Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 15


__ADS_3

Selepas pulang dari tempat kerja, Ray singgah ke warung untuk membeli rokok yang sudah habis.


Tak lama setelahnya, ia kembali berjalan menuju tempat penginapan yang tak terlalu jauh dari kantor tempatnya bekerja.


Detak jantung dan pikiran itu awalnya biasa-biasa saja. Semua mulai berbeda saat ia mendapati kabar bahwa Suci dan Ezza tiba di waktu bersamaan, bahkan lebih cepat dari Yuli.


Berbeda dengan Ezza, menginjakkan kaki di kota saat itu adalah pengalaman pertama bagi Suci. Wajar jika dia terlihat bingung ketika sampai di kota di tengah keramaian kota.


Selepas magrib sebelum isya Ray bergegas berangkat menemui Suci yang malam itu menyuruhnya menunggu di cafe terdekat.


Sekitar 40 menit berlalu, Ray tiba di lokasi yang di janjikan.


"Maaf ya, jalanan sedikit macet," ucap Ray berdiri melepaskan jaket.


"Iya gak apa-apa Mas, duduk Mas," balas Suci mempersilahkan duduk.


"Mas uda makan atau mau pesan minum dulu?" ujarnya kembali penuh perhatian.


"Minum ajalah, masih kenyang. Oh iya, sudah dapat info kos-kosan untuk wanita belum?" tanya Ray mengambil rokok di saku seperti biasa.


"Belum ni Mas, bingung kalau gak dapat malam ini, Aku tidur dimana coba." Meminum segelas teh hangat.


"Selamat malam, ada yang bisa di bantu Abang, Kakak?" sahut pelayan cafe menghampiri mereka malam itu.


"Aku pesan capucinno panas saja, Mbak," jawab Ray kemudian menyalakan rokok di tangan.


Pelayan cafe tersebut berlalu pergi meninggalkan meja.


"Gimana kabar keluarga, sehat kan?" sambung Ray.


"Alhamdulilah sehat Mas, Akunya gak kamu tanyain ini sehat atau enggak?" Melirik ke arah Ray.


"Kalau di liat dari fisik yang subur, itu membuktikan kamu sehat Suci, kan udah keliatan tuh." Ray nyengir sembari mengangkat kedua alis mengarah ke tubuh Suci.


"Ini Bang pesanannya," sahut pelayan meletakkan minuman di meja.


"Terimakasih."


Mereka berdua begitu asiknya melanjutkan pembahasan malam itu, membicarakan dari kenangan masa lalu sampai akhirnya beranjak bergegas mencari tempat kosan untuk Suci menginap. Berjalan menelusuri sekitaran kampus tempat ia akan berkuliah dengan sepeda motor Ray.


Malam itu angin berhembus kencang, suara langit bergemuruh dengan hebatnya. Dalam hitungan menit, hujan deras turun membasahi seluruh tubuh keduanya.


"Siiiiiittttt..........."


Suara rem sepeda motor menghentikan laju kendaraan, berlari menuju halte bis untuk sekedar berteduh.


Saat duduk di halte bis, Ray melihat tubuh Suci menggigil kedinginan merasakan curahan air hujan yang membasahi seluruh pakaian. Segera Ray melepaskan jaket menutupi tubuh Suci. Malam itu, hanya mereka berdua yang berada di halte bis tersebut.


Derasnya rintihan hujan serta kencangnya angin berhembus membuat jalanan yang tadinya ramai dalam sekejap begitu sepi.

__ADS_1


Jauh sebelum menemui Suci di cafe, Ray telah membisukan nada ponsel agar tak ada yang menggangu.


"Kok waktunya bisa begini ya," ujar Ray dengan kedua tangan memeluk tubuh sendiri yang basah menoleh ke arah Suci.


Sebelum tertutup jaket, Suci memakai baju berwana putih polos. Tetesan air hujan membuat keindahan tubuhnya terlihat jelas di mata Ray dan dalam sekejap membuat iman Ray hampir sempal (runtuh).


"Gak tau ni Mas, aku jadi gak enak sudah repotin kamu. Karena aku, kamu jadi hujan-hujanan begini." Menunduk menatap lantai.


"Kamu gak takut? kita hanya berdua loh." Berbalik menatap lurus sepeda motor.


"Takut apa Mas." Menoleh ke arah Ray.


"Kamu gak ada niat macam-macam sama aku kan, Mas" ucap Suci terdengar sedikit gelisah.


Ray kembali menoleh ke arah Suci. Melihat wajah yang sendu kedinginan, pikiran jahat Ray malam itu perlahan pudar.


"Gak kok, maaf ya udah buka percakapan tak pantas seperti ini." Kembali menatap sepeda motor terduduk menyalakan rokok separuh basah di tangan.


Ketika api ia nyalakan lalu menghisap rokok tersebut, Suci bergeser mendekatinya. Kemudian meletakkan kepala bersandar di bahu Ray saat hujan masih turun dengan derasnya, "Makasih ya Mas, kamu gak ada niat apa-apain aku."


Tak lama kemudian, mereka hendak bergegas melanjutkan perjalanan melihat hujan yang tak kunjung redah. Ketika Ray berdiri sedang merapikan baju yang basah, Suci menarik tangan Ray.


Tarikkan darinya membuat Ray berbalik arah saling menatap. Jarak yang begitu dekat ketika mereka bertatap muka tanpa berkata sedikit pun, Suci memberikan kenangan singkat yang takkan pernah Ray lupakan.


Sentuhan lembut bibir Suci malam itu membakar gejolak jiwa muda yang meronta-ronta di dalam raga Ray.


Ray sendiri menikmati sentuhan lembut itu sembari mengelus lembut kepala Suci sebelum akhirnya memutuskan untuk berjalan kembali.


Setelah berbincang dengan pemilik kos, Suci menyetujui akan tinggal di tempat baru tersebut.


Ketika Ray ingin berdiri hendak berjalan menuju sepeda motor...


"Makasih untuk malam yang menyenangkan ini Mas. Aku seneng banget bisa menciptakan kenangan indah bareng kamu," ujar Suci tersenyum membuat Ray lupa sejenak dinginnya air hujan di sekujur tubuh.


Ray hanya tersenyum dan menyuruhnya masuk untuk segera berbenah diri karena masih memakai pakaian basah, khawatir datang penyakit nantinya. Tak lama setelah itu Ray berjalan kembali menuju sepeda motor miliknya.


Di sepanjang perjalanan pulang ke tempat penginapan, Ray terus asik bernyanyi sendiri meski nada tak beraturan.


"Oh Tuhan, ku cinta suci, ku sayang ezza, rindu alisa, yang gila Yuli."


Ntah jin apa yang merasukinya malam itu.


Jantung berdebar-debar, hati yang berbunga-bunga, seperti merasakan kembali kasmaran pertama yang ia alami.


Mempertahankan kondisi seperti itu tetap menguasai jalur pikir Ray. Tanpa ada niat sedikit pu untuk mengakhiri dan memilih satu di antara beberapa wanita pilihannya.


***


Disisi lain kediaman Alisa..

__ADS_1


"Cetar.......!"


Suara gelas pecah terjatuh dari tangan mungilnya. Ketika membereskan pecahan kaca tersebut, serpihan gelas kaca membuat luka di jari manis Alisa.


"Aw."


Seketika ia melamunkan diri Ray, "Mas kamu sedang apa di sana? Perasaan ini bercampur aduk memikirkan mu."


Mendengar suara itu, ibu bergegas menghampiri langsung memegang tangan Alisa, "Lisa, kamu gak apa-apa Nak."


"Gak apa-apa kok Bu, tadi hanya melamun sedikit."


"Kamu merindukan nak Ray ya sayang?" ujar Ibu tersenyum.


Alisa hanya terdiam dan tak terasa tetesan air terjatuh membasahi pipi dari sela bola mata indahnya.


Mengetahui putri kesayangan sedang bersedih, ibu langsung memeluk Alisa mendekap penuh kasih.


"Yang sabar ya Nak, doa kan dia di sana agar di permudah segala urusannya. Semoga dia baik-baik sehat selalu dan bisa dengan cepat menjemput kamu di sini."


Air mata Alisa semakin tak terbendung. Ucapan dari sang ibu membuatnya semakin ingin bertemu Ray.


Dengan nada terbata-bata...


"Tapi kapan mas Ray menjemput ku? Dia mulai jarang memberi kabar dengan alasan sibuk bekerja. Tapi masak iya sih Bu, bahkan malam hari juga gak ada kabar?"


"Percayakan sama yang Kuasa, mungkin kesibukannya saat ini berbeda dengan yang dulu. Kamu harus tetap mempercayainya agar hubungan kalian semakin erat." Mengelus kepala Alisa.


Setelah lanjut membersihkan pecahan gelas, Alisa berjalan masuk kamar untuk beristirahat.


"Jaga kesehatannya Mas, walau akhir-akhir ini kamu terlihat sibuk." Mengirimkan pesan singkat pada Ray seketika langsung tertidur.


***


Sesampainya Ray di penginapan, langsung mengganti pakaian yang basah.


Dreet, dretttt,.


Getar nada pesan masuk ketika Ray mengembalikan mode ponsel ke semula langsung membuka pesan tersebut.


"Jaga kesehatannya Mas, walau akhir-akhir ini kamu terlihat sibuk."


Ray langsung membaringkan badan di kasur segera membalas pesan Alisa, "Maaf Aku terlalu sibuk dengan lingkungan yang baru, hal itu membuatku harus beradaptasi serta menuntut untuk bekerja lebih keras. Bahkan terkadang sehabis pulang kerja Aku sering ketiduran, sayang."


Hujan malam yang Ray lalui bersama Suci, membuat dirinya semakin larut melupakan tentang Alisa. Segera ia meletakkan ponsel di sembarang tempat, memeluk guling dengan cepat memejamkan mata tuk beristirahat.


***


Sampai di sini dulu kak, untuk yang sudah membaca kisah ini dan menyukainya, jangan lupa komen and FaV ya atau apalah itu namanya semua kak, makasih.

__ADS_1


Kita lanjut,.


__ADS_2