
~ Maukah Kakak menikah dengan Shintya? ~
Ingatan Shintya melayang hingga puluhan tahun yang lalu. Shintya yang biasa bermain boneka Barbie bersama putri asisten rumah tangganya. Kini diajak bermain ke rumah keluarga Dimitrios.
Shintya suka berperan sebagai Barbie dan putri asisten rumah tangganya berperan sebagai Ken.
"Nanti mereka menikah, Barbie jadi istri, Ken jadi suami," ucap Santi, putri asisten rumah tangga mereka.
"Apa itu menikah?" tanya Shintya.
"Orang yang sudah besar kalau sayang harus menikah," jelas Santi.
"Sama siapa?" tanya Shintya kecil penasaran.
Santi yang usianya lebih tua lima tahun dari Shintya, menjelaskan kalau yang menikah itu perempuan dengan laki-laki.
"Kalau begitu Shintya mau nikah sama Daddy. Shintya sayang sama Daddy," ucapnya dengan lugu.
"Nggak boleh harus dengan orang lain," jawab Santi langsung.
"Santi mau nikah sama siapa?" tanya Shintya penasaran
"Dengan Ilham--"
"Siapa itu Ilham?" tanya Shintya lagi.
"Teman Santi di sekolah,"
"Kenapa Santi mau nikah dengan Ilham?"
"Karena Ilham ganteng, pinter dan baik," jawab Santi.
"Kalau mau nikah harus ganteng, pinter dan baik ya?" tanya Shintya.
Santi mengangguk lalu mereka kembali asyik bermain boneka Barbie itu. Mengganti pakaian boneka-boneka itu dengan kostum pengantin.
"Lihat Barbie dan Ken menikah," ungkap Shintya sambil menyandingkan Barbie dan Ken.
"Bukan! Ini bukan Barbie dan Ken tapi Santi dan Ilham," jawab Santi malu-malu.
Shintya tertawa sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Mereka pun tertawa lalu kembali memainkan boneka-boneka itu lengkap dengan para tamu dan hidangan pesta yang ditata rapi dengan peralatan makan yang serba kecil-kecil.
Shintya mengingat semua itu adalah awal dari keinginannya menikah dengan Zefran. Karena menikah haruslah dengan orang lain, seorang laki-laki, ganteng, pintar dan baik. Saat Shintya hanya duduk seorang diri karena tak ada yang mengajaknya bermain. Zefran memberinya sebuah permainan blok berwarna. Anak laki-laki itu memberikan petunjuk cara bermain. Dia juga baik dan sabar dalam mengajari Shintya dan terlebih lagi dia sangat tampan.
Seorang laki-laki, baik, pintar dan tampan. Itu adalah seorang yang akan menikah dengannya. Shintya segera mengungkapkan isi hatinya tepat di saat Zefran dipanggil oleh teman-temannya.
"Maukah Kakak menikah dengan Shintya?" tanya gadis kecil itu sambil memegang tangan Zefran yang ingin pergi menghampiri teman-temannya.
"Zefran ayo kemari!" Terdengar teriakan dari para anak laki-laki.
Mereka telah memanggil hingga berkali-kali, Zefran pun mengangguk agar gadis kecil itu melepaskan tangannya. Dan kini Shintya datang untuk menagih janji itu. Dengan menggunakan nama anak asisten rumah tangganya yang kini telah menikah dan memiliki tiga orang anak, Shintya mendatangi keluarga Dimitrios dan mengaku sebagai pengasuh bayi yang dicari Ny. Mahlika melalui teman-teman sesama organisasi wanitanya.
__ADS_1
"Aku menyukai Kak Zefran sejak kecil, dan Mommy-ku juga menyukainya karena itu sangat ingin menjodohkan aku dengan Kak Zefran. Aku bahagia mendengar tentang perjodohan itu tapi sedih karena telah terlambat. Kak Zefran telah menikah dan memiliki anak-anak. Tadinya aku sangat berharap pernikahan Kak Zefran bukanlah pernikahan yang sempurna. Tapi setelah melihat sendiri kenyataannya aku merasa sulit mewujudkan keinginanku. Aku menyaksikan sendiri Kak Zefran yang begitu mencintai istrinya. Memohon untuk tidak meninggalkannya saat mereka sedang dalam masalah. Memeluk dan mencium istrinya saat mereka bahagia. Karena itu aku memutuskan untuk membatalkan permintaanku menikah dengan Kak Zefran," tutur Shintya akhirnya.
"Benarkah? Kamu dan ibumu mengikhlaskan putraku?" tanya Mahlika.
"Iya Tan … te," jawab Shintya mulai melepas panggilannya pada Ny. Mahlika selama dia menjadi baby sitter.
"Baiklah kalau begitu tunggu di sini! Aku akan mengambil cincin dari ibumu!" ucap Mahlika dan langsung melangkah ke kamarnya.
Gadis itu tertunduk menunggu di hadapan Allena dan Zefran. Zefran menggenggam tangan istrinya dan mengecup punggung tangan istrinya lalu menempelkan ke dadanya. Shintya melirik lalu tersenyum.
"Malu sama Santi Kak," ucap Allena.
"Kebiasaan bicara seperti itu, nama dia itu bukan Santi tapi Shintya. Lagi pula kenapa mesti malu dia sudah biasa melihat aku bersikap mesra padamu," ucap Zefran dengan gelagat seperti ingin mencium Allena.
Wanita itu langsung mendorong pipi laki-laki itu ke arah lain. Shintya tertawa melihat tingkah keduanya.
"Ngomong-ngomong bagaimana dengan acara pernikahan Rahma dan Patrick, apa kamu jadi hadir sebagai pasangan Devan?" tanya Zefran pada Shintya untuk memecah kecanggungan mereka.
"Ya, aku ingin datang bersamanya--"
"Benarkah? Kalian akan jadian?" tanya Allena langsung bersemangat bertanya.
"Ya Nyonya eh … "
"Panggil namaku saja jika kita seumuran," ucap Allena langsung.
"Ya Allena, aku ingin menerima permintaan Dr. Devan untuk menjadi pacarnya," jawab Shintya.
"Kamu memang hebat menjodohkan orang sayang, apa kita buka bisnis biro perjodohan saja?" tanya Zefran sambil tertawa.
Allena menepuk lengan suaminya karena malu, Shintya kembali tersenyum melihat tingkah keduanya.
"Selamat ya! Semoga hubungan kalian langgeng hingga ke jenjang pernikahan," Doa tulus Allena.
"Terima kasih Allena, semoga kalian juga langgeng bahagia selamanya," ucap Shintya sambil tersenyum.
Tak lama kemudian Ny. Mahlika datang membawa kotak berisi sebentuk cincin.
"Apa kamu membawa pasangannya? Aku harus memastikan kalau kamu benar-benar pemilik aslinya," ucap Mahlika memastikan.
Nyonya yang memang sangat teliti itu tak ingin memberi peluang orang-orang untuk menipunya. Shintya segera menyerahkan cincin yang disimpan oleh keluarganya. Ny. Mahlika mencocokkan dengan cincin yang selama ini disimpannya. Setelah itu Ny. Mahlika meminta nomor ponsel Ny. Sukma, ibunda Shintya.
Ny. Mahlika segera menghubungi Ny. Sukma. Menguji penerima telepon itu tanpa terlihat seperti sedang mencurigai. Setelah memastikan kalau ternyata yang diteleponnya itu benar-benar kenalan satu kompleknya. Ny. Mahlika justru akhirnya terlibat percakapan seru sesama ibu-ibu.
Allena dan Zefran ikut tertawa mendengar renyahnya tawa Ny. Mahlika dengan temannya yang telah lama tak berhubungan itu.
"Baiklah Shintya kalau masalah kita telah selesai, aku permisi, aku harus berangkat ke kantor," ucap Zefran pada gadis yang hanya diam menunggu keputusan dari Ny. Mahlika itu.
"Baiklah Tuan, eh … Kak Zefran, silahkan!" jawab Shintya.
"Aku berangkat dulu sayang," Pamit Zefran pada istrinya.
__ADS_1
Allena mengangguk lalu ikut berdiri mengantar suaminya berangkat ke kantor. Seperti biasa laki-laki itu akan memeluk istrinya lalu mengecup kening wanita cantik itu.
"Aku baru berpikir jika orang-orang melihat seperti apa cinta kita, maka dengan sendirinya mereka akan mundur untuk mengusik rumah tangga kita," ucap Zefran.
"Menurut Kakak begitu?" tanya Allena.
"Ya, Valen, Zulia, Bella, Dion, Devan, sekarang Shintya, mereka adalah orang-orang yang ingin kita berpisah. Tapi setelah mengetahui seperti apa cinta kita, mereka akhirnya tahu diri dan mundur sendiri," jelas Zefran.
"Dion ingin memisahkan kita? Kakak terlalu berlebihan menuduhnya," ucap Allena.
"Aku yakin dalam hati mereka semua ingin kita berpisah hanya saja tak sanggup melawanku," ucap Zefran percaya diri.
"Ya, baiklah … baiklah suamiku yang perkasa. Suamiku yang hebat tak ada yang bisa mengalahkanmu," ucap Allena sambil tersenyum.
"Tapi ada yang bisa menaklukkan aku, namanya Nona Allena, aku mengaku kalah jika bertarung dengan nona cantik itu," ucap Zefran lagi.
Allena tersenyum dengan wajah yang bersemu merah mengingat apa yang mereka rasakan tadi malam. Zefran tak mau melewatkan kesempatan mengecup bibir istrinya yang terlihat cantik dengan pipi semburat merah itu. Allena terlihat begitu cantik dan menggemaskan.
Setelah puas menikmati ciuman itu, Zefran pamit berangkat ke kantor. Allena pun meminta izin ke perusahaan fashion setelah mengantar Zefano sekolah nanti. Zefran mengangguk mengizinkan.
"Hati-hati ya sayang, kalau ada yang mengganggumu langsung lapor padaku," ucap Zefran sambil tertawa.
Allena pun ikut tertawa, setelah menunggu mobil suaminya hilang di balik gerbang, Allena masuk ke dalam rumah. Terlihat Shintya yang telah menggendong Zifara.
Berarti aku harus mencari baby sitter baru. Aku jadi ragu mengenal orang baru, bagaimana ini? Batin Allena merasa bimbang.
"Allena, Shintya berencana untuk tetap tinggal di sini. Ibunya menitipkan Shintya pada Mommy, kamu tidak keberatan 'kan?" tanya Mahlika.
"Tidak masalah Mommy, bagiku tak apa-apa jika Shintya tetap di sini tapi aku tetap harus mencari baby sitter baru karena Shintya--"
"Tidak usah Allena, untuk apa mencari baby sitter baru. Sementara aku di sini biarlah aku yang mengurus mereka. Aku tidak masalah mengurusi mereka karena aku sayang pada mereka," ucap Shintya.
"Tapi sebenarnya apa pekerjaanmu? Karena aku tak ingin mengganggu pekerjaanmu yang sebenarnya" tanya Allena.
"Aku seorang psikiater anak--"
"Psikiater? Berarti kamu juga seorang dokter?" tanya Allena.
"Ya, setelah lulus sarjana kedokteran umum aku menjalani residensi khusus di bidang psikiatri," ucap Shintya.
"Wah, kamu sangat cocok dengan Dr. Devan sama-sama bergelar dokter. Kalau Dr. Devan adalah Dokter spesialis Anak lalu kalau kamu?" tanya Allena.
"Aku Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa. Tapi aku khususkan kesehatan jiwa anak," jawab Shintya sambil tersenyum.
"Wah Kalian serasi sekali, kalian sepertinya sama-sama menyukai anak-anak," ucap Allena tak henti-hentinya mengungkapkan kekagumannya.
"Aku rasa begitu," ucap Shintya lalu menoleh pada Zifara.
Allena tercenung, seperti merasa ada keraguan di hati Shintya. Tapi Allena tak tahu keraguan apa itu, wanita itu ingin mencari tahu tapi karena harus berangkat mengantar Zefano, wanita itu pun menangguhkan rasa penasarannya.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1