Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 97


__ADS_3

"Oh iya, kemarin om juga mengundang beberapa kerabat om untuk hadir di acara yang ya untuk menyambut kembalinya kamu," lanjut Deny tersenyum ceria.


TIN...... (Klakson mobil).


"Nah itu mereka udah pada datang," jelas Deny kembali menunjuk arah mobil yang baru tiba.


"Pasti kumpulan pejabat-pejabat tinggi ini," batin Ray menoleh menatap beberapa petinggi memakai tuxedo lengkap dengan para pengawalnya.


"Hallo, welcome in my house," sapa Deny menyambut begitu ceria berdiri di depan pintu masuk.


"Deny, ha...ha..ha," sahut kerabat saling bergantian berpelukan.


"Dari dulu kamu masih tetap gagah dan sekarang makin macho," ujar kerabat lainnya.


Sekumpulan orang penting itu terlihat sangat bergembira ketika bertemu dan Ray masih terdiam seperti biasa memikirkan langkah yang kembali ia pilih.


"Ayah kamu mantan gangster ya?" bisik Ray pada Novi masih menatap empat orang hebat berbincang melepas rindu.


"Terlalu rumit di jelaskan. Kenapa kamu bertanya seperti itu?" balas Novi tersenyum menatap teman Ayahnya.


"Ray, kenalin ini temen karib om," ujar Deny menghampiri bersama tiga temannya serta para pengawal masing-masing.


"Ray.."


"Robi.."


"Deki.."


"Ray.."


"Edo.."


Saling berjabat tangan seperti layaknya perkenalan pada umumnya. Namun saat itu pandangan Robi terhadap Ray terlihat sedikit berbeda, seperti mereka telah saling mengenal dalam waktu cukup lama.


"Ayah, kenapa gak di ajak masuk kedalam biar makin seru ngobrolnya," pungkas Novi.


"Ah iya sampai lupa karena lama tidak bertemu. Ayo sebaiknya kita langsung masuk kedalam mencicipi hidangan yang ada," lanjut Deny menggiring berjalan bersama.


"Minuman favorit kesukaan diriku gak kamu lupakan bukan?"


"Ha.haha.ha." Terbahak Deny mendengar candaan kerabatnya tersebut.

__ADS_1


Ketika lagi asik menikmati hidangan pesta kecil yang telah di sediakan.


"Ray, mari ikut kami."


Ayah Novi mengajak masuk kedalam satu ruangan pribadi bersama tiga kerabatnya tersebut meninggalkan Novi dan ibunda di ruang tamu.


"Iya om," jawab Ray berjalan menoleh kebelakang melihat Novi tersenyum melambaikan tangan rendah.


"Senyuman mautmu gak bisa di percaya. Masalah apalagi ini, Tuhan," pikir Ray menghela nafas.


"Sini, silahkan duduk disini." Deni mempersilahkan Ray duduk.


"Nah Ray, kami berempat ini dulunya kerabat ayahmu sekaligus bekerja di bawah perintahnya sekaligus sebagai tangan kanannya. Sebelum pergi meninggalkan kita semua, beliau pernah berwasiat pada kami. Jika saatnya telah tiba, seluruh aset yang dimiliki oleh almarhum Hendrawan akan di wasiatkan pada anak putra tunggalnya, yaitu kamu," jelas Deni ketika duduk bersantai bersama.


"Benar yang dikatakan oleh Deny. Insiden tentang dirimu yang terjadi dua tahun lalu sangat cukup mengejutkan kami. Kini kami kembali senang karena mandat dari ayahmu akan segera terselesaikan seperti sebagaimana seharusnya," sahut Edo tersenyum.


"Tunggu! Apa gak sebaiknya kita pikirkan kembali? Ini terlalu cepat dan terlihat sangat terburu-buru," sahut Robi menatap Deny melirik Edo.


"Kenapa seperti itu?" tanya Deny memantik api kecil membakar cerutu di tangan.


"Warisan yang ditinggalkan oleh Hendra beserta istrinya bukanlah warisan yang sangat kecil. Apa gak sebaiknya kita harus melatihnya terlebih dahulu agar bisa mengendalikan semua aset miliknya kelak," jelas Robi.


"Anjir, bisa beli satu negara?" batin Ray tangan sedikit gemetar.


"Tapi bukankah tugas kita akan lebih cepat selesai jika memberikan haknya kembali?" tanya Deny kembali memangku satu kaki.


"Kita belum bisa melepaskannya begitu saja. Bagaimana jika nyawanya semakin terancam ketika para bajingan mengetahui seluruh aset Hendra telah di pegang olehnya?" lanjut Robi menunjuk Ray.


"Tentu para bajingan tersebut tidak akan tinggal diam, Deny. Setelah mereka semua berhasil menghabisi keluarga Hendra, pasti akan mengincar kembali nyawa anak ini," seru Deki merentangkan tangan di sofa.


"Ya Tuhan, nyawa lagi nyawa lagi," batin Ray melirik keempat orang hebat beradu argumen.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Deny melirik Edo.


"Aku sedikit bingung harus memberikan pendapat seperti apa. Tapi jika kita pikirkan kembali secara tenang, mungkin benar apa kata Robi dan Deki," balas Edo mengangguk.


"Oh iya tadi kamu bilang nama kamu Ray? Bukan Leon?" tanya Robi melirik Ray.


"Iya, Om."


"Kamu benar gak mengingat apapun tentang masa lalumu?" lanjut Robi menatap Ray cukup serius.

__ADS_1


"Jangankan ingat, masalah hidup aja udah rumit kayak gini dari dulu gak ada habisnya," pikir Ray.


"Iya, Om," singkat Ray.


Robi terus mencari dan menggali informasi tentang Ray, "Terus selama ini kamu tinggal dimana?"


"Selama ini aku tinggal sebatang kara om di suatu desa terpencil," jawab Ray berbohong.


"Terus sekarang selama kamu bekerja sebagai supirnya Novi, tidak pernah mendapatkan masalah apapun?" pekik Robi.


"Semua masalah terus membombardir malah gak pernah datang pulak kau bilang," batin Ray menggerutu.


"Sejauh ini belum ada masalah apapun sih, Om."


Robi mengangguk-angguk seperti menyembunyikan sesuatu dari ayah Novi beserta teman-temannya. Ekspresi panik akan dirinya yang baru mengetahui bahwa Leon kembali hidup terlihat samar.


"Bagaimana jika kita beri tempo setengah tahun padanya? Menurutku itu sudah cukup matang baginya memimpin seluruh warisan almarhum Hendra," cetus Deny kembali.


"Kenapa kamu terlalu bersemangat seperti itu? Apa karena dia bakal menikahi putrimu?" pekik Robi.


"Jangan campurkan masalah pribadi kita dahulu Robi. Hubungan mereka tidak ada kaitannya dengan seluruh pembahasan kita saat ini," balas Deny sedikit santai.


"Sabar-sabar, masih banyak lelaki yang cocok untuk putrimu diluar sana," sahut Deki merangkul Robi.


"Bukan seperti itu, Aku memotong ucapan Deny ya karena ini masih terlihat terburu-buru saja. Disamping ini semua yang paling penting itu bagaimana dia tetap selamat nantinya. Kalau masalah putriku dia uda lama melupakan Leon, jadi ya tidak ada hubungannya juga," jelas Robi tersenyum tipis.


"Iya iya, Aku cukup paham dengan apa yang kamu maksud. Lagian hanya karena Leon menyukai putriku, bukan berarti kita harus bermusuhan kembali seperti dahulu. Terlebih dari masa muda kita berempat sudah bersama," jawab Deny.


"Yasudah kalau begitu jadi kita udah pada sepakat dalam setengah tahun ini menyerahkan semua hak waris padanya bukan?" sambung Edo mengangkat gelas untuk saling bersulang.


"Ayo dong, jangan saling berdebat terus," balas Deki ikut mengangkat gelas tersenyum lebar.


"Baiklah," jawab Deny bersamaan dengan Robi.


"Kamu juga wahai anak muda, angkat gelasmu," pekik Edo menatap Ray.


"I-i-iya Om."


***


Sampai disini dulu kak akak, makasih dah tetap suport, ayo dong makin agak agak ni otornya udahan, ayolah palak promosin ke desa..ahahahhaa. Sebelum tamat, bakal terus lanjut. Jadi jangan lupa di Fav biar terus tau info updatenya kak.

__ADS_1


__ADS_2