Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 98


__ADS_3

"Jadi bener kalau orang tua Novi sekelas mafia ya?" lamun Ray melirik menempelkan gelas di bibir.


"Oh iya, kapan rencanamu untuk menikahkan mereka?" tanya Edo pada Deny.


"Kalau aku sendiri ingin mereka segera menikah dengan cepat. Tapi ya tergantung mereka saja inginnya kapan," jelas Deny.


"Hei wahai anak muda, tuh sudah di beri lampu hijau. Mau cari apalagi asik melajang terus," pekik Edo menyindir.


"Lagi belajar mempersiapkan diri, Om." Meletakkan gelas di meja.


"Mempersiapkan jadi seorang ayah lebih tepatnya," batin Ray.


"Anak kamu juga sudah sebaiknya di nikahkan Robi, biar segera memiliki cucu," lanjut Edo.


"Kamu tunggu saja kabar baiknya kapan. Anak gadis ku itu terlalu banyak memilih lelaki. Dari dulu sampai sekarang dia selalu memprioritaskan mana lelaki yang pantas untuknya," singkat Robi.


"Bukan karena dia belum bisa melupakan anak muda satu ini?" Edo menepuk punggung Ray.


Robi tersenyum picik menggoyangkan gelas dalam genggamannya.


"Kalian ini bercanda terus, sebaiknya kita pikirkan apa yang harus kita katakan saat rapat bersama para petinggi pemerintahan nanti," sahut Deki.


"Oh iya hampir saja lupa. Jika mereka tak mendengarkan pendapat kita lagi, apa yang harus kita perbuat?" sambung Edo.


"Kita akan lakukan pemberontakan. Jika seluruh anggota kita satukan, bukan tidak mungkin kekuatan kita lebih baik dari yang mereka pikirkan," tegas Robi.


"Sepertinya memang itu yang harus kita perbuat," seru Deki.


"Yasudah apapun itu intinya jangan pernah ada perpecahan dalam persekutuan ini," lanjut Robi berdiri diikuti ketiga lainnya.


"Terimakasih karena telah mengundang kami serta memberitahukan kabar baik bahwa pemimpin Eagle Eyes yang sebenarnya telah lahir kembali," ucap Edo terlihat senang akan kehadiran Ray.


"Kalau begitu kami pamit kembali Deny, tetap jaga diri kamu baik-baik," sahut Deki.


"Kalian juga, semoga selalu lancar," balas Deny mengantar para sahabat keluar ruangan.


Setelah selesai mengadakan pesta kecil tersebut, Ray segera menemui Novi yang telah menunggu di ruang tamu.

__ADS_1


"Sudah selesai? Sini duduk," ujar Novi meminta Ray duduk di sampingnya.


"Iya."


"Kenapa lesu seperti itu? Apa yang terjadi di dalam sana?" tanya kembali penuh penasaran.


"Kamu kenal Robi?" tanya Ray datar.


"Kenal, bukan hanya dia. Mereka semua juga aku kenal. Bagaimana mungkin gak kenal, kan mereka sahabat ayah," jelas Novi.


"Sebenarnya masa lalu Leon itu seperti apa? Kenapa salah satu dari mereka bilang bahwa putri tunggal Robi belum bisa melupakanku?" Menopang tangan menatap Novi begitu dekat.


"Sama seperti ayahku dan om Robi yang bersahabat, Aku dan Risty dulunya begitu dekat karena kami juga bersahabat dari kecil. Namun sikapnya berubah ketika Leon menolak peryataan cinta darinya" lirih Novi menunduk.


"Hanya karena satu lelaki, mengorbankan persahabatan kalian dari kecil dan membiarkan ikatan itu hancur?"


"Ayah Leon adalah pemimpin tertinggi organisasi yang ayahku kerjakan bersama teman-temannya dan Leon adalah putra tunggal pewaris tahta tersebut. Dimata ayah Leon, ayahku dan om Robi adalah orang yang paling di percaya. Ketika kami lulus kuliah, Ayah Leon mengundang kami semua untuk datang menyambut Leon yang baru selesai mengurus bisnis di Kanada," jelas Novi memangku gelas di tangannya.


"Terus?"


"Kalian berdua menerima peryataan tersebut?"


"Berbeda dengan Risty yang suka pada pandangan pertamanya ke Leon, Aku justru menolak peryataan terkait perjodohan tersebut dan membiarkan Risty untuk menjadi pendamping Leon," jelas Novi meletakkan gelas di meja.


"Jika seperti itu kejadiannya, kenapa justru kamu yang bertunangan dengan Leon?"


"Awalnya aku berfikir Leon senang diberikan pilihan dari ayahnya. Tapi justru Leon menentang peryataan dari ayahnya. Baginya, hal itu adalah pemaksaan tanpa memikirkan perasaan orang lain."


"Lalu?"


"Ayah Leon mengabulkan permintaan dirinya untuk sekedar berteman denganku juga Risty."


"Terus?"


"Ternyata penolakan Leon atas perjodohan itu sendiri karena Leon lebih menyukaiku dan memilihku di banding Risty. Dia menolak perjodohan tersebut karena melihatku mundur mengalah membiarkan Risty bersamanya. Semua ia ungkapkan ketika kami berteman sebulan lamanya."


"Bohong bener laki-laki itu kalau gak mau milih satu diantara mereka. Rupa seperti Novi begini dia tolak? Hebat bener. Tapi kalau di pikir iya juga sih, pewaris harta yang bisa membeli sebuah negara jika mau memilih wanita seperti apapun pasti tinggal tunjuk langsung dapat," batin Ray.

__ADS_1


"Sering bertemu dan berjalan bersama, membuatku tak mempunyai alasan untuk menolak cinta darinya. Sikapnya yang begitu penyayang serta dermawan kepada yang lebih membutuhkan, tanpa sadar telah membuatku jatuh hati. Hingga akhirnya kami sepakat menjalani hubungan tersebut tanpa sepengetahuan Risty."


"Kenapa harus jalanin hubungan sembunyi-sembunyi seperti itu? Bukannya hal wajar jika memilih satu diantara dua pilihan?" singkat Ray.


"Bagi mereka yang tak saling mengenal dan menjaga perasaan, mungkin itu hal wajar Ray. Tapi bagiku dan Leon, sedikitpun kami gak ingin menyakiti perasaan Risty," jelas Novi kembali.


"Bukankah pada akhirnya akan saling menyakiti?"


"Entahlah, sampai sekarang hubungan kami tak seindah dulu," lirih Novi menunduk menutup wajah.


"Masalahku aja udah rumit kali begini, terus harus mikirin masalah mereka yang justru makin tambah buat rumit? Belum lagi ayahnya bersama teman-temannya itu terlihat seperti seorang komplotan gangster. Terus anak gadisnya memimpin perusahaan untuk membasmi kejahatan yang ada. Terus mau membasmi ayahnya sendiri gitu? Dimana aku Tuhan, siapa aku," gerutu Ray dalam hati sembari tangan memangku dagu melihat Novi menunduk pilu.


"Maaf karena begitu merepotkan hidupmu, Ray," pekik Novi mengusap linangan air mata mengingat indahnya persahabatan yang pernah ia bangun dengan Risty.


"Kenapa berkata seperti itu?"


"Ya mungkin semenjak kita saling mengenal, sekarang hidupmu justru selalu terlibat dalam masalah. Aku selalu memaksamu untuk menuruti semua egois ini tanpa memikirkan perasaanmu."


"Aku baik-baik saja kok," sahut Ray memejamkan mata tersenyum padanya.


"ASTAGA! Sulit bener sih mau bilang iya sekarang hidupku makin susah makin rumit," gerutu Ray dalam hati.


"Makasih ya," lirih Novi mendekap tubuh Ray.


"Maafkan aku Tuhan, tanganku bergerak sendiri," batin Ray memohon diiringi tangan mengusap punggung tubuh Novi.


"Ehem."


"Mama." Novi melepas pelukannya ke Ray.


"Kelihatanya ada yang lagi saling merindu nih?"


"Maaf Tante, gak ada niat begini-begini kok sama Novi," sahut Ray menyatukan kedua ujung jari telunjuk saling memantulkan.


***


Sampai disini dulu ya kak, maaf jika ada kesamaan nama tokoh ataupun kejadian yang sama. ini semua hanya karangan author saja. kita lanjut.. jangan lupa Fav komen apapun itu kak untuk karya yang masih kering ini belum kesiram hujan.

__ADS_1


__ADS_2