
Allena menjalani aktivitas barunya bekerja sambil kuliah di Paris. Saat melakukan tugasnya seseorang memberitahu kalau ada orang yang mencarinya. Allena berlari mencari tahu siapa orang yang ingin menemuinya.
Allena berdiri di hadapan Valendino, laki-laki itu langsung berdiri sambil tersenyum dan memberikan buket bunga untuknya. Valendino mengajak Allena berjalan-jalan taman di samping gedung perusahaan fashion itu.
"Selamat ya, kamu bisa mendapatkan beasiswa dan bekerja di perusahaan ini. Perusahaan ini bukan perusahaan fashion biasa, karya mereka terkenal dan tersebar di seluruh dunia. Sangat beruntung bisa bekerja di sini, kamu hebat Allena," tutur Valendino.
"Terima kasih Kak tapi bagaimana Kakak bisa tahu aku ada disini?" tanya Allena sambil berjalan pelan di jalan kecil ditengah taman.
"Sejak kamu melahirkan dan pulang dari rumah sakit, aku tidak pernah bisa menemukanmu lagi. Aku rasa karena kamu masih cuti melahirkan. Sudah berapa lama kita tidak bertemu Allena?" tanya Valendino.
"Hampir enam bulan," jawab Allena.
"Zefran, setelah cukup lama tidak terlihat, akhirnya Zefran muncul di Night Club. Dia terlihat sangat kacau, mabuk setiap malam. Membabi buta, membuat keributan dan menantang siapa saja," cerita Valendino lalu menoleh pada Allena.
Gadis itu berjalan sambil tertunduk, air matanya menetes. Meski mendapatkan perlakuan yang buruk dari keluarga itu, dihina dan diusir tapi yang diceritakan Valendino saat ini adalah suami yang sangat dicintainya. Mendengar cerita seperti itu hatinya tetap terasa sakit.
"Sekian lama kami bertanya-tanya apa penyebab Zefran berubah seperti itu, baru tadi malam akhirnya kami tahu kalau ternyata kalian telah berpisah. Kenapa? Saat mabuk Zefran berkata kalau kamu berselingkuh dan bayimu bukan anaknya? Allena, apa yang terjadi?" tanya Valendino.
Allena duduk di sebuah bangku taman, kakinya terasa lemas. Semakin mengingat Zefran tubuhnya semakin hilang daya. Setelah duduk di bangku taman, Valendino melanjutkan ceritanya.
"Setelah mengetahui kalian berpisah, aku bertanya pada teman-temanmu di Night Club tapi tidak ada satu pun yang tahu keberadaanmu. Hingga akhirnya aku bertanya pada pemilik toko bunga. Aku mendapatkan informasi darinya kalau kamu mendapatkan beasiswa dari sebuah perusahaan fashion di Indonesia. Aku meminta informasi tentangmu di situ dan mendapatkan alamat perusahaan ini. Allena apa yang terjadi? Kenapa Zefran tega menuduhmu seperti itu?" tanya Valendino.
"Karena dia mencintaiku…, tapi tidak mempercayaiku," jawab Allena.
"Apa?"
"Kak Valen, apa mau mendengar ceritaku?" tanya Allena sambil mengusap bunga mawar di tangannya.
"Tentu, ceritakanlah," jawab Valendino.
"Aku menikah dengan Kak Zefran tanpa ada rasa cinta, kami justru saling membenci. Aku tahu dia bersedia menikah denganku karena ingin mempertahankan pernikahannya dengan Nyonya Frisca. Kakak lihat Baby's breath ini?" tanya Allena sambil menunjuk bunga kecil berwarna putih di buket bunga itu.
Valendino menatap bunga yang pernah menjadi pilihan Allena saat Valendino ingin membelikan bunga untuknya dan gadis itu yang merangkainya sendiri.
"Aku adalah Baby's breath ini, bunga semak yang hanya dijadikan bunga pengisi atau sebagai pelengkap dalam sebuah rangkaian bunga. Aku hanya pelengkap dalam rumah tangga mereka. Agar rumah tangga mereka terlihat indah di mata orang lain. Bagi Kak Zefran, bunga utamanya adalah Nyonya Frisca yang indah, cantik dan anggun," cerita Allena sambil menatap buket bunga dihadapannya itu.
"Bagiku itu tidak masalah karena awalnya aku juga tidak menyukai Kak Zefran. Saat itulah aku mulai mengenal Kak Valen. Aku rasa aku menyukai Kak Valen karena Kak Valen sangat baik padaku. Aku jadi berharap suatu saat bisa terbebas dari pernikahan palsu itu dan berlari ke arahmu," tutur Allena yang membuat Valendino menoleh ke arah Allena.
"Tapi entah kenapa sejak mengetahui hubungan kita, Kak Zefran justru menjadi peduli padaku. Dia yang tadinya sama sekali tidak mau melihat wajahku, selalu menjauh, tak peduli padaku dan selalu menyakitiku, tiba-tiba berubah menginginkanku. Dan aku merasa bahagia, melihat sikapnya yang semakin hari semakin terlihat mengharapkanku. Hingga akhirnya dia berkata membutuhkanku, sangat menginginkanku," tutur Allena sambil mengusap air matanya.
Teringat saat pertama kali Zefran menidurinya.
"Perlahan aku melupakan keinginanku untuk bebas dari pernikahan itu, aku pun mulai melupakan perasaan sukaku padamu, melupakan mimpiku untuk hidup bersamamu. Maafkan aku Kak Valen, harusnya aku lebih tegas mengungkapkan perasaanku padamu. Aku menyayangimu, sangat, sangat menyayangimu tapi aku tidak bisa mencintaimu karena aku telah jatuh cinta pada suamiku," ucap Allena menatap Valendino dengan mata yang berkaca-kaca.
Laki-laki itu balas menatap Allena dengan tatapan yang sendu.
"Aku hanya bisa menyayangimu sebagai seorang adik terhadap kakaknya," bisik Allena dengan air mata yang telah mengalir.
"Tapi Allena, sekarang kalian telah berpisah. Zefran telah mencampakkanmu kenapa tidak mencoba untuk menerimaku?" tanya Valendino dengan suara yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca.
"Aku sudah pernah mencobanya Kak tapi bagaimana bisa mengisi sesuatu yang telah penuh. Hatiku telah dipenuhi oleh Kak Zefran, tidak ada tersisa sedikit pun ruang yang kosong untuk siapa pun. Maafkan aku, maafkan aku Kak Valen. Cobalah untuk membuka hati pada wanita lain," pinta Allena dengan terisak-isak.
Sebenarnya gadis itu tidak sanggup untuk mengucapkan kata-kata itu tapi ini untuk kebaikan Valendino. Karena rasa sayangnya pada Valendino, Allena ingin laki-laki yang disayanginya itu menemukan kebahagiaan yang lain.
Valendino menunduk lalu mengalihkan pandangannya ke arah yang lain. Laki-laki itu mengusap sudut matanya yang berair. Menarik nafasnya yang terasa berat.
"Kak, berjanjilah melupakan cintamu padaku dan menemukan cinta yang baru. Aku tidak ingin penantianmu sia-sia. Itu sangat menyakitkan, aku.., aku yang menyayangimu justru menjadi orang yang menyakitimu, itu membuatku sangat sedih" sambung Allena semakin terisak.
Gadis itu menyentuh pundak Valendino, berusaha membujuk laki-laki itu. Kemudian meneruskan ucapannya.
"Aku akan menjalani hidupku dengan baik. Aku telah merasakan apa yang diinginkan manusia di muka bumi ini. Jatuh cinta, menikah dan memiliki anak. Meski pernikahanku berakhir tapi setidaknya aku pernah merasakannya. Sekarang aku hanya perlu menyimpannya di dalam hati dan menjalani hidupku dengan lebih baik. Kak Valen juga harus seperti itu. Temukan gadis yang lebih baik dariku, jatuh cinta, menikah dan memiliki anak-anak kalian," ucap Allena sambil menghapus air matanya.
Allena tak mendengar jawaban dari Valendino.
"Semoga Kakak bahagia, aku akan pergi, selamat tinggal Kak," ucap Allena langsung berdiri dan melangkah pergi.
Valendino yang tak rela melihat gadis itu pergi. Langsung mengejar Allena dan membalik tubuh gadis itu menghadap ke arahnya. Valendino yang menangis langsung membenamkan bibirnya di bibir gadis itu. Memeluknya dengan erat dan menyesapnya dengan kuat. Allena memejamkan matanya, membiarkan bibirnya dilumat oleh laki-laki yang sedang bersedih itu. Seolah-olah membiarkan Valendino melakukan itu untuk terakhir kalinya.
Valendino mencium Allena sepuas hatinya, tak peduli dengan keadaan sekitarnya. Pelukan dan ciuman perpisahan itu berlangsung lama hingga membuat Valendino sendiri merasa lelah. Lelah tubuh dan perasaannya membuat laki-laki itu akhirnya menghentikan ciumannya dan pergi meninggalkan Allena yang memandangnya dengan hati yang ikut terluka.
Di depan kemudi Valendino melanjutkan tangisannya.
__ADS_1
Melupakanmu, mencari cinta yang baru. Apa itu mudah dilakukan? Lalu kenapa kamu tidak melakukannya untukku, melupakan Zefran dan mencintaiku, jerit hati Valendino.
Laki-laki itu menangis sambil menelungkupkan wajahnya di atas kemudi. Sekian lama menangis untuk melepas sesak di dadanya hingga akhirnya merasa lelah. Terdiam di parkir basement gedung tinggi itu. Menatap kosong hingga air matanya mengering kemudian melajukan mobilnya menuju hotel dimana dia menginap.
Sementara itu Allena kembali ke ruang kerjanya dengan wajah yang lesu. Setelah sekuat tenaga berusaha mengungkap isi hatinya, sekuat hati menyampaikan penolakan atas cinta Valendino padanya. Allena merasa apa yang dilakukannya pada Valendino itu sangatlah kejam.
Maafkan aku Kak, tapi ini yang terbaik bagimu. Rasanya tidak sanggup menyakiti hatimu tapi aku tidak ingin membuatmu lebih menderita, aku tidak bisa berpaling dari suamiku, tinggalkan aku, bencilah aku, jerit hati Allena.
Allena masih termenung saat seorang gadis bule menepuk bahunya dan memberitahu kalau seorang designer ternama berkunjung ke perusahaan itu. Allena buru-buru mendatangi designer itu karena dia ingin banyak belajar dari para designer ternama yang datang ke perusahaan itu.
Allena kembali menjalani aktivitasnya dengan sungguh-sungguh. Allena bertekad melupakan apa yang terjadi di masa lalu demi mencapai keberhasilan di dunia fashion.
Seperti yang diucapkan Ny. Marilyn, Allena yang penolong dan sangat kreatif sangat cepat memiliki banyak teman. Sifatnya yang tulus membuat para designer dari level pemula hingga profesional sangat suka bekerja bersama dengan gadis itu.
Membuat Allena dengan mudah mendapatkan ilmu dari para designer ternama selain dari bangku kuliahnya. Para designer itu tidak segan-segannya mengajak Allena menghadiri event-event Fashion Show yang digelar di hotel-hotel mewah di pusat kota Paris. Allena mendapatkan banyak pengalaman dari acara-acara yang diikutinya.
Rasa lelah sama sekali tak dipikirkannya, melakukan tugasnya belajar dan bekerja dengan sepenuh hati. Satu-satunya yang menjadi pikiran baginya adalah disaat rasa rindu menyerang terhadap putra tercintanya
Di saat senggang Allena menyempatkan diri melakukan sambungan langsung internasional untuk menghubungi ibunya. Melakukan video call demi menghilangkan rasa rindunya. Namun, sering kecewa karena tak dapat langsung melihat tingkah lucu putranya yang semakin besar.
Selisih waktu antar negara mereka mencapai enam jam. Saat sore selepas bekerja, waktu di Indonesia telah mencapai tengah malam. Allena hanya bisa menatap putranya yang tertidur lelap saat gadis itu melakukan video call dengan Rahma.
"Zeno itu sangat lincah Kak, ibu-ibu kompleks gemas melihatnya," cerita Rahma yang langsung hilang rasa kantuknya saat mengetahui Allena menghubunginya.
"Zeno?" tanya Allena heran.
"Ya Kak, Zefano belum bisa bicara tiga suku kata, jadi selalu memanggil dirinya Zeno. Lucu sekali kalau dengar dia bicara, selalu memotong kata-kata," ucap Rahma sambil tertawa.
Allena menutup mulutnya dengan tangannya, matanya berkaca-kaca menahan kesedihan karena kerinduannya pada putra satu-satunya itu. Betapa Allena sangat ingin memeluk erat tubuh anak itu, melihat tingkah lucunya dan mendengar celotehannya.
"Kakak akan mencari waktu atau mungkin sengaja meminta izin agar bisa menghubungi kalian di saat siang hari," usul Allena.
Begitulah cara Allena menyiasati perbedaan waktu antara negara mereka. Kadang-kadang Allena bangun di tengah malam agar bisa menghubungi Zeno di pagi hari.
"Mama.., Mama..," teriak anak itu saat Allena sengaja bangun lewat tengah malam demi menatap wajah anaknya.
Ibu Vina, Rahma dan Zefano bergabung untuk bisa saling menatap. Allena kadang tak bisa menahan kesedihannya dan menangis.
Menoleh dengan cepat ke arah Rahma dan bertanya dengan ekspresi yang heran saat melihat ibunya menangis. Allena tak bisa lagi menahan tangis, gadis itu tersedu-sedu karena tak bisa menahan rindu.
"Karena kangen sama Zeno," jawab Rahma.
"Ini Deno," ucap Zefano sambil memegang dadanya.
"Iya, tapi kan tidak bisa pegang Zeno," jawab Rahma lagi.
"Mama ni pedang tanan Deno, Mama danan nanis ladi ya," ucap anak itu sambil menyentuh layar ponsel.
Allena buru-buru meredakan tangisnya dan menyentuh layar ponsel.
"Ya Zeno, Mama sudah pegang tangan Zeno. Mama sudah tidak menangis lagi," jawab Allena sambil lebih kuat menahan tangisnya.
Bu Vina mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil mengusap air matanya yang mengalir.
"Hah, Mama ndak nanis ladi Tante," ucap Zefano melapor dengan ekspresi yang takjub pada dirinya sendiri.
"Ya, Zeno hebat, Mama jadi nggak nangis lagi," ucap Rahma yang juga dengan ekspresi takjub.
"Mama tapan pulang?" tanya Zefano.
"Nanti nak, kalau Mama sudah selesai belajarnya. Zeno di rumah jangan nakal ya. Jangan main di luar rumah sendirian," nasehat Allena.
"Ndak, Deno ndak natal, Tante Ama bilang talo Deno natal nanti Mama ndak mau pulang. Dadi Deno ndak mau natal-natal," ucap Zefano.
Allena tertawa mendengar ucapan anaknya. Seperti yang Rahma katakan orang-orang yang mendengar Zefano bicara pasti akan tertawa. Sementara dia sendiri bengong melihat orang-orang yang tertawa melihatnya.
"Mama tawa-tawa Tante," ucapnya heran sendiri.
"Ya, berarti Mama senang karena Zeno nggak nakal," jawab Rahma tertawa.
Allena merasa sedih bercampur bahagia setiap kali selesai menghubungi Rahma, Zeno dan ibunya. Namun, Allena merubah kesedihan itu dengan semangat untuk segera menyelesaikan studinya..
__ADS_1
Allena semakin dikenal di dunia fashion, berkali-kali mendapat pujian dari designer-designer ternama. Selalu menambah ilmu dan tidak mudah merasa puas.
Paris Fashion Week menjadi debut fashion designer Allena. Untuk pertama kalinya Allena tampil sebagai seorang desainer di ajang eksklusif Fashion Show yang digelar di sebuah hotel mewah di pusat kota Paris.
Meski merasa cukup tegang dalam mempersiapkan para model untuk peragaan malam itu. Koleksi busana karya Allena menampilkan sosok perempuan yang percaya diri dengan gaya busana bercorak modern mengutamakan kenyamanan dan rasa santai memberi kesan polos namun indah tanpa menepis aspek tegas dan feminin.
Berlabel ZENO'S, Allena tidak pernah berhenti mencari inspirasi dan yang hal-hal baru. Dengan penuh senyum percaya diri, Allena tampil di akhir peragaan dan disambut tepuk tangan meriah dari para penonton yang memenuhi ruangan.
Allena bahkan mengirim rekaman peragaan busananya itu pada Rahma dan ditonton bersama-sama dengan Zefano dan ibu Vina. Zefano melompat girang saat melihat ibunya melambaikan tangan setelah menerima buket bunga dari seorang model terkenal Prancis.
"Tiga hari lagi Zeno akan berulang tahun yang ke lima. Maukah kamu menyediakan kado lagi untuknya?" tanya Allena pada Rahma.
"Iih, Kakak tentu saja mau, Rahma bahkan sudah tahu apa yang diinginkannya," jawab Rahma.
"Oh ya, tolong persiapan untuknya. Aku akan mengirimkan uang untuk membeli kado yang diinginkannya," lanjut Allena.
"Tidak usah Kak, uang kiriman Kakak tak habis-habis dan selalu bertambah. Di sini uang tak pernah menjadi masalah tapi kehadiran kakak di sisi Zeno yang jadi masalah. Anak itu mulai merasa sedih karena melihat teman-temannya yang dijemput ke sekolah oleh ibunya. Kalau bisa cepatlah pulang Kak," ucap Rahma dengan ekspresi sedih.
"Kakak mengerti, Kakak juga ingin segera kembali ke tanah air tapi Kakak belum bisa lepas dari perusahaan fashion di sini. Kamu tahu kan, Kakak banyak berhutang budi pada perusahaan ini. Tapi tenanglah Kakak tetap akan berusaha agar bisa kembali segera. Sekarang maukah melakukan sesuatu untuk kado ulang tahun Zeno?" tanya Allena.
"Baik Kak, sesuatu apa itu?" tanya Rahma.
Allena pun menjelaskan rencananya, Rahma mengikuti dan menyiapkan semua keinginan Allena. Di hari ulang tahun Zefano, Allena sengaja bangun dini hari dan berdandan rapi demi menghadiri acara ulang tahun putranya yang kelima.
Allena mulai menghubungi Zefano yang sudah mulai terbiasa menggunakan ponsel.
"Permisi pemuda tampan, apa bisa bertemu dengan Zeno?" tanya Allena saat wajah Zeno muncul di layar ponselnya.
"Ini Zeno Mama, masa Mama lupa," jawab anak laki-laki tampan itu.
"Ah tolong jangan bercanda ya, anakku Zeno tidak setampan ini. Dia itu masih kecil dan lucu, mana mungkin berubah jadi setampan ini. Tolong jangan sembunyikan anakku ya," ucap Allena sambil menahan senyum.
"Aaah Mama jangan bercanda baru beberapa hari lalu video call masa sekarang sudah berubah. Ini Zeno, Zeno tidak sembunyikan anak Mama," jawab Zeno kesal karena dijahili ibunya.
"Oh, apa berubah karena berulang tahun ya? Kemarin itu baru berumur tiga tahun dan sekarang empat tahun," ucap Allena.
"Mama lupa, sekarang sudah lima tahun," jawab Zefano setengah menjerit.
Rahma dan Bu Vina tertawa mendengar obrolan ibu dan anak itu.
"Ok baiklah, baiklah ternyata sudah lima tahun. Pantas sudah besar dan sangat tampan, oh kalau datang kesini pasti langsung ditawari jadi model catwalk," ujar Allena lagi.
Zefano tertawa menuduk sambil menutup mulutnya.
"Kucing berjalan?" tanya Zefano.
Allena tertawa, giliran dirinya yang dijahili anaknya.
"Mama punya hadiah untukmu. Ini dia, ta-da," ucap Allena sambil memperlihatkan kotak berwarna merah mengkilap.
"Oh, apa itu? Tapi gimana caranya. Mama kan jauh jadi tak bisa langsung kasih ke Zeno," ucapnya sambil menunduk.
"Iya juga ya kalau menunggu Mama pulang pasti kelamaan dan Zeno tak sabar menunggu, kasihan anak Mama. Aah.., gimana kalau Mama lempar dari sini nanti Zeno tangkap ya," ucap Allena.
"Haaaah..," jerit Zefano sambil memegang kedua pipinya dengan mulut yang ternganga.
Allena tertawa lalu berakting seolah-olah melempar kado itu ke layar ponsel.
"Hah, layar ponselnya gelap, Tante," lapor Zefano langsung menoleh pada Rahma.
"Oh, coba panggil Mama lagi," ucap Rahma.
Saat Zefano memanggil Mamanya, Rahma mengeluarkan kotak berwarna sama dari tempat persembunyiannya.
"Ini dia hadiahnya sudah sampai," jerit Rahma.
Zefano langsung menoleh dan terperangah. Kado yang persis sama seperti yang dilempar ibunya telah berada di tangan Rahma. Allena melepas tangannya dari kamera ponselnya dan berkata.
"Selamat ulang tahun Zeno sayang," jerit Allena sambil bertepuk tangan.
Zefano mengucapkan terima kasih sambil memegang kado itu di dadanya. Itu adalah ulang tahun terakhir Zefano tanpa ibunya karena tiga bulan kemudian. Allena berhasil mendapat izin untuk mengundurkan diri dari perusahaan fashion di Paris dan kembali ke Indonesia.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...