
Ny. Marilyn memberitahu kalau Allena mendapat tawaran mengisi majalah mode internasional untuk rancangan seragam pengantin. Sambil menunggu Ny. Marilyn yang mengambilkan surat undangan, Allena mengamati rancangannya serta bahan-bahan yang telah dipilihnya.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang, Allena kaget dan langsung menoleh. Robert Daniel tersenyum dari samping bahu Allena.
"Kak Robert! Ya ampun, Kakak mengagetkanku!" seru Allena langsung memasang muka cemberut.
"Mana suamimu? Dia tidak ikut ke sini?" tanya Robert Daniel langsung.
"Dia bekerja untuk apa dia ikut ke sini. Aku tidak akan ke sini kalau bukan karena ada urusan," ucap Allena.
"Kamu belum mulai bekerja?" tanya Robert Daniel.
"Belum," jawab Allena singkat.
"Aku mau tanya padamu, apa aku sudah terlihat tua?" tanya Robert Daniel.
Allena langsung menoleh ke arah Robert Daniel dan mengamati wajah laki-laki itu dari dekat. Dari atas hingga ke bawah, dari samping kiri hingga ke samping kanan, lalu wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Tidak, tak ada kerutan sama sekali, kenapa bertanya seperti itu?" tanya Allena.
"Aku mendapat komentar kalau aku bertambah tua di salah satu foto," ucapnya sambil cemberut.
Allena langsung tertawa.
"Aku pikir ada apa? Cuma karena komentar orang. Mungkin saat itu Kak Robert kurang rapi, kurang perawatan atau design fashion-nya yang ketuaan. Hah, apa itu design-ku?" tanya Allena kaget.
"Bukan, tak ada hubungannya dengan fashion. Mereka cuma menilai wajahku," ucapnya sambil mengusap dagunya sambil menghadap ke cermin besar yang menempel di dinding.
Allena tersenyum melihat tingkah laki-laki itu yang sibuk dengan penampilannya.
"Mungkin maksudnya bukan tua tapi dewasa karena Kakak membiarkan cambang Kakak tumbuh. Tapi bagiku penampilan seperti itu oke kok, terlihat lebih macho. Kak Robert jadi tambah gagah," ucap Allena.
"Oh ya? Serius? Kamu tidak bohong? Tidak hanya ingin menghiburku? Aku benar-benar bertambah gagah?" tanya Robert Daniel bertubi-tubi sambil mengusap cambangnya.
Allena menggelengkan kepalanya sambil tertawa.
"Bagaimana kalau kita selfie dulu?" tanya Robert Daniel langsung segera merangkul Allena dan mengarahkan kamera ponsel pada mereka.
Allena tertawa, dengan cepat Robert mengambil gambar mereka dalam beberapa pose. Mereka tertawa saat mengamati hasil jepretan Robert Daniel. Laki-laki itu semakin percaya diri saat Allena mengacungkan jempolnya.
Tak lama kemudian Ny. Marilyn datang dan menyerahkan undangan dari majalah itu pada Allena. Allena mengambil amplop berisi undangan itu sambil tersenyum memandang Robert Daniel yang senyum-senyum sendiri memandangi hasil foto selfie-nya.
Ny. Marilyn menggelengkan kepalanya menatap putranya itu. Allena ikut tersenyum pada Ny. Marilyn.
"Aku sangat ingin dia jatuh cinta padamu, jadi kamu bisa jadi menantuku," gerutu Marilyn.
"Lalu mau dibuang ke mana suamiku, Mommy?" tanya Allena yang tak perlu jawaban.
Ny. Marilyn tersenyum tipis.
"Oh ya, itu diadakan di Paris, nanti kamu baca sendiri kriterianya. Jangan sampai kamu tidak ikut ya," ucap Marilyn.
"Ok Mom, aku baca di rumah ya, sekarang mau ke penjahit dulu minta disediakan semua bahan untuk rancanganku ini," ucap Allena.
"Baiklah sayang," ucap Marilyn langsung memeluk Allena dan mencium kedua pipinya.
Melihat itu Robert Daniel yang tadinya sibuk mengamati ponselnya, kembali menghampiri Allena.
"Kamu mau pulang?" tanya Robert.
__ADS_1
"Sebentar lagi Kak, apa Kakak mau pulang?" tanya Allena.
"Maksudmu ke apartemenku atau ke Paris?" tanya Robert.
"Paris?" tanya Allena sambil tersenyum. Robert Daniel menggeleng.
"Aku putuskan stay di sini, kalau ada job, barulah aku berangkat ke Paris," jawab Robert Daniel.
Allena menganggukkan kepalanya.
"Ya udah kalau gitu, aku pergi dulu ya Kak," ucap Allena.
"Ok, kalau ada waktu senggang ajaklah suamimu main-main ke sini. Mana tahu dia pusing dengan pekerjaannya dan ingin mencoba sesuatu yang baru, jadi model misalnya, sayang 'kan wajah tampannya," ajak Robert yang dibalas dengan senyum oleh Allena.
Wanita itu melambaikan tangannya dan lanjut menyelesaikan urusannya setelah itu barulah Allena pulang. Sesampai di rumah, ibu dua anak itu kembali bermain dengan Zefano, Keisya dan Zifara.
"Halo sayang, hari ini Zara nakal nggak? Cengeng nggak sama Kakak-Kakak?" tanya Allena sambil menggendong Zifara.
"Nggak Ma, Zara nggak nakal tadi cuma nangis sebentar diganti popoknya trus di kasih susu sama Kak Santi, Adek Zara diam lagi," sahut Zefano.
"Oh ya, Zara anak yang baik ya? Sama kayak Kak Zeno dan Kak Keisya," balas Allena.
"Tante, Zeno pengen dipanggil Abang katanya," ucap Keisya.
"Oh ya, Zeno mau dipanggil Abang? Boleh saja, jadi Abang Zeno dan Kakak Keisya? Bagus juga panggilannya. Nah, sekarang Zara mau bobok dulu ya Abang Zeno dan Kakak Keisya," ucap Allena lalu melambaikan tangan Zifara pada Zefano dan Keisya.
"Dadah Kakak Keisya, dadah Abang Zeno!" seru Allena.
Keisya langsung melambaikan tangannya sementara Zefano tertawa sambil menutup mulutnya. Anak itu seperti masih malu mendengar panggilan barunya.
Allena tersenyum dan langsung membawa Zifara ke kamarnya. Menyusui bayi itu sambil merebahkan diri di ranjangnya. Wanita itu menyusui sekaligus ingin beristirahat setelah melakukan aktivitas, tanpa sadar Allena tertidur.
"Aku mau juga dong," ucap Zefran tersenyum sambil menatap wajah istrinya.
"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Allena.
"Istriku cantik dalam keadaan apa pun, saat tidur, saat bicara, saat tersenyum apalagi saat mandi," ucap Zefran lalu tertawa.
Allena langsung menjulurkan lidahnya, membuat Zefran tertawa. Laki-laki itu segera mengangkat Zifara yang telah tidur dan memindahkannya ke ranjang bayi. Lalu kembali merebahkan diri di samping istrinya. Laki-laki itu segera memeluk wanita itu dengan erat. Allena memejamkan matanya dalam pelukan Zefran.
"Aku mencintaimu, Allena," bisik Zefran.
"Aku mencintaimu suamiku," balas Allena.
Zefran tersenyum, lalu mengecup puncak rambut istrinya.
"Tidurlah, maaf tadi aku mengganggu tidurmu," bisik Zefran lagi.
Allena tersenyum, sebenarnya wanita itu sudah tidak ingin tidur lagi tapi juga enggan beranjak dari posisinya dalam pelukan laki-laki itu. Memilih diam menikmati pelukan suaminya yang nyaman membuat Allena kembali tertidur begitu juga dengan Zefran.
Di sore hari Zefran terbangun dan mendapati Allena tak ada lagi disampingnya. Laki-laki itu melangkah ke kamar mandi dan mendengar aktifitas mandi di sana.
"Lagi mandi sayang?" tanya Zefran.
"Ya Kak, Kakak sudah bangun?" tanya Allena.
"Belum,"
Terdengar suara tawa dari dalam sana, Zefran pun ikut tersenyum.
__ADS_1
"Mau aku mandikan?" tanya Zefran dari balik pintu.
"Udah hampir selesai Kak," jawab Allena.
"Ok …, sayang," jawab Zefran.
Zefran tersenyum dan duduk di kursi di dalam kamar. Ponsel Allena yang ditaruh di atas meja itu tiba-tiba bergetar. Awalnya Zefran tidak peduli namun akhirnya menarik perhatian laki-laki itu setelah bergetar beberapa kali.
Laki-laki itu meraih ponsel itu dan melihat notifikasi yang muncul di layar. Hatinya tergerak untuk membuka pesan itu setelah melihat nama kontak Robert Daniel tertulis di sana.
Terlihat beberapa foto masuk dalam pesan pribadi istrinya. Hatinya bimbang, sangat ingin melihat pesan dari laki-laki yang tak disukainya itu atau mengabaikannya begitu saja.
Zefran meletakkan ponsel itu kembali ke meja. Tapi rasa penasaran itu akhirnya membuat laki-laki itu kembali mengambilnya karena tak tahan untuk melihat isinya. Zefran terkejut saat melihat foto selfie Allena dan model tampan itu.
Kembali laki-laki itu penasaran dan membuka satu foto lagi. Masih terlihat foto mereka yang begitu akrab. Robert Daniel bahkan menempelkan pipinya ke pipi Allena.
Benarkah hanya sebatas teman? Bisakah wanita dan pria seakrab ini tanpa menyimpan perasaan apa pun? Apa kamu membohongiku Allena? Agar aku percaya dan tidak mencurigaimu? Tidak mencurigai hubungan kalian lagi, batin Zefran.
Terdengar bunyi pintu kamar mandi yang terbuka. Zefran meletakkan ponsel Allena dan berpindah duduk bersandar di kepala ranjang. Masih mengenakan kimono handuknya, Allena datang dan langsung memeriksa ponselnya.
Lalu menoleh pada Zefran yang terlihat sibuk memandangi layar ponselnya. Allena mendekati dan duduk dihadapan Zefran.
"Kakak belum mau mandi? Kakak ingin aku siapkan bathtub atau jacuzzi?" tanya Allena.
Zefran tak menjawab, matanya masih memandang ke arah ponselnya. Allena heran suaminya tak merespon pertanyaannya. Allena menoleh pada ponselnya di atas meja lalu kembali menatap Zefran. Wanita itu curiga kalau Zefran telah melihat isi ponselnya. Allena langsung berpikir kalau Zefran salah paham dan sedang marah padanya.
"Kakak ayo mandi, sudah sore," ucap Allena kembali menyapa laki-laki itu.
Allena bahkan menyentuh tangan laki-laki itu namun Zefran tetap diam. Biasanya setelah Allena mandi laki-laki itu akan langsung mendekatinya. Menghirup aroma tubuh istrinya bahkan segera membuka kimono wanita itu dengan alasan untuk memeriksa apakah tubuh Allena sudah cukup bersih atau belum.
Namun, kali ini laki-laki itu terlihat tak acuh dan lebih memilih menatap ponselnya daripada mengalihkan perhatiannya pada istrinya. Allena menghela nafas panjang, telah jelas saat ini Zefran sedang mengabaikannya.
Allena tidak tahu lagi apa yang harus diucapkannya agar mendapatkan perhatian dari suaminya. Allena sudah ingin beranjak dari situ. Tapi dia tidak ingin sikap dingin suaminya berlanjut. Dia ingin menyelesaikannya segera dengan membuat suaminya bicara atau melakukan apa saja.
Allena mengambil ponsel suaminya dengan cepat sambil tersenyum. Ingin menggoda suaminya tapi apa mau di kata tiba-tiba tangan Zefran melayang ke pipinya.
"Kamu mulai tidak sopan pada suamimu, beraninya kau merebut barang pribadi orang," ucap Zefran dengan tatapan mata yang tajam.
Allena kaget mendapatkan tamparan yang terjadi begitu cepat.
"Maaf Kak," ucap Allena sambil memegang pipinya yang terasa panas.
Zefran merebut ponselnya dari tangan Allena dan keluar dari kamar dengan membanting pintu. Air mata Allena yang berusaha di tahannya sejak tadi akhirnya mengalir. Dadanya terasa sesak, Allena, akhirnya mendapatkan apa yang diinginkannya. Suaminya telah bicara bahkan telah menamparnya. Namun, bukan itu yang diharapkannya, bukan kejadian yang menyakitkan yang tak disangka-sangka.
Wanita itu masuk ke dalam walk in closet dan duduk di sana lalu menangis sejadinya. Allena menyesal melakukan itu, dia menyesal memutuskan mencari perhatian suaminya dengan cara seperti.
Aku salah, harusnya aku tidak lakukan itu, aku salah mengambil keputusan. Maafkan aku Kak, aku tidak akan melakukannya lagi, aku tidak akan menyentuh ponselmu lagi. Aku menyesal, aku minta maaf Kak, aku minta maaf, batin Allena sambil menangis sesenggukan.
Di luar pintu Zefran memandang tangannya yang juga terasa panas.
Kenapa begini? Kenapa reaksiku berlebihan seperti ini? Dia hanya ingin bermain denganku. Kenapa aku tega menyakitinya? Sial, kenapa kamu melakukan itu? Kamu tidak tahu aku sendiri sedang berusaha menenangkan hatiku. Aku sedang kesal, kenapa kamu mengusikku? Allena, sayang maafkan aku, jerit hati Zefran sambil memandang pintu kamarnya.
Zefran kembali masuk ke kamarnya dan tak melihat Allena di situ. Laki-laki itu akhirnya mencari ke kamar mandi namun tetap tak menemukan wanita yang dicintainya itu. Zefran masuk ke dalam walk in closet dan langsung menemukan istrinya yang bersimbah air mata duduk di sofa di tengah ruangan itu.
Allena menoleh menatap suaminya lalu berdiri dengan ragu-ragu sambil menghapus air matanya dengan cepat.
"Maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi" ucap Allena dengan suara serak.
Air matanya kembali mengalir dengan deras menatap ragu pada suaminya. Seperti dejavu saat malam pertama mereka menikah. Allena tidur di ruang itu dengan mengenakan kimono handuk, saat itu Zefran sangat membencinya dan hampir saja menamparnya.
__ADS_1
Tapi sekarang, Zefran benar-benar menamparnya justru di saat mereka telah saling mencintai.
...~ Bersambung ~...