
"Gak ada ngerjain apa-apa kok sayang," jawab Ray berbalik menatap Alisa.
"Beneran kamu gak bohong?"
Hanya tersenyum tipis menatap Alisa.
"Tuh kan, pasti ada hal yang kamu tutupin dariku. Aku hafal mana ketika kamu bohong atau jujur Mas, Aku tau." Memalingkan pandangan dari Ray.
Berjalan menuju Alisa yang duduk di tempat tidur, langsung berbaring di sebelahnya.
"Ah." Berbaring memangku kepala dengan kedua tangan di bawah.
"Jawab Mas, seharian kamu kemana."
"Aku mengikuti Aldo."
"Aldo?" ujar Alisa bingung.
"Kenapa lagi dengan Aldo? Kenapa harus berurusan dengan dia lagi? Kemarin kamu udah janji gak bakal urusin Aldo lagi kan mas?" ucap Alisa sedikit kesal.
"Aku hanya ingin membuktikan kalau perasaanku bahwa Aldo pelaku pembunuhan ayah itu benar sayang. Aku masih gak bisa terima kepergian ayah secara tragis dan itu telah membuat ibu berlarut terus bersedih."
"Harus berapa kali aku katakan mas? Justru aku melarang kamu gak berurusan dengan Aldo agar nasib kamu gak sama seperti ayah. Aku udah kehilangan ayah dan aku gak mau kehilangan kamu!" bentak Alisa menaikkan nada bicara sedikit keras.
"Tunggu, kamu bilang barusan agar nasibku gak sama seperti ayah? Jadi kamu udah tau bahwa Aldo penyebabnya?" tanya Ray perlahan duduk menatap Alisa.
"Ibu yang memberitahuku jika sebelum kejadian itu, ayah dan Aldo berseteru," ujar Alisa menunduk.
"Kenapa kamu bisa rahasiakan hal seperti ini dariku?"
"Aku hanya gak ingin kamu bernasib sama dengan ayah, Mas. Kamu ngerti gak sih apa yang aku ucapkan?"
"Aku lakuin hal ini karena aku sayang sama kamu dan gak ingin kamu bersedih. Kenapa kamu justru belain Aldo merahasiakan semuanya dariku?"
"Aku gak belain Aldo, kenapa kamu jadi egois seperti ini sih? Aku gak ngerti jalan pikiran kamu."
"Aku egois? Kamu yang egois." Bangkit berdiri berjalan keluar kamar.
"Aku? Memang ya lelaki itu semua sama, egois gak mau tau perasaan wanita," ujar Alisa berbaring membelakangi Ray.
"Terserah!"
Gledak (Menutup pintu kamar keras).
"Bisa-bisanya melindungi bajingan yang telah membunuh ayah sendiri," gumam Ray menuruni tangga menuju sofa ruang tamu.
"Aghrrr!" Berbaring di sofa pusing memikirkan hal tersebut.
Malam yang penuh dengan perdebatan itu kini berlalu menyabut pagi telah kembali.
"Em..." Terbangun membuka mata.
"Kenapa ada selimut?" pikir Ray melihat selimut menyelimuti tubuhnya, terduduk sejenak memulihkan daya tubuh kemudian bangkit menuju kamar.
Ketika hendak membuka pintu kamar,
"Huek, huek."
Terdengar suara Alisa mual-mual seperti sakit.
Klek (Membuka pintu kamar).
"Sayang." Berjalan menghampiri Alisa mata berair merasakan mual.
__ADS_1
"Mas, huek."
Mengelus-elus leher Alisa menuntunnya kembali untuk beristirahat, "Kita ke dokter ya."
"Gak Mas, Aku gak apa-apa, mungkin hanya masuk angin."
"Bagaiman kalau kamu itu hamil, Sayang?"
"Sebaiknya kamu beres-beres Mas, nanti terlambat masuk kerja." Alisa tersenyum menatap.
"Tapi kondisi kamu seper..."
"Aku baik-baik aja Mas, nanti minta tolong bibi bila ada keperluan. Lebih baik kamu mandi terus kerja yang fokus."
"Em, yasudah kalau kamu bilang begitu, jangan terlalu capek terus maaf buat perdebatan tadi malam. Aku cuma gak bisa terima jika..."
"Sudah mas jangan di bahas. Aku juga ngerasa bersalah menyembunyikan sesuatu dari kamu. Meskipun sekarang kita tau pelakunya, kita belum ada bukti apapun buat laporin dia. Hanya doa yang bisa kita lakuin," ujar Alisa terbaring lelah.
"Makasih juga buat selimut ini," balas Ray menunjukan selimut mencium kening Alisa.
"Yaudah kamu istirahat, Aku mau bersih-bersih mau ngantor," lanjut Ray.
"Bagaimana dengan Fendi dan Fii, Mas?"
"Biarin ajalah, mereka juga masih nyenyak, Sayang." Berjalan mengambil handuk menuju kamar mandi.
Berselang 30 menit usai berbenah diri.
"Mas, maaf ya sarapan pagi ini bibi yang buatin untuk kamu," ujar Alisa masih terbaring melihat Ray merapikan dasi di depan cermin.
"Udah jangan terlalu dipikirin, lebih baik kamu istirahat aja dulu biar cepat pulih." Menoleh ke belakang.
"Aku temenin kamu ya, Mas."
Setelah selesai sarapan Ray langsung berangkat santai menuju kantor sembari membawa bekal makanan.
"Berangkat dulu ya." Mencium kening Alisa kembali setelah meyalim tangan Ray.
"Hati-hati, Mas."
Berjalan membuka gerbang, kembali masuk ke dalam mobil.
"Bangun bangun," ucap Ray menjalankan mobil.
"Em, uda sampai ya?" Fendi mengucek mata.
"Udah, ni tinggal kearah kantor," balas Ray singkat.
"Kantor?" sahut Fii bangkit menoleh kanan kiri melihat jalanan raya di sinari mentari.
"Mak, betulnya ini?" Fendi terkejut.
"Salah sendiri ku bangunin pada gak bangun."
"Gak bangun gak bangun, namanya capek Ray," cetus Fendi.
"Mana ada, kalau kau bangunin udah pasti bangun aku," sahut Fii.
"Hehehehe." Nyengir menatap jalanan.
"Gila kau memang Ray, parah kali gak kau bangunin kami ah," pekik Fendi kembali.
"Mandi di pom minyak aja depan sana," balas Ray datar.
__ADS_1
"Memang parah kau ah, macem apa kami ini kau buat," sahut Fii.
"Kalau gak mau yaudah mandi di kantor aja, kalian tinggal pilih bebas. Aku sekalian mau isi minyak." Berhenti diarea pom bensin.
"Handuk sama pakaian ganti itu di bagasi belakang, lengkap sarapan pagi kalian, kalau mau langsung ke kamar mandi sana ku tunggu di parkiran situ."
"Aku duluan lah Fend, parah kali ini anak ngerjainnya gak nanggung-nanggung." Fii turun berlari menuju kamar mandi SPBU.
"Sial kali ah," pekik Fendi menyantap sarapan pagi sembari menunggu Fii selesai.
Tak lama setelahnya saling bergantian, sebelum akhirnya berangkat menuju kantor.
"Nah kalau gini kan enak, udah pada tampan, udah sarapan juga," cetus Ray memutar laju mobil.
Setibanya di kantor menjalani rutinitas kerja seperti biasa. Keadaan sedikit berubah ketika pak Taufiq memanggil mereka bertiga ke ruangan pribadi miliknya.
"Permisi, Pak," ucap serentak masuk ruangan.
"Silahkan duduk," sambut pak Taufiq berdiri kemudian duduk kembali.
"Maaf sebelumnya pak, kami bertiga di panggil kesini apa ada melakukan suatu kesalahan?" tanya Ray menghadap.
"Kalian tidak punya kesalahan apapun, justru saya mewakili pemilik saham terbesar meminta maaf karena perusahan yang kita jalani saat ini akan berhenti beroperasi. Seluruh aset saham pemilik ditarik karena suatu alasan yang bersifat sangat pribadi," jelas pak Taufiq menahan sedih.
Mendengar peryataan tersebut cukup membuat ketiganya berdiam diri tak mampu berucap apapun.
"Cobaan apalagi ini, Tuhan," batin Ray melamun.
"Sekali lagi kami meminta maaf dan ini pesangon kalian bertiga selama bekerja disini." Memberikan amplop berisikan bayaran tersebut.
"Terimakasih, Pak," jawab Ray mengambil pesangon tersebut keluar ruangan bersama Fendi dan Fii.
Setelah keluar ruangan melihat seluruh anggota berkumpul di lobi mengantri mengambil masing-masing pesangon.
"Kenapa lah bisa begini," lirih Fendi berjalan lemah duduk di halaman luar kantor.
"Nasibku dengan Mia...ah!" Kesal Fii memukul-mukul kepala sendiri.
"Ini sudah takdir-Nya, sekarang hanya bisa terima keadaan," sahut Ray.
"Kau masih enak Ray masih bisa bertahan. Sedang saat ini aku lagi butuh banyak biaya. Tau sendiri pernikahan ku dengan Mia hanya sebulan lagi," sahut Fii meremas kepala.
"Apa yang kau liat enak belum tentu enak bagi yang menjalani. Ingat gak kalau kita bertiga sudah seperti keluarga? Apapun yang bisa ku bantu pasti kulakukan," jelas Ray merangkul Fii.
"Kerjaan berakhir, mungkin usaha cintaku gulung tikar Ray," sahut Fendi mengusap-usap mata.
"Erlin bukan wanita seperti itu." Menoleh kearah Fendi.
Berjalan kembali menuju depan jalanan mencari angkutan umum setelah mengembalikan mobil dinas perusahaan.
"Kalau tau gini, bagus tadi berangkat kerja pakai mobilmu, Ray," pekik Fendi.
"Mobil mertua, bukan punyaku."
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan mereka, seseorang keluar dari dalam mobil tersebut berbalik menatap.
"Halo guys, selamat bertemu kembali. Gimana? Udah pada punya rencana belum mau cari kerjaan baru dimana? Hem?" ujar Aldo menertawakan.
"Kau lagi kau lagi," pekik Fendi memalingkan pandangan.
"Aldo!" batin Ray menatap mengepal tangan.
***
__ADS_1
Sampai disini dulu kak, berhubung cuaca panas, jangan lupa jemur pakaian. Lanjut...