
5 jam kemudian Ray terbangun dan saat itu ia mengetahui sedang berada di dalam ruangan rumah sakit.
Yang terlintas di pikirannya kala itu, kecelakaan terjadi karena kecerobohan diri sendiri melamun ketika mengendarai sepeda motor.
Dengan sedikit bingung ia bertanya-tanya, "Siapa yang telah menyelamatkan ku?"
Berdiri lanjut berjalan keluar dari ruang pasien ia melihat seorang wanita duduk di ruang tunggu tepat di depan kamar ruangan miliknya.
Rambut panjangnya, lesung pipi serta senyuman yang begitu indah, perlahan membuat Ray kembali berfikir,
"Apa Aku pernah mengenalnya? Dia terlihat tidak asing."
Saat Ray terdiam berdiri menatap wanita itu, sang wanita tersebut hanya membalas dengan menunjukkan ekspresi senyum manis seakan berkata,
"Syukurlah kamu tidak apa-apa."
Ray yang masih berdiam diri melamun memikirkan wanita itu, tiba-tiba seseorang menepuk bahunya, "Wanita itu yang telah membawa kamu ke rumah sakit ini, Nak."
"Dokter," sambut Ray berbalik badan.
Ketika apa yang terjadi di luar batas logika,
mengingatkan kembali kisah lama yang telah larut.
Ray yang telah mengetahui hal itu, berjalan perlahan mendekati sang wanita.
"Terimah kasih sudah menolongku," ucap Ray sedikit tersipu malu terpesona menatap keindahan wajah sendu sang wanita.
Dalam sekejap wanita tersebut berdiri membalas ucapan Ray dengan ramah, "Sama-sama."
Layaknya di mabuk rasa malu, keduanya terdiam seketika,
"Kamu....
"Bagai....
(Bersamaan ketika ingin berbicara).
"Yasudah, kamu saja duluan," ujar Ray tertawa kecil mempersilahkan.
"Bagaimana keadaan kamu sekarang Ray,
masih kah mengingatku?" tanya singkat menundukkan pandangan.
Sekali lagi Ray terdiam penuh tanya dalam diri, "Bagaimana dia tau nama ku sedang Aku tak mengenalinya dengan pasti."
__ADS_1
"Alhamdullilah baik-baik saja, hanya luka kecil kok. Oh iya, bagaimana kamu bisa tau namaku?
Kamu wanita yang sangat anggun dan belum pernah Aku temui. Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Ray kembali sembari berfikir keras mengingat hal yang belum ia sadari.
"Aku Suci, Adik kelas kamu dulu waktu di sekolah dasar. Kamu lupa ya?" jawabnya menoleh kanan dan kiri.
Mendengar jawaban itu, seketika membuat Ray pikiran Ray tersentak serasa pulih dari amnesia, meski saat itu ia tidak mengalami hilang ingatan.
***
Suci Anggita ialah wanita pertama yang membuat Ray merasakan apa itu suka, meski saat itu Ray masih duduk di bangku kelas 6 dasar, sedang Suci di kelas 4.
11 januari 2010 ialah tanggal yang hampir saja ia lupakan, padahal itu adalah kenangan pertama yang sangat indah.
Berawal dari hal biasa saat mata pelajaran olahraga campuran tiba, mereka di satukan dalam kelas yang sama. Kisah awal mereka saling menatap untuk yang pertama kalinya.
Setelah saling menatap, Ray mengenali wajahnya dengan pasti. Keindahan parasnya selalu terbayang dalam lamunan kecil.
Sebulan berlalu dan mereka hanya mampu saling menatap wajah tanpa ada keberanian untuk mengenalkan diri.
Hingga tiba suatu hari ketika Enda teman sekelas Ray memberikan sepucuk surat untuknya.
"Ini surat pangilan orang tua, kebanyakan bolos sih main kelereng mulu. Kau itu kalau di suruh sekolah ya belajar yang bener, jangan sibuk main kelereng," ucap Enda dengan wajah serius.
Kring.... (Lonceng sekolah berbunyi).
Karena begitu penasaran ingin tau isi dari surat tersebut, Ray memutuskan memberanikan diri membaca isi surat tersebut.
Ketika membuka dan membacanya, dalam sekejap raut wajahnya memerah. Mungkin hal itu terlihat aneh karena ia masih berada di bangku sekolah dasar.
Isi surat itu bukanlah panggilan orang tua, melainkan surat pengakuan dari seorang wanita yang menyukai dirinya.
"Aku di taksir cewek?" batin Ray tersenyum sedikit terkejut.
Meski tidak ada nama pengirim di halaman depan, ia yakin cukup tau siapa pengirim surat peryataan itu. Berjalan riang menuju rumah, bersiul siul untuk hal yang cukup dini baginya mengetahui apa itu cinta.
Setelah sampai di rumah segera menyimpan rapi surat tersebut di dalam lemari pakaian. Tak jarang membuka dan membacanya meski berulang kali.
Keesokan harinya dengan wajah yang begitu gugup, ia memberanikan diri menyapa Suci.
"H-h-hay."
"Iya," jawab Suci memalingkan pandangan malu menatapnya.
Hanya satu kata cukup untuk membuat mulut Ray bungkam diam membisu bak terpaku di setiap sisi. Hingga akhirnya Suci mengulurkan tangan "Aku Suci, kalau kamu?"
__ADS_1
Melihat seorang wanita cukup berani mengulurkan tangan terlebih dahulu, merupakan sebuah pukulan telak untukmya. Hal itu jelas terlihat dari raut wajah Ray yang tak ingin kalah dalam hal keberanian, mengingat dirinya seorang lelaki segera menyambut uluran tangan itu, "Aku Ray."
"Ikut Aku yuk, kita ke bawah pohon mangga di ujung sana," ujar Ray kembali menunjuk ke suatu arah.
"Em, boleh," jawab Suci mengangguk.
Setelah berbincang-bincang menanyakan banyak hal, pikiran Ray tentang Suci kian berubah. Gugup yang ia alami tak seperti ketika pertama kali hendak berucap. Berbeda dengan apa yang ia pikirkan sebelumnya, Suci adalah wanita yang ramah, sopan dan lembut dalam bertutur kata.
Keduanya pun semakin akrab setelah banyak membicarakan sesuatu. Dari sekian banyak obrolan seru yang mereka bicarakan, Ray mengatakan hal yang cukup mengejutkan untuk pertama kali.
"Menikah lah dengan ku ketika Aku menjadi penulis novel terkenal nanti. Selama itu belum terwujud, kita tidak akan pernah saling bertemu juga memberi kabar," ucapnya penuh percaya diri meski saat itu belum mengerti apa yang ia bicarakan.
Suci yang terlihat sedikit kaget perlahan mulai tersenyum kembali karena melihat kesungguhan dalam diri Ray.
Dengan tangan gemetar, Ray memberanikan diri menggenggam tangan Suci, walau arah pandangnya sedikit berubah sebab tak sanggup menatap paras Suci terlalu lama.
"Kejar lah mimpimu, Aku akan menunggumu selamanya," bisik Suci lembut.
Setahun setelah perpisahan sekolah, dengan sengaja Ray tak pernah berniat bertemu Suci walau hanya untuk sekedar menyapa.
Terlebih lagi, kedua orang tua Suci pindah tugas kerja ke kota yang sedikit jauh dari tempat Ray berada. Selepas itu, Ray sama sekali tak pernah mengetahui seperti apa rupa Suci di kemudian hari.
Apakah itu suka atau cinta? keduanya mungkin terlihat berbeda, namun tetap memiliki sisi yang indah.
Hanya itu gambaran kecil yang ia ingat ketika mengetahui bahwa Suci adalah wanita yang telah menyelamatkan hidupnya.
***
"Kamu baik-baik saja Ray?" lanjut Suci bingung melihat Ray melamun menatap kosong wajahnya sembari menggerakkan tangan kearah wajah Ray.
"Ha, apa, oh Iya maaf, Aku tidak mengenalmu tadi. Kamu sekarang terlihat sangat berbeda jauh dengan yang dulu, semakin cantik," jawab Ray tersenyum malu.
"Kamu bisa saja, kamu juga terlihat berbeda kok, makin tampan terus," balas Suci kembali.
"Sekali lagi Aku ucapkan terima kasih ya."
Suci hanya mengangguk sesekali tersenyum kembali.
Bila rindu ini, masih milik mu, ku hadirkan, klik (Nada dering ponsel Suci).
"Halo Yah, iya Yah, ini baru aja mau ke sana Yah, baik Ayah," ucapnya menutup mengakhiri panggilan dari tersebut.
"Maaf ya, barusan Ayah telpon. Pertemuan kita hanya sampai di sini dulu. Aku harus buru-buru kembali menemui ayah ku," ujarnya terlihat tergesa-gesa.
***
__ADS_1
Sampai di sini dulu kak, sub komen star vote apalah itu semua bila suka kisah ini ya kak,
Makasih.