Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 17


__ADS_3

Sesampainya di kos, terbaring Ray di kamar.


Tak lama setelahnya..


Tok....tok...tok...


"Iya sebentar." Berdiri menuju pintu luar.


Ceklek (membuka pintu).


"Lah ada apa datang kemari kalian, kok pada bawa pakaian sebanyak ini, mau merantau ke Hongkong?" ujar Ray datar melihat Fendi dan Fii membawa banyak barang.


"Arhgg....biar hemat loh," jelas Fii berjalan masuk kedalam.


"Gini kan enak rame," sambung Fendi membawa seluruh pakaian masuk.


Tanpa banyak kata Ray membiarkan mereka masuk setelah menutup pintu kembali. Fii dan Fendi memutuskan untuk tinggal di satu kos dengan Ray.


"Kenapa muka kau lemes gelisah kayak gitu, Safii?" ucap Ray pada Fii melihatnya murung.


Fii hanya diam, seketika Fendi berbisik pada Ray, "Apa karena di tolak wanita?"


"Gak mungkin, dia selalu di tolak wanita dan dia baik-baik saja," balas Ray melirik Fendi.


"Oi, jangan membuat rumor aneh berdasarkan imajinasi kalian, dengar?" sahut Fii berbalik arah dan tertidur.


Saat Fii beristirahat tertidur dan Fendi menyusun pakaian di lemari sekaligus berbenah kamar, tiba - tiba terdengar suara wanita dari luar memanggil nama Ray berulang-ulang.


"Assalamualaikum mas Ray...mas..."


Segera Ray membuka pintu kembali dan...


"Yuli, kok bisa tau aku disini?"


"Iya maaf gak kabarin kamu sebelumnya, Aldo yang memberi tahu alamat kamu mas."


"Aldo, sejak kapan kenal sama Aldo?"


"Kenapa mas, kamu kaget ya? Dia juga tau aku dekat sama kamu meski kamu memiliki Alisa."


"Kok bisa seperti ini, apa yang bakal di lakukan Aldo nanti jika tau aku pernah berhubungan dengan Yuli. Ini gak boleh terjadi, jangan sampai Aldo memberi tahu Alisa tentang aku dan Yuli," pikir Ray saat menatap Yuli.


"Aku sudah bilang berapa kali sama kamu, Jangan pernah temui aku di sini!" Bentak Ray sedikit keras .


"Tapi kan wajar dong mas namanya juga kangen, gak boleh apa kangen sama kamu?"


"Eh ada cewe, suruh la masuk Ray kek mananya kau ini, cewek cantik kok di suruh berdiri di luar aja," sahut Fendi dari dalam ketika melihat Ray berdiri depan pintu bersama Yuli.


"Nanti malam kita ketemu dan sekarang lebih baik kamu kembali," jelas Ray kepada Yuli tanpa menghiraukan ucapan Fendi.


"Oke deh, aku tunggu ya nanti malam bye mas Ray," balas Yuli manja memegang dagu Ray bergegas pergi.


Setelah Yuli pergi, Ray kembali masuk ke dalam menghempaskan tubuh ke tempat tidur.


"Siapa itu Ray? Boleh juga dia punya body. Nemu di mana kau itu? Janda pasti dia ya?" tanya Fendi berdiri depan pintu kamar.


"Bukan siapa-siapa, gak penting juga di bahas Fen."


"Sini buat ku aja kalo gak mau kau, mana nomornya sini." Sembari menyodorkan ponsel miliknya.


"Nanti-nanti lah, capek aku mau istirahat dulu, udah kabari aja jandamu sana, udah beli susu buat anak belum? Aku mau tidur." Berpaling arah membelakangi Fendi.


"Eh Seloh la, goyang kali kayak stang becak abang pengkolan depan."


Sementara di sisi lain...

__ADS_1


***


"Aku udah berhasil mengejutkan si Ray, mas Aldo sesuai rencana kita. Nanti malam ia akan menemui ku," ujqr Yuli berbicara melalui ponsel dengan Aldo.


"Bagus, hebat kamu. Aku yakin, usaha kita malam ini gak akan sia-sia. Tapi kamu harus tetap hati - hati jangan sampai dia curiga kalau kita sedang merencanakan sesuatu," balas Aldo.


"Oke mas, ntar malam aku kabari kamu alamat lokasi kami bertemu dan jamnya."


***


Pukul 19:35.


"Kok gantian gelisah kau? lagi mikirin apa?" tanya Fii melihat Ray mondar-mandir kebingungan.


"Ada sesuatu yang mengganjal di pikiran ku, Fii."


"Apa itu? Udang rebus?" lanjut Fii.


Ray diam mengabaikan Fii penuh tanya dalam hati, "Kalau Yuli dan Aldo sudah mengenal, pasti mereka merencanakan sesuatu, itu pasti. Aku tau seperti apa sifat Aldo ketika memperebutkan tentang Alisa."


"Oh atau jangan-jangan itu tanda mau dapet bantuan dana dari pemerintah gak?" lanjut Fii kembali.


"Jangan canda dulu, serius ini beneran pusing aku. Pusingnya itu berasa kayak istri mau melahirkan, adik ipar pun melahirkan dan mertua juga mau melahirkan dalam waktu bersamaan," jelas Ray.


"Cewek yang tadi sore gimana Ray? kenalin lah sama kita-kita ini," sahut Fendi sembari asik bermain ponselnya.


Pikiran Ray berhenti sejenak, menoleh ke arah Fendi mendekati mengecup keningnya.


"Memang gak sia-sia kau di lahirkan di bumi ini nak, papa bangga. Besok papa teraktir makan gorengan sama kopi buk Ani ya," ujar Ray memegang kedua pipi Fendi.


Fendi terbengong melihat kelakuan aneh tersebut, "Gila kau ini, udah gak normal main kecup aja. Gak kau tengok ini di jidat ku tulisan nya? PT.janda makmur sentosa!" jelas Fendi mengangkat telunjuk tangan mengarah ke dahi.


"Kalian berdua buruan beres-beres, kita berangkat keluar untuk makan-makan. Nanti ku kenalin kalian cewek, cewek tadi sore Fen," balas Ray melirik ke arah Fendi mengangkat sebelah alis.


"Ambjir." Fendi bergegas mengganti pakaian.


"Ya sudah beres-beres la kau cepat, Bani israil," pekik Ray kembali.


19:50.


Dreettt...


"Aku sudah nunggu kamu di tempat yang kita janjikan mas. Kamu belum sampai?" Pesan yuli.


"Aku lagi di jalan," balas Ray singkat mengakhiri pesan tersebut.


"Udah siap ini, cek sound gas," ucap Fendi.


5 menit setelahnya mereka bertiga berjalan menuju tempat yang sudah di tentukan.


"Gila Fii, cewek yang datengin Ray tadi sore, Uh bahenol kali. Tapi ni anak malah ngusir gak di biarin dulu masuk. Udah gak normal mungkin ni anak," ucap Fendi ke Fii menunjuk Ray.


"Betol lah kau, nanti bongak mu aja? Kau itu apa, semua-semua kau bilang bahenol. Cocoknya di ruqyah kau ini, mesum aja isi kepalamu." Jawab Fii padanya.


"Emm... Timak - Timak (Bahasa kasar ).


kecil di suruh sekolah malah sibuk main layangan ya kayak gini, gak pernah percaya di kasih tau," gumam Fendi.


Ray tersenyum melihat dan mendengar mereka beradu argumen, sembari menyetir mobil dinas perusahaan yang mereka bawa malam itu.


20 menit kemudian akhirnya sampai di tujuan, keluar dari pintu mobil berjalan masuk ke dalam cafe.


***


Di sisi lain pandangan Aldo mengintai dari kejauhan, "Kok ramai- ramai begitu, apa dia sadar tentang rencana yang ku buat bersama Yuli? brengsik!"

__ADS_1


Mengepal tangan memukul pohon dari kejauhan,


"Tunggu saja Ray tunggu, kali ini aku biarin kamu lolos."


***


"Hai ....Maaf telat, jalanan macet," ujar Ray menghampiri duduk di meja bersama Yuli.


"Oh iya, kenalin ini kerabat kerja ku," lanjut Ray berucap.


Serempak jawab Fendi dan Fii dengan senyum manis, "Salam kenal."


Wajah musam Yuli terlihat jelas bahwa kejadian malam itu tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.


"Sepertinya dugaan ku benar, dia merencanakan sesuatu dengan Aldo," pikir Ray menatap Yuli.


Yuli berdiri langsung menarik Ray ke pojokan, "Mas, kok bawa teman sih, kan janjinya kita berdua saja. Kamu gimana sih, jadi males."


"Mereka ingin kenal kamu, lagian gak mungkin aku tingalin mereka dan asik sendiri," balas Ray menghela asap rokok.


"Iya tapi kan aku maunya kita hanya berdua biar bisa mesra, gimana sih kamu gak peka jadi cowok," jelas Yuli memeluk Ray bersandar di dada.


Tiba-tiba...


"Ray?"


"Yuli?"


Ray berbalik arah, "Ezza, kok kamu...?"


"Oh jadi begini ya selama ini. Kenapa kalian berdua berada di sini? kamu tau kan Yuli, perasaan ku ke Ray itu seperti apa? Selama ini semua rasa yang ku pendam pada Ray hanya kamu yang tau," ucap Ezza mengerut melihat mereka berdua.


"Kenapa Ezza bisa di sini, apa ini rencana Yuli? Tapi bahkan Yuli sendiri terkejut melihat kedatangannya," batin Ray sekejap.


"Ini gak seperti yang kamu lihat Zaa, kebetulan saja, ini tadi bertemu," sahut Yuli.


"Makasih ya sudah jadi sahabat terbaik," jegas Ezza begitu kecewa.


"Dan untuk kamu Ray, jadilah pria yang gak mudah jatuh hati. Kamu malah terkesan seperti pria murahan lainnya. Oh iya, anggap saja ini terakhir kali kita saling mengenal," sambungnya kembali.


Tanpa banyak kata Ezza pergi, tak lama setelahnya Yuli juga pergi karena kecewa malam itu tak seperti yang dia harapkan. Ray pun kembali menuju meja makan.


"Loh kemana Cihuwai tadi Ray?" tanya Fendi menoleh sisi kanan kiri.


Cihuwai (cewek).


"udah pergu ada urusan katanya. buruan pesan makannya, enakin aja malam ini."


Pelayan menghampiri, "Pesan apa abang-abang?"


"Ya biasalah mbak, yang mahal dikit. Jangan pernah kasih kawan-kawan ku ini makanan murah," ujar Fendi dengan candaan khas miliknya.


***


Di lain sisi...


"Sial, rencana ku berantakan semua,


malah Ezza nongol lagi," gerutu Yuli setibanya di kos.


"Arrrgghhh...!!!!"


"Tapi bagus lah. Dengan begitu aku hanya perlu menyingkirkan Alisa!" kecam Yuli menatap sinis kaca kamar.


***

__ADS_1


Makasih tetap mengikuti kisah ini kak.


Tinggalkan kritik saran beras batagor atau lainnya pada kolom komentar agar author satu ini bisa lebih baik dalam menulis karya baru. Hehehe...


__ADS_2