Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 90 ~ Resepsi Valen dan Shinta ~


__ADS_3

Hari pernikahan Valendino dan Dokter Shinta pun tiba. Sejak subuh di ballroom hotel bintang lima itu telah disibukkan oleh aktivitas para penyelenggara yang berlalu lalang mempersiapkan segala penunjang terselenggaranya pesta pernikahan mewah CEO Valendino Adelard dari perusahaan keluarga Adelard dengan Dokter Shinta. Dokter cantik yang berasal dari keluarga turun temurun duta besar di berbagai negara itu.


Keputusan menikah dalam waktu singkat itu membuat wedding organizer yang ditunjuk terpaksa menambah personal dengan melakukan kerjasama atau melakukan subkontrak dengan wedding organizer lainnya. Hal ini untuk membantu pengerjaan, agar persiapan pernikahan ini dapat selesai tepat waktu sesuai dengan keinginan pasangan pengantin itu. Yang rencananya akan menggunakan konsep pesta pernikahan ala sitting dinner.


Pesta pernikahan yang diperhitungkan akan sangat mewah dengan mengundang para pebisnis sukses, tokoh-tokoh terkenal, diplomat, pejabat hingga selebriti. Hingga harus menggunakan seluruh area ballroom yang luas itu. Dekorasi pesta yang merubah suasana seakan-akan masuk ke area tiga dimensi dengan tatanan dekorasi ruangan yang tergantung di langit-langit.


Pemilihan warna, bahan, serta peletakkan dekorasi yang tepat, membuat suasana menjadi lebih romantis dan magical dengan kombinasi kilauan kristal, warna putih, emas, dan perak yang menghadirkan efek glamor. Dekorasi bunga segar dari toko bunga Tiara menambah kesan romantis yang memanjakan mata.


Dokter Shinta duduk di sebuah ruang rias yang difasilitasi spot selfie dengan dekorasi rangkaian bunga berwarna lembut di sekitar kursi mewah panjang berwarna putih itu.


Setelah para gadis penata rias selesai dengan tugasnya, mereka pun pamit. Meninggalkan Dokter Shinta bersama Allena dan Frisca. Dokter Shinta tak bosan-bosannya menatap dirinya pada cermin besar yang menempel di dinding. Merasa begitu bahagia mengenakan gaun pengantin rancangan Allena. Menjadikan Dokter Shinta pengantin yang sangat cantik dengan riasan yang manis dan elegan.


Kadang gadis itu tersenyum menyapa saat ada tamu yang mengunjunginya. Menampilkan senyum termanisnya saat mereka mengajak berfoto bersama. Lalu saat para tamu keluar, Dokter Shinta kembali berbincang-bincang dengan Allena dan Frisca.


"Sebentar ya Kak, aku mau gantian gendong Zara sama Kak Zefran," ucap Allena.


"Biarkan saja Zefran menggendong Zara. Daripada dia berlagak seperti pria single, bahaya! Di Luar sana banyak gadis-gadis cantik berdandan modis yang hadir di pesta. Kalau terlihat menggendong bayi tak akan ada yang berani mendekatinya. Nanti kalau sudah sudah bergabung dengannya di luar, tidak apa-apa gantian menggendong Zara," ucap Frisca sambil tertawa.


Allena pun ikut tertawa. Tak lama kemudian Rahma muncul dari balik pintu. Allena langsung memeluk gadis itu. Rahma mengangguk ragu-ragu pada Frisca.


"Apa kabar Nyonya?" sapa Rahma pada Frisca.


"Tidak perlu panggil Nyonya, kamu tidak lagi bekerja padaku. Dan aku juga bukan Nyonyamu lagi,  panggil saja seperti kamu memanggil Allena," ucap Frisca.


"Oh ya, baik Kak Frisca!" seru Rahma.


"Padaku juga jangan panggil Dokter Shinta, kami ini tiga saudari kalau kamu mau bergabung jadi maka jadi four sisters," sahut Shinta sambil tersenyum.


"Baik Kak Shinta," ucap Rahma.


Melihat dekorasi yang indah di ruangan itu. Serta pengantin yang cantik dengan gaun pengantin yang indah itu. Rahma mengajak Allena dan Frisca untuk berfoto bersama pengantin.


"Ayo Kak, kita foto bersama dengan pengantin cantik ini," sambung Rahma.


Mereka pun berfoto dibantu seorang fotografer. Keempat wanita cantik itu duduk berjajar di kursi panjang. Dengan gaun pengantin yang menjuntai hingga ke lantai dan buket bunga cantik di tangannya. Dokter Shinta diapit oleh Frisca dan Allena serta Rahma yang semua cantik dengan seragam pendamping wanita mereka.


Para tamu yang menyaksikan pemotretan itu kagum dengan kecantikan dan kekompakan mereka. Sebagian dari para tamu juga ikut meminta di foto dengan para wanita cantik itu. Mereka seperti para model yang sedang berpose.


Resepsi pernikahan pun dimulai, pesta pernikahan itu berlangsung dengan meriah. Dan seperti sebelumnya, saat pesta pernikahan Frisca dulu, saat pesta usai mereka para sahabat berkumpul di satu meja besar. Sambil mendengarkan para sahabat itu bercanda, Allena bermain dengan putrinya yang ikut dibawa serta.


Sementara itu Zefano dan Keisya asyik bermain bersama di atas panggung pernikahan.


"Coba lihat anak-anak itu, mereka serasi. Apa sebaiknya mereka dijodohkan saja? Tapi ... janganlah Zeno buat anakku saja," ucap Shinta, bertanya sendiri dan menjawab sendiri pertanyaannya.


Para sahabat tersenyum mendengar gerutu dokter cantik itu.


"Belum tentu anakmu cewek kalau anakmu cowok bagaimana? Anakmu mau jadi gay?" Ledek Frisca.


"Kalau cowok ya buat Zara dong. Pokoknya anak-anak Allena, semuanya aku booking," ucap Shinta dengan wajah penuh keyakinan.


"Itu semakin tak mungkin lagi, sekarang saja Zara sudah dua bulan lebih. Anak cowok mu lebih kecil daripada Zara. Jadi maaf ya nggak bisa juga tuh," ledek Frisca lagi.


Dokter Shinta merajuk manja pada suaminya. Wanita itu merebahkan diri di dada suaminya. Valendino tertawa sambil merangkul bahu istrinya.


"Gimana Val? Kita nggak punya peluang," ucap Shinta.


Allena dan Zefran tertawa begitu juga yang lain.


"Jangan khawatir, Mommy pernah bilang kalau dia ingin punya cucu yang banyak. Jadi masih ada kemungkinan Allena hamil lagi. Yang penting kita standby, mau anak mereka yang ke berapa yang penting anak-anak Zefran dan Allena 'kan?" tanya Valendino yang dibalas anggukan yang kuat oleh Shinta.


"Wah, gimana Zefran? Itu ada permintaan anak lagi itu," ucap Altop.

__ADS_1


Zefran menggeleng-geleng sambil tersenyum.


"Itu terserah Allena jika ingin tambah lagi. Dan mengenai perjodohan, janganlah ... kasihan mereka. Biarkan mereka bebas memilih siapa yang mereka inginkan. Kita hanya perlu mengenalkan mereka satu sama lain. Agar bisa menjaga persahabatan ini hingga ke putra putri kita. Jika mereka saling suka ya silahkan tapi tidak perlu ada paksaan. Aku rasa itu lebih baik," jelas Zefran.


"Dia trauma dengan perjodohan makanya tak mau lagi jika putra putrinya di jodohkan," ucap Frisca sambil menahan ketawa.


Zefran hanya tersenyum sambil tertunduk.


"Padahal Zefran itu dijodohkan juga. Awalnya menolak, ujung-ujungnya cinta mati juga sama Allena," sambung Frisca lagi.


Zefran kembali tersenyum sambil tertunduk malu. Dalam hati Zefran mengakui apa yang diucapkan Frisca itu memang benar. Laki-laki itu menoleh pada istrinya yang sedikit menjulurkan lidahnya di bibir bagian sampingnya.


Zefran gemas, laki-laki itu langsung mendekati istrinya. Merengkuh kepalanya dan mencium pipi wanita cantik itu. Allena kaget namun pasrah saat suaminya itu nekad menampilkan kemesraan di depan teman-temannya. Semua bersorak dan bertepuk tangan melihat kemesraan pasangan itu.


"Oh ya ampun, mesra sekali. Aku jadi iri," teriak Altop.


"Aku jadi ingin cepat menikah," ucap Ronald.


"Bukannya kalian sering melakukan itu dengan pacar-pacar kalian?" tanya Valendino.


Sahabat Zefran itu merasa kalau Altop dan Ronald terlihat sangat berlebihan menanggapi adegan tadi.


"Masalahnya Zefran melakukannya dengan istrinya, kapan aku bisa melakukannya dengan istriku," jawab Altop.


"Lagi pula Zefran tak pernah menampilkan kemesraan di depan kita. Sekali melakukan, langsung dengan istrinya dan dengan penuh cinta," jawab Ronald tak mau kalah.


"Makanya cepat-cepat cari istri jangan main-main terus sama cewek-cewek," ucap Valendino.


"Namanya juga seleksi, harus cari yang terbaik dong," jawab Altop.


"Di atas langit masih ada langit. Tak akan ada habisnya. Kalau kriteria mencari pendamping itu adalah seseorang yang terbaik. Sampai tua kamu tidak akan menemukan yang terbaik. Sekarang dengan siapa kamu merasa nyaman, bahagia, sayang padamu dan merasa kosong tanpa dirinya. Sudah cukup! Pilih yang seperti itu dan jalani hidup bahagiamu maka itulah yang terbaik," jelas Frisca panjang lebar.


Semua terpana mendengar ucapan Frisca. Sepertinya wanita itu telah membagikan pengalamannya sendiri dalam mencari pendamping hidup yang tepat.


Semua tertawa mendengar gaya Ronald yang seperti seorang prajurit yang patuh pada perintah Frisca. Mereka menghabiskan waktu berbincang sambil menyantap hidangan yang tersedia di hadapan mereka.


Sesekali Allena menoleh, pandangannya mencari putranya.


"Ya ampun Kak, mereka ketiduran!" seru Allena.


Semua menoleh ke arah Zefano dan Keisya yang tidur beradu kepala di sebuah sofa untuk tamu undangan. Zefran ingin menggendong putranya namun dihalangi oleh Dokter Shinta.


"Jangan! Jangan diganggu! Mereka lucu sekali, aku mau ambil foto mereka," ucap Shinta sambil meminjam ponsel suaminya.


"Makanya Kak, cepat-cepat jadiin anak. Kak Shinta bisa sepuas-puasnya memotret anak-anak Kakak," ucap Allena sambi tersenyum.


"Kamu ini, dari tadi diam saja. Sekali ngomong langsung bikin aku malu," ucap Shinta sambil mencubit pipi Allena.


"Kenapa malu sih Kak, udah nikah juga. Memang tujuan orang menikah itu selain ingin bahagia, ya ... memiliki keturunan," jawab Allena.


"Dengerin itu, meski umurnya lebih muda darimu tapi dia lebih pengalaman dibandingkan kamu," ucap Valendino sambil memeluk istrinya dari belakang.


Dokter Shinta bersandar pada suaminya menatap kedua anak itu. Terlihat jelas Dokter Shinta sangat menyukai anak-anak.


"Tontonannya habis ya! Kami mau permisi pulang dulu," ucap Zefran sambil menggendong putranya.


"Ow, aku masih mau melihat mereka tidur, mereka manis sekali saat tidur," ucap Shinta.


"Sudah malam Kak, kami harus pulang, kalau mau kunjungi saja Zeno di rumah. Selamat menempuh hidup baru ya Kak. Semoga bahagia selalu dan secepatnya mendapat momongan," ucap Allena sambil memeluk Dokter Shinta.


"Terima kasih Allena, terima kasih untuk segalanya ya," ucap Shinta dengan nada haru.

__ADS_1


Allena menatap wajah Dokter Shinta saat melepas pelukannya. Terlihat wanita itu tengah menitikkan air mata.


"Kak Valen, ayo hibur Kak Shinta! Kakak ini orangnya mudah terbawa perasaan," ucap Allena.


"Terima kasih Allena, terima kasih Zefran," ucap Valendino sambil merangkul istrinya.


Para sahabat Zefran satu persatu berpamitan, mereka melangkah bersama-sama ke area parkir mobil. Setelah berjanji akan bertemu di rumah sakit saat kemoterapi pertama Frisca. Mereka pun berpisah.


Zefran menaruh Zefano di kursi belakang. Kemudian membukakan pintu mobil untuk istrinya. Allena menatap Zefran yang berjalan ke sisi lain mobilnya. Duduk di depan kemudi sambil menarik nafas panjang.


"Ada apa Kak?" tanya Allena.


"Satu per satu akhirnya temanku menikah juga, aku turut bahagia untuk Shinta dan Valen," ucap Zefran.


Allena mengangguk, lalu merasa heran karena Zefran yang masih belum menyalakan mesin mobilnya.


"Ada apa lagi Kak?" tanya Allena.


Zefran mengulurkan tangannya mengusap pipi Allena. Wanita itu merasa heran namun membiarkan suaminya mengusap lembut pipinya.


Terima kasih sayang, karena kamu lebih memilih bersamaku daripada bersama Valen. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakanmu. Aku janji akan selalu mencintaimu dan berterima kasih padamu karena telah memilihku, batin Zefran.


Laki-laki itu mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Allena. Allena membalas kecupan lembut itu.


"Aku mencintaimu Allena," ucap Zefran memperbaharui ikrar cintanya.


"Terima kasih Kak, aku juga mencintai Kakak," ucap Allena.


Mereka sama-sama tersenyum dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Sesampai di rumah laki-laki itu menidurkan Zefano di ranjangnya. Seperti biasa mereka mencium pipi yang menggemaskan dari putra kesayangan mereka.


Kemudian Allena menaruh Zifara di ranjangnya dan mencium kedua pipi yang masih beraroma bayi itu. Zefran juga ikut mencium pipi putri kesayangannya itu. Kemudian mencium kening istrinya.


"Tidurlah sayang! Istirahatlah, aku akan ke ruang kerja sebentar," ucap Zefran.


"Kakak belum mengantuk?" tanya Allena.


"Belum? Setelah memeriksa pekerjaan sebentar aku akan tidur. Kamu tidur duluan saja," ucap Zefran sambil membelai rambut istrinya.


Laki-laki itu pun masuk ke ruang kerjanya. Menyalakan laptop untuk melihat beberapa hal menyangkut pekerjaannya. Setelah selesai memeriksa ulang pekerjaannya, Zefran hendak kembali ke kamar untuk beristirahat.


Zefran menutup laptopnya kemudian berdiri, baru saja melangkah matanya tertuju pada sebuah tumpukan surat. Laki-laki itu memeriksa satu per satu sambil duduk di tepian meja. Hingga sebuah surat membuatnya begitu penasaran.


Radian Putra? Siapa ini? Batin Zefran bertanya-tanya.


Laki-laki itu membalik surat dan membaca kepada siapa surat itu ditujukan.


Ternyata untuk Allena dari New York? Apa sesama teman di dunia fashion? Batin Zefran lagi.


Laki-laki itu begitu penasaran hingga ingin membuka surat itu. Namun hati kecilnya bertentangan dengan keinginannya. Akhirnya membawa surat itu ke kamar mereka untuk di berikan pada Allena.


Namun wanita itu telah tertidur dan Zefran tak tega membangunkannya. Zefran meletakkannya di atas meja bundar di kamar itu dan mencoba untuk tidur. Namun, matanya tak mau terpejam. Rasa penasaran lebih menguasai pikirannya.


Zefran akhirnya membuka surat itu.


Katakan saja kalau aku tidak sengaja membukanya karena aku pikir surat ini untukku, batin Zefran.


Perlahan laki-laki itu membuka surat yang membuatnya begitu penasaran itu. Dan terkejut saat membaca baris pertama dalam surat itu.


Kepada Sayangku, Allena


Cukup membaca satu baris itu saja kepala Zefran sudah langsung berdenyut. Laki-laki itu menoleh pada istrinya yang telah tertidur pulas. Zefran merasa malam ini tak akan bisa tidur dengan nyenyak.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2