
Pagi itu semua sahabat Frisca sarapan bersama di halaman belakang Villa sambil bercanda, mereka menghabiskan waktu bersama. Tiba-tiba Altop berdiri dari tempat duduknya. Semua yang tertawa pun sontak diam, semua mata tertuju pada pemilik Night Club mewah di kota itu.
Altop terlihat sedang mengatur nafasnya, laki-laki itu terlihat gugup. Berkali-kali menghela nafas dan menghembuskannya. Semua orang yang melihat itu ikut terasa sesak melihat wajah Altop yang terlihat tegang.
"Sahabatku semua! Seperti permintaan Frisca pada pertemuan yang lalu. Frisca memintaku untuk menetapkan hatiku pada satu wanita dan juga untuk Allena yang pusing melihatku gonta-ganti pacar melulu ….,"
Semua tertawa, meski terlihat tegang tapi ucapan Altop terdengar lucu.
"Tadi malam … tidak! Sebenarnya sudah lama aku ingin memutuskan wanita di sampingku ini untuk menjadi pendampingku. Tapi keraguan selalu muncul, untuk itu tolong bantu aku, mungkin jika di depan kalian aku memiliki keberanian untuk mengucapkannya … tolong jangan tertawakan aku ya …,"
Allena yang dari tadi menahan tawa tak sengaja melepaskan tawanya, semua orang langsung menoleh ke arahnya.
"Maaf Kak … aku tak habis pikir, Bos yang garang aja bisa pucat dan gemetar begitu, aku baru sadar kalau proses melamar itu memang sulit …,"
Altop langsung lesu, rencana lamarannya tertebak oleh Allena.
"Tapi aku yakin Kak, semakin pucat dan semakin gemetar Kakak itu menunjukkan semakin serius Kak Altop untuk menetapkan hati Kakak. Jangan anggap kami orang-orang yang akan menertawakan keputusan Kakak. Kami adalah orang-orang yang mendukung Kakak. Karena itu Kakak jangan ragu-ragu lagi, untuk niat baik harus berani dan tetap SEMANGAT!!" seru Allena sambil mengepalkan tangannya.
Semua tertawa dan mengangguk, Altop pun tertawa, laki-laki itu ikut mengangguk. Ucapan Allena membuat rasa tegangnya berkurang. Dengan cepat Altop meraih telapak tangan wanita di sampingnya itu dan berlutut.
"Minafa, bersediakah kamu menikah denganku?" tanya Altop sambil menunjukkan sebuah kotak cincin.
Wanita bernama Minafa itu langsung mengangguk dan menjawab bersedia. Altop langsung menyelipkan cincin berlian itu ke jari manis Minafa. Entah tuntas cincin itu masuk di jarinya atau tidak, Minafa sudah langsung memeluk Altop dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku sudah menunggu saat-saat seperti ini. Hingga Kakak dekat dengan gadis-gadis lain pun aku masih tetap berharap. Kak Altop terima kasih sudah mengakhiri penantianku," ucap gadis itu.
Tak hanya berkaca-kaca namun telah berganti tangis haru. Allena ikut menitikkan air mata haru, segera wanita itu menghapus bulir bening di sudut matanya.
Zefran menatap sendu wanita yang telah menjadi istrinya itu. Merasa satu lagi momen yang tak dilakukannya pada Allena. Zefran merasa benar-benar menyesal, lalu menunduk sambil menghapus genangan air matanya.
"Loh kok pada mewek semua ini, sekarang lagi momen bahagia. Ayo gembiralah!" seru Shinta.
Dokter cantik itu melihat semua menangis haru, tak hanya Allena dan Zefran, Ronald dan pasangannya serta Frisca dan Rivaldo juga merasakan haru pada peristiwa itu.
Allena tak ingin larut dalam rasa haru segera bangkit dari tempat duduknya dan bertepuk tangan. Semua mengikuti, berdiri dan bertepuk tangan. Suasana menjadi ceria kembali, bergantian mereka berpelukan dan memberi ucapan selamat.
"Terima kasih Allena," ucap Altop.
Laki-laki itu memeluk Allena yang telah dianggap seperti adik perempuannya sendiri. Begitu juga dengan Minafa yang ikut memeluk Allena.
"Makasih Kak Allena," ucap wanita itu.
Allena menangkup wajah Minafa dan menjanjikan seragam pengantin untuk mereka. Minafa melompat-lompat kegirangan.
"Ya ampun, lihatlah mendapat berlian dariku dia tidak segirang itu," ucap Altop pura-pura iri.
Semua tertawa, Minafa menutup mulutnya yang tertawa menahan malu. Allena tampil sebagai pembela.
"Tentu sama girangnya Kak, cuma cara meluapkannya berbeda. Masa Minafa memelukku dengan mata yang berkaca-kaca sambil mengucapkan 'Aku sudah menunggu saat-saat seperti ini'. Itu nggak cocok Kak, ucapan seperti itu hanya untuk Kak Altop," jawab Allena langsung.
Semua tertawa mendengar protes Allena, Valendino menepuk lengan Altop sambil tersenyum. Mereka pun tertawa, Ronald masih menunduk ragu-ragu. Altop telah menguasai acara sarapan pagi ini dengan acara lamaran.
Allena menoleh pada Ronald yang tersenyum dengan raut wajah seperti orang yang banyak pikiran. Selesai acara sarapan dan lamaran mereka berpindah ke pinggir danau. Menggelar tikar piknik dan menaruh segala macam makanan di sana. Allena duduk sambil menggendong putri tercintanya.
"Nggak mau nambah lagi Kak?" tanya gadis pendamping Ronald.
"Yang ini aja baru nongol masa kepikiran mau nambah lagi?" jawab Allena balik bertanya.
Gadis itu tersenyum.
"Kalau aku punya anak-anak ganteng dan cantik begini, aku produksi banyak-banyak Kak," ucap gadis itu dengan polosnya.
Membuat Allena tertawa.
"Kayak pabrik aja? Produksi massal," ucap Allena dan gadis itu pun tertawa.
Lalu terdengar gadis itu menghembuskan nafas berat.
"Sabar ya! Kita pancing Kak Ronald untuk muncul ke permukaan," ucap Allena.
"Aku pesimis Kak, Kak Ronald itu punya cinta pertama yang selalu berusaha mendekatinya," ucap gadis itu menunduk.
"Tapi yang diajak ke sini justru kamu," ucap Allena.
"Aku ini asal dicomot aja Kak, sementara hati Kak Ronald masih pada cinta pertamanya itu," ucapnya lagi sambil menunduk.
"Hatinya masih pada cinta pertama atau tidak, kita tak pernah bisa tahu itu. Tapi siapa yang akan dipilih, itu keputusan yang sepenuhnya ada di tangannya. Kita hanya bisa menunggu dengan sedikit pancingan. Tapi kalau aku perhatikan, sudah beberapa kali yang diajak Kak Ronald selalu kamu 'kan? Sepertinya dia ingin menguatkan hatinya padamu," ucap Allena.
"Benarkah itu Kak?" tanya gadis itu. Allena mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kalau boleh aku tahu, siapa namamu? Habisnya Kak Ronald tidak mengenalkanmu secara resmi," ucap Allena.
"Kayla Kak, panggil saja aku Kayla. Sudah terlihat 'kan Kak? Kak Ronald bahkan tak ingin mengenalkanku pada teman-temannya. Aku rasa karena Kak Ronald tak yakin padaku. Berpikir seperti itu rasanya aku letih menunggu," ucap Kayla.
"Sabar Kayla, kita lihat saja nanti. Kayla masih sabar menunggunya 'kan?" tanya Allena sambil mengangkat Zifara di pangkuannya.
Membuat bayi lima bulan itu seperti berdiri. Kayla juga ikut memperhatikan kaki Zifara yang mulai menghentak di paha Allena.
"Kayla bisa berenang?" tanya Allena.
"Bisa Kak," jawab Kayla.
Allena mendekat dan berbisik pada Kayla. Gadis itu tersenyum dengan raut wajah yang berubah-ubah. Lalu tersenyum dan mengangguk pada akhirnya. Allena tersenyum lalu mengangguk.
Para pria dan tak ketinggalan Zefano serta Keysa berenang di danau berair tenang dan bening itu. Zefran mengajari putranya berenang, sementara Keisya diajari oleh Rivaldo. Valendino berduaan dengan Dokter Shinta yang saling menggoda dan tertawa bersama. Sementara Minafa bersantai di atas pelampung besar sambil berbincang dengan Altop ala Rose and Jack Dawson saat Titanic tenggelam.
Cuaca pagi menjelang siang itu terasa teduh, membuat mereka nyaman berenang sambil bermain. Hanya Allena dan Frisca yang duduk di tikar piknik sambil tersenyum menatap mereka yang asyik bermain dalam air danau yang hangat dan bening.
"Terima kasih Allena, kamu adalah pemersatu kelompok persaudaraan ini," ucap Frisca.
"Apanya yang pemersatu Kak? Aku justru pernah membuat mereka terpecah belah," ucap Allena.
"Selama Zefran menikah denganku, mereka sangat akrab tanpa ada pertentangan-pertentangan berarti. Hanya pertengkaran-pertengkaran kecil yang dapat mereka selesaikan dengan segera dan mereka pun kembali akrab dan bahagia," ucap Frisca.
Kata-kata itu membuat Allena tertunduk, ucapan Frisca seolah-olah mengingatkan bahwa dia adalah orang yang membuat persaudaraan itu retak hingga bertahun-tahun. Frisca menoleh pada Allena yang telah berubah raut wajahnya.
"Namun kebahagiaan mereka terasa hambar," lanjut Frisca.
Wanita itu kembali melihat raut wajah Allena yang terlihat heran.
"Hanya kebahagiaan orang-orang berada yang tak memiliki masalah hidup. Hati mereka dekat, saling melindungi namun tak tercermin rasa sayang. Saat pertentangan antara kita. Aku, kamu, Zefran dan Valen, rasanya terasa begitu menyakitkan tapi setelah semua masalah selesai, rasa sayang yang besar justru muncul dari situ. Aku justru semakin menyayangi kalian semua. Zefran pun seperti itu, dia semakin menyayangi saudara-saudaranya. Kelompok persaudaraan kami tak lagi terbatas hanya untuk fraternity dan sorority. Namun telah meluas hingga ke Valdo, kamu, Shinta dan kedua gadis itu. Aku seperti memiliki keluarga besar sekarang. Keluarga dengan adik-adik dan kakak-kakak beserta keluarganya. Apa kamu tidak merasakan seperti itu?" tanya Frisca.
"Ya Kak, aku juga merasakan itu. Seperti memiliki keluarga besar," ucap Allena.
"Ternyata benar, masalah jika bisa diselesaikan justru menambah rasa sayang dan rasa peduli. Aku sungguh-sungguh merasa semuanya seperti keluarga," ucap Frisca.
Wanita itu tersenyum sambil membelai rambut Allena.
"Aku juga merasa kamu seperti adikku sendiri," ucap Frisca.
"Terima kasih Kak," ucap Allena sambil tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke arah danau.
"KAK RONALD! TOLONG KAYLA!" teriak Allena segera berlari ke pinggir danau.
Terlihat Kayla yang seperti timbul tenggelam. Ronald segera berenang menyusul pasangannya itu. Setelah asyik berenang bersama Kayla, Ronald membantu Zefran mengajari Zefano. Ronald melihat Zefran yang terpaksa mengikuti Zefano. Laki-laki itu berinisiatif untuk menunggu Zefano yang berusaha berenang ke arahnya.
Namun teriakan Allena membuatnya kaget bercampur panik. Segera laki-laki itu berenang secepat mungkin menuju posisi Kayla. Semua mata langsung tertuju pada Kayla namun belum sampai Ronald mendekati Kayla. Gadis itu sudah tenggelam tak terlihat muncul lagi. Allena panik menunggu di pinggir danau. Frisca terpaksa hanya menatap dengan cemas sambil menggenggam tangan Zifara yang digeletakkan di atas tikar.
Allena menunggu sambil berharap pada Ronald yang sedang menyelam. Allena berharap Ronald bisa segera menemukan Kayla. Dan yang lain pun segera berenang mendekati. Tak lama kemudian Ronald muncul bersama Kayla yang telah tak sadarkan diri. Ronald segera membaringkan Kayla di pinggir danau.
Allena terlihat sangat panik, wanita itu bahkan langsung menitikkan air mata. Semua menunggu sambil berharap cemas. Ronald melakukan CPR, memberikan nafas buatan sebanyak dua kali, lalu melihat dada kekasihnya yang belum naik. Ronald bertambah panik, kembali laki-laki itu memberikan nafas buatan dua kali lagi. Melihat dada gadis itu yang masih belum naik, Ronald segera melakukan kompresi sebanyak tiga puluh kali.
Dengan berderai air mata laki-laki itu menekan dada gadis itu. Meniupkan nafas dua kali, menekan lagi sebanyak tiga puluh kali, lalu meniupkan lagi dua kali. Berulang kali, menekan lagi, meniup lagi, menekan lagi, meniup lagi namun tak terjadi apa-apa. Kayla tak kunjung bangun.
"Ayolah Kayla, bangunlah!" ucap Ronald setiap kali melakukan kompresi.
Bagaimana ini, karena asyik bicara dengan Kak Frisca, aku tak melihatnya tenggelam, batin Allena menyalahkan dirinya sendiri.
Kayla masih tetap diam, sekian lama berusaha. Akhirnya Ronald terduduk di samping Kayla menatap gadis itu sambil menangis.
"Maafkan aku Kak," ucap Allena sambil menangis.
Tak ada yang mengerti kenapa Allena meminta maaf.
"Kayla berkata dia telah letih menunggumu, tapi aku memintanya lebih bersabar. Aku harusnya mendorongmu untuk melamarnya kalau tahu akan seperti ini AKU PASTI AKAN MEMAKSAMU MELAMARNYA!!" teriak Allena yang berderai air mata.
Zefran segera memeluk tubuh istrinya yang bergetar menahan marah dan sedih.
"TIDAK PERLU DIPAKSA AKU JUGA AKAN MELAKUKANNYA! Aku ingin melamarnya tapi tidak tahu bagaimana caranya. Rasanya sulit melakukannya. Setiap kali aku ingin mengucapkannya, nyali ku tiba-tiba menjadi ciut. Aku kehilangan keberanian. Sekarang aku tidak punya kesempatan lagi, sudah terlambat!" ucap Ronald yang terisak-isak di samping tubuh Kayla.
"Tidak! Kakak harus melakukannya sekarang! Bagaimanapun juga Kak Ronald harus melamarnya sekarang juga! SEKARANG!" jerit Allena terdengar histeris.
Zefran langsung memeluk istrinya. Mendapat paksakan dari Allena, Ronald merasa harus melakukannya. Entah apa yang dipikirkannya tapi dorongan Allena membuat dia akhirnya berani mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang selama ini sulit untuk diungkapkannya.Tergesa-gesa laki-laki itu menggenggam tangan Kayla.
"Kayla, bersediakah kamu menjadi istriku?" tanya Ronald lalu tertunduk menangis di atas perut Kayla.
"Aku bersedia Kak," ucap Kayla lalu membuka matanya.
Semua terkejut, mata mereka langsung tertuju pada Kayla. Merasa heran namun juga merasa lega. Allena tersenyum sambil memejamkan matanya hingga membuat air yang tergenang di pelupuk matanya mengalir dengan deras membasahi pipinya.
__ADS_1
Ronald terkejut antara percaya dan tidak, mendengar jawaban dari Kayla. Laki-laki yang tadinya tertunduk di atas perut Kayla, langsung menatap wajah gadis yang dicintainya itu.
"Kayla kamu? Benarkah ini?" tanya Ronald tak percaya.
Melihat Kayla yang membuka matanya dan menjawab permohonannya. Ronald langsung mengangkat tubuh Kayla dan memeluknya.
"Aku pikir aku telah kehilanganmu. Aku pikir aku sudah terlambat. Aku tidak akan mau mengulur waktu lagi. Aku tidak akan membiarkanmu menunggu lagi. Aku mencintaimu, aku yakin aku mencintaimu. Aku ingin menikahimu, aku akan segera menikahimu," ucap Ronald masih memeluk gadis itu erat.
"Aduh" teriak Kayla.
Ronald kaget dan melepaskan pelukannya. Terlihat Kayla yang mengusap lengannya sambil cemberut. Semua yang mengelilingi langsung menoleh heran pada Allena. Wanita itu mencubit lengan Kayla dengan gemasnya.
"Aku pikir kamu benar-benar tenggelam, apa kamu tahu? Kamu membuat jantungku hampir copot!" geram Allena, seperti seorang kakak yang memarahi adiknya.
"Ya, 'kan Kakak sendiri yang suruh. Kok malah aku yang disalahin?" tanya Kayla.
"Apa maksudnya ini?" tanya Zefran.
Ronald yang kebingungan seperti kehilangan kata-kata untuk bertanya.
"Jadi ini rencana kalian, tadi itu cuma akting?" tanya Zefran.
"Ya Kak, Kak Allena yang menyuruhku," ucap Kayla mengadu.
"Jadi kalian berdua ingin mengerjai aku? Mengerjai kami?" tanya Ronald akhirnya.
"Kamu yang merencanakannya?" tanya Ronald pada Allena.
"Iya Kak tapi aku sendiri juga merasa dikerjai, aku sendiri juga takut setengah mati," ucap Allena.
Ronald tertawa tertahan lalu menoleh pada Kayla, gadis itu duduk menunduk karena takut. Kayla takut Ronald akan marah karena dia yang pura-pura mati.
"Kenapa menunduk seperti itu?" tanya Ronald yang menatap puncak rambut gadis itu.
"Aku takut, Kak Ronald marah karena tadi aku pura-pura mati," ucap gadis itu pelan.
"Aku marah karena kamu pura-pura mati? Jadi menurutmu aku senang kalau kamu benar-benar mati, begitu?" tanya Ronald.
Kayla mengangkat wajahnya yang bingung menelaah ucapan Ronald. Tiba-tiba Ronald mengecup bibir gadis itu kemudian memeluknya.
"Terima kasih sayang karena kamu cuma pura-pura mati," ucap laki-laki itu sambil tersenyum.
Melihat pemandangan yang romantis itu, Altop bertepuk tangan, semua orang beralih menatapnya.
"Sebuah cara melamar yang kreatif dan dramatis. Aku salut! Aku salut! Aku saluuut!" jerit Altop sambil terus bertepuk tangan.
Zefano dan Keisya mendengar orang yang bertepuk tangan langsung ikut bertepuk tangan. Akhirnya semua tertawa sambil bertepuk tangan.
"Oscars for the best actress and the best director," teriak Valendino yang juga bertepuk tangan.
Zefran tertawa dan kembali memeluk istrinya. Laki-laki itu mengecup kening istrinya, Frisca memandang sambil menggendong Zifara.
"Lihatlah Papa dan Mamamu mesra sekali," ucap Frisca pada Zifara yang tertawa begitu lucu.
Mereka semua mulai merapat ke tikar piknik dan mencari-cari makanan. Setelah berenang dan mengalami kejadian yang membuat mereka seperti di shock therapy, perut mereka tiba-tiba terasa lapar. Ronald menggendong calon istrinya ala bridal style.
Semua kembali bertepuk tangan.
"Ah, mesranya pasangan ini, semoga langgeng dan bahagia selalu!" seru Shinta sambil mengeluarkan makanan-makanan dari dalam keranjang piknik.
Allena menyilangkan handuk di tubuh suaminya lalu bersandar pada laki-laki itu. Tubuhnya ikut lemas setelah kejadian tadi.
"Bagaimana sih director ini? Kok malah tertipu sama pemain sendiri," ucap Valendino meledek Allena.
"Benar-benar Kak, tadi itu aku sport jantung. Gimana nggak takut kalau benar-benar kejadian? Aku yang menyuruhnya seperti itu. Kalau tenggelam beneran, akan jadi penyesalanku seumur hidup. Masalahnya tadi aku sedang berbincang-bincang dengan Kak Frisca jadi lupa dengan rencana sendiri," jelas Allena dengan wajah malu-malu.
Mereka semua langsung tertawa.
"Aku juga tak habis pikir, teriakan Allena membuatku tak bisa berpikir. Dia ini 'kan atlet renang kenapa bisa tenggelam?" tanya Ronald.
"ATLET RENANG? Huh, benar-benar lengkap kamu mengerjaiku," teriak Allena sambil kembali mencubiti lengan gadis itu.
Ronald langsung memeluknya dengan gaya seperti melindungi. Semua orang tertawa.
"Itu yang terjadi jika tidak ada rasa percaya antara artis dan sutradara," ucap Altop yang kembali membuat semua tertawa.
Mereka sibuk membicarakan kejadian tadi, meledek Allena dan kembali tertawa bersama. Sementara Zefano dan Keisya tak peduli dengan pembicaraan mereka. Kedua anak kecil itu justru sibuk membicarakan toping roti yang berada di tangan mereka.
Mereka bahkan saling mencoba, bergantian mencicipi rasa roti yang mereka pilih lalu mengangguk-anggukan kepala sambil mengangkat jempol. Allena dan yang lain terhipnotis menatap tingkah kedua anak itu lalu tertawa melihat mereka yang saling menyuapi secara berbarengan.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...