
"Woi woi woi, apa yang kalian tertawakan brengsek! Kalian pasti sedang menertawakanku bukan?" seru Eka berjalan pelan melewati Putra, Lucy, Jhon dan Ricko berhenti tepat di hadapan Ray.
Plek! (Menampar lembut pipi Ray)
"Maaf karena kami terlambat menyelamatkan orang tuamu," lanjut Eka menundukkan pandangan memegang pundak Ray.
Ray yang telah mengetahui semua hal menimpa hidup serta merubah takdir Eka, langsung memeluk begitu eratnya.
"Brengsek, kenapa kau menyembunyikan semua masalah dariku, Sial. Kenapa tak pernah menceritakan semuanya! Bukankah kita seperti saudara, Sial," lirih Ray memicingkan mata masih terus memeluk Eka.
"Hoi, hoi, jangan menangis, kau terlihat bukan seperti Ray yang kami kenal dulu. Sudahlah, sekarang kami baik-baik saja," balas Eka mendekap mengelus lembut kepala Ray.
"Kamu tidak salah Ray, apa yang terjadi itulah takdir kami," sahut Putra menepuk lembut punggung Ray dari belakang.
"Aku tidak ingin membuat saudaraku terlalu mengkhawatirkan diriku. Bukan hanya kau saja Ray, bahkan Putra langsung memukulku ketika ia mengetahui yang sebenarnya terjadi padaku. Awalnya aku juga tak menceritakan padanya," bisik Eka.
Ray mendorong tubuh Eka dengan lembut, berniat memberinya sebuah salam.
BRUUUAKKK!!!!!! (Eka tersungkur mendapatkan satu pukulan keras Ray).
"KA-KA-KAPTEN! Teriak Ricko dan Jhon melihat Eka tersungkur.
"Hooh, bakal ada pertunjukkan yang seru ini," sahut Putra terduduk memantik api menghisap Rokok masih di area penuh jasad berserakan.
"Sial, pukulanmu masih sama kerasnya seperti dulu," pekik Eka meludah kemudian kembali bangkit mengulurkan tangan.
"Wah ternyata pertunjukannya batal," ketus Putra kembali menghisap rokok.
Ketika Ray hendak menjabat tangan Eka,
BRUAKKKK!!!!!
"ANJIR!" Terkapar Ray mendapat pukulan balasan Eka.
"HA..HA...HA..HA..HA..HA." Eka terbahak-bahak.
"Skor satu sama," sahut Putra juga ikut tertawa.
"Ha..Ha..Ha..Ha."
Melihat semua tertawa membuat Ray juga ikut tertawa hingga saling bersahut-sahutan.
"AHGGGRR... Sampai kapan hal bodoh ini selesai," pekik Lucy.
"Tunggu dulu, Aku tadi meninggalkan Budi yang sedang menjaga Indra dan putrinya di sana. Sebaiknya kita segera menemui mereka," jelas Ray menghentikan seluruh tawa.
"Wokeh," sahut Putra bangkit berdiri.
Tak lama setelahnya...
"PO-PO-POLISI?" ketus Ricko menunjuk arah kejauhan.
"Sial, selalu saja endingnya seperti ini," pekik Putra.
"Yo, saatnya kita habisi mereka semua," seru Eka mengambil pistol di saku berdiri tegak memandang arah tersebut.
PLETAK!!!!
"SAKIT!!!!" Teriak Eka merasakan pukulan Putra di kepala.
"Jangan bertindak bodoh, ayo jalan." Putra menarik kera baju belakang Eka segera bergegas menjauh.
__ADS_1
Mereka meninggalkan tempat eksekusi tersebut dan membiarkan mayat para bajingan berserakan. Tak menyiakan waktu yang ada, bergerak cepat menghampiri Budi dan lainnya.
"Bagaimana keadaan Indra dan lainnya?" tanya Ray pada Budi ketika sampai di rumah kosong.
"Secepatnya mereka butuh perawatan dokter," jelas Budi membalut luka Indra dengan potongan kain.
"Tunggu sebentar," balas Ray berbalik arah setelah melihat Indra memicingkan mata.
"Hoi, mau kemana?" tanya Putra menghentikan langkah Ray.
"Mengambil mobil untuk segera membawa mereka ke rumah sakit," jelas Ray.
Ketika Ray berhasil mengambil mobil, sementara para polisi masih terlihat sibuk mengemas seluruh mayat dan belum menyadari keberadaan Putra serta Eka, Ia berbalik cepat menghampiri Budi dan lainnya.
"Itu dia, buruan bantu aku," lanjut Budi ketika mobil Ray tiba.
"Ayah, bangun Yah, bangun," lirih Hana mendampingi Indra.
"Buruan bawa mereka masuk," jelas Ray membukakan pintu mobil.
Ketika Indra, Ilham dan petinggi desa sudah berada di dalam mobil, Ray bingung ketika melirik Putra, Eka, Jhon, Ricko dan Lucy yang tidak ikut bersamanya.
"Kenapa tidak ikut masuk? Kita tidak bisa membuang waktu lebih lama disini," singkat Ray masih berdiri di samping pintu mobil.
"Dalam hal kebebasan, kami tidak sama seperti kalian," jawab Putra tersenyum.
"Hoi, pergilah jangan melamun, segera selamatkan nyawanya," sahut Eka melihat Ray melamunkan perpisahan tersebut.
Tanpa berkata, Ray berbalik arah berjalan masuk kedalam mobil.
"Temui kami di bangunan kosong sekolah tua malam nanti," ujar Putra mengacungkan jempol tangan.
"Heh, reuni kah?" pikir Ray membalas acungan jempol tersebut.
"Kata itu lebih pantas untuk kau, bodoh!" cibir Eka membalas.
Segera Ray dan lainnya bergegas menuju rumah sakit setelah berpisah dengan teman masa kecilnya.
Disisi lain Robi yang sangat terlihat kesal menekuk wajah bak ingin membunuh seseorang.
"Hanya itu laporan yang kami terima, Bos."
"BRENGSEK! Siapa mereka yang telah berani mencampuri urusan bisnisku!" umpat Robi membanting gelas dalam genggaman tangannya.
CETIRRR (Gelas pecah edisi lawak)
"Pihak kepolisian yang bekerjasama dengan kita memberikan ini, Bos," lanjut anggota memberikan daftar target buronan ke Robi.
"Mereka belum tau siapa aku, gak ada satu manusiapun di bumi ini yang mampu melawanku!" pekik Robi segera membuka satu persatu lembaran tersebut lengkap dengan sebuah foto.
"Putra..."
"Eka..."
"Lucy..."
"Jhon..."
"Ricko..."
"Hanya menghadapi gerombolan tikus tanah begini saja, kalian pada gak mampu?" lanjut Robi menggulung berkas laporan tersebut.
__ADS_1
"Tapi bukankah pergerakan mereka patut kita waspadai, Bos? Bowo dan teman-teman lainnya yang telah terbunuh, itu sebuah bukti kuat kalau mereka bukan sekedar kelompok sembarangan," sahut Rijal.
"Waspada? Dengan kelompok seperti ini?" umpat Robi melemparkan bio tersebut kearah Rijal.
"Segera cari dan bawa kepala mereka kesini. Bagi kalian yang berhasil, satu kepala saya bayar 100 juta!" lanjut Robi penuh emosi meluap-luap.
"100 juta? Beneran, Bos?"
"Pernah kalian liat saya ingkar janji? Dibandingkan mengingkari janji lebih baik saya mati!"
"Baik, Bos. Kalau begitu kami permisi."
Mengangkat tanan kanan, memalingkan pandangan, memberi perintah kepada anggota tuk segera pergi.
Tok...
Tok...
Tok...
"Siapa lagi ini, masuk," jawab Robi mempersilahkan tamu.
"Permisi, Paman."
"Kamu ternyata, kenapa?" singkat Robi melirik Aldo.
"Kenapa lemas seperti itu, Paman? Kelihatan gak ada semangatnya sama sekali," ujar Aldo menutup pintu perlahan duduk di hadapan Robi.
"Bowo dan timnya telah tewas terbantai."
"Bowo tewas? Kok bisa, Paman?"
"Entahlah Aldo. Oh iya tumben sore begini sudah datang, ada apa?"
"Permintaan pasar narkoba meningkat pesat di wilayah yang aku pegang, Paman. Kendala kita saat ini hanya persediaan stok barang tersebut."
"Terus?"
"Apa paman gak punya mitra negara asing yang lain yang bisa menyuplai lebih dari 10 ton/jenisnya?"
"Em, ada sih. Tapi kamu yakin dengan itu? Nilainya bukan kecil-kecilan loh, Aldo."
"Halah paman, bila pemuda-pemudi sudah rusak, jangankan satu provinsi, satu negara bakal mudah kita kuasai," jelas Aldo tersenyum picik.
Tok...
Tok...
"Permisi, Bos." Membuka pintu menutup kembali.
"Ada apa, Yoga?" tanya Robi singkat.
"Beberapa negara tetangga meminta pihak kita menyuplai 100-500 wanita muda tiap pekannya, Bos," jelas Yoga meletakkan berkas kontrak perjanjian di meja.
"Emm, berapa yang telah kau hasilkan bersama timmu dalam sepekan?"
"Sekitar 90-100, Bos."
"Yasudah saya setujui permintaan mereka dan berikan iming-iming yang sangat menggiurkan pada wanita-wanita selanjutnya. Mereka gaun muda penggila harta akan mudah terpancing tanpa harus bersusah payah memaksa," pungkas Robi menandatangani perjanjian tersebut.
__ADS_1
***
Sampai disini dulu ya kak, jangan lupa selalu berdoa dan berusaha dalam keadaan apapun. Makasih buat tetap stay kak. Kopi indomie goreng skip dulu cuaca panas, Kita lanjut...