
Dokter Shinta menatap ke arah Allena dan Zefran. Wanita itu langsung menyadari tanpa sengaja Altop dan Ronald telah menyinggung perasaan mereka. Terlihat Allena yang tertunduk dan Zefran yang mengalihkan pandangan ke arah lain.
Dokter cantik itu segera mengalihkan pembicaraan mereka ke topik yang lain.
"Setelah kemoterapi Frisca akan beristirahat di Villa. Jadi, bagaimana kalau kita menemaninya berlibur?" tanya Shinta dengan wajah yang dibuat ceria.
"Wah, benar Fris? Kamu mengundang kami berlibur di Villa-mu?" tanya Altop mendadak semangat.
"Tentu saja benar, aku akan senang sekali jika ada teman yang mau menemani kami beristirahat di Villa," ucap Frisca.
"Tapi apa kalian tidak melakukan perjalanan bulan madu?" tanya Ronald.
"Frisca ingin menunda untuk perjalanan jauh. Karena harus menjalani kemoterapi setiap bulannya," jawab Rivaldo.
"Ooh, berarti setelah kemoterapinya selesai baru kalian ke luar negri?" tanya Ronald.
"Kami belum menentukan kemana akan berbulan madu karena masih terlalu cepat memikirkannya. Aku mungkin harus menjalani sesi kemoterapi hingga dua belas kali," jawab Frisca.
"Setelah itu disarankan menjalani pemeriksaan lanjutan setiap tiga sampai enam bulan selama dua tahun pertama setelah pengobatan selesai, dilanjutkan enam hingga dua belas bulan sekali untuk tiga tahun berikutnya," sambung Rivaldo.
"Berarti kita akan berlibur di Villa menemani Frisca setiap bulan selama setahun?" tanya Ronald.
"Tidak perlu! Kita akan berlibur di Villa untuk kemoterapi pertama dan kemoterapi terakhirnya. Selebihnya biarkan mereka berduaan saja," jelas Shinta.
Altop dan Ronald mengangguk-angguk, Valendino dan Dokter Shinta kembali tersenyum.
Dokter cantik itu kembali menoleh pada Allena dan Zefran yang dari tadi hanya diam tak bersuara. Dokter cantik itu telah berusaha mengalihkan pembicaraan tapi suasana hati kedua sahabatnya itu sudah terlanjur buruk. Dokter Shinta kembali berusaha mencari bahan perbincangan yang lain lagi.
"Oh ya, gaun pengantin Frisca mendapat banyak pujian. Apa gaunku juga akan seindah itu?" tanya Shinta memancing Allena yang terlihat termenung.
Zefran langsung menoleh pada istrinya. Antara sadar dan tidak sadar dengan pertanyaan Dokter Shinta, wanita itu menjawab dengan pelan dan ragu-ragu.
"Oh, ya tentu," ucap Allena.
Hanya itu yang bisa diucapkannya, mengharapkan jawaban dari seseorang yang pikirannya melayang tentu sangat sulit. Dokter Shinta akhirnya tak bisa melakukan apa-apa lagi untuk mengembalikan keceriaan Allena.
"Dalam waktu dekat aku akan mulai menjalani kemoterapi pertamaku. Aku harap kalian mau mendoakanku, tolong beri aku dukungannya ya," ucap Frisca memohon dukungan dari sahabat-sahabatnya.
"Tentu Frisca, kami akan mengawalmu melawan penyakit itu," ucap Shinta sambil tersenyum.
"Beruntung sekali di saat-saat menjalani pengobatan, kamu telah memiliki suami yang setia menemanimu," ucap Valendino.
"Ini memang sudah menjadi rencanaku, aku ingin berada di dekatnya saat Frisca menjalani pengobatannya," sahut Rivaldo.
"Wah beruntungnya kamu Frisca, dari jauh hari Rivaldo telah memikirkanmu. Mau cari di mana orang seperti itu, tampan, baik, perhatian lagi," ucap Altop.
"Itu Frisca sudah dapat, masa mau cari lagi? Bisa ngamuk si Valdo," ucap Ronald.
Semua tertawa lepas, Zefran tersenyum simpul sambil menoleh pada istrinya yang masih terlihat murung. Zefran menggenggam tangan istrinya yang duduk disampingnya. Mereka lanjut berbincang hingga menjelang malam. Sekali lagi mengucapkan selamat menempuh hidup baru pada Frisca dan Rivaldo kemudian mereka berpamitan.
Saat di perjalanan pulang Zefran menoleh pada Allena. Sepanjang perjalanan wanita itu hanya menatap keluar jendela kaca mobil. Zefran menoleh sekilas pada putra mereka yang telah tertidur di kursi belakang. Zefran tersenyum.
__ADS_1
Laki-laki itu menggenggam tangan istrinya, Allena menoleh. Zefran tersenyum dan Allena membalas senyum suaminya.
"Maafkan mereka ya? Maafkan teman-temanku yang menyakiti perasaanmu. Aku yakin mereka tidak berniat seperti itu bahkan mungkin tidak sadar kalau telah menyakiti perasaanmu," ucap Zefran akhirnya.
"Kenapa Kakak yang meminta maaf padaku? Bukannya Kakak yang disindir mereka," ucap Allena pelan.
"Karena itu aku sengaja menutupi pernikahan kedua ku dari mereka. Bagaimanapun juga, memalukan memiliki istri lebih dari satu. Tapi aku tidak peduli dengan ucapan Ronald dan Altop karena dengan menikah lagi aku bisa mengenalmu. Aku bahagia mengenalmu dan akhirnya sungguh-sungguh jatuh cinta padamu. Altop dan Ronald atau siapa pun, tidak akan mengerti itu kalau aku bersyukur karena menikahi lagi," jawab Zefran.
"Lalu kenapa suasana hati Kakak terlihat buruk tadi? Jika Kakak tidak peduli pada ucapan Kak Ronald dan Kak Altop?" tanya Allena lagi.
Seakan-akan tak percaya dengan penjelasan Zefran tadi.
"Karena melihatmu yang tiba-tiba sedih dan itu karena ulah teman-temanku. Aku tidak bisa langsung mengatakan pada mereka 'hentikan! Kalian telah menyakiti hati istriku!' Itu akan terlihat aneh dan semakin jelas ketahuan," ucap Zefran sambil tersenyum.
"Sampai kapan kita akan mengalami ini? Aku merasa kemunculanku sebagai istri kedua selalu disalahkan. Aku merasa selalu dihakimi," ucap Allena.
Zefran kembali menggenggam tangan istrinya
"Jangan berpikiran seperti itu Allena. Mereka tidak bermaksud menghakimimu. Mereka sama sekali tidak menyalahkanmu, percayalah," ucap Zefran meyakinkan Allena.
Allena tersenyum tipis.
Sulit untuk percaya Kak, tapi aku akan tetap bertahan meski tidak tahu sampai kapan aku harus di cap sebagai istri kedua dan bahkan sebagai perebut suami orang, batin Allena.
Mereka sampai di kediaman Dimitrios, Zefran langsung menggendong putranya yang telah tertidur. Mengantar Zefano ke kamar tidurnya. Mereka bergantian mencium pipi putra mereka sambil tersenyum.
Allena juga menghampiri putri mereka yang juga telah tertidur di ranjang bayinya. Zefran memeluk pinggang istrinya dari belakang dengan dagunya yang bertumpu pada bahu wanita itu.
Allena tersenyum, lalu menoleh pada suaminya.
"Mereka tidak tahu betapa bahagianya aku bisa menikah denganmu. Mereka juga tidak tahu betapa nikmatnya bercinta denganmu," bisik Zefran.
Membuat Allena tersenyum geli mendengar ucapan Zefran. Laki-laki itu lanjut menghibur Allena bukan hanya dengan kata-kata lagi namun dengan aksi bercintanya.
"Kamu membuat aku ketagihan Allena," bisik Zefran di sela-sela desah nafasnya.
"Aku mencintaimu sayang, aku mencintaimu Allena," ucap Zefran semakin mempercepat ritme bercintanya hingga membuat mereka mendapatkan apa mereka inginkan bersama-sama.
Kemudian tertidur sambil berpelukan, merasa lelah namun bahagia. Membuat mereka tidur dengan nyenyak. Melupakan apa yang menjadi beban pikiran mereka.
Menjelang pagi Allena mendapati suaminya tidak ada di sampingnya. Allena bangun langsung mencari ke kamar mandi dan terlihat suaminya sedang bermain-main dengan Zifara.
"Nah sekarang sudah bersih, ayo kita bangunkan Mama, eh … ternyata sudah bangun, si sexy mom ternyata sudah bangun," ucap Zefran pada Allena yang hanya mengenakan kain putih yang dililitkan sembarangan di tubuhnya.
Zefran menyerahkan Zifara pada ibunya, lalu duduk di samping istrinya. Ikut mengamati Zifara yang sedang menyusui, menempelkan dagunya di bahu terbuka istrinya. Semakin menatap, Zefran semakin bernafsu, Zefran meraih dagu Allena dan membuat wanita itu menoleh ke arahnya.
Zefran membenamkan bibirnya ke bibir wanita yang dicintainya itu. Dan semakin memperdalam ciumannya dengan lidahnya yang bermain-main lincah di rongga mulut istrinya. Puas bermain di situ Zefran pindah ke leher hingga pundak Allena. Wanita itu merasa geli.
"Kakak mengganggu konsentrasiku menyusui Zara," bisik Allena pada suaminya yang sedang menciumi leher belakangnya.
"Kamu tidak tahu? Setiap kali aku melihatmu, konsentrasiku juga terganggu," jawab Zefran.
__ADS_1
"Kapan itu? Aku tidak percaya," ucap Athena tersenyum sambil menahan geli.
"Sejak kamu menjadi istriku," jawab Zefran.
"Aku tidak percaya, yang aku tahu saat itu Kakak sangat membenciku," sahut Allena.
"Aku ini laki-laki normal Allena, ada seorang gadis manis tidur di walk in closet hanya mengenakan kimono handuk. Tidur sembarangan dengan paha yang terbuka. Bagaimana aku masih bisa konsentrasi? Setiap kali melihatmu, otakku berfantasi liar menelusuri tubuh tanpa busanamu. Bagaimanapun juga ada seorang gadis yang telah sah untukku, yang aku nikahi untuk aku hamili. Mengingat itu, apa aku masih bisa konsentrasi setelah melihatmu? Aku mengelak darimu agar hasratku tidak terlihat olehmu," tutur Zefran.
"Aku tidak tahu, aku pikir karena begitu mencintai Kak Frisca, Kak Zefran sama sekali tak peduli padaku. Kakak justru sering bersikap kejam padaku," ucap Allena.
Zefran tertawa kecil.
"Aku tak peduli padamu? Aku bersikap kejam padamu untuk menutupi hasratku padamu. Tak ingin terlihat oleh Frisca kalau aku menginginkanmu. Saat pertama kali terjadi, apa kamu tidak tahu kalau setiap saat aku ingin menidurimu?" tanya Zefran.
"Aku pikir semua karena ramuan herbal itu," ucap Allena.
"Ramuan itu membuatku tak mampu menahan diriku. Tapi itu cuma kambing hitam, menyalahkan ramuan itu padahal aku sendiri menginginkannya. Tanpa ramuan itu pun aku tetap menginginkanmu," jawab Zefran.
"Kakak munafik, bersikap kejam padaku padahal menginginkanku," ucap Allena pelan.
"Aku tahu, maafkan aku. Aku tidak berada dalam situasi yang membuatku bebas menunjukkan perasaanku padamu. Maafkan aku sayang," ucap Zefran.
"Aku maafkan Kak dan maafkan aku juga yang tidak mengerti situasimu," sambung Allena.
"Tapi rasanya cukup seru, aku seperti melakukan perselingkuhan. Di belakang Frisca, hatiku dan tubuhku menginginkan wanita lain," ujar Zefran.
Allena tertawa.
"Berselingkuh dengan istri sendiri?" tanya Allena.
Zefran mengangguk.
"Apa kamu tidak tahu kalau aku selalu mencari kesempatan agar bisa memelukmu. Mencari kesempatan saat Frisca sibuk ataupun mabuk untuk bisa mendekatimu," ucap Zefran.
"Ya, aku pernah berpikir itu," jawab Allena.
"Sayang, sekarang istriku cuma kamu …,"
"Terus kenapa? Apa mau nambah lagi?" tanya Allena langsung.
"Mana mungkin! Aku belum selesai bicara jangan dipotong dulu," ucap Zefran yang meletakkan dagunya di bahu Allena.
Sesekali laki-laki itu mengecup bahu putih berbalut kulit yang halus itu.
"Maaf Kak, aku pikir Kakak kecanduan beristri dua," ucap Allena pura-pura merajuk. Zefran tertawa.
"Mana mungkin aku kecanduan beristri dua, memiliki istri dua itu dilema. Mencintaimu, aku kehilangan Frisca. Mempercayai Frisca, aku kehilanganmu. Ingin mempertahankan yang satu yang satunya lagi lepas. Tapi, jangan salah sangka sayang, aku tidak menyesal melepas Frisca karena kamu tidak pantas menderita demi menimbang perasaannya. Lagi pula sekarang kita telah memiliki belahan jiwa masing-masing. Tujuan aku bicara tadi karena aku ingin menghapus ingatan semua orang tentang pernikahanku dengan Frisca. Aku ingin semua orang tahu pernikahanku sekarang adalah dengan designer cantik ini," tutur Zefran.
Mendengar ucapan itu Allena tersenyum dan semua berjalan seperti dejavu. Zefran kembali menggendong Zifara dan meletakkannya di ranjang bayi. Namun kali ini Allena hanya pasrah menunggu di ranjang. Laki-laki itu perlahan mendorong Allena kembali rebah di ranjang.
Melepas perlahan kain putih yang melilit tubuh wanita yang cintanya itu dan memeluknya erat. Zefran kembali melepas hasratnya yang tertahan saat wanita itu menyusui bayinya.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...