
"Ray, kenapa kau membungkuk seeprti itu? Lihat apa di belakangku?" ujar Fendi.
"Jangan berbalik arah, kalian tetap seperti itu. Aku baru melihat Aldo turun berlari masuk ke dalam rumah. Dia juga di kawal beberapa anggota seperti para mafia," jelas Ray memantau.
"Jangan kasih kendor," sahut Fii.
Beberapa menit kemudian Aldo kembali berjalan menuju mobil tersebut.
"Nah, Aldo sudah keluar dari rumahnya," lanjut Ray memberitahukan Fendi dan Fii.
Setelah melihat Aldo berbincang-bincang dari sedikit kejauhan, mereka masuk kedalam mobil berlalu pergi.
"Mereka jalan, buruan kita ikuti," sambung Ray berdiri bergegas menuju mobil.
"Tunggu Ray, bayar dulu ini, Aku juga bah yang kenak. Bu berapa ini semua?" ucap Fii membayar makanan.
"Semuanya Rp.47.000.00 Mas," jawab pemilik warung.
"Em, nanggung kasian gak di habisin ayamnya," sahut Fendi masih menyantap makanan.
"Ayo buruan dikit, malah asik makan," ketus Fii.
Fendi bangkit dengan potongan ayam di genggaman tangannya.
Plak.......
"Lama kali," lanjut Fii menampar tangan Fendi berlari menuju mobil.
"Kan jatuh ayam ku, memang lah gak ada akalmu, tinggal dikit lagi aja gak sabar," gerutu Fendi menyesali potongan ayam tersebut.
"Lama kali kalian, buruan, keburu ketinggalan jejak," sahut Ray memutar mobil memacu laju kendaraan ketika Fii dan Fendi sudah masuk.
"Jangan di buat jelek gitu wajahmu, makin jelek nanti," ujar Fii menjahili Fendi.
"Tinggal dikit lagi pun, gak sabar," gumam Fendi.
"Udah loh nanti beli lagi yang banyak," jelas Fii.
Ray fokus menatap lurus jalanan memacu mobil mengejar ketertinggalan tersebut.
"Ray, Ray, Ray," cetus Fendi sedikit ketakutan ketika mobil menyalip beberapa kendaraan dengan kencang.
"Yang mana mobil mereka?" sahut Fii.
"Nah itu tuh, yang beriringan kayak mobil culik waktu kau kecil dulu," balas Ray menunjukkan mobil tersebut.
"Agak jauh juga, untung aja satu arah, kalau banyak persimpangan apa gak kesasar kita, terus gak terkejar kita lagi pasti," pekik Fii.
"Tapi mereka mau kemana ya?" sahut Fendi.
"Coba buka google map, terus kau tanya disitu kemana Aldo pergi atau gak tanyakan peta tanyakan peta," balas Fii.
"Gitu aja marah kau Hanoman," gumam Fendi.
"Kau pun lucu, manalah tau mau kemana Aldo, kan gak pamit dia tadi pas mau pergi," ujar Fii.
"Udah jangan ribut terus, bantu aku pantau kendaraan mereka," sahut Ray masih memacu mobil mengikuti.
Disisi lain markas besar Robi, beberapa Anggota menghadap padanya.
__ADS_1
***
"Maaf Bos, operasi tambang minyak kita telah ditutup oleh para warga sekitar. Pembebasan lahan secara paksa tak berhasil," ujar salah seorang anggota.
"Gagal?"
"Maaf Bos."
"Hanya menghadapi beberapa ikan teri gak berhasil?" ujar Robi mengangguk-angguk memutar kursi tempatnya duduk.
"Kami sudah berusaha, Bos," sahut salah seorang kembali.
"Kalian tau berapa besar keuntungan yang bakal kita dapat dari proyek tersebut dan berapa kerugian yang akan kita dapat?"
Mendapati kekesalan serta kemarahan Robi, membuat para anggota tak berani menjawab.
"Kenapa diam? Kalian paham tidak!" Bentak Robi memukul keras meja.
"Kami sudah berusa..."
Door!! (Satu tembakan melumpuhkan anggota tersebut tepat di kepala).
"Jadikan pelajaran, Saya ingin kalian berhasil merebut kembali dan ingat, jangan kembali dengan jawaban gagal. Jika tetap gagal, nasib kalian akan sama seperti dia. Bereskan bangkai itu dan cepat pergi!"
"Baik Bos."
Mengangkat salah seorang anggota yang tewas ditangan Robi, segera pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Dasar sampah gak berguna." Menggoyangkan kaki sembari gigi saling bergesekan.
***
Kembali ke Ray yang masih mengejar mengikuti Aldo. Terus membuntuti perjalanan yang cukup jauh hingga malam hari.
"Entah lah Fendi, Aku juga gak tau," sahut Fii.
Tak lama setelahnya mobil Aldo berhenti tepat di depan gudang tua ketika sampai di sebuah pedesaan.
"Ngapain sampai ke desa begini?" ujar Fendi kembali memandang lurus.
Mengamati Aldo dan gerombolan tersebut turun berjalan masuk ke dalam gudang besar.
Ketika Ray ingin turun,
"Orangpun datang dan akan kembali klik," (Mengangkat panggilan telepon masuk dari Alisa).
"Iya Sayang."
"Mas kamu dimana? Jam segini kok belum pulang?"
"Iya ini lagi ada sedikit urusan, Aku baik-baik saja kok."
"Aku khawatir, Mas."
"Makasih telah mengkhawatirkan ku, mungkin aku pulang cukup larut sayang, ada hal yang harus aku kerjakan."
"Mesti harus sampai larut, Mas?"
"Kamu doain aja agar kesibukan ini cepat selesai dan kembali, Sayang."
__ADS_1
"Yasudah kalau begitu. Jangan lupa jaga kesehatan makan kamu."
"Kamu juga ya, selalu dampingi ibu."
"Iya Mas." Menutup panggilan Alisa bergegas turun mendekati lokasi tersebut.
"Ray, kau mau kemana?" ujar Fendi menarik lengan yang hendak keluar dari mobil.
"Ya ke sana, mau kemana lagi."
"Tapi Ray, firasat ku gak enak ini, kita pulang aja gimana?" lanjut Fendi melihat gudang tersebut.
"Kau takut sama orang itu?" sahut Fii menunjuk lokasi tersebut.
"Dari setelan mereka aja udah keliatan, pasti mereka di bekali senjata lengkap, Fii," ketus Fendi masih memegang tangan Ray.
"Ingat, kita bukan kayak Jackie chan ataupun Avengers yang bisa menang melawan segitu banyak orang," lanjut Fendi kembali meyakinkan.
"Kalau gak mendekat, kita gak bakal tau apa yang terjadi," balas Ray langsung keluar berjalan mengendap mendekati gudang tersebut.
"Ray, Ray, hey Ray," ucap Fendi.
"Udah ayo turun," sahut Fii mengikuti berjalan di belakang.
"Ah, pasrah lah aku mau mati matilah situ," gerutu Fendi keluar mengikuti.
Didepan gedung tua tersebut terlihat dua orang anggota berdiri menjaga sekitaran area. Gelap malam sedikit cahaya sinar lampu membuat mereka tak menyadari keberadaan Ray malam itu.
"Buruan ikut aku ke sana," bisik Ray ke Fendi juga Fii menunjuk semak belakang pohon besar yang tak begitu jauh dari gudang tua.
"Untuk sementara kita disini dulu amati area sekitar," lanjut Ray berbisik.
Berselang 5 menit, 4 orang menaiki dua sepeda motor tiba di lokasi berhenti di depan gudang tersebut. Tak lama setelahnya keempat pemuda tersebut bergegas masuk kedalam gudang tua.
"Makin penasaran aku, apa yang mereka lakukan di dalam sana," lirih Fendi nafas tipis.
Menoleh kanan kiri sesekali mendongak ke atas gudang, Ray tak juga berhasil menemukan celah agar bisa memperpendek jarak dengan Aldo yang berada di dalam. Hingga akhirnya melihat sinar cahaya lampu kecil dari sebuah lubang di area gelap belakang gudang tersebut.
"Kalian tunggu disini, jangan pergi kemanapun," jelas Ray.
Hanya mengangkat jempol memberi isyarat setuju. Segera berjalan mengendap hingga sampai di belakang gudang.
"Sabu?" pikir Ray ketika mengintip dan melihat Aldo mengeluarkan barang yang di balut plastik dari dalam koper.
"Ingat, kapanpun kalian butuh hubungi kami, karena kami akan selalu ada untuk kalian. Seberapa banyak pun kalian butuh barang ini, akan kami penuhi," ujar Aldo menunjukan barang tersebut.
"Satu lagi, ini bonus untuk kalian berempat jika berhasil menjual barang-barang tersebut," lanjut Aldo kembali menunjukkan segepok uang.
"Aman itu bos, tapi ada gak nih untuk kami coba pakai dulu, ya gak?" balas salah seorang kepada Aldo mengangguk kearah temannya.
"Sebentar." Aldo kembali mengeluarkan sesuatu dari dalam kopernya.
"Nah, itu gratis untuk kalian pakai." Melemparkan barang tersebut kearah pemuda desa.
"Makasih, Bos."
"Aku tunggu kabar bagus dari kalian," jelas Aldo senyum tipis.
"Kalau begitu kami permisi dulu bos," sambut pemuda desa beranjak pergi seraya Aldo menggerakkan tangan menyuruhnya pergi.
__ADS_1
***
Sampai disini dulu ya kak ceritanya, makasih buat yang sudah fav komen bagi tips apalah itu namanya, kita lanjut...