Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 108 ~ Memaafkan ~


__ADS_3

Surprise penyambutan kepulangan Zefran memang sangat mengejutkan. Namun ada yang lebih mengejutkan mereka, ketika muncul seorang perawat cantik yang mengenalkan dirinya pada Zefran dan Allena.


"Kenalkan Nyonya, Tuan, aku Zulia, perawat yang akan mengurus Tuan Zefran," ucap perawat cantik itu.


Karena terkejut mereka tak menyambut uluran tangan Zulia. Mereka justru saling berpandangan, Ny. Mahlika langsung maju untuk menjelaskan kalau yang menyewa perawat itu adalah idenya. Allena dan Zefran minta waktu untuk bicara dengan Ny. Mahlika.


"Kenapa Mommy pakai menyewa perawat segala?" tanya Zefran.


Laki-laki itu tahu pasti kalau istrinya akan keberatan dengan keputusan ibunya.


"Mommy kasihan jika Allena terus yang mengurus kamu," jawab Mahlika.


"Terima kasih Mommy begitu peduli padaku tapi aku masih sanggup mengurus suamiku sendiri. Jadi sebaiknya mempekerjakan perawat itu dibatalkan saja, Mommy," jawab Allena.


"Lagi pula aku ini sudah sembuh Mommy, hanya perlu terapi beberapa kali lagi. Jika sudah tidak terasa sakit, aku bisa berjalan normal seperti biasa," jelas Zefran melunak karena mendengar niat ibunya yang ingin meringankan beban istrinya.


"Terus terang Mommy, aku kurang senang jika suamiku diurus oleh wanita lain," ucap Allena lebih terbuka.


"Aku juga Mommy, aku tidak terbiasa diurus orang lain. Aku hanya ingin diurus oleh istriku, aku janji tidak akan begitu merepotkan Allena," jelas Zefran.


Allena menggelengkan kepalanya, tak setuju dengan ucapan Zefran. Baginya seperti apa pun mengurus suaminya tak terasa merepotkan baginya.


"Kalian tidak ingin mencoba beberapa hari atau sebulan ini? Mommy sudah terlanjur mengontraknya," ucap Mahlika.


"Tidak usah Mommy, lebih baik tidak mencoba sama sekali daripada timbul hal-hal yang mencurigakan. Kakak mungkin senang diurus gadis muda yang cantik itu tapi kalau aku tidak suka …"


"Enak saja bilang aku senang," protes Zefran sambil menoleh pada Allena.


Ucapan suaminya itu membuat Allena tersenyum.


"Daripada aku berpikir negatif pada mereka hingga akhirnya menuduh yang bukan-bukan lebih baik aku cut dari sekarang Mommy," lanjut Allena.


"Baiklah jika itu keputusan kalian, Mommy tidak bisa memaksa kalian. Kita tinggal beri kompensasi untuk kontrak yang dibatalkan," ucap Mahlika.

__ADS_1


"Terima kasih Mommy," ucap Allena sambil mendekati ibu mertuanya dan mencium pipinya.


Bagaimanapun juga yang dilakukan Ny. Mahlika adalah karena memikirkan kebaikannya. Mereka memutuskan untuk membatalkan kontrak kerja perawat itu. Allena meminta maaf pada gadis perawat itu dan memberikan kompensasi atas pembatalan kontrak kerjanya.


Gadis perawat itu menerima pembatalan kontrak dan meninggalkan kediaman Dimitrios setelah mengikuti pesta penyambutan kepulangan Zefran. Sesekali gadis itu tersenyum sambil melirik ke arah Zefran yang tertawa bersama teman-temannya. Namun terlihat agak kesal saat menoleh ke arah Allena.


Saat semua teman-temannya pamit pulang, Zefran di ajak ke kamar oleh istrinya. Zefran sangat senang bisa kembali ke kamar mereka. Dengan semangat Zefran berjalan sendiri menuju ranjangnya.


"Jangan terlalu dipaksakan ya Kak," ucap Allena.


Zefran mengangguk, terlihat begitu konsentrasi di setiap langkahnya. Laki-laki itu melangkah seperti sulit menjaga keseimbangan. Allena menjulurkan tangannya dan disambut oleh Zefran. Menurut Allena sekarang yang terpenting adalah kaki Zefran tak terasa sakit dan tidak kaku lagi. Sementara untuk menjaga keseimbangannya, Allena memilih membantu suaminya karena takut membiarkannya berjalan sendiri.


Setelah sampai di ranjangnya Zefran langsung lega dan meraih pinggang istrinya. Wanita itu melingkarkan tangannya di belakang leher suaminya dan menyatukan kening mereka.


"Aku senang Kakak sembuh dan kita bisa kembali pulang," ucap Allena.


"Aku lebih senang karena kamu kembali pulang. Kadang aku merasa bersyukur karena kecelakaan itu bisa membawamu kembali padaku," ucap Zefran.


"Kalau begitu jangan pergi lagi ya sayang! Kamu boleh maki aku, tampar, pukul, terserah apa yang ingin kamu lakukan tapi jangan tinggalkan aku lagi ya. Itu hukuman paling berat untukku," tutur Zefran sambil menempelkan tangan Allena ke pipinya.


Allena mengangkat tangannya seolah-olah ingin melayangkan tamparan. Zefran reflek memejamkan mata, Allena tertawa meledek suaminya yang seperti ketakutan menerima tamparan.


"Laki-laki dewasa, dengan tubuh tinggi besar takut dengan tangan kecilku, benar-benar tidak masuk akal," ucap Allena menertawakan suaminya.


"Itu namanya bukan takut tapi reflek, tak bisa disamakan. Aku tidak takut dengan perkelahian apa pun, aku tidak takut dengan tantangan apa pun," protes Zefran.


Allena tertawa seolah-olah tak percaya.


"Aku lebih takut saat melihatmu dengan laki-laki lain. Jika sudah seperti itu aku seperti tak memiliki keinginan untuk hidup lagi. Aku pernah ingin mengakhiri hidupku karena terlalu lelah menggapaimu …"


"Benarkah? Kapan Kakak punya pikiran seperti itu?" tanya Allena kaget sambil menangkup wajah suaminya.


"Hari di mana aku melihat Valendino mengantarmu ke perusahaan fashion. Aku benar-benar putus asa, dia selalu berbuat baik padamu dan aku selalu berlaku jahat sejak pertama kali bertemu denganmu. Bagaimana aku bisa mengalahkannya? Hatiku sangat sakit melihat itu, beruntung Patrick mencegahku, meski dia tak melarangku secara langsung. Tapi malam itu juga aku ditusuk Bobby, aku pasrah hidupku berakhir sampai di situ. Setidaknya aku tidak mengakhiri hidupku sendiri …"

__ADS_1


Allena langsung memeluk suaminya yang duduk di ranjang itu dan membenamkan wajah Zefran di dadanya.


"Aku tidak tahu Kakak menderita hingga seperti itu. Aku egois, aku pikir hanya aku yang menderita. Tapi seperti apa pun yang Kakak lakukan padaku sedikit pun tak membuatku berpaling dari Kakak. Percayalah, satu-satunya laki-laki dalam hidupku cuma Kakak," jelas Allena sambil menitikkan air mata.


Zefran memejamkan matanya sambil memeluk tubuh istrinya. Sudah seharusnya dia percaya pada istrinya, setelah apa yang dilakukannya sejak pertama kali menikah dengannya sudah cukup membuktikan cinta Allena padanya. Zefran menyesal atas sikapnya, semakin takut kehilangan Allena, laki-laki itu semakin menjadi pencemburu hingga sering menyakiti hati istrinya.


"Maafkan aku Allena, entah berapa kali aku mengucapkannya tapi tetap saja aku menyakitimu," ucap Zefran sambil menguatkan pelukannya.


"Aku maafkan Kakak," ucap Allena akhirnya.


Setelah terakhir kali Zefran meminta maaf, dan ditolak oleh wanita itu. Allena justru pergi meninggalkannya bersama anak-anak mereka. Akhirnya Allena menerima permintaan maaf dari Zefran. Laki-laki itu merasa lega, meski melihat sikap Allena yang begitu khawatir dan perhatian padanya telah menunjukkan Allena yang telah memaafkannya. Namun kata-kata Allena yang berkata memaafkannya benar-benar membuat hati Zefran lega.


Zefran menatap wajah istrinya dan berterima kasih. Allena mengangguk, setelah itu meminta suaminya beristirahat. Setelah mengikuti pesta penyambutan kepulangan Zefran, mereka merasa letih dan cepat tertidur. Melepas lelah untuk bersiap melakukan kegiatan rutin keesokan harinya.


Memandikan Zefran adalah hal pertama yang dilakukan Allena.


"Aku suka dimandikan olehmu, andai saja aku bisa berdiri tegak," ucap Zefran.


"Jangan Kak, jatuh di kamar mandi itu berbahaya. Nanti saja belajar berdiri lagi di kamar bermain anak-anak. Belajar jalan bersama-sama dengan Zara," ucap Allena sambil tersenyum.


"Kamu ini meledekku ya? Awas saja meski aku bisa berjalan lagi kamu harus tetap memandikan aku …"


"Manja sekali, melebihi manjanya Zara," ucap Allena yang membuat Zefran menggelitik pinggang istrinya.


"Memang benar kok, Kakak kalau jalan mirip Zara, oleng-oleng, kalau jatuh ditimpa Zara masih enak, kalau ditimpa Kakak, bisa gepeng tubuhku," sambung Allena.


"Selama ini aku menimpamu, kamu bukannya gepeng tapi malah melendung," ucap Zefran sambil tersenyum.


Allena sedikit berpikir lalu mengangguk sambil tersenyum dengan wajah yang memerah. Zefran gemas melihat wajah istrinya yang menggemaskan itu. Zefran menarik tubuh istrinya agar ikut masuk ke dalam bathtub. Laki-laki itu melepas satu persatu yang melekat di tubuh Allena. Meminta wanita itu duduk di pangkuannya. Laki-laki itu segera menarik tubuh istrinya mendekat dan membenamkan bibirnya ke bibir manis wanita itu.


Zefran semakin mengencangkan pelukannya, saat menikmati ciuman lembut istrinya. Semakin lama ciuman itu semakin memanas hingga Zefran ingin mereka kembali melepaskan hasrat mereka.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2