
"Ya Allah. Gak mungkin, gak, gak mungkin.
A-aa-yah, i-ibu, Ri-sma."
"Mas..." Alisa terbangun mendengar Ray terus merintih.
"Ya Allah mas, kamu kenapa?" Bangkit dari tidurnya bergegas menghampiri Ray yang terlihat begitu frustasi menangis mencekam kepala bersandar di sudut ruangan.
"Mas, kamu kenapa?" lanjut Alisa memegang tangan Ray.
"A-a-yah..." Menoleh menatap Alisa.
"Mas, kenapa kamu menangis seperti ini?"
"I-i-ibu, ibu."
"Mas, ada apa ini?" Alisa mulai menitihkan air mata melihat Ray yang terus bersedih.
"A-yah, i-bu dan Ris-risma sudah tiada," rintih Ray berpaling menatap kosong pandangan.
Tanpa berkata apapun, hanya mendekap Ray yang bisa Alisa lakukan. Setelah mendengar kabar duka tersebut, Alisa memberi kabar ke Fendi juga Fii agar memberitahukan kepada Novi meminta ijin tidak masuk satu minggu lamanya. Kemudian Ray bersama Alisa segera pergi ke kampung halaman melihat keluarga untuk yang terakhir kalinya.
Sebagai bentuk pengabdian terakhir, menjalankan seluruh kewajiban sebagai seorang anak, hingga menyaksikan tubuh kedua orang tua beserta adik perempuan masuk kedalam tempat peristirahatan terakhir.
Suasana gelap, angin berkabut, lengkap di iringi rintihan hujan saat proses pemakaman tersebut, memberi tanda bahwa alam juga merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.
Rintihan hujan yang mulai deras kala itu, membuat para warga yang membantu hingga sampai ke perhentian terakhir, berlalu pergi meninggalkan pemakaman menyisakan Ray, Alisa dan Rama.
"Mas," lirih Alisa mengusap bahu lembut bahu Ray ketika tangan Ray masih menyentuh serta menatap kosong batu nisan.
"Bang," pilu Rama memeluk Ray.
"Sebaiknya kamu istirahat mas, Aku takut kamu sakit," lanjut Alisa membentangkan payung menutupi tubuh Ray yang kian menggigil.
"Terimakasih telah membesarkan dan mengajariku arti menjadi seorang lelaki," batin Ray menatap mengelus nisan ayah.
"Terimakasih juga untuk kasih sayang tulus yang tak akan bisa tergantikan sekalipun alam semesta ini sebagai imbalannya," lanjut Ray kembali menoleh mengelus nisan ibu.
"Maaf karena belum bisa menjadi abang yang baik serta pelindung untuk tubuh kecilmu." Melirik nisan Risma.
Ray bangkit berdiri bersamaan dengan Rama juga Alisa memeluk kedua sisi Ray.
__ADS_1
"Mas..." Peluk erat Alisa begitu memahami perasaan sang suami.
"Pergilah dengan tenang, Aku berjanji akan menjaga Rama sekalipun nyawaku ini taruhannya," batin Ray berbalik berlalu pergi meninggalkan makam.
5 hari kemudian.
Setelah hati dan mentalnya kembali kuat, Rama menceritakan semua yang terjadi dan kenapa hanya dia yang selamat dari pembantaian tersebut.
Pada malam pembantaian itu, ia melihat dengan jelas ketika ayah, ibu serta Risma yang terkapar di depan pintu kamar bercucuran darah. Merasakan begitu ketakutan membuatnya bersembunyi di balik tempat tidur miliknya, menutupi sekujur tubuh dengan selimut sembari menahan tangis meski perasaan dirinya hancur lebur.
Tubuhnya yang tak bisa menang jika melawan, mengharuskannya diam menyaksikan peristiwa keji yang terjadi. Setelah mendengarkan semua yang terjadi, Ray dan Alisa berniat membawanya pergi untuk tinggal bersama di kota. Akan tetapi Rama menolak tawaran tersebut dengan cara terus mengurung diri di dalam kamarnya.
"Mas, Rama masih mengurung diri di kamarnya. Sebaiknya kamu bicarakan baik-baik lagi dengannya," ujar Alisa menghampiri Ray yang masih mengemas barang kenangan.
"Tunggu sebentar ya," jawab Ray bangkit berdiri berjalan menuju kamar Rama.
"Sini mas biar aku yang bantuin kamu berkemas."
Tok...
Tok..
Klek...
"Sudah selesai berkemas?" lanjut Ray berjalan masuk ke kamar.
"Bang, beneran kita akan pergi meninggalkan semua kenangan ini?" lirih Rama melihat sisi kanan kiri.
"Kita hanya pergi ke tempat yang baru, bukan ingin melupakan semua kenangan mereka."
Dengan bibir bergetar kembali menitihkan air mata, "Tapi, apa gak sebaiknya kita tinggal disini aja Bang? Aku merasa setiap malam saat tertidur, ayah dan ibu selalu memelukku Bang. Risma juga kadang bermain ke kamar ku menjahili.
Linangan air di pelupuk mata kian menggumpal, dekapan tubuh Ray memeluknya begitu kuat.
"Maafkan abang. Semua salah abang karena gak bisa melindungi kalian." Memicingkan mata mencium kepala Rama.
"Gak, Abang gak salah, yang salah itu pembunuh itu karena telah..."
"Sudah cukup Rama," pungkas Ray menghentikan lirihnya terus memeluk erat.
"Ayah, ibu dan Risma akan bersedih di alam sana kalau melihatmu terus seperti ini. Bukan ini yang mereka ingin darimu. Doakan mereka selalu di setiap sujudmu dan jalani kehidupan yang baru," jelas Ray kembali.
__ADS_1
Setelah menenangkan pikiran serta hatinya yang masih terpukul, Rama menyetujui untuk ikut pergi bersamanya.
"Besok abang akan ke sekolah untuk mengurus semua kebutuhan sekolahmu yang baru."
Rama mengangguk sembaru mengisak tangis masih dalam dekapan.
"Sekarang lebih baik kamu kemas seluruh pakaian dan apa saja yang ingin di bawa."
"Iya, Bang." Melepas pelukan berbalik menuju lemari pakaian.
Keesokan harinya.
"Bik tolong titip ya, nanti setiap bulannya akan ku kirim uang bersih-bersih." Menyerahkan kunci rumah ke pembantu yang baru saja Ray pekerjakan.
"Iya Pak."
"Kami pamit ya bik," sahut Alisa berjalan bersama Rama menuju mobil.
Hidup yang ia jalani terus memberikannya takdir yang tak bisa ia mengerti. ketika di dalam mobil, Ray menatap pilu sebuah rumah yang telah memberikannya arti kehidupan.
"Kapanpun kamu mau, Aku pasti selalu menemani kamu berkunjung kemari, Mas," ujar Alisa menggenggam tangan Ray masih menatap rumah tersebut.
"Makasih sayang." Tersenyum tipis mulai berjalan meninggalkan tempat tersebut.
Disisi lain Robi yang bertemu dengan Deki di sebuah cafe.
"Jadi apa rencana kamu berikutnya?" tanya Deki singkat.
"Aku masih kurang begitu yakin jika Leon kembali hidup. Tapi aku juga gak begitu tau latar belakang Ray ini siapa. Apa gak sebaiknya kita cari tau dahulu siapa sebenarnya anak ini? Setelah mengetahuinya, langsung membunuhnya," jelas Robi.
"Tunggu dulu, ketika Deny mengetahui Leon hidup, bukankah dia dan Edo harus mengurus kembali surat wasiat itu? Jika Ray terbunuh kembali, isi pewaris di dalamnya akan mengambang tak tentu arah bukan? Terus nantinya wariaan itu bakal jatuh ke seluruh panti-panti sosial," ucap Deki serius.
"Benar juga, mereka terlalu munafik sampai harus merubah isi warisan tersebut. Brengsek," kecam Robi mengepal tangan.
"Satu-satunya cara adalah, kita harus bekerja sama dengan pesaing kita selama ini," jelas Deki tersenyum picik.
"SASTRA GROUP?" sambung Robi memahami isi kepala Deki.
***
Sampai sini dulu ya kak ceritanya, boleh kritik saran jika berkenan untuk memotivasi author receh satu ini ya kak. makasih juga buat yang udah fav, komen, dan beri tips, kalian luar biasa.... kita lanjut.
__ADS_1