Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 63


__ADS_3

Ray perlahan membelai Alisa sembari tangan melepaskan seluruh pakaian yang ia kenakan, sedang bibirnya masih berpetualang ke seluruh tubuh Alisa.


"Ayyyy...yaiyay.....aayy..yaiyayyyyy..." Dering ponsel di saku kanan menghentikan petualangan malam.


"Fendi!" pekik Ray ketika melihat panggilan maduk langsung mencampakkan ponsel ke sembarang tempat.


Seketika Alisa tertawa melihat kelakuannya sebelum akhirnya melanjutkan kembali petualangan malam.


Suara lirih Alisa begitu tipis terdengar di telinga, membuat laju mesin semakin kencang tak beraturan.


"Mas," lirih Alisa menolak tubuh sesaat merasakan perih tak tertahankan.


Ray melanjutkan kembali performa mesin yang teruji secara klinis, kecepatan yang setara dengan laju chetah membuat Alisa menyepak dirinya.


Bugggg....


"Wadaw."


"Jangan ugal-ugalan ih, sakit tau mas," pekik Alisa kembali merangkul.


"Iya iya maaf, tadi setel ban basah jadi lincah. Ini udah di rubah setel kering kok. Kit lanjut ya sayang? yang mau lanjut tangaanya di atas..."


Ray kembali membuat stempel cap bibir di sekujur tubuh Alisa dengan penuh kelembutan tepung kanji. Hal tersebut justru membuat Alisa mulai menggila lepas kendali tak mampu menahan kuatnya desakkan jincurichi.


Mendorong Ray yang membuatnya berbaring terlentang. Ketika berada di atas tubuh Ray, perlahan Alisa terlihat mulai mengganas lebih dari buaya amazon yang siap menerkam mangsa.


"Please jangan tante, please jangan nodahi aku," ujar Ray meletakkan kedua tangan di dadanya.


Alisa yang tak mampu menahan gelak tawa akan sikapnya, malah menampar pipi.


Plak......(Tamparan kecil Alisa).


Seketika kembali mencium setelah menampar pipi.


Meski terlihat ragu, Alisa semakin terbiasa mengunakan trik bor sidoarjo.


Tanpa mereka sadari, 40 menit berlalu.


"Sedikit lagi aku akan berhasil membasahi penuh hujan di puncak himalaya milikmu sayang," bisik Ray tipis.


Mendengar bisikan tersebut, Alisa melanjutkan kembali membuat bor sumur jauh lebih dalam dari perkiraan cuaca Ray.


"Ah sayap!!!!!!" ketus Ray ketika berhasil menembak lurus target tanpa meleset langsung berpura pingsan.


Melihat Ray berdiam diri menutup mata, Alisa sedikit kebingungan.

__ADS_1


"Mas, Mas bangun mas," tepuk Alisa ke pipi.


"Mas jangan bercanda, gak lucu ih," lanjutnya memeluk tubuh yang sedang terbaring.


Menjahili menutup lubang hidung Ray, jelas Ray tertawa karena tak bisa bernafas.


Huuu.....haaa....huu (Hela nafas).


"Tuh kan jahil terus," cetusnya mencubit.


"Kamu harus bertanggung jawab atas apa yang kamu perbuat padaku tante," lirih Ray menjahilinya kembali berpose seperti korban pelecehan seksual.


Dengan senyum tipis, Alisa berucap. "Kalau masih jahil, Aku tinggal tidur ini," gerutu Alisa membalikan badan membelakangi Ray yang masih terbaring.


Suasana hening malam, angin berdesis masuk melewati rongga jendela kamar. Pelukan hangat berseteru melawan dingin udara malam.


"Kamu tau sayang? Setiap lelaki memiliki garis tangannya tersendiri berlaku untuk menentukan garis jodohnya. Mencintai dan di cintai itu hal yang di inginkan setiap pasangan. Sama halnya ketika aku berharap akan cinta darimu," peluk mesra Ray dari belakang tubuh Alisa.


"Kini aku telah bersama dengan bidadari impianku akan terus mendekap hangat tubuhnya dalam pelukan. Bidadari itu selalu memberikan pelajaran mencari sebuah arti tentang apa itu cinta. Mereka menanyakan siapa bidadari sempurna yang telah ku memiliki? Aku tak menjawabnya karena kamu bukan untuk aku publikasikan, melainkan privasi hanya untukku dan Tuhan," lanjut Ray masih memeluk Alisa.


Membalikkan badan menoleh ke arah Ray, Alisa mengecap kembali bibir yang cukup dekat dengannya. Seketika membuat tongkat kera sakti berdiri bersiap siaga untuk bertempur kembali ke medan perang asia timur.


"Siap lah siap, sangat siap," pekik Ray melanjutkan kembali pertempuran hingga akhirnya tertidur dalam pelukan mesra membiarkan malam berganti pagi.


Halo bosku, cuaca negara saat ini stabil, harap segera membuka mata untuk bangkit menjalani mimpi. (Dering alarm ponsel membangunkan keduanya).


"Pagi Mas sayang, bangun gih terus mandi biar gak bau asem," ujar Alisa keluar dari bilik kamar mandi dengan rambut terurai basah.


Tanpa berkata Ray menarik Alisa kembali dalam pelukan, mencium leher jenjang miliknya.


"Mas, jangan ah. Buruan mandi sana, Ayah Ibu udah menunggu kita di ruang makan bawah tuh," ujar Alisa menolak mengetahui Ray menginginkan kembali perang.


"Iya deh iya." Berdiri mengelus kepala Alisa.


ketika selesai berbenah diri, menuju ruang makan menghampiri Ayah dan Ibu.


"Pagi Yah, Bu," sapa Ray bersamaan dengan Alisa.


"Pagi kembali, masih suasana pengantin baru mengurung diri terus ni ceritanya? Jangan sampai lupa makan," sahut Ayah menjahili.


Menyiapkan hidangan sarapan pagi untuk Ray, Alisa kembali duduk.


"Ayah bisa aja," balas Ray menyantap hidangan.


"Oh iya Mas, hari ini kita jadi kan pergi mencari gaun untuk acara besok?" sahut Alisa.

__ADS_1


"Jadi, nanti kita cari ya," balas Ray menatap Alisa.


Selepas sarapan pagi bersama, Ray dan Alisa bergegas pergi berbelanja kebutuhan di kota.


Menaiki mobil milik Ayah Alisa sembari berkeliling menikmati suasana kota yang cukup padat penduduk. Memasuki salah satu mall untuk membeli gaun yang sangat Alisa inginkan.


"Yang ini aja ya Mas, cocok gak sama aku?" ujarnya menunjukan gaun pilihannya.


"Cocok kok sayang," jelas Ray tersenyum menatapnya.


"Yang ini untuk kamu Mas, spesial pilihan dariku, di coba ya."


Ray segera mencoba pakaian pilihan Alisa.


"Gimana sayang, kamu suka?" ujar Ray memutar ke kanan dan kiri.


"Iss tampannya Mas ku ini, cocok," balas Alisa tersenyum merona.


Beranjak membayar ke meja kasir, melanjutkan perjalanan menikmati sisa-sisa cuti liburan kerja. Terus berkeliling membuat keduanya lelah hingga akhirnya memutuskan beristirahat di sebuah cafe yang telah lama tak mereka kunjungi.


Setibanya di cafe tersebut.


"Mau pesan apa putri cantik?" ujar Ray ketika duduk memegang buku menu hidangan.


"Aku ikut pangeran aja," balas Alisa berpangku tangan di meja.


Memesan hidangan, kemudian menyantap ketika hidangan di sajikan.


"Sebentar ya sayang, Aku mau ke toilet dulu," lanjut Ray berdiri beranjak.


"Jangan lama-lama ya mas."


"Iya, toilet doang kok."


Ketika hendak memasuki ruangan toilet pria.


"Selamat atas pernikahannya," ucap seorang lelaki menggunakan topi hitam, jaket jeans, lengkap dengan kacamata hitam ketika berselisih dengan Ray.


"Iya terima kasih," balas Ray berpaling muka menoleh ke arah lelaki tersebut.


Perlahan lelaki tersebut membuka topi serta kacamata hitam miliknya, melirik dan tersenyum licik menatap Ray.


"Aldo?" pekik Ray.


"Bagaimana mungkin dia bisa berada disini? Bukannya dia seharusnya lagi mendekam di jeruji besi?" batin Ray penuh tanya.

__ADS_1


***


Sampai disini dulu kak, selepas magrib sebelum isya dandan yang cantik buat lanjut baca ya. Jangan lupa Fav biar gak ketinggalan like juga komen sebagai bentuk persahabatan bagai kepompong ya kak. Makasih kita lanjut.


__ADS_2