
"Ray...bangun." Menyentuh tangan bermaksud membangunkan.
Terlalu lelah memikirkan semua yang terjadi, membuat Ray tertidur. Penuh harap semua jadi lebih baik ketika dirinya terbangun.
"Sayang," lirih Ray masih menutup mata menggenggam tangan Novi tersenyum.
"Ray...bangun."
"Novi?" Terkejut Ray langsung terduduk melepas genggaman tangannya.
"Maaf, tadi aku memimpikan Alisa."
"Iya, maaf juga udah membangunkan tidurmu. Buruan bangun terus makan bareng, udah di tungguin anak-anak tuh," jelas Novi.
Ray mengangguk kepala masih terasa berat akibat tidurnya yang singkat.
"Yaudah kalau begitu aku duluan ya, buruan nyusul," lanjut Novi kembali tersenyum manja.
Setelah selesai berbenah diri, Ray langsung menuju meja makan.
"Maaf ya semuanya, baru gabung." Menyapa langsung duduk.
Ketika Ray terduduk, Novi bangkit mengambilkan piring sekaligus menyiapkan makan malam untuknya.
"Kebanyakan ini nasinya," ucap Ray.
"Makan yang banyak biar tetap sehat dan gemuk," singkat Novi.
"Kamunya gak makan?"
"Hidangi kamu dulu baru aku," jelas Novi menuangkan minum.
"Yok berdoa bersama, hari ini spesial om Ray yang bacain doanya ya, setuju?" lanjut Novi.
"Setuju..."
"Setuju kak..."
"Ah sayap Kak...."
Setelah berdoa langsung menyantap hidangan malam yang telah di persiapkan.
"Alisa udah makan belum ya?" pikir Ray.
Setelah selesai makan bersama.
"Kakak, habis ini kakak mau kembali pulang ya?" ujar Siska menghampiri Novi.
"Om-om, gak tidur sini?" pekik Bima mendekati Ray alis naik turun.
"Kasian kak Novi ntar pasti di cariin sama orang tuanya," balas Ray mengelus kepala Bima.
"Kakak pasti pulang Siska, tapi setelah kita main ini. Taraaaaa...." Novi menunjukkan bermacam jenis kembang api ke Siska.
"Wah...asyik." Siska melompat-lompat ceria.
"Rencana om biar lama sama kakak, Sukses," cetus Bima menaikan satu alis menoleh menatap Siska embali memandang Ray.
"Nanti ikut om pulang ya, mau om jual kamu. Pinter bener masih kecil," pekik Ray.
"Hehehe..." Tawa Bima.
"Yaudah kalau begitu kita keluar sekarang ya," lanjut Novi menuntun anak panti menuju halaman luar.
Ketika sampai di halaman depan langsung menghidupkan berbagai macam kembang api.
"Kakak aku mau pegang."
"Ini untuk kamu."
"Kak aku kak."
"Aku juga bunda."
"Sabar ya sayang, gantian ya. Inget mainnya harus dekat Kakak, jangan jauh-jauh."
CIUT......
__ADS_1
DARRR......
DUUURRRR.....
JEDAAARR.......
"Lagi kak lagi."
"Iya bunda lagi."
"Sabar ya sayang."
Ray terduduk di depan bangku taman dekat pintu masuk. Terdiam melamun menyaksikan Novi begitu bahagia menikmati pesta kecilnya bersama anak panti.
"Sayang, sini rambutnya kakak ikat dulu," ucap Novi melihat Siska berlarian memegang kembang api dengan rambut terurai.
"Iya kak," jawab Siska menghampiri.
"Kalau saat ini aku tak memiliki Alisa, mungkin aku jatuh hati padamu," batin Ray tersenyum masih memandang Novi dari sedikit kejauhan.
Orangpun datang dan akan kembali, klik. (Nada panggilan ponsel).
"Yo." Mengangkat panggilan dari Fendi.
"Dimana kau kok gak pulang-pulang?"
"Masih nemenin Novi di panti, kenapa?"
"Kenapa kau bilang?"
"Jadi?"
"Dari tadi kami nungguin kau gak pulang-pulang sampai malam begini belum makan siang, masih kau tanya kenapa?"
"Maaf lupa aku. Makanlah kalian."
"Udah barusan."
"Janganlah ngambek, ntar cantiknya ilang loh."
"Mana ada, macem cowok apakah aja."
"Halo!"
"Yo."
"Pantang pulang sebelum berhasil ini keliatannya."
"Berhasil apalagi?"
"Walau udah pensiun dari bisnis percintaan, setidaknya ilmu itu masih banyak, jangan ngelak Ray."
"Makin ngelantur kalian, udah dulu ya, gak betah aku ngomong lama sama lelaki. Kalian pulang aja duluan," jelas Ray.
"Kimbek, ya udah cep..."
Ray mematikan panggilan tersebut.
"Apa aja yang di pikirin budak-budak ini," gumam Ray menatap layar ponsel kembali memandang kumpulan anak panti.
"Kakak tinggal dulu ya. Kalian lanjut aja mainnya sama bibi, oke?" jelas Novi.
"Iya kak."
"Tolong dijagain dulu ya bik," lanjut Novi mengelus pundak bibi.
"Iya buk. Ayo kita main lagi yok," balas bibi mengajak anak panti bermain.
"Yeeee." Anak-anak saling bersautan.
"Hati-hati ya," singkat Novi berjalan menghampiri Ray.
"Ray, boleh duduk situ?" Menunjuk bangku sebelah.
"Duduk aja." Mengusap bangku sebelah.
"Makasih ya," cetus Novi.
__ADS_1
"Makasih untuk apa?"
"Seharian kamu udah nemenin aku disini." Menoleh menatap.
"Hal wajar kok, kan kamu pemimpin tempat ku bekerja." Mematikan api rokok di tangan.
"Iya tapi ini udah di luar batas jam kerja, Ray."
"Gak apa-apa kok. Lagian aku seneng bisa bermain bersama mereka disini. Kejadian seperti ini tuh jarang aku temui. Dari mereka ada banyak hal yang bisa kupetik. Contohnya ketika melihat mereka begitu mensyukuri dan gak pernah bersedih dengan keadaan yang mereka alami," jelas Ray melihat Novi menundukkan pandangan.
"Mereka beruntung memiliki kamu. Hadirmu sendiri membuat mereka merasakan kasih sayang tulus seperti keluarga sendiri," lanjut Ray.
"Makasih, tapi aku bukan mencari pujian Ray."
"Iya aku paham kok."
"Om." Bima mengangkat jempol mengedipkan mata berjalan keluar dari dalam ruangan.
"Bima?" pekik Novi.
"Ampun kak." Berlari menuju teman-temannya.
"Dasar paling bandel paling gemesin si gendut," jelas Novi tertawa kecil.
"Oh iya Ray, ada sesuatu yang ingin aku bilang ke kamu," lanjut Novi menoleh kembali menatap Ray.
"Apa itu?"
"Tapi gak disini," jelas Novi kembali.
"Terus dimana?"
"Ya sambil jalan keliling panti mungkin."
"Ah..." Ray berdiri mengusap belakang celana.
Novi ikut berdiri kemudian berjalan bersama bermaksud mengelilingi panti tersebut.
"Ray."
"Iya."
"Pernah mengagumi seseorang?"
"Setiap manusia pasti pernah seperti itu Vi." Memetik daun bunga masih berjalan bersama.
"Kalau memaksakan kehendak mendapatkan cinta dari seseorang, apa itu salah?" lanjut Novi mengusap lembut lengannya.
"Ketika kamu mencintai, bukan berarti dia juga harus mencintai kamu."
"Berarti salah?"
"Yang salah bukan perasaan cinta itu, tapi mencintai dan mengharap balasan," jelas Ray.
"Ceritanya lagi dilema masalah cinta ini?" lanjut Ray kembali.
"Ih bukan gitu, kan sekedar bertanya."
"Oh begitu." Mengangguk angguk.
"Menurut kamu, dengan menutup hati untuk pria lain seperti ini, salah gak Ray?"
"Bersedih itu hal yang wajar, setiap dari mereka yang hidup pasti akan merasakan kehilangan. Baik itu di tinggal pergi karena perpisahan sementara ataupun pergi selama-lamanya." Menatap pandangan lurus.
"Kalau kamu terus menutup diri, lelaki manapun akan sulit mendekati kamu Vi. Emang kamu gak kepingin jadi seorang ibu?" lanjut Ray menoleh menatap Novi kembali menatap lurus.
"Ya mau. Dulunya aku selalu berfikir kalau lelaki lain gak bakal bisa memperlakukan ku mencintai aku tulus seperti Leon. Tapi sekarang aku..."
Tiba-tiba hujan deras turun menghentikan laju bicara Novi. Keduanya berlari menuju sebuah Gazebo yang ada di halaman belakang panti untuk berteduh.
Hujan yang cukup deras sedikit membasahi baju yang mereka pakai. Petir yang menyambar saling bersautan membuat tubuh Novi takut perlahan mendekati tubuh Ray.
"Aku mencintaimu, Ray," cetus Novi menggigil merasakan dingin malam melanjutkan ucapannya yang terpotong.
***
Sampai disini dulu kak ceritanya, ntar kita lanjut lagi. Makasih kak udah fav komen vote.
__ADS_1
Nb : Langitku dan langitmu tiada berbeda, terkadang kita tersesat di bawah garis matahari yang memudar (senja).