
Setelah usai mengantar Alisa, Fendi kembali menemui Fii sebelum akhirnya mereka bergerak cepat mencari pendonor untuk Ray.
Disisi lain , Suci sedang menyelesaikan tugas kuliah dalam ruangan kamar.
"Akhirnya kelar juga tugas kuliah yang melelahkan. Libur panjang nanti enaknya jalan kemana ya?"
"Oh iya, sudah lama juga gak ngasih kabar ke mas Ray." Mengambil ponsel miliknya.
"Karena sibuk ngurusin kuliah sampai kelupaan kabar dari sang pencuri hatiku. Mas Ray sedang apa ya? Kalau aku ajak liburan kira-kira mau gak ya? Emm jadi bingung," ujarnya melamunkan hal indah menghubungi Ray.
Tutttt....tut....tut....
"Loh kok gak bisa di hubungin, angkat dong mas."
Tuuut....tutt...tut....
"Em, yaudah deh mungkin lagi sibuk kerja, lelaki idaman emang seperti itu, kerja terus gak ada waktu luangnya," lanjut Suci berbaring menatap langit-langit kamar.
"Aku bekerja keras karena aku sadar Suci, aku gak punya tuyul," sambungnya menirukan Ray.
"Ahahahaa."
Keesokan harinya Suci berangkat ke kampus untuk menyerahkan berkas semester akhir miliknya. Setelah selesai menyerahkan tugas tersebut, ia segera pergi menemui Ray. Setibanya di kantor Ray, ia menunggu di rumah makan tepat depan kantor tersebut. Terus menunggu hingga jam kerja kantor habis, Suci tak kunjung menemukan Ray.
"Dimana ya? Kok yang keluar pintu gerbang dari tadi, mas Ray gak ada keliatan."
Suasana yang semakin sepi, tiba-tiba seseorang security menghampirinya.
"Maaf mbak ada yang bisa di bantu? Mbaknya kelihatan bingung begitu, lagi nungguin atau cari siapa?"
"Ini Pak lagi nungguin mas Ray. Katanya bekerja di sini, tapi kok dari tadi gak ada keliatan ya Pak."
Menoleh ke kanan kiri, sesekali ia berjinjit melihat ke arah kejauhan dalam gedung.
"Ray? Oh sih Ray. Pacarnya ya, mbak?"
__ADS_1
"Cuma temen kok Pak, bukan siapa-siapanya."
"Mbak belum dapet kabar emangnya?"
"Maksudnya kabar gimana pak?"
Suci mulai sedikit khawatir sebab ketika membicarakan kabar, raut wajah security tersebut berubah lesuh seketika.
"Pak, halo pak," lanjut Suci mengabaikan tangan melihat security melamun menatap kosong.
"Oh maaf mbak."
"Kok malah melamun bapaknya?"
"Iya susah mau jelasinnya."
"Bilang aja pak, justru saya makin khawatir kalau bapaknya bersikap panik seperti itu."
"2 Hari yang lalu, Ray mengalami kecelakaan yang cukup parah, jadi korban tabrak mobil ugal-ugalan gitu mbak. Sebenernya kalau bukan karena nyelametin seseorang wanita, dia pasti gak bakal jadi korban kecelakaan itu mbak. Kronologinya saya gak begitu tau tapi begitu kata saksi setempat."
"Ya Allah, terus sekarang dimana pak mas Ray di rawat? Saya minta tolong pak kasih tau saya alamatnya," balas Suci cemas ingin segera melihat keadaan Ray.
"Ya Allah mas, semoga kamu gak kenapa-kenapa," batin Suci menggigit jari berdiri gelisah.
"Ini alamat rumah sakitnya mbak, maaf gak bisa antarkan mbaknya cuma bisa kasih alamat ini." Memberikan alamat tersebut.
"Gak apa-apa pak, ini sudah cukup, makasih banyak ya Pak."
Suci bergegas pergi menuju alamat tersebut, rasa cemas di hatinya tak kunjung redah memikirkan perkataan tentang kondisi parah yang Ray alami.
"Pantesan kamu gak bisa di hubungin mas, Ya Allah semoga kamu baik-baik saja mas," pintanya dalam hati.
Di pangkalan ojek.
"Pak tau alamat ini?" Menunjukan sebuah alamat.
__ADS_1
"Oh tau neng, tau kalau ini mah."
"Ya sudah buruan ayuk."
"Sabar neng sabar, ini pakai dulu helmnya untuk keselamatan diri."
"Ayok dong Pak, kondisi darurat ini pak."
"Siap, siap ayok berangkat."
Bergerak menuju rumah sakit tempat Ray di rawat.
Hanya menempuh jarak 45 menit sampai di lokasi tersebut.
"Makasih ya Pak, ini uangnya," ucap Suci langsung turun melepaskan helm bergerak mempercepat langkah.
"Neng neng, tunggu. Kembaliannya ini mah kebanyakan neng."
"Ambil buat bapak saja," teriak dari kejauhan.
"Ah eh lah, rejeki anak sholeh mah kagak kemana," ujar sang bapak pergi meninggalkan lokasi.
Ketika berada di dalam gedung rumah sakit, segera menghampiri meja kasir, "Permisi sus, mau tanya, pasien atas nama Ray al karim bener ada di rawat di sini?"
"Tunggu sebentar ya mbak." Mencari daftar nama tersebut.
"Benar mbak, untuk pasien tersebut di rawat di rumah sakit ini, saat ini pasien sedang menjalani operasi lanjutannya."
Pandangan Suci mulai buyar tertutupi genangan air mata mendengar kabar tersebut "Di kamar berapa pasien di rawat sus?"
"Saat ini pasien berada di kamar 11 lantai 9 mbak." Menunjuk ke arah kiri.
Melewati lantai demi lantai dengan sebuah lift, pikiran Suci terus terbayang-bayang hal buruk tentang keadaan Ray.
Setelah berhasil sampai pintu kamar tersebut, "Inikan ruang darurat."
__ADS_1
***
Sampai disini dulu kak, jangan lupa angkat jemuran karena hujan segera turun. Makasih...