
"Tahap awal telah berhasil kita lalui. Dari sini aku akan berusaha lebih keras agar bisa meyakinkan ayahmu kalau hanya aku lelaki yang pantas untukmu."
"Aku nantikan kabar baik itu Mas. Setelah ini aku akan mengurus perusahaan ayahku seperti yang beliau inginkan. Kamu semangat terus ya, jangan pernah menyerah."
"Siap tuan putri," balas Ray merentangkan tangan agar Alisa memeluk dirinya.
Pelukan terakhir Alisa saat itu menjadi penyemangat dalam hidup Ray. Terus mencoba mencari pekerjaan baru melewati hari demi hari hingga akhirnya Ray berhasil bergabung di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang marketing.
Musim terus silih berganti, sedikit demi sedikit karirnya beranjak mulus hingga akhirnya Ray menjadi kordinator marketing.
"Hari ini kamu akan bertemu dengan salah satu pemilik perusahaan ternama dan dia akan membujuk kamu untuk bergabung di perusahaan miliknya."
Mendengar hal tersebut, Ray mengangguk memahami situasi.
"Perusahaan yang ia jalankan saat ini mengalami sedikit masalah, Ray," lanjut manager utama menjelaskan.
"Baik, Pak," singkat Ray.
Setelah menentukan waktu untuk bertemu,
Ray menunggu di ruangan kerja miliknya.
Tok...
Tok...
Tok...
"Iya, silahkan masuk," sahut Ray mempersilahkan.
"Selamat siang, Pak," sapa tamu tersebut.
Duduk membelakangi, Ray yang sedang membaca file berkas laporan penjualan berbalik arah.
"Kamu?" ujar tamu tersebut bingung melihat Ray.
Salah satu pemilik perusahaan ternama yang akan membujuk Ray bergabung di perusahaan miliknya tak lain ialah Ayah Alisa.
Karena sedang berada di lingkungan kerja, keduanya bersikap profesional mengesampingkan perasaan masa lalu.
Membahas segala sesuatu tentang pekerjaan hingga akhirnya Ray menerima tawaran bergabung di perusahaan milik Ayah Alisa.
"Baiklah kalau begitu pembahasan kita selesai dan saya memutuskan akan bergabung di perusahaan yang bapak pimpin. Saya berjanji akan berusaha semaksimal mungkin demi membangkitkan kembali performa perusahaan," jelas Ray berdiri tersenyum.
"Maafkan atas kesalahan saya di masa lalu. Kini saya menyerahkan masa depan Alisa di tangannya sendiri tanpa campur tangan saya," balas Ayah Alisa ketika berjabat tangan dengan Ray.
Memahami maksud dari perkataan ayah Alisa, Ray mengerti bahwa batasan antara dirinya dengan Alisa telah terhapus.
Keesokan hari setelah Ray bergabung dengan perusahaan tersebut, setelah usai memperkenalkan diri Alisa menghampirinya.
__ADS_1
"Mas, kamu berhasil, selamat," ucap Alisa semringah.
"Aku tidak akan pernah berhasil sampai di titik ini jika wanita yang menemaniku bukan kamu."
(FLASH BACK OFF)
"Hanya itu sebagian penggalan kisah hidupku dengan Alisa," ujar Ray ke Fii dan Fendi.
Ray yang menatap kosong pandangan, tanpa terasa air matanya terjatuh. Segera mengusap kembali tersenyum.
"Udah ah jangan bahas itu lagi, biarkan itu jadi kenangan manis dalam hidupku bersama Alisa," lannjt Ray.
"R-Ray.....hiks..hiks...R-Ray," rintih Fendi terharu mendengarkan sedikit kisah Ray mengingat Aldo akan segera menikahi Alisa.
"Jangan lebay, ku tepok nanti jidatmu," singkat Ray memantik api menyalakan rokok.
"Aku gak bisa bilang apa-apa Ray. Hanya kata sabar dariku untukmu," sahut Fii berdiri mendekati memberikan pelukan persahabatan.
Tak lama kemudian Fendi juga ikut memeluk dengan sendu tangis pelan.
"Udah ah, kayak habis kena libas orang tua aja kalian pake nangis segala. Yok cabut sudah makin larut malam," pungkas Ray.
Fii bergegas membayar hidangan malam itu, kemudian mereka melanjutkan kembali perjalanan pulang.
Keesokan harinya di kediaman Alisa.
"Ayah, Alisa gak menginginkan pernikahan itu, Alisa ingin membatalkan pernikahan dengan Aldo." Perlahan duduk di sebelah Ayah.
"Apa? Batalin pernikahan? Kamu ingin membatalkan pernikahan dengan Aldo hanya karena lelaki seperti Ray?"
"Alisa hanya cinta mas Ray Yah, bukan Aldo," jelas Alisa menentang.
"Jangan main-main kamu Lisa, pernikahan bukan sekedar mainan semata," balas Ayah memalingkan pandangan.
"Bagaimana jika ayah menjalani rumah tangga tinggal bersama orang yang gak ayah cintai? Pasti hidup Alisa gak bakal bahagia."
"Tapi Aldo jauh lebih baik di bandingkan dia, Lisa!" Bentak Ayah.
"Dari sudut pandang mana Aldo lebih baik, Yah? Dia bersikap seperti itu hanya karena sebatas terobsesi ingin memilikiku mendapatkanku walau menghalalkan segala cara, Yah," ujar Alisa menahan tangis.
"Dengan menikahimu, Ayah yakin Aldo akan membuat masa depan kamu lebih cerah dibanding Ray. Kamu lihat sendiri bukan? Diusianya yang sekarang, Aldo sudah mempunyai beberapa aset dan karir yang sangat hebat," singkat Ayah.
"Masa depan Alisa atau ambisi Ayah membangkitkan kembali perusahaan yang dulu?" pekik Alisa.
"Kamu sudah berani melawan Ayah? Bagaimanapun kamu menentang pernikahan dengan Aldo, kamu akan tetap menikahinya!" jelas Ayah.
"Tapi, Yah..."
"Tidak ada kata tapi, jangan pernah berusaha membatalkan pernikahanmu," lanjut Ayah berlalu menuju kamar.
__ADS_1
Air mata Alisa kembali mengalir membasahi pipi saat ia mengetahui mustahil baginya bisa membatalkan pernikahan dengan Aldo.
Kembali ke Ray.
Siang hari di bawah terik matahari, Ray, Fendi dan juga Fii sedang berkeliling kota mensurvey daya beli pasar.
"Panas-panas begini enaknya makan apaan ya," gumam Fendi.
"Makan apa aja lah, yang penting makan," singkat Fii.
"Cari yang seger-seger aja gimana?" sahut Ray menoleh menatap Fendi.
Tiba-tiba...
"Awas Ray," teriak Fendi mengejutkan Ray yang menyetir laju mobil.
Ciiiiiiiitttttttt.........(Suara ban mobil di rem).
"Kenapa Fen?" balas Ray menoleh.
"Ada kucing lewat, untung gak kena tabrak tuh kucing," jelasnya.
"Kalau kena tabrak gawat kita nanti, bisa celaka setau ku," sambut Fii.
Melanjutkan kembali perjalanan menuju rumah makan. Setelah sampai langsung memesan beberapa menu segera menyantapnya.
Disisi lain, Yuli menemui Aldo di suatu tempat.
"Jadi rencana apa yang bakal kamu buat untuk membantuku? Besok kamu sudah sah menikahi Alisa, sedang aku belum jelas seperti ini," ujar Yuli.
"Ya pinter-pinter kamu don, Yuli. Kamu itu sudah besar, masak seperti itu saja mesti aku ajarin?" balas Aldo mulai menunjukkan sifat asli dirinya.
"Bukanya kemarin kamu berjanji akan membantuku mendapatkan mas Ray? Kenapa sekarang sikapmu seperti ini?"
"Aku lagi sibuk menyiapkan acaraku, Yuli. Jadi aku gak ada waktu untuk memikirkan kalian berdua," singkat Aldo datar.
"Lagian nih ya, kenapa kamu gak mencari lelaki lain saja sih? Kenapa harus Ray? Sudah jelas Ray tidak menginginkanmu," lanjut Aldo.
"Oh, jadi seperti ini cara kamu membantuku? Kalau kamu tidak ingin membantuku gak masalah. Tapi ingat, kamu pasti akan menyesal," jelas Yuli mengancam.
"Kamu mengancam?" pekik Aldo tersenyum receh.
"Berulang kali aku katakan, jangan main-main denganku!" balas Yuli.
***
Sampai disini dulu kak akak, nanti kita lanjutkan kembali. Makasih buat yang baru gabung jangan lupa Fav dan lainnya. Moga betah kak....
Lanjut...
__ADS_1