Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 38


__ADS_3

Melihat kondisi Ray semakin membaik, Fendi beranjak permisi segera memberi kabar Alisa. Sebab nomor ponsel Alisa tak kunjung bisa ia hubungi.


"Aku pergi sebentar ya, ada urusan dikit sama Erlin."


Orang tua Alisa memutuskan untuk menjual beberapa aset yang masih mereka miliki untuk membeli rumah di area kediaman dekat Mia berada.


Perseteruan Alisa dengan Aldo sebelumnya membuat Fendi sedikit khawatir juga bingung, haruskah ia memberitahukan Ray atau tetap menyembunyikan darinya.


"Eh, lancarnya sama si Erlin, sukses ini nampaknya?" balas Ray mengacungkan jempol.


"Udah banyak belajar dia sama aku, makanya ngegas terus ni anak," sahut Fii.


"Mau tau aja ah, urusan babang tampan ini. Berangkat dulu ya, bye."


Berjalan meninggalkan Fii yang menemani Ray, segera menuju parkiran mobil bermaksud menemui Alisa memberitahukan kabar baik tentang kesembuhan Ray.


Didalam mobil.


"Oh iya Alisa kan juga lagi sakit kemarin butuh istirahat, aku belikan roti aja deh buat penyemangat," pikir Fendi singkat.


Menuju Restu bakery's.


Setibanya di toko, langsung sigap memilih dan membayar ke meja kasir, "Mbak, disini beli roti apa ya biar bisa dapet nomor ponsel kamu?"


"Aduh Mas apaan sih, lucu Masnya."


"Canda mbak, ini belanjaan saya mbak."


Berjalan keluar pintu hendak memasuki mobil, Fendi melihat Aldo dan Yuli berjalan bersama memasuki ruang cafe yang berada di sebelah tempat Fendi membeli roti.


"Kenapa mereka bisa bersama? Ikuti ajalah."


Berjalan tenang sedikit mengendap, Fendi berhasil mendekati tanpa mereka sadari. Segera mengeluarkan ponsel untuk merekam pembicaraan mereka berdua yang terlihat sedikit mencurigakan, sesekali mengambil foto.


Didalam ruang cafe.


"Sial tau gak, ingatan Alisa sudah kembali pulih. Sekarang dia kembali mengingat semua tentang Ray, padahal satu langkah lagi Alisa menjadi milikku," ujar Aldo kesal menatap Yuli.


"Ingatan?"

__ADS_1


"Iya."


"Memangnya ingatan Alisa bermasalah?"


"Loh, bukannya kamu selama ini mengetahui apa yang mereka alami, Yuli?"


"Sedikitpun aku gak pernah tau kabar itu," pungkas Yuli masih terlihat bingung.


Aldo langsung menceritakan awal sebab hilangnya ingatan Alisa sampai akhirnya mereka bertunangan ke Yuli. Mengetahui tindakkan yang Aldo lakukan, Yuli merasa kagum padanya.


"Hebat kamu Mas bisa sampai sejauh itu melangkah."


"Iya tapi pada akhirnya jadi seperti ini."


"Kamu tenang Mas, Aku punya bukti foto yang bisa membuat Alisa benci kepada Ray." Menunjukan foto tidurnya dengan Ray.


"Gila kamu Yuli, ide kamu brilian. Tapi ini beneran lagi main kuda-kudaan?" Aldo menanyakan sesuatu.


"Ya gak lah Mas, posisi Ray saat itu sedang mabuk parah, jadi aku manfaatin aja sekalian untuk mengikat lehernya agar gak berpaling dariku."


"Bagus kalau begitu. Dengan begini aku bisa mendapatkan Alisa dan kamu mendapatkan Ray," lanjut Aldo tersenyum membayangkan sesuatu.


"Tapi kalau boleh jujur, sebenarnya kamu cinta gak sih ke Alisa? Aku perhatiin ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari semua orang."


"Kamu beneran? Kamu yakin?" tanya Yuli bingung atas pengakuan Aldo.


"Why not? Setelah mendapatkan semua darinya, Aku tinggal mencampakkan mencari pengganti yang baru. Selama ini aku terlihat seperti pengemis di depan semua orang hanya untuk mendapatkan balasan darinya, tapi apa yang kudapat? Sedikitpun dia gak pernah menganggap kehadiran cinta dariku," kecam Aldo membuktikan bahwa apa yang ia katakan akan terjadi di kemudian hari.


Obrolan mereka berdua selesai setelah saling menyepakati perjanjian tersebut dan berlalu pergi meninggalkan ruangan itu. Melihat dan mendengar semua pembicaraan tersebut, Fendi bergegas menuju ke tempat Alisa.


"Gila kali mereka, udah kayak dua sejoli iblis. Kirain cuma di film-film aja ada orang jahatnya, rupanya di bumi masih banyak yang kayak begitu."


Sepanjang perjalanan Fendi terus memikirkan cara membocorkan semua hal yang ia tau. Namun setelah sampai di tempat Alisa,


"Kenapa ramai seperti ini, ada apa ya?" gumam dalam hati.


Melihat Aldo juga sampai di tempat Alisa semakin membuat Fendi bingung. Aldo perlahan berjalan menghampiri Fendi setelah ia melihat Fendi berdiri di depan pintu mobil.


"Eh ada temen si cowok pecundang rupanya disini, ada perlu apa, Tuan?" ujar Aldo meledek.

__ADS_1


"Maaf sebelumnya, anda siapa ya? Pernah bertemu dengan saya gak sebelumnya? Atau fans saya ya? Maaf ya saya sibuk gak punya banyak waktu luang," balas Fendi memancing emosi Aldo.


Aldo yang mudah tersulut emosi, mendekatkan diri dihadapan wajah Fendi.


"Asal lo tau ya, lebih baik gak usah kebanyakan gaya. Nih sampaikan kepada kerabat lo itu, bilangin dia untuk hadir. Aku tunggu kehadiran kalian di hari bahagiaku, hahah," ujarnya tertawa.


Aldo beranjak pergi meninggalkan Fendi setelah memberikan sepucuk surat undangan pernikahan yang akan di laksanakan 10 hari lagi.


"Gawat ini gak bisa di biarin, aku harus segera memberitahu Ray untuk membatalkan pernikahan Aldo."


Terlalu sulit untuk Fendi memberitahukan Alisa karena saat itu Aldo menemuinya terlebih dahulu. Tanpa pikir panjang, ia segera kembali untuk memberi kabar Ray dengan cepat.


Dilain sisi Aldo setelah masuk dan bertemu Alisa.


"Sayang, kenapa cemberut begitu wajahnya? Kamu gak senang ya aku bermain kemari? Aku calon suami kamu loh."


"Bukan kamu yang harusnya menjadi suamiku! Sampai kapanpun aku tetap mencintai mas Ray," ujar Alisa memalingkan wajah.


"Kamu yakin tetap mencintainya setelah kamu mengetahui sifat brengseknya nanti?"


"Jaga ucapan kamu! Dia bukan lelaki seperti yang kamu ucapkan, Aldo!" Tegas Alisa penuh amarah.


"Sayang sayang, jangan marah dulu dong. Niat aku kan baik ingin memberitahu kamu kalau sifat sih Ray itu seperti apa." Merangkul Alisa.


"Lepasin tangan kamu, jangan kurang ajar, aku belum sah menikah denganmu!" Melirik kearah tangan Aldo di pundaknya.


"Iya iya maaf. Kira-kira kalau ayah kamu melihat foto ini, masih setuju gak ya jika kamu dan Ray nantinya bersatu kembali?"


Aldo mengambil ponsel sengaja memperlihatkan Foto syur Ray dan Yuli. Jebakan hebat dari Yuli membuat Alisa semakin kacau ketika melihatnya.


Penuh kecewa Alisa membanting ponsel tersebut segera beranjak pergi menuju ke kamar tidurnya.


Ayah Alisa yang mendengar sedikit keributan segera menghampiri, "Loh kok ponselnya hancur begitu?"


"Gak apa-apa kok Yah, Ini hanya masalah kecil, wajarlah Alisa menghancurkan ponsel milikku karena rasa kecewanya terhadap Ray."


"Sih Ray lagi? Apa yang dia buat kembali pada Alisa?" Menatap penuh geram.


"Aduh Yah, aku gak enak ah ntar Lisa pikir aku memberitahukan hal yang buruk-buruk supaya Ayah semakin membenci Ray. Padahal ini kenyataan, bukan rekayasa, Yah."

__ADS_1


***


Sampai sini lah dulu, nanti gas lanjut kak-akak. Makasih..


__ADS_2