
Zeno adalah Zefano, mendengar ucapan sahabatnya, Zefran langsung memacu mobilnya ke rumah sakit. Namun tertegun saat memasuki ruangan Zefano yang terasa begitu hening. Terlihat Zefano yang berbaring dengan mata terpejam di kelilingi para dokter dan Allena yang meneteskan air mata di samping ranjangnya.
Kaki Zefran terasa berat melangkah, air matanya langsung mengucur. Valendino yang mengikutinya langsung terpaku sambil menggigit kepalan tangannya. Tiba-tiba mata Zefano terbuka.
"Sudah?" tanya seorang dokter.
Zefano mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Kalau begitu tiup lilinnya!" ucap seorang dokter perempuan sambil menyodorkan tart di hadapan Zefano.
Anak itu meniup sebatang lilin yang menancap di atas tart berwarna coklat.
"Selamat ulang tahun Zeno!" teriak para dokter serentak lalu bertepuk tangan.
Mereka adalah tim dokter yang bertanggung jawab dalam kesembuhan Zefano. Dokter spesialis onkologi yang khusus menangani dan mengobati penyakit akibat kanker. Dokter spesialis hematologi yang menangani masalah atau kelainan gangguan darah, serta tim dokter pelaksana kemoterapi.
Zefran tersenyum menunduk sambil menghapus air matanya yang tetap saja mengalir, begitu juga dengan Valendino. Zefran melangkah pelan dan berdiri di belakang antara para dokter. Zefano langsung tersenyum.
"Sudah terkabul," ucapnya pelan namun terdengar jelas.
Matanya tertuju pada laki-laki yang tersenyum di belakang para dokter itu. Para dokter langsung menoleh ke arah pandangan mata Zefano.
"Sudah terkabul? Doa Zeno terkabul?" tanya seorang dokter wanita.
Zefano mengangguk lalu perlahan merentangkan tangannya ke arah Zefran. Meski bergerak lemah namun anak itu terlihat sangat ingin melakukannya. Zefran bergerak mendekat lalu memeluk anak itu. Memeluknya erat, air mata Zefran menetes hingga membasahi bahu Zefano.
"Maafkan Papa nak, Papa tidak mengenalimu. Papa orang tua yang bodoh yang tidak bisa mengenali anak Papa sendiri," ucap Zefran lirih memejamkan mata hingga membuat air mata itu mengalir deras.
Semua yang hadir di ruangan itu menatap haru, sebagian dari mereka yang mengenal Zefano sangat mengetahui keinginan anak itu. Bertemu dengan ayahnya selalu jadi perbincangan mereka.
Para dokter yang menangani anak-anak akan selalu mengajak mereka bicara. Hingga anak-anak itu merasa dekat dengan mereka, membuat anak-anak berani mengungkapkan isi hati dan bahagia selama menjalani masa pengobatan.
Zefran tak puas-puasnya memeluk Zefano hingga seorang dokter menyapanya. Zefran menoleh ke arah dokter itu.
"Apa anda ayah kandung Zefano?" tanya dokter itu langsung.
"Ya benar dokter, saya ayah kandung Zeno," ucap Zefran tegas.
Allena terpana mendengar ucapan Zefran tanpa sadar menoleh ke arah Valendino. Laki-laki itu menjawab rasa heran Allena dengan tersenyum sambil mengangguk.
Dokter segera menyarankan Zefran untuk melakukan pemeriksaan kecocokan sumsum tulang belakang. Saat itu juga Zefran menyetujui dan melakukan proses pengambilan sampel sumsum tulang.
Allena menoleh pada Valendino dengan air mata yang mengalir namun dengan senyum di bibirnya.
"Kak?" tanya Allena pada Valendino.
Hanya kata itu yang bisa diucapkannya untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya. Valendino membalas dengan anggukan berkali-kali sambil tersenyum. Allena menoleh pada ibunya, mereka berpelukan. Begitu juga dengan Rahma yang sejak tadi hanya menunduk menangis.
"Semoga berjalan lancar dan tidak ada lagi yang menghalangi pengobatan Zeno," ucap Vina sambil memeluk kedua putrinya, Allena dan Rahma.
Proses pengambilan sampel sumsum tulang Zefran mereka tunggu dengan hati yang berdebar-debar. Seluruh keluarga Zefano berdoa berharap mendapatkan hasil yang diharapkan. Sementara itu Valendino menemui Dokter Shinta yang masih tertunduk di kursi tamu ruang kerjanya. Menatap kosong ke depannya dengan air mata yang dibiarkan mengalir.
Dokter Shinta sangat ingin menemui Zefano namun gadis itu tidak berani lagi. Hanya diam dan berharap Zefano masih memiliki kesempatan untuk bisa disembuhkan. Valendino datang dan langsung menghapus air mata itu. Dokter Shinta menoleh, raut penyesalan terlihat jelas di wajahnya.
Valendino memeluk Dokter Shinta yang tangisnya semakin kencang itu.
"Jangan menangis lagi, sekarang kita berdoa saja agar tidak ada lagi yang menghalangi kesembuhan Zeno," ucap Valendino.
Meski Valendino memintanya berhenti menangis namun isak gadis itu justru bertambah kencang.
"Zeno pasti membenciku, aku telah membuat Zeno dan ibunya menderita," ucap Shinta lirih sambil bersandar di dada Valendino.
"Kita lihat saja nanti, apa Zeno akan membencimu atau memaafkanmu. Tapi yang perlu kamu tahu, apa pun yang terjadi aku tidak akan meninggalkanmu," ucap Valendino sambil membelai rambut kekasihnya.
Dokter Shinta mengangkat wajahnya dan langsung memeluk Valendino.
"Terima kasih Uncle Val, satu lagi kebaikan yang aku dapatkan dari Zeno yaitu mengenalkanmu padaku. Semakin banyak aku berhutang kebaikan padanya, bagaimana aku akan membayarnya? Sementara dosaku padanya begitu banyak," ucap Shinta terisak-isak.
"Zeno tidak akan menagih semua itu karena Zeno juga menyayangimu, percayalah," ucap Valendino sambil membelai rambut Dokter Shinta.
Valendino berusaha menenangkan hati Dokter Shinta. Gadis yang terlihat sangat menyesal itu akhirnya pasrah menanti keputusan dari keluarga Dimitrios atas kesalahan yang dilakukannya.
Tak lupa Valendino menghubungi Ny. Mahlika dan menceritakan semua yang terjadi. Valendino beranggapan, bagaimanapun juga Ny. Mahlika tetaplah nenek kandung Zefano.
Terburu-buru dan tanpa persiapan mental sedikit pun nyonya itu langsung mendatangi rumah sakit untuk menjenguk cucunya. Masuk ke ruangan itu dan langsung merasa bingung.
Ny. Mahlika tidak tahu harus berbuat apa, ingin memeluk Allena dan meminta maaf atau menemui sahabatnya juga meminta maaf atau langsung memeluk cucunya yang baru saja diketahui kebenarannya.
"Oma!" ucap Zefano yang langsung tersenyum menatap ibu yang masih bingung itu.
Namun Zefano menghilangkan kebingungannya, anak itu memanggil dan membentangkan tangannya. Ny. Mahlika langsung memeluk Zefano yang selama ini dikenal sebagai teman sesama pasien saat anaknya dirawat di rumah sakit itu.
Merasa sedih atas sakit yang diderita Zefano namun sama sekali tidak menyangka bahwa anak itu ternyata adalah anak dan cucu mereka sendiri. Ny. Mahlika menangis meminta maaf pada Zefano yang tidak mengetahui kalau anak itu adalah cucunya sendiri.
"Benarkah? Oma adalah nenek Zeno juga?" tanya Zefano sambil menoleh pada ibunya.
Allena mengangguk.
__ADS_1
"Oma adalah ibu dari papamu, tentu Oma adalah nenekmu juga nak," ucap Mahlika sambil mendekap Zefano.
Zefano tersenyum lalu mengusap punggung neneknya. Setelah puas memeluk anak itu Ny. Mahlika berbalik ke arah Allena.
"Mommy minta maaf sayang karena telah meragukanmu dan karena telah memperlakukanmu dengan buruk," ucap Mahlika dengan mata yang berkaca-kaca.
Ny. Mahlika berharap Allena akan memaafkannya dan memeluknya namun ternyata Allena hanya diam dengan matanya yang berkaca-kaca. Ny. Mahlika berdiri di hadapan Allena dengan sikap canggung lalu beralih ke arah sahabatnya.
"Vina, tolong maafkan aku karena aku..," ucap Mahlika yang tak sanggup dilanjutkannya.
Nyonya Mahlika merasa dosanya terlalu banyak pada ibu dan anak itu. Ny. Mahlika merasa berdosa karena tidak mempercayai menantunya dan berkata-kata tajam pada Allena hingga akhirnya membiarkan gadis itu keluar dari dirumahnya.
Ny. Mahlika berharap Bu Vina menyambut permintaan maafnya namun ibu itu hanya diam. Ibu Vina merasa tidak memiliki hak menerima atau menolak permintaan maaf dari Ny. Mahlika.
Merasa tidak ada yang menggubris permintaan maafnya, nyonya itu berniat pergi dan melangkah keluar dari ruangan.
"Mommy mau ke mana?" tanya Allena.
Langkah kaki nyonya itu terhenti.
"Mommy tidak menunggu hasil pemeriksaan Kakak? Mommy tidak mau menemani Zeno?" tanya Allena.
Ny. Mahlika berbalik arah menatap Allena.
"Apa Mommy diizinkan tetap di sini?" tanya Mahlika.
"Tentu saja, bukankah Zeno adalah cucu Mommy?" tanya Allena menawarkan nyonya itu tetap di sisi putranya.
"Terima kasih Allena, Mommy sangat ingin tetap di sini bersama Zeno," ucap Mahlika dengan air mata yang mengalir.
Allena mendekati Ny. Mahlika dengan canggung lalu memeluk dan berkata memaafkan kesalahan Ny. Mahlika.
"Allena mengerti Mommy, ini tidak sepenuhnya kesalahan Mommy," ucap Allena.
Mendengar itu Ny. Mahlika membalas pelukan Allena dan menangis haru.
"Terima kasih Allena, terima kasih nak, sekarang hati Mommy menjadi lega," ucap Mahlika.
Ibu Vina juga memeluk sahabatnya sebagai tanda bahwa dia juga telah memaafkan kesalahan Ny. Mahlika. Zefano tersenyum menatap ketiga wanita yang berpelukan dan saling memaafkan itu.
Sementara itu, Zefran sebagai orang yang berpotensi cocok sebagai donor terlebih dahulu melewati serangkaian pemeriksaan kesehatan. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa sumsum tulang yang dimilikinya sama dengan sampel sumsum tulang penerima donor.
Seorang perawat masuk dan memberitahukan bahwa Zefran telah dinyatakan cocok sebagai pendonor dan menempati ruang disebelah untuk persiapan transplantasi sumsum tulang.
Sementara Zefano menjalani pengobatan dengan kemoterapi untuk menghancurkan sel sumsum tulang dan sel kanker yang ada serta melemahkan sistem kekebalan tubuh untuk mengurangi resiko penolakan sel transplantasi.
Zefran akan diberikan suntikan selama empat hari untuk merangsang produksi sel induk darah agar jumlahnya meningkat hingga jumlah sel induk darahnya mencukupi.
Allena memeluk suaminya dan berterima kasih karena laki-laki itu bersedia menjadi pendonor bagi putranya.
"Sayang, mana mungkin aku menolak menolong anakku sendiri. Jika aku tahu sejak dulu aku akan melakukan apa pun untuknya," ucap Zefran sambil membalas pelukan Allena.
"Untunglah Kakak segera datang," ucap Allena melepaskan pelukannya dan tersenyum menatap wajah suaminya.
Tapi Zefran justru menarik gadis itu kembali ke pelukannya.
"Aku merindukanmu Allena, aku sangat merindukanmu," ucap laki-laki itu langsung membenamkan bibirnya ke bibir istrinya.
Allena yang juga merindukan suaminya langsung membalas ciuman itu. Mereka saling membalas ciuman hangat yang bernafsu, tangan Zefran bahkan bergerak melepas kancing blouse Allena. Gadis itu langsung menghentikan ciumannya.
"Tidak bisa," ucapnya Allena langsung merenggangkan pelukannya.
"Kenapa?" tanya Zefran kecewa.
"Di sebelah ada Mommy dan ibuku, kalau mereka ingin ke sini bagaimana?" tanya Allena sambil tersipu.
Zefran tersenyum lalu kembali menarik Allena ke dalam pelukannya. Laki-laki itu akhirnya memilih hanya memeluk istrinya.
"Kenapa kamu kesulitan mencari pendonor? Bukankah kamu sendiri ibu kandungnya? Kenapa tidak bisa menjadi pendonor untuk Zeno?" tanya Zefran masih memeluk istrinya.
"Wanita hamil tidak bisa menjadi pendonor," ucap Allena pelan namun cukup membuat Zefran kaget.
Zefran mendorong tubuh Allena dan ingin menatap langsung wajah istrinya.
"Apa? Kamu hamil?" tanya Zefran.
Allena mengangguk dengan ragu-ragu.
"Benarkah? Kamu benar-benar hamil?" tanya Zefran dengan suara yang semakin keras.
Allena kembali mengangguk. Kali ini Zefran benar-benar yakin, dengan ekspresi yang bahagia laki-laki itu mengecup kening istrinya dan berterima kasih padanya. Zefran kembali memeluk erat istrinya hingga memejamkan mata menikmati rasa bahagianya.
Zefano menjalani kemoterapi untuk menyiapkan sumsum tulang baru, menekan sistem kekebalan tubuh menghancurkan sel-sel kanker. Setelah proses penyesuaian itu selesai, Zefano diminta untuk beristirahat selama beberapa hari sebelum menjalani proses transplantasi.
Transplantasi pun dilaksanakan dan berhasil. Sel induk yang memasuki tubuh Zefano mulai berkembang biak untuk menghasilkan sel darah yang sehat.
Sepuluh hingga dua puluh delapan hari setelah transplantasi. Kesehatan Zefano diawasi, pengobatan itu dinyatakan berhasil ditandai dengan meningkatnya jumlah sel darah putih.
__ADS_1
Selama itu Zefano harus tetap menjalani rawat inap dan Dokter selalu memantau proses pemulihan yang membutuhkan waktu selama tiga bulan itu.
Hari itu Zefano sangat ingin berjalan-jalan. Valendino bersedia mendorong kursi roda dan menemani Zefano berjalan-jalan di taman. Tiba-tiba anak itu menunjuk pada seorang dokter wanita yang sedang duduk menunduk di bangku taman.
"Zeno mau menemui Dokter Shinta?" tanya Valendino.
"Mau," jawab Zefano.
"Mau apa?" tanya Valendino.
"Mau marah," ucap Zefano sambil tertawa.
Valendino pun tertawa, laki-laki itu pun mengikuti kemauan anak itu. Segera mendorong kursi roda itu mendekat pada dokter cantik itu. Zefano menyentuh bahu dokter yang sedang melamun itu. Dokter Shinta tersentak lalu menatap Zefano.
Gadis itu diam terpaku lalu tiba-tiba berdiri dan beranjak pergi. Zefano meraih tangan Dokter Shinta, langkahnya pun terhenti.
"Dokter Shinta kenapa pergi?" tanya Zefano masih menggenggam tangan dokter cantik itu.
Dokter itu diam hanya matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Dokter Shinta tidak mau berteman dengan Zeno lagi?" tanya Zefano.
Dokter Shinta semakin menunduk, matanya yang berkaca-kaca telah mengalirkan air matanya yang telah tergenang.
"Kenapa? Apa karena Zeno jelek sudah tidak ada rambut?" tanya Zefano.
Dokter Shinta langsung menoleh ke arah anak itu dan menghapus air matanya.
"Bukan karena itu," ucap Shinta.
"Lalu kenapa Dokter tak mau lagi ketemu Zeno? Padahal setiap hari Zeno menunggu di kamar? Dokter Shinta juga tidak datang di acara ulang tahun Zeno," ucap anak itu kemudian menunduk.
"Maafkan Dokter Shinta ya, Dokter Shinta tidak datang karena takut Zeno dan orang tua Zeno marah sama Dokter Shinta," ucap Shinta sambil kembali duduk dan menggenggam tangan Zefano.
"Kenapa Dokter Shinta takut?" tanya Zefano.
"Zeno ingat, cerita tentang pulpen berharga itu? Dokter Shinta pernah cerita kan? Dengan pulpen itu Dokter Shinta menandatangani sebuah dokumen palsu? Apa Zeno ingat?" tanya Dokter Shinta sambil menghapus air matanya.
Zefano mengangguk.
"Dokumen palsu itu menerangkan bahwa Zeno bukan anak Papa Zefran hingga Zeno dan Papa Zefran akhirnya berpisah," ucap Dokter Shinta akhirnya menangis terisak karena menyesal.
Tak cukup hanya terisak, Dokter Shinta menangis tersedu-sedu sambil menepuk dadanya sambil menunjukkan kesalahannya.
"Dokter Shinta lah yang menyebabkan Zeno terpisah dari Papa Zeno. Dokter Shinta lah yang menyebabkan Zeno tidak memiliki ayah dan tidak merasakan kasih sayang seorang ayah. Dokter Shinta lah yang membuat Zeno tidak bisa segera mendapatkan donor sumsum tulang hingga Zeno harus selalu menjalani kemoterapi. Dokter Shinta lah yang membuat Zeno menderita lemah dan sakit menjalani kemoterapi untuk bertahan hidup. Jika sejak dulu Dokter Shinta mengakui kesalahan dan memberitahukan kebenarannya, Zeno tidak akan menderita seperti ini. Dokter Shinta adalah orang jahat yang tidak pantas berteman dengan anak sebaik Zeno," ucap Shinta yang menangis tersedu-sedu.
"Terima kasih Dokter Shinta," ucap Zefano tiba-tiba berdiri dan menghambur di pelukan Dokter Shinta.
"Apa?" tanya Shinta merasa bingung.
"Terima kasih karena Dokter Shinta sudah mengakui dan memberitahu yang sebenarnya," ucap Zefano masih memeluk Dokter Shinta.
Valendino menunduk terharu mendengar percakapan dua orang yang disayanginya itu.
"Harusnya Zeno marah sama Dokter Shinta kenapa justru berterima kasih?" tanya Shinta kembali menangis tersedu-sedu.
"Karena Dokter Shinta memberitahukan yang sebenarnya jadi Zeno bisa bertemu Papa. Dokter Shinta bisa saja diam selamanya dan Zeno selamanya tidak tahu siapa Papa Zeno yang sebenarnya. Tapi Dokter Shinta memilih mengakui, terima kasih Dokter Shinta," ucap Zefano sambil terus memeluk Dokter Shinta.
Gadis itu menoleh pada Valendino, laki-laki itu tersenyum membalas wajah bingung Dokter Shinta.
"Dokter Shinta sudah berjanji pada Daddy akan menjadi dokter yang baik kan?" tanya Zefano sambil menengadah wajahnya menatap Dokter Shinta.
Gadis itu mengangguk.
"Jadilah Dokter yang baik yang tetap sayang sama anak kepala botak ini," ucap Zefano sambil tersenyum.
Dokter Shinta dan Valendino tertawa.
"Dokter Shinta selalu sayang sama Zeno meski berambut atau pun botak karena Zeno anak yang baik dan walaupun botak, Zeno tetap saja ganteng," ucap Shinta.
"Benarkah?" tanya Zefano senang.
"Ganteng dan sangat lucu," jawab Shinta sambil tersenyum mengangguk.
"Maaf, apa anda Dokter Shinta?" terdengar ucapan dari arah belakang mereka.
Sontak ketiganya menoleh.
"Kami harus menahan anda atas dugaan melakukan tindak pidana pemalsuan dokumen hingga merugikan orang lain," ucap aparat kepolisian yang tiba-tiba muncul.
Polisi langsung memborgol Dokter Shinta, dokter itu menangis menatap Zefano dan Valendino. Melihat gadis itu diborgol Zefano langsung menjerit dan memeluk dokter itu.
"Maaf, Zeno" ucap Shinta sambil memeluk dan mencium pipi anak itu.
Setelah memeluk dan mencium pipi anak itu Dokter Shinta berdiri dan melangkah menunduk digiring oleh dua orang polisi.
"Nggak! Dokter Shinta nggak boleh pergi, nggak! Nggak! Dokter Shinta jangan pergi! Nggak boleh!" jerit Zefano.
__ADS_1
Zefano menjerit ingin mengejar namun Valendino segera menahan tubuh kecil itu. Tangan kecil Zefano melambai memanggil dokter itu untuk kembali. Dokter Shinta menangis berjalan sambil menoleh ke arah anak yang menjerit menangis memanggil namanya.
...~ Bersambung ~...