
"Kenapa anda bisa berfikir kalau aku datang untuk membodohi kalian?"
"Tama, sebaiknya jangan emosi dahulu. Bisa saja apa yang ia katakan itu benar," sahut seorang warga coba menenangkan Tama.
"Sebaiknya kalian diam saja, dari dulu sudah berapa banyak yang mencoba merebut tanah kelahiran ini. Sudah banyak wilayah-wilayah desa lainnya yang telah mereka rampas tanpa membayar sepersenpun uang seperti yang mereka janjikan," jelas Tama kembali.
"Sepertinya anda orang yang sangat berpengaruh di desa ini ya," balas Aldo memangku kedua tangan masih menatap tajam.
"Lebih baik sekarang kalian pergi dari sini," lanjut Tama mempersilahkan Aldo untuk pergi meninggalkan desa tersebut.
"Dasar orang tua kepar..."
"Cukup, tahan dulu," sahut Aldo menghentikan Alfred yang hendak memberi pelajaran pada Tama.
"Apa? Kalian mau menghajar ku?"
Para warga lainnya yang jumlahnya jauh lebih banyak memperpendek jarak mendekati mengangkat mengarahkan beberapa jenis senjata tajam kearah Aldo.
"Iya iya iya." Aldo memberi tepuk tangan kecil untuk petinggi desa tersebut.
"Saya pastikan anda akan menyesal nantinya," kecam Aldo menunjuk rendah Tama.
"Sedikitpun Pratama Wijaya tak pernah takut menghadapi bajingan seperti kalian. Ingat itu," jelas Tama penuh perlawanan.
"Lihat saja nanti, akan ku ingat semua kejadian ini. Cabut." Aldo memberi perintah meninggalkan kerumunan tersebut menuju mobil.
"Kenapa tidak kita habisi saja mereka?" pekik Erick memasuki mobil.
"Benar apa kata Erick, kita gak mungkin kalah karena masing-masing dari kita memiliki ini," sahut Alfred menunjukkan pistol.
"Sabar dulu, kita gak mungkin melalukan hal bodoh langsung membantai mereka semua. Kalian tau bukan, melakukan hal seperti itu bukanlah gaya bermainku," jawab Aldo kembali.
"Terus apa yang akan kita lakukan, Tuan?" balas Alfred.
"Bilang saja kau takut, heh," sindir Bowo memangku tangan di kepala.
"Apa perlu nyali ini ku tunjukkan dengan cara memenggal kepalamu saat ini juga?"
"Cuuih."
"Lebih baik kamu diam atau pistol ini memecah kepalamu!" Alfred menodongkan pistol kearah kepala Bowo.
Melihat suasana dalam mobil semakin panas, Aldo mengangkat tangan menghentikan pertikaian mereka.
"Kita hanya perlu menghabisi orang-orang penting di antara mereka. Dengan begitu tidak akan ada lagi dari mereka yang berani bermain-main menolak penawaran ku," jelas Aldo.
"Asik, ini bagian yang paling ku nantikan," sahut Alfred penuh semangat.
"Langsung saja beri kami perintah kapan akan kita jalankan rencana tersebut," sahut Erick.
"Malam ini kita mulai," singkat Aldo menggenggam erat setir mobil.
Alfred, Erick dan dua anggota lainnya menganguk cukup paham.
"Sekarang kita hanya perlu mengamati saja sampai waktunya tiba," lanjut Aldo kembali.
Menunggu serta mengamati keadaan sekitar hingga malam hari telah tiba. Setelah mengetahui keberadaan rumah Pratama Wijaya, bergegas melaksanakan aksi keji tersebut.
Malam pukul 1:45.
"Alfred dan Erick, kalian ikut bersamaku. Sedang sisanya menjaga keadaan sekitar luar. Viktor tetap stay di ruang kemudi," ujar Aldo membagi tugas di dalam mobil hendak memakai sebuah topeng.
"Siap," sahut Erik dan Alfred.
"Jangan sampai ada kesalahan sedikitpun," jelas Aldo kembali menatap Bowo.
"Heh, hanya tugas ringan begini saja sampai bergetar seperti itu," jawab Bowo turun mobil.
Memasuki area halaman luar, berjalan mengendap mencari sela lewat beberapa pilihan pintu.
Menoleh kearah Alfred yang mengintip jendela kamar, memberi kode tak bisa melewati cela tersebut.
"Sstttlt..," kode Aldo ke mereka agar segera mematikan arus listrik rumah.
Mereka yang mengetahui maksud dari Aldo, membalas mengangkat jempol. Setelah berhasil memutus saklar arus, menguping mencari info keadaan dalam rumah.
__ADS_1
Tak lama kemudian terdengar suara-suara kecil dari dalam rumah.
"Bu, mati lampu ya."
"Em iya ini Yah."
"Tapi cahaya luar kok terang?"
"Yasudah di liat dulu, Bu."
Mendapat kesempatan tersebut, Aldo tak ingin mensia-siakan peluang yang ada. Memberi kode lampu laser ke arah Alfred yang menunggu di pintu depan.
Ceklek.
"Oh ini toh masalahnya. Nah kan sudah terang kembali," ujar istri Tama kembali masuk.
Pukul 2:30.
Alfred yang berhasil menyusup masuk memanfaatkan jeda waktu beberapa menit sebelumnya, membukakan pintu untuk Aldo dan lainnya ketika seisi rumah tertidur lelap. Ketika masuk kedalam, Tama keluar dari kamarnya menatap bingung.
"SIAPA KALIAN?"
Ketika keberadaan Aldo telah di ketahui...
DOR!!!
DOR!!
DOR!!
Mendengar beberapa tembakan...
"AYAHH!!" Istri Tama memeluk tubuhnya yang sudah bercucuran darah.
"BIADAB!!" kecam Istri Tama bangkit hendak mengambil pisau buah di meja.
DOR!!
DOR!!
DOR!!
"Ayah, Ibu?" lirih anak perempuan yang mereka angkat baru berusia 7 tahun menangisi jasad kedua orang tua yang tertumpuk.
Risma ialah gadis kecil yang Tama adopsi setelah pernikahan Ray dengan Alisa. Setelah kematian orang tua kandung Risma yang bunuh diri, membuat Tama juga sang istri merasa ibah dan menjadikan Risma sebagai anak kandung sendiri serta tulus memberikan kasih sayang pada gadis kecil tersebut.
"Tuan?" bisik Alfred menatap Aldo.
Melihat anak perempuan menangisi jasad kedua orang tuanya tersebut, Aldo membentangkan tangan ke Alfred agar tak membunuhnya.
Namun...
DOR!!
DOR!!
"Kenapa kau membunuhnya?" pekik Aldo pada Erick.
"Tanggung kan?"
"Goblok!"
Dretttt.....
Drettt....
"Bowo? Cabut," ucap Aldo mengetahui keadaan luar telah berubah, berlalu pergi meninggalkan rumah tersebut menuju mobil.
"Woi, siapa itu!" Bentak seorang warga dari kejauhan.
"Maling-maling." Teriaknya ketika Aldo masuk kedalam mobil langsung pergi menjauh.
"Ah, kenapa kau membunuh anak kecil itu?" pekik Aldo pada Erick membuka topeng.
"Bukankah tujuan kita memang melenyapkan seisi penghuni rumah tersebut?" jawab Erick cukup santai.
__ADS_1
"Kenapa Aldo, kamu takut? Atau kasihan? Pembunuh seperti apa yang masih memiliki hati?" sahut Bowo tertawa ringan.
"Sudah lebih baik kita kembali, toh pekerjaan kita telah selesai dan tinggal menunggu waktu kapan kembali untuk bernegosiasi," ujar Alfred mendamaikan suasana merangkul Aldo.
"Tuan masih memikirkan hal tadi?" lanjut Alfred kembali.
"Tidak, Aku hanya berfikir ingin menjadikan dirinya peliharaan dan ketika besar mungkin bisa kita jual. Justru itu lebih menguntungkan bukan?" jelas Aldo.
"Oh iya juga, baru kepikiran aku Tuan. Haduh Rick, kamu sih main gas terus," pekik Alfred menggeleng.
"Terlalu termotivasi aku dari film-film aksi konflik perang," jawab Erick membersihkan pistol miliknya.
"Yasudah intinya sekarang kita party dulu, ya gak?" singkat Aldo.
"Oke Tuan."
"Lanjut. Ha..ha..ha."
Tertawa bersama di dalam mobil menuju diskotik untuk bersantai bersenang-senang menikmati keberhasilan meski masih sekedar langkah awal.
Disisi lain Ray, Pukul 4:15.
Meski belum berbicara dengan Alisa karena masih merajuk. Namun mereka telah kembali tidur bersama.
Dreet.....
Dreet.....
"Siapa lagi jam segini ganggu orang tidur," gumam Ray masih memejamkan mata mengabaikan panggilan masuk di ponselnya.
Dreet.......
Dreet.....
Plak..plak. (Tangan Alisa memukul-mukul punggung Ray).
"Iya, iya." Terduduk di ranjang mata masih terpejam.
Dreet....
Dreet....
"Siapa sih ini, gak sabar bener," gerutu Ray langsung mengangkat panggilan.
"Halo!"
"Bang..."
Mendengar lirih seorang suara anak lelaki, Ray segera melihat nama pemanggil di ponsel tersebut.
"Rama?" Terkejut melihat panggilan Rama di jam yang sangat pagi buta.
"Kenapa menangis?"lanjut Ray.
"Ayah bang, Ibu..."
"Kenapa, Rama? Bilang yang jelas!" Bentak Ray mulai panik melihat Rama terus menangis juga mendengar suara keramaian di rumah kampung.
"Risma, Bang."
Nada tipis kecilnya dalam berbicara terus merintih menangis, terdengar tak sanggup berkata pada Ray.
"Jawab, Rama. Ada apa ini sebenarnya?" Dada Ray sedikit terasa sesak meski belum tau apa yang sebenarnya telah terjadi.
Terus mendengar rintihan pilu dari Rama, membuat hati serta pikiran Ray cukup kacau. Hingga akhirnya tangisan Rama kian mereda setelah nada suaranya perlahan serak menghilang.
"Ayah,...Ibu...Risma, mereka dibunuh, Bang."
Tut....
Tut....
Panggilan telepon terputus secara tiba-tiba.
***
__ADS_1
Sampai disini dulu kak, makasih terus ikutin dan fav bukan romeo. Buat gift-giftnya makasih banyak. Lanjut...