
"Kamu Leon bukan?"
Dihadapkan pada suatu pilihan yang sangat sulit, Ray mengiyakan hal tersebut karena terlalu memikirkan kemungkinan terburuk jika ia menyangga peryataan beliau.
"Maaf Om, Aku sedikit samar mengingat semuanya. Dokter bilang ingatanku tuk kembali seperti yang dulu mungkin tak akan berhasil," jelas Ray berbohong bermain peran.
"Mampus mampus, matilah ini. Tapi gak apalah, yang penting nyawaku selamat," batinnya melirik Novi.
"Lepaskan dia." Memberi perintah pada pengawal yang masih mendekap Ray.
"Syukurlah kalau kamu selamat," lanjut Ayah Novi memeluk Ray.
Novi yang saat itu juga menatapnya terlihat sedikit bingung penuh tanya, mungkin dia berfikir kenapa Ray harus berbohong.
"Novi, kenapa kamu tidak bilang dari tadi pada Ayah kalau kamu pergi bersama Leon? Jika kamu bilang dari awal pasti gak akan seperti ini," lanjut Ayah mulai tersenyum melenyapkan sisi kejamnya.
"Aku gak ingin membuatnya semakin sakit karena memikirkan hal yang berat, Ayah. Dia juga gak mengingat Leon itu siapa. Yang dia tau saat ini nama dia itu Ray," jelas Novi.
"Sebegitu parahnya derita yang kamu alami Nak? Malang kian nasibmu," pekik Ayah kembali menatap Ray menggelengkan kepala sembari tangan menyentuh bahu.
"Bagi Om dan Novi, Ini adalah kabar gembira. Saya akan mengadakan pesta besar untuk menyambut kembali kehadiran calon menantu Saya. Andai kedua orang tuamu masih hidup, mereka pasti akan sangat senang mengetahui kamu masih selamat," pungkas sang Ayah.
"Jangan Om!"
"Kenapa jangan?" tanya Ayah penuh heran.
"Aku gak ingat sama sekali kehidupanku di masa lalu. Saat ini aku menjalani kehidupan yang baru sebagai Ray, bukan Leon. Jadi aku harap om ngerti dengan apa yang aku alami," balas Ray.
"Ayah, dia bukan lagi Leon yang kita kenal dulu. Lebih baik mulai sekarang kita terima kehadirannya sebagai Ray," sahut Novi lembut mengusap bahu Ayah melirik Ray.
"Yasudah kalau begitu Ayah tunggu kabar baik dari kalian berdua. Kamu tau kan jika Ayah hanya percaya kepada satu lelaki, yaitu dia," balas Ayah menatap Novi menunjuk rendah Ray.
"Iya, lebih baik sekarang Ayah istirahat ya," ucap Novi merayu menenangkan pikiran sang Ayah.
"Kalau begitu aku ijin pamit pulang, Om."
"Kamu mau kembali?"
"Iya, Om."
"Boncel, Naga, antar dia, siapa...?"
"Ray, Om."
"Ha, antar Ray kembali, pastikan kalau dia baik-baik di jalan."
"Makasih Om sebelumnya. Tapi maaf om, Aku pulang sendiri aja gak apa-apa. Lagian gak enak ntar jadi ngerepotin."
"Tapi ini demi kebaikanmu, memastikan kamu selamat."
"Aku kan anak laki-laki om. Pasti bisalah jaga diri," balas Ray nyengir cengengesan.
"Kamu itu ya, dari dulu sifat percaya diri itu gak pernah hilang. Selalu mengingatkanku pada almarhum ayahmu. Yasudah kalau begitu besok temui om disini, ada yang harus om bicarakan sama kamu."
"Apalagi ini? Kok gak ada habisnya," pikir Ray sekejap.
"Iya om," singkat Ray pamit ke Ayah Novi, melambaikan tangan rendah ke Novi.
"Selamat, selamat," batin Ray berjalan keluar gerbang.
Setelah meninggalkan istana milik ayah Novi, langsung menaiki angkutan umum menuju kantor mengambil mobil.
"Kiri bang."
__ADS_1
"Oke."
"Ini bang." Memberikan ongkos.
"Makasih Bos. Medan, Medan, Medan." Berlalu pergi.
Ray berjalan mendekati posko security di pintu gerbang kantor.
"Malam pak, ada yang bisa di bantu?" sapa security berdiri menyambut Ray.
"Ini Pak, cuma mau ambil mobil itu." Menunjuk ke satu mobil parkir di halaman kantor.
"Oh iya, iya." Membuka gerbang.
"Udah ngopi belum ni, Pak?" lanjut Ray melirik pos.
"Itu barusan bikin, mau mampir gak biar di buatin nih?"
"Makasih pak, lain kali aja ya, udah kemalaman." Berjalan menuju mobil.
"Oke."
"Dapat surprise apa ya nanti dari Alisa," gumam Ray membuka pintu mobil segera masuk.
"Mari Pak," ucap Ray melambai tangan melewati gerbang.
"Yo hati-hati pak." Mengacungkan jempol.
Disisi lain kediaman Novi.
"Pantas selama ini kamu selalu memaksa memilih supir pribadi sendiri, gak pernah mau dari pengawal Ayah. Ternyata ada yang lagi mengingat masa lalu," ujar Ayah berjalan bersama Novi mengantar sang putri menuju kamar istirahat.
"Bukan seperti itu Yah, semua terjadi secara kebetulan."
"Kalau saja Ayah tau dia bukan Leon, pasti semua berbeda," pikir Novi singkat.
"Yasudah sebaiknya kamu beres-beres terus istirahat," lanjut sang Ayah.
"Iya Yah. Selamat malam Ayah." Mencium pipi Ayah.
"Malam Nak."
Ceklek....
Setelah mengganti pakaian, Novi membaringkan badan di ranjang tidur. Mengingat kembali seharian prnuh yang telah ia lalui bersama Ray, sesekali berhasil membuat perasaannya sangat bahagia.
"Ah, mana tadi ya." Mengambil ponsel membuka galeri foto.
"Nah ini dia." Melihat foto Ray yang ia ambil secara diam-diam ketika Ray masih tertidur.
"Kamu itu selalu saja buat aku senang. Kalau pas lagi tidur begini, wajah kamu, aeeah mau...." Masih memandang foto Ray.
"Selamat malam untuk kamu ya," ucap Novi mendekap foto Ray di dada sembari memejamkan mata.
Setibanya Ray di rumah pukul 00:17
"Sayang..."
Tok..
Tok...
Tok..
__ADS_1
"Sayang...."
Tok...
Tok...
"Kok gak ada jawaban? Apa udah tidur kali ya?"
"Say..."
Ceklek..
"Loh gak di kunci rupanya? bahaya kali," pekik Ray langsung masuk kembali mengunci pintu berjalan menuju kamar.
"Pasti kamar juga gak di kunci ini," lanjutnya berjalan menaiki tangga.
Ceklek..(Membuka pintu kamar).
"Nah bener, ini artinya Alisa udah gak marah. Tapi kok gelap ya? Mungkin sudah tidur kali ya?" batin Ray mengintip ruangan kamar cukup gelap.
Mengendap-endap masuk, menutup pintu cukup pelan berfikir agar tak membangunkan Alisa yang tertidur.
Cetek... (Lampu ruangan menyala).
"Enak ya jam segini baru pulang?"
Terkejut melihat Alisa berdiri di samping tombol lampu dalam sekejap cahaya lampu menerangi seisi ruangan kamar.
"Eh sayang, belum tidur ya? Kebetulan aku bawain sate kesukaan kamu ini, masih hangat loh."
"DARIMANA!!!!!!"
"Ini tadi beli di tempat langganan kok, bukan tempat yang lain, sate kesukaan kamu ini," jawab Ray menyodorkan ke Alisa.
"Bukan sate yang aku tanya, tapi kamu darimana jam segini baru pulang, hah!"
"Kan kamu tau kalau aku kerja sayang. Kamu juga tau sendiri kalau sekarang kesibukan aku semakin padat." Meletakkan sate di meja berjalan menuju lemari ganti pakaian.
"Kamu berubah ya mas, kamu udah berubah sekarang."
"Aku masih sama seperti yang kemarin sayang," melepas seluruh pakaian hanya mengenakan Boxer (kolor).
"Kenapa sih mas, kamu selalu terlihat menyembunyikan sesuatu dariku?" lirih Alisa.
"Aku gak sembunyikan apapun dari kamu Lisa, seharian aku beneran sibuk harus mengantar bos tempat ku bekerja ke sana kemari. Kamu tau sendiri saat ini posisi aku hanya seorang supir." Membaringkan tubuh.
"Dulu aja ketika kamu belum memiliki aku sepenuhnya, semua kamu perjuangkan. Sekarang setelah mendapatkan sepenuhnya, kamu bersikap biasa aja seakan aku terkesan bukan siapa-siapa kamu, Mas. Belum lagi tingkah kamu yang terlihat selalu menyembunyikan sesuatu dariku."
"Saat ini kita memang lagi gak ada masalah kan sayang? Kenapa sih harus bertengkar terus? Aku lelah seharian bekerja."
"Lelah? Gak ada masalah? Memang ya, cowok itu semua sama, egois gak peka perasaan wanita," pekik Alisa berjalan menuju luar kamar.
"Sayang tunggu, kamu mau kemana?" Masih berbaring melihat Alisa berjalan.
"Gak penting buat kamu aku mau kemana."
GEDER......
"Banting terus, lama-lama kan jebol pintu itu," sahut Ray nada sedikit keras.
***
Sampai disini dulu kak, jangan lupa Fav komen vote tips apalah itu semua bila suka ya, kita bakal tetap selalu update sampek tuntas ya kak. Makasih...
__ADS_1