Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 144 ~ Gerak Cepat ~


__ADS_3

Zefran siap untuk melancarkan aksi bercintanya untuk yang kedua kalinya hari itu. Namun, tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Allena tertawa melihat ekspresi kecewa suaminya namun meminta suaminya itu untuk membukakan pintu. Wanita itu menjanjikan Zefran bisa melanjutkannya nanti saat urusannya telah selesai. Zefran pun bangun dan melihat siapa yang mengetuk pintu.


"Maaf Tuan, ada tamu," ucap seorang pelayan.


"Siapa?" tanya Zefran cukup heran karena saat ini sudah malam.


"Namanya Dr. Devan," jawab pelayan itu lagi.


"Oh ya baiklah. Terima kasih," ucap Zefran lagi.


Pelayan itu pamit melanjutkan tugasnya. Allena penasaran dengan maksud kedatangan Dr. Devan. Bertanya-tanya dalam hati namun tak berani menanyakan pada suaminya secara langsung. Zefran merasa kalau Allena pasti ingin tahu, laki-laki itu pun menjelaskan kalau Dr. Devan ingin melanjutkan niat Allena untuk menjodohkannya dengan Santi.


"Apa?" tanya Allena kaget.


"Dia bersedia untuk mencoba mengenal Santi," ucap Zefran.


"Benarkah?" tanya Allena tak percaya.


"Ya, apa kamu mau ikut menemuinya?" tanya Zefran.


"Aku? Aku … aku … ah, tidak usahlah, sampaikan saja salam dariku untuknya," ucap Allena yang tak ingin terlibat lagi dengan Dr. Devan.


"Kesannya kamu itu sombong, dia sudah datang berkunjung ke rumah ini. Kamu yang tidak ada kesibukan apa-apa malah tak mau menemui. Tapi … tidak apa-apa lah, daripada niatnya melenceng. Mau dekati Santi nanti malah mau dekati kamu," ucap Zefran.


Allena tertawa mendengar Zefran yang merubah pemikirannya sendiri. Zefran pun ikut tersenyum lalu menatap lembut ke arah istrinya. Zefran mengulurkan tangannya.


"Kenapa lagi?" tanya Allena heran.


"Ayo ikut? Lagipula untuk apa kamu sendirian di sini?" tanya Zefran.


"Lho?"


"Tidak apa-apa, aku percaya padamu. Aku juga percaya pada Devan," ucap Zefran.


Allena ragu dengan ucapan itu karena Zefran pernah berkata seperti itu pada Allena dan Zacko. Tapi ujung-ujungnya, masih saja timbul salah paham. Namun laki-laki itu masih mengulurkan tangannya. Allena ragu menatap tangan itu, sebagian hatinya tak ingin mempercayai ucapan Zefran tadi. Tapi tak ingin membuat laki-laki itu kecewa karena tak menuruti keinginannya.

__ADS_1


Meski ragu akhirnya Allena menyambut uluran tangan suaminya. Mereka pun menemui Dr. Devan yang telah diminta menunggu di beranda belakang. Saat bertemu dengannya Allena berusaha bersikap wajar seolah-olah tak pernah terjadi salah paham antara suaminya dan dirinya disebabkan oleh dokter tampan itu.


"Akhirnya mampir juga ke sini," ucap Zefran sambil menyalami sahabatnya itu.


"Ya, padahal sejak dulu kita berteman tapi tidak pernah saling mengunjungi. Kamu juga seperti itu, tak pernah mau mampir ke rumahku," jawab Devan sambil kembali duduk.


"Ya, rasanya untuk apa main ke rumahmu. Kalau kangen, besoknya kita bisa ketemu di sekolah," sahut Zefran.


"Kangen?" tanya Devan langsung tertawa.


"Emang gay?" sahut Zefran yang juga ikut tertawa.


Mereka spontan tertawa mengingat begitu akrabnya mereka dulu saat di SMA. Devan jomblo karena gadis yang diincarnya selalu berbelok arah mengejar Zefran, sementara Zefran terikat janji untuk tidak berpacaran.


Hasilnya, kedua laki-laki itu tak pernah memiliki pacar selama di SMA hingga timbul desas-desus kalau mereka pasangan gay. Melihat kedekatan mereka yang kemana-mana selalu bersama.


"Cewek-cewek itu aneh, dipacarin nggak mau. Malah nuduh gue gay, gue ini cowok tulen. Ntar dibuktikan sampai melendung baru tahu," gerutu Devan saat isu itu sampai di telinganya.


Zefran hanya tertawa mendengar gerutuan sahabatnya itu. Lalu mengajaknya pulang setelah bermain basket bersama. Kali ini Zefran membiarkannya menang untuk meredakan hati sahabatnya yang kesal karena gosip tentang mereka. Mengingat itu mereka tak habis-habisnya tertawa.


"Apa kabar Allena?" tanya dokter itu menyapa.


"Baik Dokter," jawab Allena singkat.


"Zifara bagaimana, sehat?" tanya dokter itu sambil tersenyum.


"Ya, Zara juga sudah sehat. Apa dokter mau periksa Zara? Maksudku … biar dibawa Santi ke sini," ucap Allena mulai melancarkan rencananya.


Zefran dan Dr. Devan tersenyum melihat cara Allena yang langsung tanpa ingin menghabiskan waktu.


"Boleh," jawab Devan sambil tersenyum.


Allena pun permisi ke dalam, naik ke lantai atas untuk memanggil Santi. Wanita itu meminta gadis baby sitter itu merapikan dandanannya. Allena bahkan memberikan gaun rancangannya. Gaun yang terlihat simpel dan nyaman namun sangat elegan.


Santi sampai heran melihat sikap Allena, namun saat melihat gaun-gaun rancangan Allena, mata gadis itu terbelalak. Tak sanggup untuk menolak gaun cantik rancangan wanita itu. Meski merasa heran dengan sikap Allena tapi Santi tak mampu menahan gejolak hatinya mengenakan gaun yang sebenarnya menjadi favoritnya.

__ADS_1


"Nanti kalau Dr. Devan bertanya tentang Zara, kamu jawab ya," ucap Allena seolah-olah Dr. Devan ingin menanyakan Zifara.


"Baik Nyonya," jawab Santi.


Gadis itu pun membawa Zifara turun bersamanya diiringi oleh Allena. Begitu Zifara datang digendong Santi, Dr. Devan langsung menoleh ke arahnya. Dokter itu cukup terpesona melihat penampilan Santi yang berbeda dari sebelumnya. Gadis itu terlihat sangat cantik, dengan gaun yang tak akan mungkin bisa dimiliki oleh seorang baby sitter.


Dengan penampilan seperti itu barulah terlihat kalau gadis itu sangat anggun dan berkelas. Dr. Devan menoleh pada Zefran dan Allena, dokter tampan itu mengira semua pasti kerjaan Allena. Menyulap gadis berpenampilan baby sitter itu menjadi gadis anggun dan sangat cantik.


Bahkan Zefran sendiri, seperti tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Santi tak seperti yang biasa dilihatnya. Allena bahkan menyikut pinggang Zefran untuk menyadarkannya. Zefran tertawa dan langsung merangkul istrinya yang terlihat cemburu.


Dr. Devan langsung menghampiri Santi yang duduk diseberangnya. Zefran dan Allena memberi ruang dan waktu bagi mereka berbincang-bincang, suami istri itu hanya diam mengamati.


Dr. Devan memeriksa gigi Zifara yang memang telah tumbuh. Dokter itu juga menyarankan Santi agar rajin memberinya makanan yang bisa untuk merangsang pertumbuhan giginya. Dokter itu sengaja bertanya macam-macam pada Santi. Zefran dan Allena hanya senyum-senyum melihat usaha Dr. Devan mendekati baby sitter itu. Agar tidak terlihat kaku Zefran sesekali ikut nimbrung pembicaraan mereka.


"Devan, sebentar lagi adik Allena akan mengadakan pesta pernikahan. Apa kamu bersedia datang?" tanya Zefran.


"Aku ingin datang tapi aku malu datang sendiri. Aku tidak punya pasangan," ucap Devan seperti memberi sinyal.


"Kalau begitu carilah pasangan di saat-saat persiapan acara ini, hingga menjelang pesta nanti, Dr. Devan sudah memiliki pasangan," sahut Allena.


"Sulit Allena, wanita cantik selalu ada yang punya," ucap Devan sambil menatap Santi.


Allena terkejut saat melihat cara dokter itu menatap Santi. Zefran tertunduk menahan senyum.


Wah gawat, dokter ini ternyata playboy kelas berat. Apa aman jika dijodohkan dengan Santi? Apa aku tidak mendorong Santi ke mulut buaya? Aku jadi takut, aku jadi merasa berdosa, batin Allena.


Wanita itu sekarang justru khawatir, Zefran menganggukkan kepalanya meminta istrinya untuk mempercayai Dr. Devan. Melihat ekspresi Allena yang khawatir, Zefran menenangkannya agar tak merusak rencana mereka.


"Apa kamu ada yang punya?" tanya Devan langsung pada Santi yang duduk dihadapannya sambil memangku Zifara.


"Apa?"


"Kamu mau jadi pasanganku?" tanya Devan tanpa menunggu Santi menjawab pertanyaan tadi.


Santi tercekat, langsung bingung untuk menjawab. Allena hingga ternganga melihat gerak cepat Dokter itu merayu Santi, sementara setengah mati Zefran menahan ketawanya.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2