
"Iya nak, sebentar lagi sampai rumah sakit. Sabar ya sayang," lirih Ibu mulai menangis.
Ketika hampir sampai di rumah sakit, Ray langsung memakai kemeja putihnya kembali.
"Yang kuat sayang, kita udah mau sampai," lanjut Ibunda.
Ray segera keluar pintu mobil, langsung mengangkat Alisa.
"Suster, tolong istri saya." Berjalan masuk meminta bantuan.
"Respon cepat dari pihak rumah sakit, langsung membawa Alisa ke dalam ruangan.
"Tunggu disini ya pak," ujar suster menghentikan langkah tersebut.
Gelisah berjalan mondar-mandir melihat suster berbincang bersama dokter dari kejauhan perlahan menghampiri.
"Dok, tolongin istri saya, Dok."
"Harap bersabar untuk bapak dan keluarga. Sebaiknya doakan agar pasein tak mengalami hal buruk apapun, Saya masuk dulu." Dokter berlalu memasuki ruangan.
"Ya Allah," lirih Ray terduduk lemah di kursi tunggu, tangan kiri menopang kepala hanya bisa berdoa sembari menunggu penuh harap cemas hasil dari dokter.
"Alisa," rintih Ibu berdiri depan pintu ruangan.
"Bu, tenangkan pikiran Ibu," balas Ray menuntun Ibu duduk
"Semoga Alisa baik-baik saja ya Allah."
20 menit setelahnya.
"Dok, gimana keadaan istri saya?" ujar Ray menghampiri dokter yang baru keluar dari ruangan tersebut.
"Alhamdulilah pasien tidak mengalami luka fatal apapun. Beliau hanya mengalami pendarahan ringan."
"Bagaimana dengan kandungannya, Dokter?" sahut Ibu.
"Baik-baik aja kok Bu, meski terbilang kandungannya sangat muda, tapi semua baik-baik saja."
"Alhamdulillah sukurlah kalau begitu, Dokter," lanjut Ibu kembali.
"Kalau begitu biarkan pasien istirahat agar kondisinya cepat membaik. Sekarang keluarga sudah bisa menjenguk pasien. Namun ingat, jangan terlalu memberi topik bahasan yang berat atau semacam hal yang bisa membuatnya drop kembali," jelas Dokter tersenyum.
"Iya Dok, makasih."
"Yasudah saya tinggal dulu. Pasien bisa dirawat di rumah setelah administrasi selesai. Permisi." Dokter berlalu pergi meninggalkan Ray serta Ibunda.
Setelah memberitahukan bahwa kondisi Alisa baik-baik saja, gelisah Ray dan Ibu kian mereda. Seketika langsung masuk kedalam ruangan untuk melihat Alisa.
"Sayang." Ibu merangkul Alisa yang masih berbaring.
"Ibu, maaf telah membuat kalian khawatir," sahut Alisa tersenyum.
"Lain kali harus lebih hati-hati, jangan sampai gak fokus dalam menjalani hal apapun," ucap Ibu mengelus kepala Alisa.
"Iya Bu, karena sedikit kelelahan jadinya begini," pekik Alisa melirik Ray.
Ray yang masih berdiri hanya bisa tersenyum mendekati.
"Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak, lebih baik fokus sama kandungan kamu, Sayang," balas Ray menyentuh tangan Alisa.
__ADS_1
Ibu yang terduduk di sebelah Alisa, sedikit bingung ketika melihat noda lipstik di lengan baju Ray.
"Ini punya siapa nak? Setahu Ibu Alisa gak pernah memakai lipstik warna seperti ini?" ujar Ibu memegang lengan baju Ray.
"Bukan karena hal ini yang membuat kamu terluka seperti ini kan, Lisa?" lanjut Ibu kembali menatap Alisa sekejap berbalik menatap Ray.
"Hubungan kalian saat ini sedang baik-baik saja kan?" jelas Ibu kembali.
"Bu, sudah Bu," lirih Alisa kembali bersedih.
Mendengar peryataan dari Ibu berulang-ulang, membuat Ray bingung harus menjawab apa.
"Ini semua gak seperti yang Ibu bayangin, Bu," balas Ray tersenyum.
"Sebaiknya kamu pikirkan kembali sebelum menyakiti hati Alisa." Ibu menatap Ray cukup serius.
"Aku gak melakukan apapun dengan wanita lain Bu, ini semua hanya salah paham. Gak ada niat sedikitpun dalam hatiku menyakiti Alisa, Bu," jawab Ray menjelaskan kejadian tersebut.
"Lebih baik Ibu dan Alisa tenangi dulu pikiran itu, Aku akan menyelesaikan administrasinya," sambung Ray kembali pergi meninggalkan ruangan.
Setelah menyelesaikan semua urusan di rumah sakit, berjalan menuntun Alisa ke mobil untuk segera kembali pulang.
Keesokan harinya.
"Mas, kamu sudah mau pergi?" ucap Alisa melihat Ray berbenah diri mengenakan pakaian rapi.
"Iya, hari ini interview di tempat kerja yang baru, doakan semua lancar ya. Untuk masalah yang kemarin kamu gak perlu takut karena aku gak ada niat sedikitpun mengkhianati kamu, Sayang." Menoleh menatap Alisa yang masih berbaring.
"Maaf lagi karena hari ini aku masih gak bisa buatin sarapan untuk kamu,Mas."
"Gak apa, kan masih ada si mbok."
"Tunggu sebentar ya."
"Kamu mau kemana Mas?"
"Sarapan."
"Aku temeni ya," jelas Alisa terlihat susah untuk bangkit dari tidurnya.
"Sebaiknya kamu istirahat aja sayang," jelas Ray menghampiri Alisa membaringkan tubuhnya kembali.
"Tapi Mas..."
Ray mencium kening Alisa menghentikan laju bicara tersebut. Berlalu keluar kamar berjalan menuju meja makan.
"Non gak ikut nemenin sarapan, Den?"
"Gak mbok, masih agak lemas tubuhnya," jelas Ray menyantap sarapan pagi.
Setelah selesai sarapan, Ray mengambilkan makanan untuk Alisa lengkap dengan segelas air putih.
"Sih kecil mulai aktif ya, Den?" ujar mbok membersihkan meja makan.
"Belum lagi mbok, ini untuk Alisa karena kondisinya belum cukup sehat."
"Oh begitu." Melanjutkan kembali bersih-bersih.
"Yasudah saya tinggal dulu mbok." Berjalan kembali memasuki kamar.
__ADS_1
"Mas."
"Ini sarapan buat kamu, harus di habisin biar cepat membaik, Aku gak mau kita jatuh miskin," lanjut Ray meledek Alisa.
"Kamu ini bercanda terus, mesra gitu manjain istrinya."
"Gak pandai yang begitu sayang." Berjalan mendekati Alisa perlahan duduk di sebelah.
"Yasudah sini buka mulutnya," lanjut Ray kembali menyuapi Alisa.
"Malu ah mas, Aku makan sendiri aja." Menadahkan tangan.
"Udah sini aku suapin, buka mulutnya sayang."
"Mas, ih."
"Gak setiap saat aku bisa manjain kamu, sekarang buka mulutnya."
"Amm, gitu kan enak kalau dari tadi nurut," lanjut Ray kembali menyuapi.
"Em." Memukul ringan lengan Ray sembari mencubit.
"Nih minumnya, Sayang."
"Kamu gak takut telat ini, Mas?"
"Tenang, kan ada Elastek, hehehe."
"Canda aja terus."
10 Menit berlalu.
"Yaudah kalau begitu aku berangkat dulu ya sayang." Mencium kening Alisa.
"Mas," lirihnya menarik tangan Ray.
"Apa lagi?" Ray kembali menoleh.
"Jangan mendua ya."
"Coba dengarkanlah sumpahku, dari hati, Aku cinta kamu. Udah ya, Aku pergi dulu."
Menutup pintu kamar sembari membawa piring kotor tersebut meletakkan di meja dapur langsung bergegas pergi.
"Hati-hati di jalan," ujar Ibu melihat Ray terburu-buru.
"Ibu, maaf gak fokus tadi jadi gak liat. Aku pergi dulu Bu. "Mendekati langsung menyalim tangan.
Setelah berpamitan pada ibu, Ray pergi menjemput Fendi juga Fii segera menuju tempat yang telah di tujukan Novi.
"Semoga hari ini lancar, amin," pinta Fendi berdoa dalam perjalanan.
"Semangat kali hari ini kau?" sindir Fii melihat Fendi begitu ceria.
"Ya jelas semangat, apalagi kalau ya interview si Novi, sadis cuy," jelasnya.
***
Sampai disini dulu kak, maaf telat up, ada kesibukan yang cukup darurat sehingga author sedikit terkendala dalam mencuci pakaian. Makasih buat yang udah Fav vote beri hadiah apapun itu semuanya like this, kita lanjut..
__ADS_1