Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 33 ~ Membuktikan ~


__ADS_3

Frisca menyodorkan ponselnya yang berisi foto-foto Allena dan Valendino. Zefran terpaku menatap deretan foto yang menampilkan istri mudanya itu bersama sahabatnya. Dan foto yang lebih membuat Zefran terkejut adalah Valendino dengan posisi sedang memeluk dan mencium Allena.


Frisca awalnya ingin menyimpan foto-foto yang menampilkan kedekatan istri muda Zefran dan sahabatnya itu. Segala usaha dilakukannya untuk mendapatkan momen-momen penting itu. Tidak hanya satu atau dua namun lima fotografer rahasia yang di sewanya untuk mengikuti kemana pun Allena pergi.


Tak banyak kejadian berbeda yang bisa tertangkap dalam kamera para fotografer itu. Kedatangan Valendino yang hampir tiap hari memesan bunga selalu menjadi hasil jepretan mereka.


Frisca hampir kesal karena tidak mendapatkan hasil yang lebih mengejutkan. Hingga akhirnya satu momen yang membuat wanita itu agak tersenyum yaitu saat Valendino ingin membawa Allena ke rumah sakit.


Foto itulah yang tak sabar ingin ditunjukkannya pada Zefran. Hingga akhirnya laki-laki itu tercenung menatap adegan itu. Zefran langsung melempar ponsel itu ke ranjang Frisca dan berjalan ke kamar Allena.


Terlihat Allena yang masih tertidur setelah lelah melayaninya. Niat Zefran yang ingin memaki gadis itu terhenti setelah menatap wajah Allena yang terlelap begitu damai. Tidak tega membuat gadis itu kaget, terbangun dan menangis mendengar makiannya.


Sial, jerit Zefran dalam hati. 


Laki-laki itu akhirnya memilih keluar dari rumah dan memacu mobil sekencang-kencangnya di jalan raya yang telah sepi.


Marah, cemburu ingin segera dilampiaskannya di hadapan Allena namun teringat kembali wajah yang penuh air mata itu. Wajah Allena yang selalu pasrah disalahkan, pasrah menerima makian. Dan menerima segala tuduhan.


Apa yang harus kulakukan? Lagi-lagi memakinya, lagi-lagi menyalahkannya, memarahinya. Kenapa tidak ada habis-habisnya? Benarkah ini kesalahannya? bisik batin Zefran.


Zefran menghentikan mobilnya di sebuah bukit lalu bersandar di mobilnya sambil memandang kota dari ketinggian. Tak lama kemudian datang mobil menepi dan pengendaranya langsung menghampiri.


"Maaf mengajakmu keluar malam-malam begini," ucap Zefran tanpa menoleh.


"Tidak apa-apa Tuan, saya senang bisa melakukan sesuatu. Kebetulan saya juga belum bisa tidur," ucap Patrick.


"Di sini cuma kita berdua, kenapa aku harus selalu mengingatkanmu?" ucap Zefran.


"Maaf Zefran, masalahnya aku tidak tahu suasana hatimu sekarang seperti apa. Jika dengan percaya diri aku memanggil namamu tahu-tahu besoknya aku sudah dipecat, bisa gawat," kilah Patrick.


Mereka pun tertawa. "Ada apa? Kamu tidak mungkin mengajakku keluar malam-malam begini untuk berkencan bukan?" tanya Patrick lagi.


Zefran kembali tertawa, entah mengapa untuk banyak hal Zefran lebih suka bicara dengan Patrick. Mungkin karena Personal Assistant-nya itu telah mengenal Zefran luar dan dalam. Patrick adalah laki-laki yang bisa dipercayanya, tidak bicara jika tidak ditanya. Sangat bijaksana dalam memandang suatu masalah.


Altop, Ronald dan Valendino adalah sahabat bahkan saudara bagi Zefran. Namun, Zefran tak bisa terbuka pada mereka. Mereka adalah anak-anak dari keluarga kaya yang terbiasa berpikiran simpel. Hingga kini tak ada yang berani berkomitmen untuk sebuah hubungan yang serius. Mereka adalah teman untuk tertawa bukan teman berbagi masalah.


Berbeda dengan Patrick, laki-laki yang pernah hampir di drop out dari universitas karena tak mampu membayar uang kuliahnya itu adalah seorang mahasiswa dari keluarga sederhana namun cerdas. Menilai sesuatu dari segala sudut pandang.


Saat laki-laki itu berjibaku bekerja siang dan malam untuk mengumpulkan uang dengan mencuci mobil, menjadi petugas valet parkir atau menjadi pelayan di cafe. Terdiam letih di sudut kampus karena tak mampu mengejar kekurangan pembayaran uang semesternya.


Zefran datang dan memberikan bantuan karena tanpa disadari Patrick, Zefran mulai mengamatinya saat membantu memarkirkan mobilnya di sebuah restoran mewah. Saat itu Zefran mengenalnya sebagai seorang mahasiswa yang cerdas namun tidak menyangka kalau kehidupannya sangat sulit.


Sejak itu mereka berteman, meski Patrick tidak pernah bergabung dengan Ronald, Altop dan Valendino namun Zefran memperlakukan sahabatnya itu sama dengan yang lainnya. Zefran tidak pernah memandang strata sosial seseorang asalkan mereka hidup dengan cara yang bermartabat.


"Kamu mengenal istri mudaku?" tanya Zefran.


"Ya, Nyonya Allena" ucap Patrick.


Patrick mengenal Allena karena memang hadir dalam acara pernikahan tertutup itu. Sebagai orang kepercayaan keluarga Dimitrios, Patrick juga bertugas sebagai penyelenggara pernikahan pimpinan sekaligus sahabatnya itu. Menjadi satu-satunya sahabat Zefran yang hadir dalam pernikahan diam-diam itu.


"Seperti apa dia menurutmu?" tanya Zefran.


"Gadis yang baik, memiliki hati yang teguh. Jika telah memutuskan sesuatu dia akan menjalaninya hingga akhir. Sangat menghargai orang dan menghargai kebaikan orang padanya. Seseorang yang menerima apapun yang dibebankan padanya," jelas Patrick.


"Sebanyak itu? Kamu menilai dia sebanyak itu dalam waktu singkat?"  tanya Zefran.


"Saat menjadi petugas valet parkir, aku bertemu dengan banyak orang. Dari berbagai negara, berbagai profesi, berbagai karakter. Saat waktu luang aku menilai karakter mereka. Tentu saja hanya bisa dilakukan dalam waktu singkat. Benar atau tidaknya kadang-kadang terbukti kadang-kadang hilang ditiup angin," jelas Patrick sambil tersenyum.


Percaya atau tidak, Zefran selalu bertanya pada Patrick tentang karakter rekan bisnisnya. Demi memuluskan sebuah rencana kerjasama, Zefran harus bisa memahami karakter orang yang dihadapinya dan dia percaya pada pendapat Patrick.


"Nyonya Allena gadis yang baik itu kulihat saat Nyonya Allena menatap Nyonya Frisca dengan perasaan tidak enak hati, sama sekali tidak terlihat keinginan untuk menyingkirkan Nyonya Frisca. Memiliki hati yang teguh, jika telah memutuskan sesuatu dia akan menjalaninya hingga akhir. Itu terlihat saat menjalani prosesi pernikahan, setelah memutuskan untuk menerima lamaran itu. Nyonya Allena menjalani prosesi pernikahan sampai akhir. Berbeda denganmu yang langsung meninggalkan ruangan," ucap Patrick sambil tersenyum.


"Aku benar-benar tidak tahan lagi waktu itu, acara itu benar-benar menyiksaku," balas Zefran.


Patrick mengangguk. "Nyonya Allena sangat menghargai orang. Terbukti saat dia mencium punggung tanganmu dengan sepenuh hati meski dia tahu kamu memalingkan wajah ke arah lain. Menghargai kebaikan orang padanya dan seseorang yang menerima apapun yang dibebankan padanya itu terlihat saat dia memungut boutonnieres yang kamu lempar sembarangan di hadapannya," jelas Patrick.

__ADS_1


"Boutonnieres itu juga menjadi bahan penilaian bagimu?" tanya Zefran.


"Ya, bagi wanita lain sikapmu itu adalah sebuah penghinaan. Tapi bagi nyonya Allena itu adalah pemberian dan dia menerima pemberian itu meski menjadi beban baginya," jawab Patrick.


"Pertama, aku tidak memberinya boutonnieres itu, yang kedua dia menerima beban apa?" tanya Zefran.


"Kamu tidak memberinya tapi melempar padanya menunjukkan bahwa pernikahan yang tidak kamu inginkan telah selesai kamu jalani dan melempar tanggung jawab pernikahan pada Allena sendirian dan Allena menerima beban itu," jelas Patrick.


Zefran tertunduk. "Tapi sekarang dia telah membuatku jatuh cinta. Aku berharap pernikahan ini adalah yang sesungguhnya. Aku menderita Patrick, aku menderita saat mengetahui dia mengkhianatiku," ungkap Zefran.


"Aku tak yakin dia bisa melakukan semua itu," ucap Patrick.


"Dia dekat dengan Valen dan Frisca memiliki foto-foto perselingkuhan mereka," ujar Zefran.


"Nyonya Frisca punya buktinya?" tanya Patrick.


"Ya, foto-foto kebersamaan mereka. Begitu banyak, aku tidak menyangka mereka bertemu di luar sana. Saat di Night Club mungkin mereka merasa tidak bebas karena aku juga berada di situ. Mereka sengaja bertemu di toko bunga dan terus berlanjut," jelas Zefran.


"Nyonya Frisca pasti menempatkan orang untuk mengambil foto-foto mereka. Nyonya Frisca sengaja melakukan itu untuk membuatmu membencinya," jelas Patrick.


"Tapi jika Valen dan Allena tidak bertemu, para fotografer itu juga tidak akan mendapatkan foto kemesraan mereka," ucap Zefran mulai emosi.


"Foto mesra? Seperti apa?" tanya Patrick.


"Aku rasa itu saat Valen membawa Allena ke rumah sakit. Valen menaruhnya di mobil lalu dia memeluk dan menciumnya," papar Zefran sambil menunduk.


"Jika terlihat dari arah depan akan terlihat memeluk dan menciumnya padahal bisa saja Valen sedang memasangkan seat belt untuk Allena. Meski Valen menciumnya itu juga bukan kesalahan Nyonya Allena. Jika Nyonya Allena meletakkan tangannya di tubuh Valendino barulah bisa dikatakan berpelukan," jelas Patrick.


"Benar juga, kenapa tak terpikirkan olehku?" tanya Zefran.


"Karena pikiranmu sudah di selimuti rasa cemburu," jawab Patrick sambil tertawa.


Zefran juga ikut tertawa. "Terima kasih Patrick, aku harus kembali sekarang. Terima kasih untuk konsultasi hari ini," kata Zefran sambil tertawa.


"Dengan senang hati," jawab Patrick juga tertawa.


Rumah itu telah gelap karena sebagian penerangan telah dimatikan. Zefran melihat cahaya dari arah dapur. Berjalan pelan hingga akhirnya tersenyum melihat Allena yang tengah asyik menikmati makannya sendirian di dapur.


"Oh Kakak? Dari mana?" tanya Allena saat melihat Zefran mendatanginya bukan dengan pakaian tidur.


"Lapar sayang?" tanya Zefran.


"Ya, tadi kita melewatkan makan malam. Apa kakak dari Night Club? Sudah makan belum?" tanya Allena.


"Aku ada urusan dengan Patrick, aku juga belum makan malam," ucap Zefran sambil duduk di kursi meja dapur di hadapan Allena.


"Mau aku buatkan mie instan atau mau nasi campur ini. Aku mencampur semua masakan yang masih tersisa jadi satu," ucap Allena tertawa.


"Apa rasanya enak?" tanya Zefran.


"Kalau lapar semuanya terasa enak," jawab Allena.


Zefran tertawa lalu minta disuapi, Allena segera mengambil sendok baru tapi Zefran menahan tangannya. Laki-laki itu minta disuapi menggunakan sendok Allena.


"Tapi, apa higienis jika berbagi sendok?" tanya Allena.


"Aku pernah melihat Valendino makan menggunakan garpu bekas makanmu. Kenapa aku tidak boleh?" tanya Zefran bernada cemburu.


"Bukan! Bukan begitu tapi ... apa kakak tidak jijik dengan ... air liurku?" tanya Allena pelan hampir tidak terdengar.


"Kalau berciuman aku bahkan menyedot air liurmu. Ayo! Cepat suapi aku!" seru Zefran.


Allena tertawa lalu menyuapi suaminya, mereka menyantap makan malam bersama buatan Allena itu.


"Sayang, apa kamu tidak perlu konsultasi ke dokter kandungan?" tanya Zefran.

__ADS_1


"Ya, dalam waktu dekat aku akan periksa kandungan," jawab Allena.


"Apa perlu aku temani?" tanya Zefran.


"Tidak usah, cuma periksa kandungan biasa. Jangan sampai mengganggu pekerjaan Kakak," jawab Allena.


"Jangan lupa meminta resep vitamin dan susu untuk ibu hamil ya!" saran Zefran.


"Baik Papa Zefran," ucap Allena tersenyum manis.


Zefran memandang terpesona gadis di hadapannya. Tatapan itu membuat Allena jadi salah tingkah.


"Kenapa? Tidak suka dengan panggilan itu?" tanya Allena.


"Aku suka, aku suka sekali Mama Allena," bisik Zefran sambil mengecup bibir istrinya.


Allena bahagia menatap laki-laki yang begitu dicintainya itu. Tidak ada hal lain yang Allena inginkan selain suami yang menyayanginya. Allena pernah merasa mustahil mendapatkan cinta Zefran. Namun, perlahan hati laki-laki itu terbuka untuknya.


Menjalani hari-hari yang bahagia selama kehamilannya. Namun, Allena tidak ingin terlena, selalu meminta Zefran untuk berlaku adil pada kedua istrinya. Zefran pun mematuhi, laki-laki itu dengan tegas membagi jadwal bersama Frisca dan bersama Allena.


Zefran juga meminta Frisca untuk tidak pulang malam lagi. Laki-laki itu berjanji akan menjemput ke kantor jika Frisca terlambat pulang ke rumah. Meski kesal namun akhirnya Frisca menuruti. Mereka berjanji akan berkumpul di rumah sebelum langit menjadi gelap.


"Aku benar-benar tidak tahan dengan Zefran sekarang. Dia menjadi sangat pengatur, aku jadi merasa terkekang," curhat Frisca pada Shinta --sahabatnya-- melalui sambungan telepon.


"Artinya dia sangat perhatian padamu, kenapa justru merasa terkekang. Dulu saat dia sibuk mengurusi istri mudanya kamu mencak-mencak merasa tidak di pedulikan," jawab Shinta.


"Ya tapi ini namanya pengekangan bukan perhatian. Aku bahkan tidak bisa bertemu Bobby lagi. Jika telat pulang sedikit Zefran akan langsung meneleponku," jelas Frisca sambil menatap pemandangan kota dari jendela kaca gedung perusahaan keluarganya.


"Kenapa masih menemui Bobby? Sudahlah lupakan dia. Hidup bahagialah bersama Zefran," saran Shinta.


Shinta tahu persis seperti apa perjalanan cinta Frisca. Mereka bersahabat sejak masih duduk di bangku SMA di San Fransisco. Ayahnya bekerja di Konsulat Jenderal Republik Indonesia di kota itu dan terkenal sangat tegas.


Shinta bahkan melewati begitu saja masa-masa indah berpacaran karena larangan ayahnya yang tidak mengizinkan putrinya menghabiskan waktu dengan berpacaran. Shinta hanya boleh belajar di sekolah dan di rumah.


Shinta bahkan pernah dilarang ayahnya bergaul dengan Frisca. Karena tidak ingin putrinya terpengaruh gaya hidup dan pergaulan bebas Frisca. Namun, setelah berjanji bahwa pertemanan mereka tidak akan mempengaruhi prestasi akademik nya. Shinta akhirnya diizinkan untuk berteman dengan Frisca.


"Kamu tidak merasakan bagaimana rasanya hidup dimadu. Setiap hari aku harus melihat tampang wanita yang ingin menguasai suamiku. Rasanya kesal sekali," curhat Frisca kembali ke kursi kerjanya.


"Seperti apa orangnya? Apa sangat licik?" tanya Shinta.


"Tentu saja licik, jika tidak, mana mungkin Zefran bisa bertekuk lutut padanya. Tapi lihat saja aku akan mendapatkan bukti-bukti perselingkuhannya," jelas Frisca.


"Apa? Dia berselingkuh?" tanya Shinta kaget.


"Ya, dengan sahabat Zefran. Aku yakin dia berselingkuh dengan Valendino hingga dia hamil dan diakui sebagai anaknya Zefran," ungkap Frisca.


"Frisca, hati-hati kalau bicara, tuduhanmu ini sangat serius," ucap Shinta mengingatkan.


"Coba saja pikir, delapan tahun lebih kami menikah tanpa dikaruniai anak. Dia sebentar saja langsung hamil. Apa itu tidak aneh?" tanya Frisca.


"Artinya memang kamu yang bermasalah, Zefran berhasil membuahi mu sementara rahimmu yang tidak bisa mempertahankannya. Sudahlah Frisca terimalah kenyataan ini, bukankah tujuan pernikahan Zefran sekarang telah tercapai. Biarkan istri mudanya itu memberikan keturunan padanya dan kamu tetap bisa mempertahankan pernikahan kalian," nasehat Shinta.


"Tapi aku tidak rela dia merampas Zefran dariku, aku tidak ingin laki-laki yang aku cintai berpaling dariku hanya oleh seorang gembel," ucap Frisca kembali menatap kota melalui jendela kantornya.


"Frisca, kamu sama sekali tidak mencintai Zefran. Kamu hanya ingin menguasai Zefran dan tidak rela jika dikalahkan oleh seseorang yang kamu nilai lebih rendah darimu," ungkap Shinta.


"Apa pun menurut penilaianmu aku tidak peduli. Aku tidak ingin perempuan itu berhasil menguasai Zefran melalui anak yang dikandungnya itu. Aku ingin meminta bantuanmu suatu saat nanti," ucap Frisca.


"Bantuan apa yang bisa dilakukan dari seorang Analis Laboratorium DNA Forensik sepertiku. Aku sama sekali tidak mengerti taktik para istri yang ingin mempertahankan suami. Aku sendiri bahkan belum menikah," ucap Shinta sambil tertawa.


"Justru itu, aku yakin suatu saat aku akan butuh pertolonganmu. Pokoknya aku ingin kamu membantuku untuk menyingkirkannya--" 


"Menyingkirkan siapa?" tanya Zefran tiba-tiba.


Frisca kaget dan langsung menutup sambungan teleponnya. Membalik badan dan menatap wajah suaminya yang telah berdiri di belakangnya. Wajah pucat dan tubuhnya gemetar. Frisca terpaku tak bisa bicara saat mengetahui suaminya telah mendengar pembicaraannya.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2