
"Siapa tadi?" cetus Putra bergegas keluar mobil memastikan suara tersebut.
"To-tolong."
"Pak Rusli?" lanjut Putra mempercepat langkah kemudian menopang tubuh korban.
"Wakil kapten," sahut Ricko dan Jhon mengikuti Putra.
"Tolong selamatkan kami, Nak," lirih Rusli bersimbah darah.
"Jhon, coba bantu istri pak Rusli," jelas Putra menunjuk ke tubuh istri Rusli yang tak sadarkan diri.
"Siap," sahut keduanya segera menghampiri menolong korban.
"Apa yang terjadi, Pak?" tanya Putra datar.
"Ini semua, uhuk, perbuatan, uhuk, makelar tanah, perampok harta warga desa, uhuk," lirih Rusli terus mengeluarkan darah dari lubang hidup serta mulut.
"Desa kita, uhuk..."
"Pak, bertahanlah," sambung Putra.
"Desa kita sedang dalam bahaya!" jelasnya seketika mata tak berkedip dan nafas langsung terhenti.
"Inalillahi," ucap Putra menutup lembut mata beliau.
"Siapa yang tega membunuh dengan sadis seperti ini? Bajingan!" pekik Eka jongkok memegang luka akibat tembakan peluru di tubuh korban.
"Jhon, gimana?" Menanyakan kondisi istri korban.
"Sudah tidak tertolong, Wakil kapten," balas Jhon menggendong jasad istri Rusli kemudian meletakkan di sebelah jasad suami.
"Bagaimana ini, apa kita hantar jasad beliau kembali ke desa?" sahut Lucy.
"Dengan situasi seperti ini, terlalu beresiko," balas Putra.
"Sebaiknya kita makamkan beliau setelah kita urus semuanya di belakang markas kita," jelas Eka kembali berdiri.
"Kap-kap-kapten."
"Kalian jangan takut, hantu tidak akan membunuh kalian, berbeda dengan lapar," jelas Eka melirik Jhon dan Ricko.
"Aku setuju, setelah kita selesai mengurus jenazah ini, selanjutnya mencari tau apa yang sebenarnya telah terjadi," singkat Putra.
"Yasudah kalau begitu segera angkat masuk kedalam mobil," lanjut Eka.
"Sepeda motor ini gimana, kapten?" ujar Ricko melihat sepeda motor korban sedikit berantakan.
"Bawa berdua dengan Jhon ke markas setelah kalian selesai berbelanja kebutuhan makanan."
"Siap laksanakan."
Ketika selesai mengurus jenazah korban perbuatan keji tersebut.
"Akhirnya selesai juga, tapi salah gak ya kalau hanya kita yang mengurus jenazah sampai ke pemakaman, kapten?" cetus Ricko melirik Eka.
"Selama caranya pas dan sesuai anjuran agama, mudah-mudahan korban di tempatkan di tempat yang paling baik," singkat Eka.
"Kau tanya lagi? Makanya jangan bodoh, berbeda dengan kau, kapten itu 6 tahun menuntut ilmu agama di pesantren," sahut Jhon.
"Tapi kenapa kapten jadi seperti..."
Jhon menutup lembut bibir Ricko dengan jari telunjuknya, menghentikan laju bicara Jhon.
"Jangan mengaitkan masa lalu, tau sendiri kalau kapten sudah marah, habis kita seminggu ngepel, nyuci piring terus bersihkan seluruh tempat tidur," bisik Jhon.
"Jam berapa kita bergegas?" tanya Eka melirik Putra.
"Mungkin tepat pukul 12 malam kita lakukan."
"Terus rencana kita merampok rumah Sucipto bagaimana? Kita batalkan?" sahut Lucy.
__ADS_1
"Bagaimana dengan denah jalur keluar masuk rumah tersebut? Sudah berhasil kau selesaikan kah?" tanya Eka berbalik memandang Lucy.
BREKK (Lucy meletakkan denah lokasi rumah diatas meja).
"Setelah mengamati kurang dari 4 hari, ini hasilnya. Kita hanya bisa masuk melalui akses pintu samping yang hanya mengandalkan satu kamera pengawas. Terlalu beresiko jika melalui jalur depan yang cukup ketat penjagaannya, belum lagi di sana terdapat sepasang kamera pengawas. Rutinitas pemilik rumah berakhir ketika pukul 10 malam, tidak ada aktivitas apapun setelah jam tersebut," jelas Lucy.
"Sementara simpan dulu data yang telah kau siapkan, kita beralih untuk menyelesaikan masalah desa yang terjadi saat ini," ujar Eka.
"Ada yang keberatan dengan keputusan Eka?" sahut Putra.
"Jika kapten telah memutuskan seperti itu, semangat." Ricko dan Jhon yang bersantai langsung berdiri.
"Baiklah," singkat Lucy menggulung denah miliknya.
"Lebih baik sekarang kita bersiap diri sambil menunggu jam itu tiba," jelas Eka menunjuk arah jam dinding.
Menunggu hingga pukul 12 malam hanya untuk mengintai keadaan desa hingga akhirnya tiba.
"Semuanya sudah selesai? Bawa apapun yang kalian perlukan untuk antisipasi kemungkinan terburuk yang terjadi," ujar Eka.
"SIAP!!"
Bergegas menuju desa, mencari informasi secara sembunyi demi merahasiakan organisasi terlarang yang telah mereka bangun. Bersembunyi di balik semak perbukitan mengawasi setiap jalur keluar masuk desa.
"Pakai ini," ucap Eka memberikan masing-masing teropong ketika sampai di tempat tujuan.
"Semuanya terlihat tenang dan baik-baik saja, kapten," ujar Ricko mengamati beberapa saat situasi.
"Suasana keheningan ini, justru terlihat cukup aneh," jelas Eka masih memperhatikan area sekitar.
"Siapa mereka!" pekik Lucy menunjuk satu arah kejauhan terdapat beberapa komplotan berbincang-bincang berbekal senjata api pada tiap anggota.
"Kita cari tau sekarang," singkat Putra hendak melangkah.
"Tahan." Eka merentangkan tangan.
"Kita belum mengetahui siapa mereka, bertindak tergesa-gesa tidak akan membuahkan hasil apapun," lanjut Eka.
"Maaf."
"Hanya mengamati dari kejauhan seperti ini, kita gak bakal mendapatkan informasi apapun, kapten," sahut Jhon.
"Ketika mereka membubarkan kumpulan tersebut, kita berpencar. Perpendek jarak dengan mereka dan dapatkan informasi sekecil apapun," tegas Eka.
"Jhon dan Ricko, Putra dan Lucy, Aku berjalan sendiri," lanjut Eka membagi kelompok.
Ketika gerombolan tersebut bubar saling berpisah kearah berlawanan, kelompok yang di pimpin Eka segera mendekati. Namun hingga malam berlalu tak membuahkan hasil apapun.
Terus mencari informasi tersebut demi memastikan keadaan desa, sampai tiba hari kelima.
"Kapten, sudah hampir seminggu kita tak mendapatkan informasi apapun," ketus Ricko terlihat mulai lelah.
"Jika seperti ini terus, berapa banyak waktu yang kita lewatkan, kapten? Harusnya kita sudah banyak mendapatkan hasil rampokan dan segera membagikan kepada warga yang membutuhkan," sahut Jhon.
"Sejak kapan kalian pandai mengeluh seperti itu?" balas Eka masih berfokus mengamati.
"Maaf kapten. Kami hanya merasa kalau apa yang kita lakukan lima hari belakangan ini sia-sia," sambung Ricko.
"Dasar lemah!" pekik Lucy.
"Siapa yang bersama mereka," umpat Putra melihat gerombolan menahan beberapa sandera masuk kedalam sebuah gedung.
"Wakil kapten," seru Ricko dan Jhon dengan cepat ikut melihat arah tersebut.
"Firasat ku tentang keadaan aneh ini bukanlah tanpa sebab," sahut Eka juga memperhatikan.
"Tunggulah disini sebentar," jelas Putra berlalu pergi mengendap mendekati lokasi tersebut.
"Wakil kapten."
"Putra..."
__ADS_1
Terus mengendap memperpendek jarak meninggalkan Eka, Lucy, Jhon dan Ricko.
"Apa yang sebenarnya telah terjadi," batin Putra perlahan berjalan dari bilik bangunan melewati satu persatu.
"HA..HA...HA..HA..HA..HA."
Terdengar gelak tawa dari dalam gedung tersebut.
"Lala...lala...lala." Suara penjaga bernyanyi berjalan ke belakang gedung.
"Sial, hampir saja," pikir Putra menarik badan.
Melihat kesempatan penjaga bersiul berirama membuang sesak di dalam kantung kemih, segera Putra menarik belati di saku belakang menghampiri.
"KE-KE-KE-KE (Mendekap pernafasan serta tubuhnya dari belakang).
SREETT.......(Menyayat tepat area leher).
Menyingkirkan satu dari banyaknya jumlah penjaga, membuang jasad tersebut ke semak belakang gudang.
"Dari sini juga tidak ada celah," pikir Putra kembali mengintip sisi kiri dan kanan bangunan melihat penjaga yang bertugas di area sekitar gedung.
"Kalau seperti ini terus bakal sia-sia," lirihnya menyandarkan tubuh mendongak ke atas.
"Masih ada harapan," batinnya melihat celah di antara atap bangunan.
Susunan batu gedung yang tak merata membuat beberapa celah terbuka, tanpa berfikir lama Putra segera memanjat.
Ketika berhasil sampai di atas, merangkak mencari sumber suara agar tepat berada di atas mereka.
"Apa susahnya menandatangani ini saja, ha? Atau kalian ingin kami melakukan tontonan yang cukup memuaskan besok hari? Jawab!"
BRUGG!!!!
"Indra!"
"Hoi hoi, jangan ada yang berbicara ketika aku lagi berbicara, tolol."
"Sepertinya dari situ suaranya cukup jelas," batin Putra merangkak kembali segera melubangi plafon tepat di atas keributan.
"Indra? Ilham?" pikir Putra terkejut melihat sang kerabat melalui sebuah lubang plafon tersekap penuh siksaan hingga babak belur.
"Jawab!"
BRUGG!!!!!
"BRENGSEK," kecam Putra dalam hati melihat Indra mendapatkan siksaan berulang kali.
"Baiklah jika kalian tidak ingin menyetujui dan tetap berkeras kepala." Meletakkan kaki di atas kepala Indra.
"Arga!" lanjut pemimpin memanggil salah anggota.
"Siap, Bos." Menghampiri pemimpin komplotan.
"Segera cetak malam ini surat pengumuman yang berisi eksekusi mereka, lengkap dengan foto dan sebarkan ke para penduduk desa."
"Siap, Bos." Mengambil kamera segera memfoto Indra, Ilham dan beberapa lainnya.
***
Sampai disini dulu kak, terimakasih masih mengikuti alur ini, kritik jika ada kesalahan author ya kak agar lebih baik, maaf kalau masih banyak kesalahan dalam menulis, isi paket dulu baru kita lanjut...
********
👸 : Kita putus ya..
🕵️ : Loh, Kenapa?
👸 : Kamu terlalu baik buat aku..
__ADS_1
🕵️ : Kamu gak tau ya yang bikin paket internetan itu mahal siapa? Aku.
👸 :.....