Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 23


__ADS_3

30 menit kemudian.


"Kok ada mobil parkir depan kos Alisa?" batin Ray menghentikan laju mobil melihat dari sedikit kejauhan.


"Kenapa Ray kok berhenti? Apa udah sampai tempat Lisa?" tanya Fendi melirik.


"Belum, kos Alisa di depan itu, yang ada mobil silver mewah," balas Ray menunjuk tempat tersebut.


"Jadi kenapa di sini berhentinya, ayo deketin, kita cek aja siapa yang punya mobil itu daripada penasaran, iya gak bro?" lanjut Fendi melirik ke Fii.


"Iya bener tuh, udalah terobos aja amjir, biar tau kita, itu siapa yang datengin," sahut Fii.


Menyalakan mobil dan langsung menghampiri kos tersebut. Setelah turun dari mobil perlahan mendekati ruangan Alisa. Tepat ketika berada di depan pintu, Ray mendengar suara wanita tertawa bercampur aduk. Pikiran negatif dirinya Akan Alisa seketika hilang.


"Assalamualaikum," ucap Fendi nyelonong masuk melihat Alisa bersama teman-temannya.


"Waalaikumsalam," jawab bersamaan dari dalam.


Fendi langsung berbalik arah memandang Ray, "Tampar aku Ray tampar!"


"Keteplakkk!" Tamparan sedikit keras ke pipi Fendi.


"Aduuhhh sakit peak, kuat x bah," gumam Fendi mengelus pipi yang memerah, sedang Fii hanya tertawa melihat kejadian itu.


"Lah tadi kau bilang minta tampar, kan gak salahku."


"Ya kan bisa pelan-pelan sih," lirih Fendi.


"Ya kalau pelan, gak mendalami karakter dong aku ntar Fen, kalau gak gitu ntar Emak-emak gak baper," balas Ray masih tertawa kecil.


"Kenapa pulak lah kau Fen, udah nyelonong masuk, keluar malah minta tampar," sahut Fii.


"Aku nengok bidadari, yang baju putih udah ku tintimin duluan ya, jangan kau ambil!" seru Fendi berwajah serius menatap Fii.


Saat itu hanya Erlin yang memakai baju putih.


Tintimin(tandai)


Mendengar sedikit keributan di luar,


Alisa, Mia dan Erlin keluar menghampiri.


"Loh mas kok gak kabarin kalau udah sampai? tanya Alisa menyalim tangan Ray.


"Iya tadi mau kabarin, cuma kelupaan, belum lagi nampak ada mobil di depan tuh, makin cemas sedikit tadi," singkat Ray.


"Em kamu itu mas, oh iya ini kenalin temen aku yang ini namanya,..


"Fendi, salam kenal," ucap Fendi memotong pembicaraan Alisa mengulurkan tangan ke arah Erlin.


"Erlin," balas Erlin singkat menyambut uluran tangan Fendi.


"Gila Fii, Harumnya," lanjut Fendi mencium wangi tangan bersalaman dengan Erlin menyodorkan ke hidung Fii.


"Fii..."

__ADS_1


"Erlin.."


"Fendi.."


"Mia.."


"Fii.."


"Mia.."


"Ray.."


"Erlin.."


"Ray.."


"Mia.."


Selepas saling berkenalan sore itu, berkumpul di dalam ruang tamu penginapan Alisa.


Sembari menunggu Alisa selesai berkemas pakaian,


Fendi terus berusaha merayu tak membiarkan Erlin berhenti menjawab semua pertanyaan darinya.


Awalnya Erlin terlihat cuek terhadap Fendi, namun ketika melihat dari sisi lain, Erlin mulai terbiasa meladeni tingkah konyol yang Fendi miliki.


Berbeda dengan Fii, bagaikan seekor ayam potong yang hanya mampu terduduk terdiam, begitu lah gambaran darinya.


Fii duduk di samping Ray terus mencubit tangan, sesekali memalingkan pandangan tak mampu menatap Mia. Ray mengetahui bahwa dia suka pandangan pertama Mia. Tatapan sejuk Mia membuatnya gugup setengah sadar.


"Tinggal di bumi, kerja di bumi, saat ini sedang gak kepikiran menikah, gak tau kalau besok pagi ya," balas Erlin datar seketika menoleh ke arah Ray.


"Oh jadi ini mas Ray lelaki impian Alisa ya?" sambung Erlin.


"Iya Er, Ketuaan ya?" jawab Ray tersenyum.


"Gak kok enggak, malahan cakep bener. Kalau ada model kayak Abang ni di show room, udah pasti ku kredit duluan," lanjutnya menjahili.


"Emm gaya kamu Erlin, sama cowok saja takut kok sok lagu-laguan," sahut Mia.


"Eh siapa bilang, ini buktinya aku gak kabur lah."


"Iya karena ramai, coba kalau berdua doang," jahil Mia kembali.


Setelah berbincang-bincang membicarakan banyak hal, Alisa telah selesai merapikan semua barang-barang miliknya.


"Yuk uda siap ini," ujar Alisa menghampiri.


Bergegas beranjak untuk pergi mengantarnya.


Dua Mobil berjalan bersama seiringan, yang membedakan Ray dengan Alisa satu mobil, sedang Fendi, Fii, Erlin ikut bersama Mia.


Di dalam mobil Ray dan Lisa.


"Mas aku tadi di tawarin kerja sama Mia dan Erlin, satu kantor sama mereka, kamu setuju gak?"

__ADS_1


"Menurut kamu, itu hal bagus gak?"


"Yah bagus sih, tapi ya aku tanya pendapat kamu dulu Mas."


"Bagaimana dengan orang tua kamu, Sayang?"


"Belum ada bahas masalah kerja ini sih, tapi nanti pas udah dirumah pasti aku cerita ke ayah ibuku, Mas. Kamu gak setuju ya Mas kalau aku kerja ikut bersama mereka?"


"Aku tuh gak pernah mengekang kebebasan kamu, Sayang. Apa yang kamu ingin lakukan ya lakuin,


apa yang kamu tidak inginkan ya jangan lakuin. Lagian kamu gak takut apa kalau kerja daerah dekat aku begini? Kalau dekat begini kan ntar sering ketemu denganku. Setiap harinya aku bakal masuk dari jendela kamarmu, terus mendekap peluk kamu gak akan lepasin," ujar Ray tersenyum meliriknya.


"Yeehhh...Itu mah maunya mas, Ingat jangan sampai ke situ dulu, masih adik-adik aku ni mas, ntar laporin kak seto mau? " Mencubit memandang Ray menyetir.


Sementara itu di mobil Mia,...


"Fen, ngomong apa gitu kek, cepat ngomong masak diem diem begini," bisik Fii lembut ke Fendi.


Fendi dan Fii duduk di kursi belakang, sedang Mia menyetir kendaraan miliknya dan Erlin berada di samping Mia.


"Ya kau ngomong juga lah, kalau aku gak ada si Ray jadi buntu bingung mau ngomong apa," balas Fendi berbisik ke Fii.


Mencoba membuka percakapan, Fii memberanikan diri.


"Wah pemandangan jalannya bagus ya?" ujar Fii sedikit gugup.


"Apanya yang bagus? Jalanan sedikit macet begini juga," pekik Erlin.


"Kan salah lagi aku," lirih Fii ke Fendi kembali berbisik.


"Ya kau aja paok, pemandangan kayak gini kau bilang bagus," balas Fendi masih berbisik.


"Kenapa berbisik Abang-abang? Oh iya sudah berapa lama berteman dengan Ray ni?" sambut Mia mencairkan suasana tegang saat itu.


"Ya udah lumayan lama la, Mbak," jawab Fendi.


"Panggil Mia aja, jangan mbak."


"Oh iya maaf Mia," singkat Fendi kembali diam.


"Sudah pada menikah jangan pada genit ya, Bang," sahut Erlin menatap lurus jalanan.


"Kami berdua belum menikah, Erlin," jawab Fendi kembali setelah menoleh melihat Fii yang masih berdiam diri mengunci mulut.


"Lah, udah sebesar ini belum pada menikah? Hati-hati loh Bang. Usia 7 sampai 20 tahun itu jodoh di tangan Tuhan. Usia 21 sampai meninggal, Tuhan lepas tangan masalah jodoh bang," lanjut Erlin terbahak-bahak.


"Ahahahaha."


"Sesama satu label jomblo di larang saling menghina Erlin," balas Fendi membuat suasana tertawa pecah.


"Ekekekeke."


***


Sampai disini dulu kak, langsung kita lanjut selepas iklan berikut. Makasih....

__ADS_1


__ADS_2