Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 7


__ADS_3

Setelah mendapatkan nomor telepon Suci, keduanya rutin berkomunikasi hampir seminggu penuh lamanya. Hari-hari yang Ray lalui terlihat sedikit rumit meski ia senang menjalaninya.


Begitu nyaman dan nyambung ketika Ray berbicara kepadanya, meski saat itu Ray baru pertama kali berbicara dengan Suci melalui ponsel.


Bercanda dan tertawa bersama hingga membuat Ray lupa mengangkat jemuran yang saat itu sedang turun hujan.


Meski hanya berbicara via telepon, itu sudah cukup untuk mengheningkan segala penat yang ada di dalam pikirannya.


"Eh, ada yang ingin aku tanya ni Mas, boleh gak kalau Aku menanyakan sesuatu? Mungkin pertanyaan ku ini sedikit lancang Mas," ucap Suci dengan pangilan baru yang terkesan lebih lembut dan sopan.


"Tanya aja ci, bulan ini Aku lagi promo gratis khusus pertanyaan apapun darimu, semuanya akan ku jawab sebisa mungkin," Jawab Ray sedikit merayu.


"Kamu masih sendiri atau sudah memiliki kekasih Mas?"


"Gubrakkk."


Suara kucing mengejar tikus di langit atap saat itu seakan sejalan dengan buntu pikiran Ray untuk menjawab pertanyaan Suci. Terdiam sejenak karena tak menyangka Suci akan menanyakan hal seperti itu padanya.


Tanpa pikir panjang Ray menjawab tanpa mengakui ia telah memiliki Alisa, "Saat ini Aku masih solo karir, sedang tidak berduet dengan siapa pun."


"Bisa saja kamu ini Mas jawabannya, kebanyakan milih itu. Makanya jadi cowok jangan suka pilih-pilih, inget umur kamu Mas, mau kapan lagi memiliki wanita dan terus membangun rumah tangga," balas Suci tertawa kecil.


Sekali lagi Ray terperangkap dalam ucapannya sendiri. Ray hanya berfikir jika ia memberitahukan yang sebenarnya, Suci akan pergi meninggalkannya jika mengetahui Ray telah memiliki Alisa. Hal itu membuat Ray tak berani mengungkapkan sebuah kejujuran. Begitu pikirnya dengan singkat tanpa merasa bersalah.


"Apa yang terjadi padaku dengan Suci saat ini sama halnya ketika Aku bersama Juwita. Mereka hampir tak memiliki celah sifat wanita yang tak sempurna," ujar Ray memandangi sebuah kontak kedua wanita tersebut.


***


Juwita Anisa 5 tahun lebih muda darinya. Wujud sempurna dari karakter kesayangan di salah satu anime jepang.


Kecantikan wajahnya sudah teruji secara ilmiah.


Tidak di ragukan lagi bahwa, bukan hanya Ray saja lelaki yang terpikat olehnya. Ray hanya salah satu di antara banyak lelaki yang menginginkan Juwita.

__ADS_1


Tidak ingin berpacaran adalah alasan tersendiri dalam hidup Juwita, namun kedekatan keduanya sendiri sudah lebih dari sekedar pacaran.


Awal mereka bertemu hanya karena sebuah kebetulan saja. Saat itu ban sepeda motor yang Wita kendarai mengalami bocor di pertengahan jalan. Ajaibnya, Ray lah manusia pertama yang menolong ketika melihat Wita bingung berdiri di pingir jalan melihat sisi kanan kiri sepi jalanan.


Kemudian setelah itu keduanya bertemu kembali di pameran pasar malam ketika hendak menaiki baling-baling malam. Hanya saling menatap dan sesekali berbalas senyum.


Berbeda perkenalan dengan Suci yang, ketika usai menaiki baling-baling, Ray bergegas turun perlahan mendekati Wita,.


"Boleh Aku tau nomor telepon kamu?"


Kata itu keluar dari mulut Ray dengan mudahnya tanpa berfikir apa jawaban Juwita.


Anehnya, kisah Ray dengan Wita seperti di drama film-film bioskop yang sudah di rencanakan dan pasti akan berhasil memiliki.


"Em iya," jawab Wita singkat langsung mengambil ponsel di dalam tas mungil dan memberitahukan nomor ponsel miliknya.


Melewati hari-hari meski hanya berbalas perhatian kecil melalui ponsel genggam, Ray cukup tau jika Juwita telah menyukai dirinya.


***


"Enggak kok, Aku masih di sini belum tidur, tadi hanya melamun sedikit saja."


"Kok bisa melamun, kan kita sedang ngobrol, emangnya kamu ngelamuni apa Mas?" tanya Suci kembali.


"Membayangkan kenangan kita dulu pas masih di sekolah dasar. Lucu aja saat mengingatnya, Aku selalu terhibur sendiri," jawab Ray beralasan.


"Kamu masih memikirkan perjanjian kita di sekolah dulu, Mas?"


"Sedikit sih, seru aja masih bisa mengingat senyuman lugu milikmu," ujar Ray merayu kembali.


Bergerak mengambil rokok, lalu menghidupkannya, "Oh iya, bagaimana dengan dirimu Suci, apa sudah ada yang memiliki?"


"Dari pertama kali Aku mendengar kamu berjanji itu Mas, gak tau kenapa Aku gak tertarik dengan lelaki lain. Banyak sih lelaki yang coba merayu dan terus menggodaku, tapi tetap saja mereka gak bisa membuatku lupa tentang kamu Mas," jawabnya bernada tipis.

__ADS_1


"Minggu depan kamu ada acara gak?" tanya Ray kembali terduduk berniat ingin mengajak kencan.


"Kebetulan Aku gak ada acara sih Mas, emangnya kenapa tuh?"


"Pingin jalan-jalan aja, oh iya ntar kabarin kalau kamu mau ya," ucap Ray singkat.


"Em, ntar Aku kabarin kamu deh Mas kepastiannya," jawab Suci seperti ada yang ia sembunyikan.


Obrolan itu pun berakhir dengan sendirinya.


Seketika Ray langsung bersiap-siap merapikan diri karena ia baru ingat bahwa kantor di mana ia bekerja sedang mengadakan syukuran.


Di atas sepeda motor, Ray beryanyi riang sendiri meski memakai penutup kepala mengingat ketiga wanita itu hadir dengan memberi warna sendiri untuknya.


Terlepas dari apa yang terjadi, mereka belum mengetahui satu sama lain dan seperti apa jadinya kalau mereka saling mengetahui.


Jika itu masuk dalam kategori playboy, Ray merasa bukan seperti itu. Karena semua itu terjadi begitu saja, seperti daun kering yang jatuh dari ranting pohon yang tak pernah bisa menyalahkan hembusan angin yang membuatnya terjatuh.


Setibanya di lokasi kerja langsung berkumpul dan makan bersama dengan pekerja lainnya. Alisa yang berada di samping Ray terus memegang erat tangannya. Tindakan itu mewakili perasaan senang karena pencapaian kantor milik ayah Alisa terus meningkat. Pencapaian itu tak lain juga karena campur tangan kerja keras Alisa.


"Dreettt" (Getar notif pesan ponsel Ray).


Alisa menoleh kearahnya, menaikan satu alis kirinya. Meski tak berbicara, mungkin seperti memberi isyarat.


"Dari siapa, kok tumben Mas?"


Mengabaikan pesan itu, Ray berpura tak mengetahui. Sekejap langsung mengalihkan pandangan tak tentu arah.


***


Tinggalkan saran dan kritik di kolom komentar ya teman-teman, agar author yang satu ini lebih baik dalam membuat alur berikut nya. jangan lupa Fav atau apalah itu semuanya namanya. Nantikan terus bab selanjut nya ya teman-teman.


Terima kasih, lanjut...,

__ADS_1


__ADS_2