bohongi oleh putri sendiri," bentak Vina.


"Maafkan Allena Bu," ucap Allena sambil bersimpuh di kaki ibunya.


Menangis sambil memeluk kaki ibunya, melihat itu air mata Bu Vina mengalir dengan deras.


"Sampai kapan Allena, kamu menyimpan penderitaanmu sendiri? Ibu memang sudah tua, tidak bisa memberi solusi atau bantuan apa pun tapi setidaknya kamu bisa kembali ke rumah ini, tidak perlu luntang lantung diluar sana. Kamu bisa berbagi penderitaanmu meski ibu hanya bisa pasrah mendengarkan. Setidaknya ibu masih bisa berfungsi bagimu," ucap Vina sedih.


"Bukan seperti itu Bu, Allena tidak ingin membuat ibu sedih," jawab Allena masih tertunduk di kaki ibunya.


"Lalu apa sekarang ibu tidak bersedih?" tanya Vina.


Allena hanya diam tertunduk.


"Ibu merasa heran, seorang ayah tidak merasa rindu sedikitpun pada anaknya. Sekali pun Zefran tidak pernah datang ke sini untuk melihat anaknya. Ibu masih berpikir positif karena mereka adalah orang-orang yang sibuk tapi tidak adakah hari libur di rumah itu? Hingga tak sempat menengok putranya sendiri atau cucunya sendiri? Rahma menghentikan niat ibu untuk datang ke rumah itu dan menjelaskan semuanya. Bertahun-tahun ibu menahan hati ingin memarahimu karena kebohonganmu ini demi menjaga hatimu agar studimu tidak terganggu dan bisa segera kembali ke rumah ini," ucap Vina.


"Maafkan Allena Bu, maafkan Allena," ucap Allena tersedu-sedu.


Ibu Vina luluh kemudian duduk dan memeluk putrinya. Tentu ibu itu memaafkan putrinya namun ibu Vina telah menumpahkan kekesalan dan kemarahan yang telah ditahannya selama bertahun-tahun.


"Jangan pernah menutupi apa pun lagi pada ibu," ucap Vina sambil menangkup wajah putrinya.


Allena mengangguk, ibu itu mencium kedua pipi anaknya dan kembali memeluknya. Zefano tersenyum lalu ikut memeluk keduanya. Allena langsung memeluk anak laki-laki tampan itu dan menaruhnya di pangkuannya.


Zefano tersenyum senang berada di tengah kedua wanita itu. Menoleh ke kanan dan ke kiri sambil tersenyum, sementara Rahma hanya berdiri tersenyum menatap mereka.


"Rahma, ayo sini," ajak Allena.


Gadis itu pun langsung duduk bergabung dengan tiga generasi itu. Allena merangkul Rahma sambil tersenyum.


"Zeno paling ganteng di sini" ucap Zefano.


"Bukan, kamu paling ganteng se dunia," ucap Rahma.


Mereka pun tertawa bersama. Tiba-tiba ponsel Allena bergetar, gadis itu pun langsung menerima panggilan telepon itu.


"Halo apa benar ini nomor ponsel designer Allen-Rose?" tanya penelpon.


"Ya, betul," jawab Allena.


"Apakah benar telah sampai di Indonesia?" tanya dari seberang dengan suara girang.


"Ya, benar," jawab Allena lagi.


"Apa benar dalam waktu dekat ini mengadakan peragaan busana?" tanya penelpon lagi.


"Ya, benar," jawab Allena sambil memandang putranya yang fokus menatapnya.


"Oh ternyata benar, aku dan teman-temanku sangat menyukai koleksimu. Kami akan datang di peragaan busanamu nanti," ucap penelpon itu.


"Terima kasih," jawab Allena.


"Kalau begitu sampai ketemu di peragaan busana. Oh ya perkenalkan aku Frisca.., Frisca Dimitrios," ucap penelpon itu dengan nada riang kemudian menutup telponnya.

__ADS_1


Tinggal Allena yang tertunduk memandang ponselnya. Baru hitungan menit menginjakkan kaki di rumahnya. Masa lalu yang ingin dilupakannya justru datang menghampiri.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2