
Seorang lelaki yang sedang mencari arti hidup dengan penuh tanya apa arti hidup itu sendiri, hingga membawanya kedalam banyak masalah yang harus ia hadapi. Menjadi yang terbaik atau yang terburuk semua itu ada di dalam pilihannya.
Simak terus cerita yang hanya ada di Bukan Romeo kak.
***
Tepat awal bulan januari seorang Ibu melahirkan seorang Putra. Begitu istimewa di mata mereka yang sedang memandang bayi lucu menggemaskan nan imut, namun terlihat biasa ketika sang bayi belum mengerti apa itu kehidupan.
Ia terlahir dari kalangan sederhana. Memiliki seorang ayah yang bekerja di salah satu pabrik swasta dan seorang Ibu yang hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Selain itu ia juga memiliki seorang adik lelaki.
Sebagai anak sulung dan hanya dua bersaudara, ia tau harus bersikap memberi contoh yang baik. Ia hidup dalam lingkungan desa yang tidak begitu ramai tidak juga sepi. Persawahan dan perkebunan adalah mata pencarian di desa yang ia tinggali saat ini.
Layaknya seperti anak lelaki lain yang memiliki teman, ia juga memiliki sahabat karib dari pertama kali menginjak bangku di kelas dasar.
~Paras tampan seperti artis internasional, ia adalah Enda nasution. Pria keturunan batak namun lebih hebat berbahasa jawa, mungkin karena lingkungan di desa hanya dia lelaki bermarga.
~Hanya sebuah tawa jika berbicara dengan dirinya, Putra kelana. Impian hidup yang ia miliki hanya satu, yaitu menjadi musisi terhebat yang belum pernah ada.
~Fadli si bocah petualang yang hanya bermodalkan nekad. kegemarannya selalu memancing gelak tawa seperti halnya ketika memancing ikan di kolam tetangga.
~Dan yang terakhir tersisa hanyalah seorang anak lelaki yang selalu mengagumi keindahan wanita.
Kisah perjalanan itu pun dimulai ketika mereka memanggilnya, Ray.
Semua itu adalah cerita singkat 17 Tahun yang lalu, kini mereka menjalani fase sebagai pemuda dewasa.
Begitu banyak perbedaan masa yang mereka alami. Seperti halnya ketika Enda dan Putra sudah menikah. Langkah mereka berempat kian terbatas oleh padatnya jadwal kerja masing-masing.
Dua tahun sebelumnya, Fadli berpulang kepangkuan sang Kuasa. Saat itu mereka mngerti bahwa, semua yang ada di bumi ini takkan pernah bisa bersifat abadi.
1 januari 2016 mungkin kisah yang sangat menyenangkan bagi Ray, karena saat itu ia bertemu dengan Juwita, seorang wanita yang imut juga lucu. Hanya saja ketika mengenalnya, Ray telah mempunyai kekasih.
"Saat seorang pria belum menemukan wanita yang tepat dalam hidupnya, berpetualang adalah hal yang wajar. Terlihat seperti cara pemikiran jahat sang koruptor, namun apakah itu salah? Selagi tak ada niat menyakiti mungkin wajar saja," ujar Ray ketika bercerita dengan Ibu penjual gorengan perempatan.
Bercerita bijak layaknya motivator, itu yang mereka ingat dari sisi Ray. Seorang lelaki yang bisa memperindah kata namun tak bisa memperindah hidupnya.
Perlahan ia menjalin hubungan dengan kedua wanita itu, tanpa rasa ragu serta bersalah Ray memulainya. Lama kelamaan ketika mata lelahnya ingin terpejam dalam kabut malam, terlintas pikiran kecil menghantui.
"Apakah Aku benar atas apa yang terjadi? Dalam situasi seperti ini terlihat aneh jika harus memilih satu dari mereka," batinnya terbaring menatap kosong langit-langit.
Tanpa sadar pikirannya lenyap, seketika tertidur pulas mencari mimpi indah di bawah alam sadar.
***
Malam berlalu dengan singkatnya, cahaya mentari mulai menunjukan sinar kehidupan.
__ADS_1
Us...ttt.... ah (Seruput kopi).
Dreet.... (Nada getar ponsel).
Pesan singkat pujaan hati di pagi hari mengawali cerita kasih, "Semangat untuk kerja hari ini, wahai Romeo."
"Siap tuan Putri, jangan lupa beri kabar ketika dirimu merindukan hadirku kembali," balas Ray.
"Sudah buruan beres-beres sana, ntar telat loh. Terus ingat, di perjalanan nanti jangan genit godain wanita selain Aku."
Ray hanya tersenyum menggelengkan kepala membaca isi pesan itu sembari membalasnya, "Kenapa menanyakan hal yang kamu sendiri sudah tau jawabannya? Aku hanya milikmu."
"Iya deh iya, semangat."
Setelah mengakhiri berbalas pesan sekaligus menikmati mentari pagi dengan kenikmatan secangkir kopi, serta di suguhkan semangat dari kekasih hati, Ray berdiri beranjak untuk segera berangkat bekerja.
"Bunda oh Bunda," ucapnya sedikit keras.
"Idih gaya pakai manggil-manggil Bunda," sahut Rama.
Rama ialah adik lelaki yang menjadi alasan ia harus berjuang keras mencari rejeki, mengingat sang adik mengidap panyakit yang mengharuskan menjalani perobatan rutin dengan biaya yang cukup tinggi Meski begitu, Rama ialah lelaki yang periang.
"Jangan ribut, anak kecil belum tau apa-apa," jawab Ray ketika hendak memakai sepatu.
"Bang, kita teman kan?" ucap Rama datar.
"Kau kan Abang ku," ucapnya tersenyum manja.
"Ya Aku tau kalau Aku Abangmu, terus?" balas Ray mengangkat satu alis.
"Aku kan Adikmu ini bang," ujarnya kembali.
"Gak pala kau kasih tau, Aku pun tau kau itu adik ku, terus kenapa?"
"Berarti kan kita Abang Adik ini," ucapnya masih menatap semringah.
"Gak kau bilang pun semua orang tau kita Abang Adik, yang jelas kalau ngomong, jangan sampek ku stop orang lewat depan rumah kita, terus ku ajak ribut ini," ujar Ray sedikit melucu.
Mendengarkan sang Abang berceramah, Rama hanya berdiri menyengirkan senyum.
"Kau tau kan yang bikin paket internet mahal itu siapa? Abang itu yang buat karena gak dapat nomor handphone kak Anggi penjaga ponsel sebelah," sambung Ray.
Sedikit berpaling muka Rama mulai ragu mengatakannya, "Payah bilang Bang."
"Kenapa, pasti duit ini masalahnya?" tanya Ray sembari menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Please Bang, sesekali biar jadi sultan Aku di sekolah. 20 ribu aja udah kaya Aku di sekolah Bang, bener lah," lirihnya selaras raut wajah bersedih.
"Terus muka di sedih-sedihkan biar keliatan seperti gak makan berbulan-bulan lamanya," jawab Ray cuek berniat menjahili.
"Terima kasih telah Engkau kirimkan pada hamba seorang Abang yang begitu baik ya Allah," ucapnya berpangku tangan.
"Hem, jurus terakhir udah keluar aja, nih jangan boros terus, di tabung buat beli apartemen."
"Please Bang, bunuh Aku Bang, uang segini di kumpul buat beli apartemen?" pekik Rama menunjukan uang tersebut.
Ray yang telah selesai memakai sepatu langsung beranjak berdiri, "Ya pandai-pandai lah, kan udah gede, masak gitu aja suka di kasih tau."
"Abang pun hebat kali, uang segini tuh buat jajan ku, terus main warnet, terus main playstation, terus jajan lagi juga udah habis," tegas nya.
"Jangan banyak protes."
Ditengah perdebatan kecil itu, sang Ibu berjalan menghampiri.
"Ada apa pagi begini ribut terus," sahut Ibu.
"Bu, Aku pergi dulu ya," sambut Ray menyalim tangan Ibu.
"Ayah mana?" tanya ia kembali.
"Itu baru mau keluar," singkat Ibu.
"Yah, pergi dulu," Ray kembali menyalim tangan.
"Hati-hati, jangan ngebut," ucap Ayah mengingatkan sang anak.
Kemudian Ray berjalan menuju motornya, berselisih kembali dengan Rama, "Kau sama Ayah aja, Abang buru-buru."
Sepanjang perjalanan Ray hanya melamunkan tentang wanita yang telah hadir dalam kehidupannya. Tanpa ia sadari sebuah sepeda motor melaju kencang menabrak sisi kiri ketika ia hendak melewati perempatan jalan.
Brugg.... (Kendaraan bertabrakkan).
Suara kebisingan mulai menghampiri dari kejauhan, perlahan matanya mulai terpejam dengan pasti.
Ketika pikirannya sedikit melayang, ia kembali berfikir tentang hal yang baru saja menimpa dirinya.
"Apa ini karma atau hanya karena kecerobohan ku?" batinya kemudian terlelap tak sadarkan diri.
***
Sampai di sini dulu kak, dukung terus dengan cara sub, komen, apalah itu semua nya bila suka alur ini ya.
__ADS_1
makasih.