
Aldo menghela nafas sejenak kemudian kembali mengungkapkan sesuatu.
"Kamu belum tau Aku siapa? Perlu kamu tau bahwa, tidak ada satupun orang di dunia ini yang berani mengancamku seperti kamu mengancamku. Harus ku akui kamu wanita pertama yang berani bersikap seperti itu padaku, Yuli. Silahkan jika kamu bisa membuatku menyesal," jawab Aldo menantang Yuli.
"Kamu yakin tidak takut menyesal?" Tersenyum Yuli kembali meyakinkan Aldo.
"Apa yang aku sesalkan dan apa yang harus ku takutkan dari wanita rendahan seperti kamu?" pekik Aldo menertawakan Yuli.
"Jaga mulut kamu, jangan sampai aku benar-benar melakukannya. Lebih baik sekarang kamu meminta maaf kepadaku," kecam Yuli menaikan nada bicara.
Aldo terus menertawakannya, tak sedikitpun ketakutan menghantui dirinya.
"Yuli Yuli, kamu itu lucu."
"Tertawalah sesuka hatimu. Aku ingin tau bagaimana reaksi kamu jika mengetahui bahwa aku merekam percakapan kita saat itu tentang mereka berdua," balas Yuli sedikit memojokkan Aldo.
"Kamu ingin aku mempercayai hal itu?" Aldo semakin tertawa terbahak-bahak.
Yuli bergegas mengambil ponsel di tas, membuka file berkas rekaman pembicaraannya dengan Aldo saat pertemuan terakhir langsung memutarkan rekaman tersebut di hadapan Aldo.
Ketika mendengar seluruh rekaman komplit yang Yuli bahas dengannya kala itu, seketika raut wajah Aldo pucat memutih. Tawa terbahak-bahak sebelumnya dalam sekejap hilang berubah menjadi rasa gelisah.
"Mana tawa kamu tadi? hanya segitu saja tertawanya? Ayo lanjut dong, Aku pengen denger lagi ini kamu tertawa terbahak-bahak seperti tadi," ujar Yuli menyepelekan Aldo.
Aldo terdiam sembari meminum habis minuman miliknya di atas meja seperti dilanda haus panas cuaca.
Aldo terlihat memikirkan cara membalas perlakuan Yuli padanya, memalingkan pandangan dari tatapan mata, terus memandangi ponsel di genggaman Yuli.
"Oh, Aku tau, kamu pasti sedang berfikir, bagaimana caranya untuk merebut ponsel ini agar rekaman ini bisa terhapus? Seperti itu bukan? Asal kamu tau saja Aldo, rekaman ini sudah aku salin. Jika aku mau, Aku bisa menyalinnya lebih banyak lagi. Rekaman di ponsel ini tidak seberapa, walaupun terhapus aku masih punya banyak cadangan," pungkas Yuli.
"Sebaiknya kamu menuruti saja apa yang aku katakan dan jangan pernah mencoba menentang perkataan dariku. Tapi itu terserah kamu sih mau nurut atau enggak. Jika nurutin kata-kata dariku, pasti pernikahan kamu dengan Alisa berjalan lancar kok," lanjut Yuli terus mengucilkan Aldo.
Aldo perlahan memalingkan pandangan kemudian menatap Yuli kembali.
"Oke, kamu menang dan aku akan menuruti semua keinginan kamu. Tapi kamu harus berjanji padaku satu hal, jangan pernah mencoba membatalkan pernikahan ku dengan Alisa," balas Aldo menyerah di hadapan Yuli.
"Nah begitu dong seharusnya anak tampan," ujar Yuli tertawa kecil.
__ADS_1
"Jadi apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Aldo kembali.
"Aku ingin kamu berfikir keras bagaimana cara agar Ray mencintaiku dan tidak ada kata gagal. Aku beri kamu waktu satu hari, dalam satu hari besok jika Ray masih menolak cinta dariku, perjanjian kita selesai," jelas Yuli.
"Kamu sudah gila apa? Aku tidak punya cukup waktu untuk memikirkan hal itu Yuli, kamu tahu sendiri acara pernikahan kami tinggal besok," ujar Aldo.
"Itu urusan kamu, bukan urusan ku. Kalau kamu gak sanggup yasudah bilang saja, pasti aku akan membiarkanmu pergi." Kembali Yuli mengancam.
Aldo terdiam sejenak.
"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, Aku tunggu jawaban kamu sore nanti karena sekarang aku lagi sibuk ada sedikit urusan. Aku pergi dulu ya anak tampan, bye, lanjut Yuli berhasil mengekang pikiran Aldo.
Setelah berdiri beranjak pergi meninggalkan Aldo yang masih termenung sendiri di meja itu. Perasaan Yuli cukup puas telah berhasil memenangi perdebatan tersebut.
Pikiran cerdiknya untuk merekam
pembicaraan dengan Aldo saat itu, akhirnya membuahkan hasil.
"Dengan begini kamu tau siapa aku Al, jangan pernah ingin bermain dengan ku," batin Yuli berjalan santai sembari memakai kaca mata hitam miliknya.
Sementara itu Aldo yang terdiam sendiri.
Dengan sigap, Aldo langsung mengambil ponsel menghubungi seseorang.
Tutt.......tutt......klek (Nada panggilan).
"Kamu dimana?"
"Lagi di tempat biasa, Bos."
"Ada pekerjaan untukmu, bisa bertemu sekarang?"
"Baik bos segera meluncur."
Mengenal beberapa bajingan bukanlah hal sulit baginya. Hal yang wajar karena Aldo adalah anak pengusaha gelap yang bermain di balik layar.
Kembali ke sisi Ray.
__ADS_1
"Kalau saja makanan kita begini terus, udah pasti makin gemuk aku," ujar Fendi.
"Sakit lambungmu nanti, makanan mewah begini gak baik kau konsumsi terus-terusan Fendi, terkejut lambungmu nanti karena kaget," sahut Fii.
"Ngejek aja kerjamu, beruntung kau sama Ray udah ku anggap seperti saudara sendiri, kalau gak udah ku jebloskan ke penjara kau karena melakukan pencemaran nama baik lambung ku, lambung orang susah," jawab Fendi mengelap tisu ke mulutnya.
Sikap mereka yang tetap seperti itu terus menghibur kehidupan Ray. Melihat pertikaian mereka berdua tak pernah membuat Ray merasa bosan sedikitpun.
"Kalian ini, sama-sama susah aja ribut terus, bukannya akur malah berantem. Kayak mana Tuhan mau kasih kalian rejeki lebih?" cetus Ray.
"Dia dulu Ray yang mulai. Dari dulu gak ada sopannya ni anak, padahal aku lebih tua dari dia dua bulan. Harusnya dia ini hormat sama aku terus minta maaf. Begini contohnya, maafkan aku kakanda Fendi terus aku jawab ke dia, iya Hanoman. Nah begitu harusnya cara minta maaf dia ke aku." pekik Fendi.
"Hanoman, Hanoman, tua dua bulan ajapun, ku beli pulak nanti tiga bulan sebelumnya biar aku lebih tua," sahut Fii.
"Sudah-sudah, ayo cabut, ada beberapa berkas yang belum ku kerjain di kantor," ujar Ray berdiri menuju kasir membayar makanan kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke kantor.
Dilain sisi Aldo yang telah bertemu dengan kedua anak buahnya.
"Gimana, bisa?"
"Waduh resikonya terlalu besar Bos, sedikit berbahaya."
"Aku bakal bayar berapapun yang kalian pinta," jelas Aldo cukup serius.
"Baiklah kami pikir-pikir kembali deh, Bos."
"Jangan terlalu lama, kabari aku secepatnya. Aku mau kembali ke kantor dan ini foto korban." Memberikan Foto Yuli segera pergi meninggalkan mereka berdua.
Kembali ke sisi Ray yang sedang dalam perjalanan menuju kantor.
"Ray, kamu gak sedih atas pernikahan Alisa besok?" tanya Fendi.
"Jangan bahas itu terus Fen, cukup biarkan Ray sendiri dengan perasaannya," sahut Fii.
Tanpa menjawab pertanyaan Fendi, Ray tetap fokus menyetir mobil.
***
__ADS_1
Sampai di sini dulu kak, Fav komen apalah itu semuanya untuk dukung karya ini ya kak, awas salah pencet gift hadiah kak, makasih.
Lanjut.