
Terlepas dari gelisah tentang Juwita, Ray pergi mencari hiburan bersama Ezza sabtu malam, menemui di tempat yang sudah ia rencanakan.
"Mungkin ini kencan," pikir Ray sambil memanasin mesin sepeda motor kemudian bergegas jalan memakai jaket kulit, celana jeans biru menuju tempat yang di janjikan.
30 menit berlalu dan akhirnya ia sampai di tujuan,.
"Loh kok ada temannya?" tanya Ray dalam hati dengan pandangan melihat ke arah mereka berdua.
"Maaf agak terlambat, sedikit ada halangan tadi," lanjut Ray menyapa ketika sampai dan bersikap tampil cool.
"Iya gak apa-apa kok. Oh iya, kenalin ini Yuli," ucap Ezza memperkenalkan sahabatnya itu.
Berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri tanpa mengalihkan pangdang dari wajah Yuli.
"Ray."
"Yuli."
"Kasian Yuli, telah bertunangan dan menjalani hubungan jarak jauh membuatnya selalu merasa kesepian, jadi ya ikut kita saja gabung pergi ke mana gitu biar fresh," lanjut Ezza memberitahukan status Yuli.
Terlintas di pikiran Ray yang masih menatapnya, "Ternyata dia sudah memiliki tunangan, wanita berparas cantik seperti bule itu kok cepat sekali ya udah tunangan."
"Jadi kemana kita ini malam Za?" tanya Yuli yang juga masih menatapku.
"Karoke yuk, pasti seru. Gimana, Ray," sahut Ezza menoleh ke arahku.
"Aku ikut aja deh, dari pada diam diri gak ada kegiatan," balas Ray mengambil rokok di saku celana.
"Beneran ini gak apa-apa kalau Aku ikut? Ntar malah ganguin acara kalian lagi, hehehe," ujar Yuli dengan raut wajah jail.
"Gak apa-apa kok say, tenang saja," balas Ezza padanya.
Pandangan pertama saat Ray melihat Yuli, Ray yakin menyukai keindahan dirinya, tapi ketika mendengar dia sudah memiliki tunangan, niat untuk mengenalnya pun pudar dan tak terlintas sedikit pun ingin memiliki.
Langsung bergegas Ezza berbonceng dengan Yuli, sedang Ray jalan sendiri mengikuti mereka berdua dari belakang menuju tempat hiburan tersebut.
Setibanya di lokasi karaoke, langsung menuju salah satu ruangan untuk mengexpresikan diri melalui sebuah lagu.
2 jam berlalu begitu cepatnya,.
Ketika selesai bernyanyi, kami menuju tempat makan sejenak, sebelum akhirnya sampai di rumah Ezza pukul 11 malam.
__ADS_1
Karena kebetulan rumah Yuli searah dengan Ray, Ray mengantarnya pulang. Sepanjang perjalanan Yuli hanya diam tak berbicara sedikit pun. Mungkin dia takut karena Ray baru di kenalnya malam itu, wajar saja kalau terlihat seperti itu.
Akhirnya mereka sampai di rumah Yuli,.
"Makasih ya sudah di anterin."
"Oh iya, sama- sama Yuli."
Keesokan harinya Ray mengikuti kegiatan turnamen sepak bola yang di selenggarakan pihak desa sebagai bentuk perlawanan pemuda membasmi narkoba.
"Yang ku ingat terakhir kali bermain sepak bola itu ketika masa SMP sih, tapi gak apalah toh tujuannya bagus, berpartisipasi bebas dari narkoba," pikir Ray sebelum ikut bergabung.
Pertandingan semakin seru karena melawan desa tetangga. Disisi lain Ray melawan teman semasa SMP-nya dulu. Rijal namanya, bertempat tinggal yang sama dengan Yuli.
(90 menit usai dengan skor seimbang tanpa gol.)
Ketika usai bertanding, yang biasa mereka lakukan ialah terduduk berkumpul di pinggir lapangan.
Tak berapa lama Rijal menghampiri Ray, "Cuy, ada cewek kirim salam sama kau, dia minta nomor ponselmu, gimana?"
"Siapa cuy?" balas Ray bingung.
"Adalah, malu-malu dia sih, nanti kau kenal sendiri itu."
Adzan magrib menghentikan pembicaraan sore itu, kembali ke rumah masing-masing. Malam hari ketika asik berbalas pesan chat dengan Lisa, Suci dan Ezza, nomor baru tanpa foto profil menyapa Ray di sebuah chat baru.
"Hai."
Memperhatikan nomor ponsel tersebut, mengingat-ingat siapa dia, "Siapa ini?"
"Bukan siapa-siapa kok, hanya wanita yang ingin mengenal kamu lebih jauh."
Ray meresponnya datar karena mungkin hanya orang iseng atau teman yang mengganti nomor baru ingin menjahili.
"Kalau cowok cakep emang kebanyakan sombong ya?" balas pesan tersebut.
"Gak ah, gak cakep dan gak sombong juga, hanya saja kalau nomor baru tanpa identitas emang males merespon, kan gak jelas ini siapa buat apa di respon terus?"
Tak butuh waktu lama, pesan itu kembali masuk,.
"Aku malu untuk jujur, ntar dikira Aku wanita apaan suka dengan cowok kenalan sahabat ku?"
__ADS_1
Jelas saja saat itu Ray paham betul siapa di balik pesan nomor baru tersebut, "Ya, pasti ini Yuli," pikirnya.
"Tapi kenapa ingin kenal Aku? Dia kan sudah memiliki tunangan. Masak sih ada yang dia suka dariku? Ah tapi gak mungkin lah, kepedean aja Aku ni," gumam Ray berbicara sendri sambil menatap layar ponsel kemudian membalas pesan kembali.
"Aku tau kok ini siapa, kenapa harus malu? mengenal itu gak salah."
Tanpa perlu waktu lama bagi Ray mengakrabkan diri mengenal Yuli. Hampir sebulan lamanya membiarkan semua larut dalam canda tawa. Hingga akhirnya perlahan Yuli memberanikan diri menyatakan perasaan yang ia pendam selama ini.
"Aku nyaman sama kamu, Aku tau Aku salah karena sudah bertunangan, tapi asal kamu tau, Aku gak pernah memiliki kesempatan mengenal lelaki lain selain tunanganku. Pertunangan kami karena keinginan orang tua ku, bukan karena cinta. Apa Aku salah menyukai pria lain? Aku gak masalah kok di perhatiin setelah kamu utamain Ezza dahulu."
Yuli berfikir jika Ray dan Ezza sudah menjadi sepasang kekasih. Walau sebenarnya Ray menyukai Ezza, namun mereka belum menjalin hubungan lebih jauh.
"Selingkuh?" Mengartikan maksud dari ucapan Yuli bertanya padanya.
Yuli mengiyakan dan Ray setuju karena ingin tau seperti apa rasa atau sensasi dari perselingkuhan tersebut.
Waktu demi waktu Ray semakin ketagihan bak memakai narkoba. Candu dari selingkuh itu sendiri terlalu munafik jika ia bilang tak menikmati perasaan bahagia berselingkuh bersama Yuli.
Setelah lama menjalani perselingkuhan, Yuli semakin agresif dalam hal pacaran. Hingga akhirnya tiba suatu malam mereka berdua bertemu diam-diam dan terjadi sesuatu yang sangat Ray sesali, larut dalam panasnya bermain api, melakukan hal yang gak seharusnya mereka lakukan.
Menarik tangan Ray, menutup pintu kamar hingga semua terjadi begitu saja. Yuli terlihat biasa-biasa saja ketika selesai melakukan hubungan intim. Ray berfikir hal itu pasti bukanlah hal baru dalam hidupnya, sebab Yuli terlihat tak menyesali sedikit pun yang telah terjadi.
"Bagaimana perasaan Alisa jika mengetahui apa yang Aku lakukan?" Terduduk melamun masih di kamar yang sama menghisap rokok.
"Kamu kenapa diem saja dari selesai tadi, Mas?" ujar Yuli memeluk dari belakang.
"Gak apa-apa," balas Ray.
"Kamu gak seneng ya? Aku lakuin ini biar kamu seneng loh Mas, atau kamu lagi kepikiran Ezza?"
Yuli beranjak berjalan mengambil pakaian dan berberes diri tanpa merasa bersalah atau sedih dengan apa yang telah terjadi.
Selepas itu Ray pergi beralasan ada keperluan mendadak, sekejap mengakhiri pertemuan dengan Yuli malam itu.
Saat berjalan keluar dari sebuah hotel bermaksud mencari tempat bersantai, sebuah sepeda motor berhenti tepat di depannya,.
"Loh Mas, kok kamu sampai disini?" ucap Alisa menunjuk rendah kearah Ray sembari melirik ke bangunan hotel tersebut.
***
Sampai disini dulu ya kak, masih tahap pengenalan para karakter, maaf jika terlihat muter-muter ya kak, tapi keseluruhan masih menyatu kok jika tetap mengikuti, makasih😁🙏🙏🙏
__ADS_1
Lanjut...