Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 124


__ADS_3

"Jangan bercanda, kami tidak melakukan apapun!"


"Tapi pusat ingin mengklaim keberhasilan itu atas nama kalian. Mereka juga akan mempromosikan kalian jabatan baru," seru Bagas perwakilan anggota pusat yang bertugas.


"Jangan merendahkan kami, yang melumpuhkan gerombolan kriminal tersebut adalah organisasi terlarang lainnya!" kecam Saddam.


"Heh, harga diri tinggi tak membuahkan hasil apapun," sindir Bagas.


"Tindakan kalian itu hanya membuat kami semakin tak berguna!" bentak Saddam semakin terbawa emosi.


"Tapi ini langsung perintah dari pemimpin pusat, terima saja!"


"Mana mungkin aku bisa menerima penghargaan itu. Menerima perhargaan tersebut hanya akan membuat wakilku menyesal, belum lagi rasa kecewa atas kegagalannya semakin meninggi," pikir Saddam melirik Risa yang menunduk dengan tubuh gemetar.


Kegagalan Risa mengatasi konflik yang terjadi di suatu desa membuatnya frustasi terus menyendiri meratapi hal tersebut. Dihadapkan pada dua pilihan yang cukup berat, memaksanya harus memilih satu pilihan yang tepat.


Bukan tanpa alasan membiarkan gerombolan organisasi terlarang pergi begitu saja.


Risa dan anggota lainnya yang tak mampu membendung perlawanan para kriminal yang mencoba menguasai desa tersebut, membiarkan harga diri seorang penegak keadilan di dalam tubuhnya terinjak karena bantuan dari organisasi terlarang menumpas para komplotan kriminal.


Meski sempat melakukan baku tembak dengan para organisasi tersebut, ia memutuskan membiarkan mereka melarikan diri.


Sebab baginya, nyawa para penduduk desa yang berhasil di selamatkan organisasi tersebut lebih penting di bandingkan ego dalam dirinya.


(Flashback sebelumnya)


Suara-suara tembakan terdengar dari cukup kejauhan. Konflik semakin memanas antara penduduk desa, organisasi terlarang dan para komplotan kriminal yang ingin merebut wilayah tersebut telah berada di atas puncaknya.


"Tunggu komandan, kamu ingin pergi kemana?" ujae Risa menghentikan langkah Saddam.


"Aku ada sedikit urusan di tempat lain, kamu selesaikan masalah yang terjadi di sini."


"Komandan adalah penanggung jawab disini, jika anda pergi, lantas siapa yang memegang kendali?"


"Ini adalah cara terbaik memberimu pelajaran yang baru, Risa. Dengan begini, kau akan semakin kuat," batin Saddam membelakanginya.


"Urusanku di sana jauh lebih besar dari ini. Jika uang berhasil membeli semua harga diri penegak keadilan, apa jadinya kehidupan ini?"

__ADS_1


"Tapi, Komandan..."


"Aku percaya padamu. Pimpin dan lakukanlah apapun yang ingin kau lakukan. Tapi ingat, tindakan serta perintah darimu yang akan kau lakukan nantinya kepada mereka, sesuaikan dengan isi dalam hatimu."


"Siap, Komandan! Akan ku pastikan keberhasilan ini dengan mempertaruhkan seluruh jiwa dan raga," sahut Risa penuh semangat memberi hormat.


Saddam pergi meninggalkan Risa, menaruh harapan padanya memerintah beberapa pasukan tuk mengatasi konflik yang terjadi.


(Flashback off)


"Kenapa wajahmu terlihat kesal seperti itu? Lebih baik kamu terima saja dan turutin apa yang mereka katakan," cetus Abdur berjalan mendekati membawa segelas minuman.


"Aku tidak menerima perintah dari siapapun, kejujuran dan keadilan haruslah seimbang sebagaimana semestinya. Kau tau sendiri situasi terakhir saat kita melakukan pertemuan dengan para petinggi bukan? Atas nama keadilan, Aku menolaknya!"


"Dunia memang sudah seharusnya seperti itu, bukan hal baru jika para petinggi kita sebagai penegak hukum bermain kotor dengan para komplotan mafia," seru Abdur.


"Itu sama saja seperti kita harus berjalan di bawah perintah mafia tersebut. Sejak kapan keadilan bisa di beli dengan uang? Cih, brengsek!" pekik Saddam.


"Halo, halo."


(Mengabaikan suara telepon tersebut)


"Persetan dengan semuanya, Aku hanya berjalan sesuai dengan apa yang ku mau," jelas Saddam menatap Abdur.


"Jika bukan karena sikap keras kepalamu sebagai penegak keadilan sejati seperti ini, mungkin aku takkan bersama denganmu, Saddam," ujar Abdur nyengir meletakkan minuman di meja.


"Berhentilah terus memuji. Menjalankan tugas serta kewajiban seperti ini tidak memerlukan pujian," balas Saddam menempelkan kembali telepon di telinga.


"Halo, halo," ucap petugas pusat.


"Ha, Saddam disini. Dengar, jika mereka tetap bersikeras ingin seperti itu, sampaikan kata salam ini untuk mereka. BANGSAT!" Menutup panggilan pusat tersebut.


Risa yang mendengar perlawanan tersebut, mulai menunjukkan kembali senyuman harunya.


"Hoi, hoi, peryataan barusan itu akan menimbulkan masalah yang baru," sindir Abdur.


"Kalau kau kemari hanya ingin menasehati, pergilah, Aku sibuk," singkat Saddam.

__ADS_1


"Diantara komandan lainnya, sikap arogan dalam dirimu tetap yang terbaik," pekik Abdur.


"Ha..a."


"Kalau begitu lanjutkan kesibukan itu. Jika kelak terjadi sesuatu padamu, jangan sungkan memberitahuku. Kita akan selalu berada di garis yang sama," lanjut Abdur berdiri kemudian berjalan meninggalkannya bersama Risa.


"Ko-komandan," lirih Risa.


"Berhenti menunjukan tangisan di hadapanku. Bukan seperti itu yang selama ini aku ajarkan padamu."


"Kegagalan ini semua terjadi karena kelemahanku, komandan!" pekik Risa menekuk wajah mengepal tangan.


"Sampai kapan kau ingin menghakimi dirimu sendiri? Bukankah itu tindakan dari hatimu yang telah membiarkan mereka pergi?" lanjut Saddam kembali mengisi amunisi pistol.


"Mereka ada di hadapanku, tapi aku tak mampu berbuat apapun. Sebuah penghinaan bagiku karena telah membiarkan mereka pergi. Tapi, mereka telah berhasil menumpas kejahatan yang selama ini terjadi..."


"Luapkan segala emosimu," batin Saddam berjalan mendekati Risa yang tak henti berbicara.


"Andai aku bisa lebih kuat dan tegas, Aku pasti akan..."


Brek!! (Memeluk tubuh Risa)


"Jika kau lemah, berlatihlah. Menangis dan menyesali yang terjadi hanya akan membuatmu semakin tertinggal. Meski melepaskan mereka adalah perbuatan yang salah, tapi aku bangga melihatmu mengambil sikap melalui hati," ujar Saddam menenangkan amarah dalam diri Risa.


"Ko-komandan?" Risa melepaskan dekapan menatap wajah penuh haru.


"Kita akan menangkap mereka secepatnya. Atas nama keadilan, mereka tidak akan pernah terbang bebas."


"Huuuaaaaa.......Huuuaaaaa!" Teriakan Risa kembali mendekap Saddam cukup kuat.


"Kau gadis yang tangguh, Risa. Kebaikan dalam hati saat ini membuatmu bimbang harus bertindak seperti apa. Suatu saat kau akan menjadi pemimpin yang hebat di antara pemimpin yang pernah ada. Hal tersebut akan terjadi ketika kau mampu mengendalikan hatimu," pikir Saddam tersenyum.


"Kalau begitu, sebaiknya kita segera bergegas berangkat untuk mencari dimana letak para organisasi terlarang berada. Aku pastikan kali ini mereka takkan bisa lolos dan kita pasti berhasil meringkus komplotan orgarnisasi tersebut," lanjut Saddam kembali memberi perintah melepas lembut pelukan Risa.


Mendengar perintah Saddam, perlahan Risa menghapus linangan air mata. Meski tubuh sedikit bergetar, mencoba bersikap tegas kembali mengingat fungsi sebagai penegak hukum dalan negri. "SIAP, KOMANDAN!"


***

__ADS_1


Sampai disini dulu kak, jangan lupa sub komen apalah itu namanya bila suka alur ini, kepoin juga ke karya baru otor yak, sawerannya masih sama dapet sirup pas lebaran. Berhubung cuaca agak mendung sikit, enaknya ngemil nasi rendang nih. Kita lanjut....


Nb: Puisi mogok dulu yak, otak otor lagi bekarat kenak popmie.


__ADS_2