Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 110 ~ Menyadari ~


__ADS_3

Zefran merasakan kakinya telah sembuh total. Rasa sakit dan kaku tak terlalu dirasakannya lagi. Namun Allena meminta suaminya tetap berada di rumah dulu. Tetap berkonsultasi dengan dokter dan tetap melakukan fisioterapi.


"Baik Bu dokter," ucap Zefran sambil tersenyum.


"Apa ada yang Kakak butuhkan? Hari ini aku mulai masuk kerja lagi. Kalau ada, aku bisa usahakan sebelum pulang," tanya Allena.


"Nggak ada sayang, satu-satunya yang aku butuhkan cuma kamu," ucap Zefran sambil memeluk Allena dari belakang.


"Manja sekali sekarang ini," ucap Allena sambil mengusap pipi suaminya.


"Kan masih kecil, baru belajar berjalan," jawab Zefran yang membuat Allena langsung tertawa.


"Aku tidak akan lama, tenang saja," ucap Allena sambil mengecup pipi suaminya.


Sebelum berangkat Allena berpesan pada para pelayan di rumahnya. Agar membuang buket bunga dengan pengirim berinisial Z seperti yang ditunjukkannya. 


"Wah dibuang nyonya? Kan sayang, bunganya cantik-cantik," ucap seorang pelayan.


"Ya sudah! Kalau begitu buat kamu tapi jangan sampai ke tangan Tuan Zefran ya!" ucap Allena.


Semua pelayan yang diberi pesan Allena menyetujui. Allena pun meminta memberi tahu pada semua pelayan yang lain. Yang bekerja di rumah atau pun di luar rumah. Setelah memberi pesan pada para pelayan di rumah itu, Allena berangkat bekerja. Tapi walaupun begitu tetap saja timbul rasa khawatir di hatinya.


Allena segera memacu mobilnya ke perusahaan fashion milik Ny. Marilyn. Allena ingin segera menyelesaikan urusannya agar bisa segera pulang. Allena menelpon suaminya di sela-sela kesibukannya. Setelah yakin tidak terjadi apa-apa yang berarti, wanita itu dengan tenang melanjutkan pekerjaannya.


"Kak Allena, ada yang mencari Kakak di cafe," ucap Vivi.


Allena merasa heran karena yang mencarinya tak mau menyebutkan namanya. Vivi berkata Allena pasti akan mengenalinya.


Siapa ya? Batin Allena.


Allena mencari-cari dan mengira-ngira siapa orang yang mencarinya. Wanita itu dibikin pusing oleh begitu banyaknya pengunjung cafe dan tidak semua orang dikenalnya.


"Pelayan Night Club Luxury!" seru seseorang dari arah belakang.


Allena yakin orang yang dipanggil adalah dirinya. Allena membalik badan, hatinya terasa kesal. Allena sadar pekerjaan sebagai pelayan Night Club bukan pekerjaan yang bisa di banggakan tapi karena pekerjaannya itu dia bisa bertahan hidup. Allena tak rela jika ada orang yang merendahkan pekerjaan lamanya itu.


Allena membalik badan dan mencari-cari siap yang memanggil. Sayangnya banyak yang menoleh ke arahnya dan itu membuat Allena bingung.


Orang ini ingin bermain denganku? Sengaja membuatku bingung? Aku sengaja datang ke sini, meninggalkan pekerjaan dan aku di perlakukan seperti ini? Kurang ajar, batin Allena.


Allena tak lagi mencari-cari. Wanita itu meninggalkan cafe dan dia tak peduli lagi.


Jangan coba-coba panggil aku lagi, dasar kurang ajar! Kalau kamu berani datangi aku. Dasar pengecut! Bisanya sembunyi di keramaian, batin Allena kesal.


Dan benar saja tak lama kemudian, ada yang menyampaikan pesan kalau ada yang mencari Allena. Wanita itu berterima kasih namun tak beranjak dari posisinya. Tetap saja melanjutkan pekerjaannya.


"Kak, ada yang cari di Cafe." 


Kembali Allena mendengar seseorang menyampaikan pesan namun seperti tadi, wanita itu tak mau menanggapinya lagi. Allena sudah terlanjur kesal tak peduli berapa pun orang yang menyampaikan pesan itu dia tidak akan peduli.


"Kak, ada yang ingin ketemu Kak Allena di Cafe katanya dia simpanan suami Kakak," ucap seorang gadis.


"Seperti apa orangnya? Apa motif dan warna baju yang dipakainya?" tanya Allena akhirnya terusik juga.

__ADS_1


Gadis itu menjawab pertanyaan Allena sesuai dengan apa yang diingatnya. Allena berterima kasih pada gadis itu. 


Aku sudah tahu ciri-cirimu, tapi aku tetap tidak akan menemuimu lagi. Dasar pengecut! Kalau berani datang ke sini, batin Allena


Hingga sore Allena tidak menemukan seorang pun yang datang padanya. Allena akui apa yang dilakukan orang usil itu membuat konsentrasinya terpecah. Kadang bisa konsentrasi pada pekerjaannya namun kadang teringat tingkah orang itu dan kembali membuatnya kesal.


Hingga saat berjalan di lobi perusahaan menuju pulang. Allena kembali mendapat teriakan seperti tadi. Allena berhenti melangkah, membalik badan untuk melatih siapa yang meneriakinya.


Seorang wanita dengan ciri-ciri yang disebut pekerja perusahaan fashion sedang berdiri di tiang besar perusahaan.


"Apa tidak bosan menunggu dari pagi hingga sore begini? Tidak punya pekerjaan yang lebih berguna, selain berdiri menunggu dan berteriak seperti orang bodoh?" tanya Allena.


Mendengar ucapan Allena, wanita itu berjalan mendekati. Perlahan Allena mencoba berpikir siapa wanita yang berjalan menuju ke arahnya itu. Allena tak mengenalnya sama sekali tapi Allena juga seperti merasa pernah melihatnya.


"Perempuan miskin! Kamu tidak mengenalku?" tanya wanita itu saat tiba di hadapan Allena.


"Oh, perawat itu? Siapa namamu aku lupa? Maaf! Aku tak berminat mengingat nama orang-orang yang tak berarti," ucap Allena meski dalam hatinya mencoba untuk mengingat-ingat.


"Dasar! Wanita pikun sepertimu tak pantas menjadi pendamping CEO sukses seperti Zefran," ucap wanita itu.


Ternyata ada hubungannya dengan Kak Zefran? Batin Allena.


"Aku melihatmu membuang buket bunga itu. Kamu pikir, itu bisa menghentikanku?" tanya wanita.


Z love Z? Aah Zulia? Batin Allena akhirnya bisa mengingat.


"Aku lakukan apa pun untuk bisa menghentikanmu ... Zul," ucap Allena.


"Pelayan Night Club seperti kamu tidak pantas mendapatkan Zefran. Aku heran, apa yang menjadi daya tarikmu hingga sampai diperebutkan oleh dua sahabat itu?" tanya Zulia.


"Daya tarikku untuk pria seperti mereka, kamu tidak akan mengerti," jawab Allena.


"Kamu pasti menjebak mereka? Zefran bahkan meninggalkan wanita yang digila-gilainya sejak masih kuliah. Apa yang kamu lakukan sampai bisa menjebak Zefran hingga mau menjadi milikmu?" tanya Zulia.


"Aku tidak mau bicara dengan orang sepertimu. Kamu ingin tahu dan ingin bertanya. Apa seperti itu cara orang bertanya? Dengan cara menghakimi orang? Jika kamu sudah menjudge aku sebagai orang yang yang menjebak Zefran, ya sudah! Kenapa masih bertanya lagi?" ucap Allena bertanya tanpa perlu jawaban.


Allena melirik jam tangannya, wanita itu ingin meninggalkan Zulia begitu saja. Dalam hati agak sedikit lega saat tahu siapa yang membuat hatinya resah sejak kedatangan buket bunga itu. Tapi kini Allena lega, meski tetap tak boleh menganggap remeh wanita yang telah tergila-gila pada suaminya itu.


"Kamu mau pergi begitu saja?" tanya Zulia.


"Ya!"


"Aku masih belum selesai bicara!" ucap Zulia mengikuti Allena.


"Aku sudah mencarimu di Cafe agar kita bisa bicara tapi kamu justru mempermainkanku. Aku tidak bisa membicarakan masalah pribadi di tempat ramai seperti ini. Kamu juga tidak bisa diajak bicara dengan baik-baik, jadi kita tidak cocok. Aku tidak ingin bicara denganmu," ucap Allena terus melangkah.


"ALLENA!!" 


Teriakan itu mengagetkan orang-orang yang berada di lobi perusahaan fashion itu. Termasuk mereka yang sedang membawa properti lighting panggung.


"AWAS!!" teriak Allena sambil mendorong Zulia ke arah lain.


Zulia jatuh terdorong ke samping namun Allena justru tertimpa menggantikan Zulia. Beberapa orang yang melihat langsung panik. Suara kaca pecah menggema di seluruh ruangan luas dengan langit-langit tinggi itu.

__ADS_1


Orang-orang yang berada di lobi itu berteriak kaget, termangu, sontak menyentuh dada saat mendengar suara lampu sorot yang pecah berantakan di lantai. Orang-orang yang sadar langsung beramai-ramai mengangkat kerangka lampu besar yang berderet-deret untuk penerangan panggung itu.


"Aduh, bagaimana ini? Aku kaget! Aku sudah berusaha menahannya. Tapi kerangka ini berat, aku reflek melepas karena kaget Pak," jelas pekerja penata cahaya panggung itu pada supervisornya.


Kerangka lampu itu telah dipindahkan, beberapa diantaranya ada yang pecah namun apa yang menjadi kekhawatiran orang-orang sekarang adalah Allena yang jatuh pingsan karena tertimpa. Seseorang langsung memanggil ambulans. Ny. Marilyn yang mendengar tentang kabar itu langsung kembali ke gedung miliknya.


Allena dibawa ke rumah sakit, keluarganya langsung diberi kabar. Zefran dan Ny. Mahlika datang tergesa-gesa. Di rumah sakit Allena di tunggui oleh Ny. Marilyn dan Zulia.


Ny. Marilyn langsung menceritakan kejadian yang menimpa Allena meski dia sendiri hanya mendengar cerita dari orang-orang yang melihat kejadian itu. Perhatian Zefran dan Ny. Mahlika beralih pada wanita yang telah menyebabkan Allena mengalami kecelakaan itu.


"Kamu? Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Mahlika dengan nada membentak hingga membuat kaget wanita yang pernah hampir bekerja sebagai perawat di rumahnya itu.


"Aku datang untuk bicara dengannya," ucap wanita itu dengan raut wajah yang takut.


"Apalagi yang ingin kamu bicarakan dengannya? Kamu sudah menerima uang kompensasi pembatalan kontrak. Apalagi yang ingin kamu bicarakan? Lagi pula jika ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan, kenapa tidak kamu tanyakan padaku? Aku yang ingin menyewa kamu bukan dia? Apa kamu marah karena dia menolakmu? Harusnya kamu bersyukur tetap mendapatkan upahmu meski tak jadi bekerja," tutur Mahlika panjang lebar.


Zefran hanya menatap wanita itu dengan heran kemudian tak peduli lagi. Laki-laki itu lebih ingin tahu tentang keadaan istrinya yang sedang dalam perawatan petugas medis.


Tak lama kemudian dokter yang memeriksa keadaan Allena keluar dari ruangan. Mereka langsung bertanya, dokter menjelaskan Allena mengalami beberapa memar di punggungnya dan mengalami gegar otak ringan.


Zefran menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Ini dosaku, bukannya berterima kasih pada Dion tapi justru menjadikan anak itu sebagai bahan pertengkaran kami. Padahal anak itu telah menolong Allena hingga dia sendiri yang tertimpa. Aku bukannya bersyukur tapi justru menyalahkan perasaan anak itu pada Allena. Kini Allena justru benar-benar mengalaminya. Semua karena aku, karena aku yang tidak berterima kasih dengan tulus, batin Zefran sambil menitikkan air mata.


"Zefran, ayo nak kita temui Allena. Dokter bilang dia sudah sadar," ajak Mahlika.


Laki-laki itu langsung memasuki ruang periksa. Saat melihat Allena tersenyum padanya, Zefran langsung memeluk wanita yang dicintainya itu.


"Aah, aduh!" seru Allena.


"Maaf sayang, maaf, maaf," ucap Zefran berkali-kali karena tak sadar menyentuh luka memar di punggung Allena.


"Kamu siapa? Main peluk orang sembarangan?" tanya Allena.


Zefran dan yang lain langsung termangu. Melihat itu Allena tersenyum.


"Jawab pertanyaan simpel itu aja nggak bisa?" tanya Allena.


"Allena jangan bercanda," ucap Mahlika.


"Maaf Mommy, dokter bilang aku mengalami geger otak ringan. Jadi aku ditanya macam-macam karena takut amnesia. Aku jadi ingin mengerjai Kak Zefran," ucap wanita sambil menahan tawa.


"Ya ampun, kamu nggak tahu gimana khawatirnya aku? Ya ampun Allena," ucap Zefran sambil kembali memeluk wanita yang masih duduk di ranjang rumah sakit itu.


Dengan sebelah pipi Allena yang lebam ditambah kain kasa yang membalut kening wanita itu tentu saja membuat Zefran dan Ny. Mahlika sangat cemas.


"Aku baik-baik saja Kak. Jangan khawatir," ucap Allena sambil mengusap punggung suaminya.


Zefran mengangguk pelan namun tetap memeluk wanita yang dicintainya itu. Ny. Mahlika pun terlihat lega. Zulia menyaksikan suami istri yang berpelukan itu lalu tertunduk. Zulia baru menyadari seperti apa wanita yang dibencinya itu.


Semua yang dilakukan Zulia pada Allena hingga membuatnya kesal, tetap tak menyurutkan hati Allena untuk menolong Zulia.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2