
Lisa berjalan menghampiri Ray yang saat itu berdiam diri menatapnya. Kecemasan dalam pikiran itu terus membuat Ray sedikit panik, detak jantung mulai berdetak tak beraturan.
"A-A-A-Aku sedang mencari udara segar di sekitar sini sayang. Tadinya mau ngasih kabar ke kamu, tapi lupa," jawabnya memegang kedua tangan Lisa.
"Gak mungkin, kamu pasti berbohong, mana mungkin malam orang berpacaran seperti ini, kamu yang tadinya beralasan ingin istirahat, tapi nyatanya apa? Kamu diluar mengenakan pakaian seperti ini terus berada di depan hotel ini! Pasti kamu menemui seseorang kan Mas? Sudahlah, Aku capek. Kamu teruskan apa yang membuatmu senang Mas, jangan perdulikan Aku," tegasnya melepaskan kedua tangan Ray berlari pergi meninggalkannya sendiri.
Ray tak mengejar Lisa yang pergi menjauh darinya karena ia tak ingin keadaan menjadi semakin rumit.
Saat melihat bola matan Alisa, Ray yakin dia terlihat kacau, gelisah dan sedih. Semua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu.
Jika Ray mengejarnya saat itu, ia juga bingung apa yang harus ia katakan. Tidak mungkin menceritakan semua yang terjadi antara ia dan Yuli.
"Ahhggggrrrh..." (Teriak Ray sembari kedua tangan memegang erat kepala).
Kemudian Ray bergegas pulang dan membatalkan mencari tempat untuk menenangkan diri sebab semua kacau berantakan. Sesampainya di rumah langsung menuju kamar, menutup pintu dan mencoba menghubungi Alisa.
Berkali-kali menelponnya, namun tak sekali pun panggilan itu terjawab. Bahkan chat pesan juga tak Lisa balas.
Itu adalah kali pertama Ray melihat Alisa marah begitu hebatnya. Ray pantas mendapatkan perlakuan seperti itu, sebab ia telah berbohong kepada Alisa.
Mungkin apa yang telah Ray lakukan itu takkan pernah bisa di maafkan jika Alisa mengetahui kebenarannya.
Keesokan harinya, Ray berangkat bekerja seperti biasa. Setelah sampai di tempat kerja, Ray yang berselisih dengan Alisa di lorong kantor melihat matanya lebam, seperti semalam penuh mengeluarkan air mata.
Mencoba menghampiri bermaksud untuk meminta maaf dan menjelaskan bahwa malam itu Ray gak ada berbuat apa-apa. Namun sikap Alisa terlihat sedikit berbeda, semakin dingin dan terlihat mengabaikan keberadaan Ray.
"Ini di lingkungan kerja Mas, jangan bawa masalah pribadi di dalam kantor," ujar Alisa memasuki ruangan pribadi.
Mendapati sikap dinginnya kala itu, memaksa Ray untuk berusaha berfikir tenang dan mengangap semuanya masih baik-baik saja. Kemudian berlalu pergi kembali menuju ruang kerja miliknya.
Ketika jam istirahat siang tiba, Ray kembali mencoba mengajak Alisa untuk makan siang bersama. Namun sikap Alisa masih tetap dingin cuek.
"Aku masih kenyang Mas, maaf," ucapnya sambil berjalan ke ruang istirahat kembali mengabaikan.
Ketika Ray melihat Alisa dari kejauhan ingin memasuki ruangan, tanpa sadar terlihat selembar kertas lipatan yang jatuh dari saku belakang Alisa.
Ray segera berjalan menghampiri selembar kertas itu, mengambilnya, lalu pergi menjauhi ruangan.
"Sebuah puisi?" batin Ray penuh tanya.
Ia pergi dari kantor ke warung sebelah untuk memesan kopi seraya melihat puisi apa yang Alisa buat.
***
"Di belakang ku."
~Ketika hatimu tak sanggup mencintai.
__ADS_1
~Engkau perlahan pergi membunuh mimpi.
~Semua yang telah terjadi, sedikit pun tak pernah kau coba tuk mengerti.
~Langkah yang kini terhenti tak mampu mengikuti arahmu, berdiam diri menatap sepi.
~Kini, tak seorang pun yang mampu membenci atau mencintai dirimu sepenuh hati.
~Dengar jiwa ku.
~Apakah senyuman itu masih sanggup untuk aku tatap?
~Ragamu terlihat semakin jauh tak bisa lagi menghangatkan rindu dariku.
~Haruskah suaraku ini berhenti memanggil nama mu, kasih? kini Aku sedikit mengerti untuk siapa ku bernyanyi.
~Mengerti lah, jangan buat diriku pergi meninggalkan mimpi.
~Andai itu terjadi di kemudian hari, ketika langkahmu berbalik mencari sebuah hati, cintaku takkan pernah kau temui kembali.
~Dengar tangis ku.
~Haruskah kasihku tak menyapa pagimu lagi?
~Inginkah tawaku tak pernah merindumu kembali?
~Dan jika Aku tau kau menghianati kisah cinta ini,
akan ku anggap cinta ini hanya sebatas imajinasi.
***
Setelah membaca puisi tersebut, seketika dada Ray terasa sesak.
"Sebesar dan setulus ini kasih sayang seorang wanita yang benar-benar mencintai seorang lelaki? Lantas kenapa Aku masih ragu dengan semuanya? Apa yang telah ku perbuat pada Alisa?" pikir Ray dalam hati tak berhenti menatap selembar puisi.
Sesaat setelahnya Ray kembali menghampiri Alisa. Mencari di setiap ruangan dan tanpa kata langsung memeluk Alisa ketika Alisa keluar dari ruangan sang Ayah.
"Maafin Aku, Aku gak berniat sedikit pun menyakitimu Lisa, maaf," jelas Ray berbisik di telinga sembari kedua tangan memeluk pinggul Alisa.
"Malam itu pikiran ini sangat kacau karena ada sedikit masalah dirumah. Aku keluar bermaksud menemui teman yang kebetulan sedang berada di hotel tersebut hanya sekedar untuk minta pendapatnya. Itu saja gak lebih dan gak ada hal apapun. Aku akui salah karena sebelumnya gak memeberi tau kamu seperti biasa ketika pergi keluar," sambung Ray memegang kedua sisi pundak Alisa menatapnya kemudian memeluk kembali.
Mendengar ungkapan itu, Alisa langsung mendekap tubuh Ray sangat erat, mengisak tangis yang ia tahan seharian di kantor.
"Kamu bohong pasti bohong Mas," lirih Alisa.
"Aku gak memaksa kamu memepercayaiku Alisa, namun apa yang Aku katakan, itu yang terjadi. Selebihnya Aku serahin ke kamu untuk percaya atau gak," lanjut Ray.
__ADS_1
Rekan-rekan kerja yang lain hanya terdiam melihat hal tersebut. Berpelukan dalam kantor saat itu terlihat seperti kisah mengharukan suatu hubungan.
"Aku percaya kamu Mas. Tolong jaga kepercayaan ku ini dan jangan pernah kamu berbohong Mas. Aku hanya ingin kamu terus jujur padaku apapun yang terjadi nantinya," lirih Alisa tersendu-sendu menangis rintih.
"Iya maafin Aku jika terlihat salah," balas Ray mengecup kening Alisa.
Beberapa saat kemudian, melepas dekapan Alisa mengusap linangan air mata di pipinya, "Jangan menangis terus, kamu terlalu indah untuk bersedih."
"Wanita menangis karena hatinya begitu rapuh Mas," ujarnya terbata-bata.
"Iya, tapi kan.-
"Tapi apa? Mas mau bikin Aku nangis lagi, Iya?"
"Ya gak gitu juga konsepya. Oke sebagai permintaan maaf, bagiamana kalau sore nanti kita makan bakso beranak, biar nurun ke kita agar punya anak juga?" ucap Ray tersenyum.
"Nikahin dulu Mas, kamu ini, mau enak aja, hu, "cibir Alisa manyun.
"Iya iya, yasudah sini peluk lagi." Merentangkan kedua tangan di hadapan Alisa.
"Udah ah males, ntar kamu malah semakin keenakan."
"Yasudah kalau gak mau, biarin aja ntar wanita lain yang meluk." Kembali menurunkan kedua tangan.
"Tuh kan, ah!"
"Canda sayang, canda, sensitif bener sih, lagi kebanjiran apa gimana?"
"Iya, berasa mau makan terus banyak-banyak biar kuat terus kalau kamu macem-macem langsung Aku timpuk," gerutu Alisa mencubit lengan Ray.
"Kamu tuh, marah-marah terus, ingat sayang, bidadari gak pernah marah." Mencubit pipi Alisa.
"Itu kan bidadari yang bersayap, kalau Aku kan gak punya sayap Mas, wajar dong kalau marah," pekik Alisa.
"Siapa bilang kamu gak punya sayap? Buktinya kemarin tuh pernah waktu jalan, terus mampir ke market kamu titip ke Aku buat beli yang ada sayapnya." Tersenyum memicingkan mata.
"Itu pembalut Mas, bukan sayap yang itu!"
"Udah jangan marah terus, gak capek apa?"
"Gak tau," lirih Alisa memeluk Ray kembali menghilangkan keresahan dalam hati.
***
Kritik dan sarannya masih terbuka untuk kolom komentar kakak, jangan lupa Fav komen apalah itu semuanya di terima agar author satu ini berfikir lebih baik dalam berkarya.
Makasih kak, lanjut...
__ADS_1