
Perjalanan lancar seperti seharusnya. Seketika terhenti laju mobil saat Ray melihat Aldo berdiri di sisi kanan bersama dua orang pria berparas menakutkan.
"Aldo, ngapain dia disitu?" batin Ray melihatnya meninggalkan pertemuan dengan kedua pria tersebut.
"Ray, itu kan si Aldo, ngapain tuh anak kayak lagi ngobrol sama perampok. Udah gitu muka pada serem amat," ujar Fendi.
"Aku curiga ini sama dia, perasaan ku gak enak ini," sahut Fii.
"Halah, kau kebanyakan nonton sinetron," pekik Ray.
"Mana pernah aku nonton yang begituan."
Mereka melanjutkan kembali perjalanan tanpa mencurigai Aldo sedikitpun. Sesampainya di kantor langsung menuju ruangan kerja masing-masing menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.
Belum sempat duduk beristirahat dalam ruangan, panggilan telepon Alisa kembali masuk berniat memberitahukan Ray perihal pernikahannya.
"Mas, Ayah tidak akan membatalkan pernikahan kami meski berulang kali aku coba menentangnya."
"Kita hanya bisa pasrah kepada takdir, Alisa. Aku juga gak tau lagi harus berbuat apa," balas Ray mulai memahami situasi.
"Apa aku harus kabur dari rumah, Mas?"
"Kamu tidak perlu melakukan hal nekad seperti itu. Apa kamu pernah berfikir bagaimana perasaan ibumu jika kamu melakukan hal itu?"
"Jadi kamu menyerah, Mas? Hanya sampai di sini?" lirih Alisa nada bicara kian meredup.
"Beri tahu aku apa yang harus aku lakukan. Apa aku harus membunuh lelaki itu? Apa kamu setuju jika aku melakukan hal tersebut?" ujar Ray mengisyaratkan Aldo.
Tanpa menjawab peryataan Ray, Alisa menutup panggilan tersebut.
Ketika selesai menerima panggilan dari Alisa, Ray langsung menelpon keluarga dengan niat ingin berpulang kampung.
Sebelumnya ia telah memberi tahu Fendi dan Fii bahwa ia akan mengambil cuti pulang ke kampung halaman tepat disaat acara pernikahan Alisa tiba.
"Assalamualaikum Bu, gimana kabarnya?"
"Waalaikumsalam, Alhamdulillah sehat nak, kirain sudah lupa kamu. Hampir kemarin ayahmu pergi ke kantor desa untuk mencoret nama kamu dari kartu keluarga."
"Astaga, kalau nama ku di coret, Ibu bakal kehilangan anak paling tampan loh."
"Gak apa-apa, lagian masih ada Rama. Tumben telepon kemari, ada perihal apa ini?"
__ADS_1
"Besok aku akan kembali ke kampung. Aku ambil cuti untuk melepas penat bekerja."
"Oh bagus itu, Ibu gak minta oleh-oleh kok Nak, kalau kamu bawa ya Ibu ikhlas sih nerimanya."
"Yaudah kalau begitu aku lanjut nyiapin berkas lagi Bu. Sehat-sehat di sana ya."
"Kamu juga ya, baik-baik di sana, jangan lupa ibadahnya terus jangan pernah tinggal."
"Iya Bu."
"Oh iya satu lagi, tuperrware Ibu jangan ketinggalan."
Begitulah cara Ray berkomunikasi dengan orang tuanya. Bukan hanya sekedar hubungan orang tua dan anak, melainkan seperti apa cara ia mengenal lebih dalam sisi kedua orang tua tersebut.
Setelah menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, Ray beranjak menuju ruangan manager untuk permisi kembali lebih awal.
Tok tok tok....
"Iya, masuk."
"Permisi Pak, berkas yang bapak pinta sudah selesai. Karena sudah selesai, saya ingin permisi kembali lebih cepat untuk mempersiapkan kepulangan saya besok," ujar Ray berdiri di hadapan pemimpin.
"Yasudah jika semua sudah beres kamu bisa kembali. Hati-hati ya, salam untuk keluarga kamu di sana," jawab pak Taufik.
Ray beranjak kembali meninggalkan ruangan itu kemudian menemui Fendi dan Fii.
"Guys, Aku duluan ya, soalnya mau siap-siap dulu biar besok gampang tinggal berangkat. Soalnya tiket juga belum ku pesan."
"Yaudah hati-hati, kalau ada apa-apa langsung kabarin kami," sahut Fendi.
"Ah sayap."
Ketika Ray pergi meninggalkan Fendi dan Fii.
"Aku beneran gak tega liat sih Ray. Kalau aku yang berada di sisinya saat ini, entah apa yang bakal ku lakuin. Mengorbankan perasaannya tanpa memaksa takdir alam semesta," ujar Fendi mendongak.
"Sama Fen, aku juga mikir begitu. Tapi kita bisa apa? Kita gak mungkin ikut mencampuri urusan mereka," balas Fii.
"Apa kita gak bisa melakukan apapun sama sekali demi dia? Kalau di ingat-ingat, ketika kita lagi berada di posisi yang sulit, Ray selalu ada membantu," lanjut Fendi.
"Ya kita mau bantuin apa? Kan barusan kau bilang sendiri selama ini kita yang selalu minta bantuan darinya."
__ADS_1
"Ya Tuhan, hanya Engkau yang bisa memberi jalan terbaik bagi kisah hidupnya," pinta Fendi berdoa berharap walau secuil keajaiban datang menghampiri takdir Ray.
"Amin, yaudah kita lanjutkan selesain berkas ini biar bisa cepat menyusul Ray," sahut Fii.
Kembali ke Ray yang bergerak menuju stasiun kereta.
"Mungkin ini adalah akhir dari kisah petualangan ku berjuang mendapatkan kuasa atas hidupmu. Bukan maksudku ingin pergi menjauh darimu menghindari kenyataan pilu yang kita alami saat ini, melainkan aku baru mengerti jika garis tangan ini telah terhenti hanya sampai disini, Alisa," batin Ray menyetir mobil sesekali menyibakkan rambut.
30 menit berlalu, Ray yang telah sampai di stasiun kereta langsung berjalan menuju loket.
"Siang Bapak, ada yang bisa kami bantu?"
"Pesan tiket untuk keberangkatan besok hari, Mbak."
"Baik Bapak, silahkan di pilih jam dan tujuan keberangkatannya."
Selesai memesan tiket, Ray berjalan kembali menuju mobil.
"Besok adalah hari di mana kita akan berpisah untuk selamanya. Meski jiwa ini telah mati, namun tidak untuk cintaku. Janji ini akan selalu abadi hanya tercipta untukmu," batin Ray mengingat sedikit kenangan indah bersama Alisa sembari mengusap air mata yang telah terjatuh tanpa ia sadari.
Sebelum memasuki mobil, Ray melihat Yuli berjalan dari sedikit kejauhan, namun Yuli tak mengetahui keberadaan Ray sore itu.
"Yuli? Ngapain tuh anak muncul disini? Perasaan gadak yang bakar menyan," pekik Ray menoleh kanan kiri kembali memandang Yuli.
Ketika Ray ingin memalingkan pandangan dan segera masuk kedalam mobil mengabaikan Yuli, ia menyadari hal aneh membuntuti tepat di belakang Yuli.
"Siapa pulak yang sedang mengikutinya itu, kayak pernah lihat. Tapi dimana?" pikir Ray mengingat-ingat seseorang.
Ray terus mengingat sembari memperhatikan wajah kedua pria yang berjalan di belakang Yuli.
"Ah aku baru ingat sekarang. Gak salah lagi, mereka adalah pemuda yang baru saja Aldo temui. Tapi apa hubungan pemuda itu dengan Yuli? Apa iya sekarang Yuli udah sewa bodyguard?" ucap Ray penuh tanya.
"Bang permisi bang, bantu-bantu," ujar seorang anak kecil menarik lengan baju Ray mengulurkan tangan padanya.
"Makasih Bang." Beranjak pergi setelah Ray memberinya bantuan tuk membeli makan.
"Daripada penasaran, mending cari tau ajalah," pungkas Ray membatalkan niat masuk kedalam mobil, bergegas mengikuti Yuli dari kejauhan.
***
Sampai disini dulu kak akak, kita lanjutkan kembali esok pagi kalau gak kesiangan ya.
__ADS_1
Makasih buat yang udah baca terus ngikutin alur rengginang ini.. Tanpa readers, author hanyalah butiran upil. Hehehehe.....gas lah.