
Zefran terbangun setelah mendengar suara ribut-ribut. Segera laki-laki itu berjalan ke lantai bawah untuk melihat apa yang terjadi. Zefran terkejut saat melihat Frisca yang mabuk dihadang para pelayan untuk naik ke lantai atas.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Zefran pelan.
Zefran tidak ingin Frisca membuat keributan hingga membangunkan istrinya dan juga penghuni rumah lainnya.
"Suamiku!" sahut Frisca langsung menghambur ke pelukan Zefran.
"Maaf tuan dari tadi nyonya Frisca gedor-gedor pintu, saya sudah siap untuk mengantarnya pulang tapi malah nyelonong masuk," jelas sopir pribadi keluarga Dimitrios.
Zefran mengangguk tidak menyalahkan sopir yang telah berpakain kerjanya meski terlihat tergesa-gesa dan tidak rapi. Lagipula siapa yang bisa menghalangi keinginan Frisca menerobos masuk. Para pelayan, sopir dan penjaga rumah itu telah terbiasa patuh pada nyonya mudanya yang temperamen itu.
Para pelayan perempuan saling memandang dan berbisik sambil menatap Frisca. Zefran tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Laki-laki itu meminta para pelayan kembali ke kamar masing-masing dan membiarkan dia sendiri yang mengurus mantan istrinya itu.
Segera Zefran menarik Frisca ke ruang tengah agar menjauh dari kamar ibunya.
"Rumahmu bukan di sini lagi. Kamu juga bukan istriku lagi, jadi sekarang juga kamu keluar dari rumah ini. Kalau ingin bertamu, jangan tengah malam dan jangan mabuk," ungkap Zefran.
"Siapa yang mau bertamu? Aku ingin tidur di kamarku," ucap Frisca berdiri sempoyongan.
Zefran kembali menarik lengan Frisca untuk membawanya pergi. Meraih kunci mobil untuk mengantar mantan istrinya itu pulang ke rumah orang tuanya. Melihat sikap Zefran wanita itu justru menangis, langkah Zefran terhenti menatap wanita yang belasan tahun telah mengisi hatinya itu.
"Tega sekali kamu mengusirku Zefran. Aku, wanita yang menemanimu sejak melangkahkan kaki di kampus hingga tiga belas tahun menjadi menantu di rumah ini. Seperti ini caramu memperlakukanku sekarang? Aku sakit hati Zefran! Aku sakit hati!" teriak Frisca sambil menangis.
"Pelankan suaramu!" ucap Zefran dengan nada tinggi namun suara yang diredam.
Para pelayan telah dibubarkan Zefran namun laki-laki itu tidak ingin perbincangan mereka terdengar oleh orang lain di rumah itu.
"Kenapa! Kenapa! Apa perempuan perebut suami orang itu ada di sini? Kalian sudah bersama lagi? Dia tidak boleh terganggu tidurnya?" tanya Frisca histeris karena dilarang.
"Kamu mabuk, aku tidak meladeni orang mabuk," ucap Zefran kembali menarik lengan Frisca.
"Kamu tidak kasihan padaku? Tidak adakah rasa cinta dihatimu sedikit saja untukku? Aku melakukan apa saja untuk bisa bersamamu karena aku mencintaimu," ucap Frisca sambil terus bertahan.
"Melakukan segala cara agar bisa tetap bersamaku? Memalsukan tes DNA anakku? Itu caramu? Apa kamu tahu? Karena tidak menemukan donor yang cocok untuknya dia hampir kehilangan nyawanya dan aku hampir kehilangan anak yang selama ini aku dan keluargaku harapkan. Kamu tidak berhak menangis di sini karena kamu wanita bukan korban yang menyedihkan tapi wanita kejam yang tidak punya perikemanusiaan," ucap Zefran.
"Anak itu sakit? Tapi dia masih hidup 'kan? Kamu lihat aku? Anakku sudah tidak ada, dia sudah mati menjelang dilahirkan," jelas Frisca dengan tubuh berusaha berdiri tegak.
Zefran terdiam, tidak menyangka. Laki-laki itu berpikir Frisca telah melahirkan bayinya. Setelah mereka bercerai Zefran sama sekali dia tidak mau tahu tentang mantan istrinya itu. Apalagi bayi yang dikandung Frisca bukanlah bayinya.
"Aku ikut berduka, aku tidak berharap itu terjadi. Tapi kehilangan anakmu sama sekali tidak ada hubungannya denganku," ucap Zefran.
"Tidak ada hubungannya? Kamu menceraikan aku saat aku hamil. Saat seorang istri butuh tempat untuk bersandar tapi kamu justru mengusirku," ucap Frisca masih berdiri sempoyongan.
"Sudahlah!! Meski dijelaskan tetap saja kamu tidak akan mengerti. Sekarang sebaiknya aku mengantarmu pulang," ucap Zefran sambil kembali menarik tangan Frisca.
Namun wanita itu tetap bertahan di tempatnya. Zefran kembali menarik tangan wanita itu.
"Kak, biarkanlah nyonya Frisca menginap malam ini. Besok saat nyonya Frisca sudah sadar Kakak bisa bicara baik-baik dengannya," ucap Allena yang turun dari tangga.
Frisca memandang gadis itu dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Lalu tertawa dengan nada yang merendahkan.
"Kamu hamil lagi, anak siapa lagi itu?" tanya Frisca menghina.
__ADS_1
Zefran mengangkat tangannya untuk melayangkan tamparan. Zefran merasa kekesalannya telah memuncak. Frisca tak bosan-bosannya menghina Allena meski ucapannya itu tak akan dipercayai lagi oleh siapa pun.
"KAK..!!" teriakan Allena menghentikan perbuatan Zefran.
Laki-laki itu akhirnya menuruti saran istrinya sambil menahan emosi.
"Baiklah malam ini kamu boleh menginap di sini, itu karena aku menuruti kata-kata istriku. Kamu harus berterima kasih padanya," ucap Zefran sambil menarik tangan Frisca ke lantai atas.
Sesampai di lantai atas laki-laki itu mendorong Frisca hingga jatuh di atas ranjang.
"Besok, jika kamu masih mengganggu keluargaku, siap-siap saja aku akan menuntutmu. Tidak ada orang yang akan membelamu," ucap Zefran kemudian keluar sambil membanting pintu.
Allena yang telah berada di depan pintu itu memandang wajah suaminya.
"Kenapa di sini? Kenapa tidak istirahat di kamar?" tanya Zefran.
Allena hanya tersenyum simpul lalu masuk ke dalam kamarnya. Zefran menyusul dan berbaring sambil memeluk istrinya.
"Kenapa bangun? Apa karena berisik?" tanya Zefran merasa tidak enak hati dengan tingkah mantan istrinya.
"Aku terbangun dan ingin minum jadi keluar ternyata ada ribut-ribut," jawab Allena.
"Kamu haus? Biar aku ambilkan minum," ucap Zefran langsung bangun.
"Tidak usah, sudah tidak haus lagi," ucap Allena.
Gadis itu langsung memeluk suaminya sambil tersenyum. Perhatian Zefran padanya mengalahkan rasa hausnya. Gadis itu memilih memilih menikmati pelukan hangat suaminya daripada membuat laki-laki itu pergi ke lantai bawah untuk mengambil minum untuknya.
"Besok kita beli kulkas kecil untuk menaruh minuman di atas sini," ucap Zefran.
Zefran tersenyum.
"Kalau minuman yang bikin keras?" tanya Zefran menggoda istrinya.
"Mm.., tidak perlu. Tanpa minuman juga hasilnya maksimal," ucap Allena bercanda namun dengan wajah yang serius.
Zefran tertawa lalu mengecup bibir istrinya kemudian memeluknya sambil memejamkan mata.
"Aku merasa bersalah padanya," ucap Allena.
Membuat Zefran kembali membuka matanya, mendengarkan ucapan Allena.
"Dulu saat menikah, aku tahu Kakak menolakku bahkan membenciku karena begitu mencintainya. Tapi akhirnya kita tetap menikah juga. Saat itu aku masih bertekad tidak akan memiliki perasaan apapun padamu," ucap Allena.
Kemudian berbalik menghadap suaminya.
"Aku bertekad akan mencari kebahagiaanku sendiri karena aku merasa bahwa pernikahan ini hanya sementara. Kak Valen adalah harapanku saat itu. Aku pikir, aku hanya perlu menjalankan misi pernikahan ini, memberimu keturunan lalu pergi berbahagia bersama Kak Valen," jelas Allena.
Gadis itu menatap wajah suaminya yang mengernyit mendengar ceritanya.
"Sayangnya Kak Valen terlalu terburu-buru, misi pernikahanku belum selesai tapi Kakak justru mengetahui hubungan kami. Aku pikir Kakak tidak peduli dengan hubungan kami, karena kita bukan suami istri sungguhan karena tidak ada cinta di antara kita," ucap Allena.
"Kenapa kamu ceritakan semua ini?" tanya Zefran.
__ADS_1
"Aku ingin mengingat tujuanku masuk ke dalam keluarga ini. Aku aku tidak bermaksud menyingkirkan Nyonya Frisca," ucap Allena.
"Jangan dibahas lagi, aku telah memberitahumu aku tidak akan menyingkirkannya jika dia tetap setia padaku," ucap Zefran.
"Bagaimana jika dia melakukan itu karena kehadiranku. Bukan hanya dalam pernikahan ini tapi juga didalam hatimu. Aku yang membuat dia kecewa dan mencari pelarian pada laki-laki lain. Aku selalu merasa bersalah karena itu," ucap Allena.
"Aku belum cerita padamu?" tanya Zefran.
"Apa?"
"Frisca berselingkuh bukan karena kecewa pada pernikahan kami tapi karena sejak awal dia hanya mencintai Bobby. Bobby adalah cinta pertamanya. Aku ini yang hanya pelarian baginya, Valen mengetahui semua itu. Frisca hanya mencintaiku di saat hubungannya dengan Bobby sedang retak. Tapi hatinya tetap untuk Bobby bahkan melakukan aborsi berkali-kali untuk menyenangkan hati laki-laki itu. Agar dia bisa tetap sedia kapan pun laki-laki itu mau," jelas Zefran.
Allena termenung mendengarnya.
"Aku pernah mendengar tentang Bobby dari Kak Valen tapi aku tidak tahu kalau dia cinta pertama Nyonya Frisca. Aku pikir Nyonya Frisca menjalin hubungan dengan Bobby karena kecewa dengan Kakak yang tidak setia kepadanya. Ternyata mereka saling mencintai sebelum menikah dengan Kakak?" tanya Allena.
Zefran mengangguk.
"Jika bukan karena kehadiranmu mungkin selamanya aku akan tertipu olehnya karena terlalu percaya padanya," ucap Zefran.
"Apa hubungannya denganku?" tanya Allena.
"Karena cemburu padamu dia semakin sering bertemu dengan Bobby hingga akhirnya laki-laki itu memilih bekerja di Indonesia. Aku dan Bobby saling menyimpan dendam dari dulu hingga akhirnya kami bertemu. Untuk memanas-manasiku, Bobby menceritakan hubungannya dengan Frisca dan itu justru membuatku akhirnya terbebas dari cinta palsu Frisca," jelas Zefran sambil tersenyum.
"Dia cemburu berarti dia mencintaimu," ucap Allena.
"Dia cemburu bukan karena mencintai karena tidak ingin miliknya direbut wanita cantik ini," ucap Zefran sambil mencubit pipi Allena.
"Tidak ingin miliknya direbut artinya mencintai," balas Allena.
"Bukan mencintai tapi hanya ingin memiliki. Dia hanya tidak ingin mainannya direbut wanita cantik ini," ulang Zefran.
"Memangnya Kakak ini mainan?" tanya Allena.
Zefran mengangguk sambil tersenyum.
"Iya, tapi aku cuma ingin jadi mainanmu," ucap Zefran sambil mengecup bibir Allena kemudian beranjak dari ranjang menuju pintu.
"Kakak mau kemana?" tanya Allena langsung duduk.
"Mau ambil minum untukmu, jangan sampai anakku kehausan," ucap Zefran ingin membuka pintu.
"Biar aku sendiri yang mengambilnya," teriakan Allena.
"Tunggu saja di situ tuan putriku," ucap Zefran kembali tersenyum dan berlalu di balik pintu.
Allena akhirnya menunggu, rasa haus kadang datang di malam hari. Allena merasa tidak enak hati melihat suaminya yang ingin memanjakannya. Namun, hatinya gembira karena Zefran terlihat begitu memperhatikannya.
Lama sekali, apa perasaanku saja? Terasa lama karena menunggu? batin Allena.
Allena akhirnya bergerak pelan menuju lantai bawah. Rumah yang sebagian penerangannya telah dimatikan membuat ruangan hanya terlihat samar-samar.
Allena berjalan pelan tanpa suaranya. Niat hati ingin mengagetkan suaminya namun Allena justru kaget dengan apa yang dilihatnya. Di ruang dapur yang temaram terlihat Frisca dan suaminya sedang berciuman.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...