Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Lobe story 48


__ADS_3

Setelah melalui kejadian tersebut, Ray semakin akrab dengan Alisa. Banyak hal indah yang tak sanggup ia ungkapkan lewat kata. Seperti halnya ketika Ray mengungkapkan perasaannya ke Alisa, sesaat setelah acara pertunjukan karya kampus usai.


Siang itu di atap gedung kampus, pandangan luas menatap langit sekitar.


"Aku gak tau harus memulainya dari mana, yang ku tau ketika raga ini jauh darimu ada sedikit kekosongan dalam hati. Ketika aku ingin memilikimu, bukan berarti kamu juga harus memiliki aku. Tak begitu banyak hal yang ku inginkan dalam hidup sebab cinta yang ku punya hanya untuk satu hati. Satu hati yang akan terus ku beri cinta dan hati itu kini tepat berada di hadapanku," ujar Ray memegang lembut kedua tangan Alisa.


Alisa tersenyum ringan tanpa kata membalas lewat pelukan. Begitulah cara Alisa menunjukan jawaban atas ungkapan hati Ray.


Semua berjalan lancar seperti yang Ray inginkan.


Sebulan lebih telah berlalu, hubungan sepasang kekasih tersebut awalnya terlihat baik-baik saja hingga akhirnya ayah Alisa menentang hubungan mereka.


Ayah Alisa mengetahui hubungan Ray dengan putrinya ketika ia melihat Alisa makan di warung pinggir jalan bersama Ray.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Lisa!" Bentak Ayah.


"Ayah, ini Lisa lagi nyobain makan di sini."


"Kamu ingin buat Ayah malu? Kamu itu putri seorang pengusaha ternama, pulang sekarang!" Menarik tangan Lisa.


"Maaf Om, bukan seperti itu cara seorang ayah memperlakukan putrinya," sahut Ray.


"Kamu siapa? Hebat sekali berani menceramahi saya, kamu masih bau kencur belum mengerti apa-apa," balas sang Ayah kembali menarik Alisa.


Melihat Alisa merintih merasakan sakit atas perlakuan ayahnya, Ray kembali mencoba menghentikan.


"Dari yang saya lihat, om bukanlah orang biasa. Om pasti berada di barisan para petinggi yang sukses melewati liku kehidupan. Hebat, saya kagum. Tapi melihat perlakuan anda seperti ini, saya jadi ragu. Apa benar saya telah mengagumi sosok lelaki seperti ini?"


"Saya harus bilang berapa kali agar kamu paham aap yang saya katakan? Kamu tidak akan pernah mengerti sedikitpun. Alisa putri kebanggaan saya dan kelak dia harus bisa meneruskan perusahaan yang saya bangun. Alisa tak mempunyai waktu untuk bermain-main menghabiskan waktu dengan pemuda seperti kamu!" jelas Ayah Alisa kembali.


Keadaan yang saat itu sedikit ramai membuat perdebatan antara Ray dengan ayah Alisa menjadi pusat perhatian.


"Justru karena saya tidak tau makanya saya bertanya, Om. Sosok seperti anda ini harusnya jadi contoh yang baik bagi kami sebagai penerus di masa mendatang," lanjut Ray.


"Ayah lepasin, sakit Yah lepasin," rintih Alisa merasakan sakit genggaman tangan sang Ayah.

__ADS_1


"Ayah jahat, Ayah egois tidak memperdulikan perasaanku," lanjut Alisa kembali.


Ayah Alisa yang saat itu di kuasai emosi, seketika mengangkat telapak tangan ingin menampar Alisa.


Untuk kedua kalinya Ray menjadi super hero, melindungi Alisa menghentikan laju tamparan tangan Ayahnya.


"Masih pantas yang seperti ini di katakan seorang Ayah? Ayah yang baik tak pernah menyakiti putrinya," kecam Ray menggenggam menghentikan laju tangannya.


Ayah Alisa terdiam sejenak terlihat sedikit panik atas apa yang akan terjadi jika Ray tak menghalanginya.


Ketika pikiran Ayah Alisa sedikit kembali tenang, ia berjalan masuk ke dalam mobil menunggu Alisa dari dalam. Raut wajah Alisa terlihat sedikit ketakutan terus menggenggam tangan Ray.


"Kamu kembali ya, ikutin kata Ayah kamu. Tak ada satupun orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya. Mungkin ini terjadi karena aku lelaki yang memiliki hatimu, berbeda halnya jika pangeran yang berhasil mendapatkan hatimu," jelas Ray menatap Alisa tersenyum menjelaskan kepada Alisa tuk ikut kembali dengan Ayahnya.


Perlahan Aisa memberanikan diri berjalan melepaskan genggaman tangan Ray menatap penuh resah.


"Selamat jalan Putri, Lelaki biasa ini tetap milikmu," sambung Ray melambaikan tangan tersenyum melihatnya.


Membalas ucapan Ray dengan senyum indah miliknya yang telah kembali.


Hal yang wajar jika hubungan tersebut mendapat pertentangan dari Ayah Alisa. Perbedaan kasta di antara mereka menjadi alasan pertentangan itu.


Namun hal itu bukanlah sesuatu yang mampu meredam semangat Ray, sebab ia semakin tertarik untuk membuktikan kepada Ayah Alisa bahwa ia pantas bersanding dengan Alisa.


Mengambil ponsel di saku celana, Ray mengetik pesan untuk Alisa.


"Cinta dan rasa selalu bersatu dalam doa, berharap cinta kita yang kan menang."


Pesan singkat ia kirim dengan tujuan mampu meyakinkan sebuah hati bahwa cinta akan selalu menang dalam hal apapun.


Disisi lain Alisa yang baru tiba dirumah.


"Ayah ingin kamu tidak berhubungan lagi dengan lelaki itu!" Tegas Ayah memarahi Alisa di ruang tamu.


"Dia lelaki yang baik, bukan lelaki buruk seperti yang Ayah pikir," ujar Alisa terduduk.

__ADS_1


"Jangan pernah membantah apa yang Ayah ucapkan, Lisa! Jika Ayah mengetahui kamu masih berhubungan dengan lelaki itu, kamu akan Ayah kirim ke luar negeri," jelas Ayah meninggalkan Alisa sendiri.


Mendengar sedikit keributan, Ibu Alisa datang menghampiri.


"Hiks hiks hiks, Bu." Memeluk ibu.


"Ada apa ini? Kenapa kamu bertengkar dengan Ayah."


"Ayah melarang Lisa berhubungan dengan mas Ray, Bu. Jika ayah tau Lisa masih berhubungan, ayah akan mengirim Lisa ke luar negri," lirihnya masih memeluk Ibu.


Berbeda dengan sang ayah, Ibu Alisa selalu mendukung apapun itu pilihan sang putri jika itu membuatnya bahagia.


"Yasudah, kamu berhubungan melalui ponsel saja dulu, lagian di kampus masih bisa bertemu kan? Tapi ingat tetap jaga diri kamu baik-baik," balas Ibu mengelus kepala Alisa.


Alisa menuruti apa yang Ibu katakan, beranjak berjalan menuju kamar bermaksud memberitahukan ke Ray hal yang barusan ia alami.


Kembali ke Ray.


Mendapat kabar dari Alisa tentang pertentangan hubungan tersebut, Ray tak terkejut sedikitpun. Hal itu telah lama Ray pikirkan suatu saat pasti akan terjadi.


"Jangan menangis hanya karena masalah kecil seperti itu. Tekad kita untuk bersama lebih kuat dibandingkan pertentangan ayahmu," balas Ray melalui panggilan telepon.


"Kamu beneran yakin, Mas?"


"Untuk sebuah perasaan, aku tak pernah main-main. Lebih baik sekarang kamu berbenah diri karena hari sudah semakin gelap."


Setelah menutup panggilan tersebut, Ray mengerti jalan hubungan mereka ke depan tidak lah mudah. Hanya bermodalkan tekad, Ray tetap menjalaninya.


Hari demi hari terus berlalu, bulan dan tahun telah silih berganti. Semua berlalu begitu cepatnya hingga hari kelulusan tiba.


Ketika selesai berfoto melepas toga bersama Alisa, Ray kembali menyatakan sebuah ungkapan dalam dirinya.


***


Sampai sini dulu kak, tanpa basi basa kita lanjut. Buat yang baru gabung ayolah di fav mumpung gratis...hehehhe. Lanjut... makasih.

__ADS_1


__ADS_2