Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 14


__ADS_3

Orang pun datang dan akan kembali, kehidupan kan jadi,. (Getar nada panggilan ponsel Ray berbunyi, membangunkannya dari tidur pulas malam itu).


Meski mata masih terpejam, Ray mengangkat panggilan tersebut.


"Yo."


Tiba-tiba,.


"Aku batal menikah dengan tunangan ku, Stevan. Berarti sekarang Aku bebas dong untuk deket terus sama kamu, Mas."


Mendengar kabar itu, rasa kantuk yang Ray alami hilang dalam sekejap, ia langsung membuka mata dengan lebar melihat siapa yang menelpon memberikannya peryataan yang amat gila.


"Yuli," ucap Ray mengerutkan kedua alis.


Ntah apa yang Yuli rencanakan dan pikirkan saat itu. Baru pertama kali Ray melihat ada seorang wanita yang sangat bahagia ketika batal menikah, meski sudah lama bertunangan menjalin hubungan.


"Kamu gak sedih?" tanya Ray terduduk di atas tempat tidur.


"Untuk apa Aku bersedih, toh dengan begitu Aku bisa berusaha mendapatkan kamu, karena Aku terlalu menggilai dirimu, Mas."


Ray yang tak begitu mencintai Yuli mulai menjaga jarak dengan ambisi gila tersebut tanpa menyakiti. Ia menjalin kisah dengan Yuli hanya karena ingin tau seperti apa sensasi dari sebuah perselingkuhan.


"Kapan-kapan Aku main ya ke tempat kamu bekerja. Kalau masalah tidur, ntar di kos kamu aja Aku gak apa-apa kok," sambung Yuli.


"Em jangan, disini Aku inggal bersama teman kerjaku. Gimana ntar kata orang kalau melihat satu wanita dan empat pria tidur di dalam satu kamar kos?" ucap Ray berbohong mencegah niatnya menemui.


"Terus gimana dong, kamu gak lagi berbohong kan Mas? Kamu tau kan jika Aku gak mengenal kamu saat itu, Aku pasti sudah menikah dengan tunanganku. Perlu kamu tau, Aku masih merahasiakan semua yang kita alami ini dari Ezza loh," balasnya sedikit mengancam.


Dengan waktu bersamaan Suci juga memberi kabar lewat pesan bahwa ia akan melanjutkan kuliah di kota yang sama dengan tempat Ray bekerja.


Begitupun dengan Ezza, pindah tugas kerja di kota yang tak begitu jauh dari lokasi Ray tersebut. Ketiga wanita itu bagai rintihan hujan yang turun bersamaan membasahi bumi.


Mereka bertiga mengetahui alamat Ray bekerja itu hal wajar. Sebelum Ray memutuskan pergi, ia berpamitan dengan ketiga wanita tersebut.


Ketika panggilan Yuli usai, Ray bergegas menuju kamar mandi untuk berbenah diri. Ketika berada di kamar mandi, Ray terus melamun membayangkan hal buruk.


Setelah selesai mandi dan berbenah diri, ia langsung melanjutkan aktifitas berangkat ke kantor. Setibanya di kantor, rutinitas yang ia lakukan masih seperti biasa, tidak ada yang berubah.


Ketika jam istirahat kerja tiba, Ray kembali menuju kantin bu Ani. Sesampainya di sana, ia mendapati bahwa Dani sudah duduk di situ terlebih dahulu.

__ADS_1


"Bu biasa, kopi satu jangan manis jangan pahit," ucap Ray sedikit keras perlahan duduk di sebelah Dani.


"Cepat udah sampai sini duluan," lanjutnya ke Dani siang itu.


Dani adalah gambaran dari sebaik-baiknya pria. Bahkan dia tak pernah berpacaran dalam semasa hidup. Mengenal istri hanya satu minggu lamanya, kemudian memantapkan diri segera menikahi sang istri. Ibadah yang selalu tepat waktu, membuat Ray merasa seperti air dan api jika di banding dengannya.


"Gak, barusan aja," jawab Dani mengambil laptop di dalam tas kemudian meletakkan di atas meja kantin.


"Tau gak Dani, Aku merasa berdosa kali," cetus Ray menghisap rokok di tangan.


"Setiap manusia itu pasti memiliki dosa," jawab Dani mengelengkan kepala tersenyum tipis.


"Ya tau, tapi kelihatannya gak terampuni lagi yang ku buat ini," balas Ray mendongak.


"Ini dek kopinya. Sambil ngobrol, di minum biar lebih jos kayak Ibu gini, joss," sahut Bu Ani meletakkan kopi pesanan.


"Bisa aja Bu, makasih ya Bu," balas Ray kepada Bu Ani.


Bu Ani seorang janda, suaminya meninggal karena mengalami kecelakaan parah. Hal itu membuat Bu Ani harus bekerja lebih keras demi menghidupi kedua putra putrinya.


Meski memiliki 2 orang anak, Bu ani masih terlihat muda. Tidak heran bila banyak pelanggan kantin selalu menggodanya.


"Emang kau buat dosa apa? Dosa ngaku-ngaku jadi Tuhan?" ujar Dani kembali sembari tangan mengetik-ngetik sesuatu.


"Lah terus apa? Kalau berdosa ya bertaubat. Jangan menunggu gak berdosa baru datang kepada Nya. Tapi yakinlah bahwa dengan datang kepada Nya, dosamu akan di ampuni."


Dani seakan tau, dia langsung memberi saran untuk menghentikan Ray bercerita membuka aib sendiri.


Karena hal itu mungkin bagi Dani lebih baik jika hanya Ray dan sang kuasa yang tau atas apa yang terjadi tanpa harus menceritakan kepadanya.


"Setiap orang itu pasti pernah memiliki salah dan tingkat dosanya masing-masing Ray. Nah yang di garis bawahi itu bukan seberapa besar penilaian orang-orang terhadap kita, tapi apa yang akan kita buat di masa mendatang. Seperti halnya ketika Aku menceramahi Bernad karena dia gak pernah sholat sekali pun, itu kan kesalahan," sambung Dani mengangkat kedua tangan sejajar bahu.


"Ya iya kesalahan, kan dia non muslim. Kepercayaannya juga berbeda dengan kita, malah melawak." Kembali menyalakan api menghisap rokok di tangan.


"Ya intinya apapun kesalahan yang kau perbuat, itu pasti ada pertanggung jawabannya kelak. Tapi ingat bahwa, selain Maha pengasih dan Penyayang, Allah juga Maha Pengampun," jelas Dani sembari meminum kopi masih menatap laptop.


Ray hanya terdiam mendengar apa yang barusan Dani ucapkan. Kata-kata dari setiap kata yang Dani ucapkan memiliki maknanya tersendiri. Tak heran jika terkadang bulu-bulu halus Ray berdiri merinding mendengar ucapan darinya.


"Apa Aku salah ya? Bukankah suka kepada lebih dari satu wanita itu hal yang wajar?" tanya Ray dalam hati kemudian menoleh ke arah Dani.

__ADS_1


"Kamu lagi ngerjain apa sih, serius bener kelihatannya? Dari tadi ku liat cepat bener jari-jari itu bergerak."


"Biasa lah, lagi cari referensi buat event kita nanti. Tau sendiri kita di paksa bekerja bagai kuda."


Tak lama kemudian Fendi bergabung,.


"Dari mana kau Fen?" sambut Ray.


"Biasa, habis jumpai kenalan janda baru, mantul bener," jawabnya langsung memesan kopi.


"Astagfirulloh bani israil, kalo tak bilangkan pak ustad, udah pasti kenak tepok jidat kau itu," sahut Dani mengelengkan kepala menatap Fendi.


"Maklum la bos, kenakalan masa remaja ini, lajang bos lajang. lagian ni ya, coba bos pikirkan dulu, kalau menikahi janda terus ngasih nafkah, pasti banyak pahalaku, bener gak Ray?" jawabnya kepada Dani seraya menunjuk ke arah Ray mencari pembenaran.


"Masalah janda Aku gak ikut-ikut ah," sahut Ray.


"Iya kalau niat kamu bagus pasti pahala mu gede itu, tapi niatnya harus ikhlas bukan karena hal lain," balas Dani padanya.


"Ikhlas Aku loh, menikahi satu janda aja banyak pahala. Makanya ini Aku mau nikahin banyak janda, ha..ha..ha," jawab Fendi terbahak-bahak.


"Terkutuk lah kau wahai kaum kurawa," pekik Dani sebatas bercanda.


Orang pun datang dan akan kembali, klik. (Nada dering ponsel Ray).


Mengangkat telepon berdiri meninggalkan meja kantin, "Halo."


"Minggu depan Aku akan berangkat. Aku ingin bertemu kamu untuk merasakan hangatnya pelukan dirimu lagi," ujar Yuli dengan nada merayu.


Dengan cepat Ray langsung menutup telepon itu.


"Kenapa dia jadi segila ini sih, Aku harus apa?


Kalau dia nekad datang dan ketemu Aldo, bisa gawat ini," pikir Ray sembari menggigit ujung jari-jari tangan.


***


Sampai di sini dulu pemirsa mitra olahraga dimana pun kalian berada, jangan lupa buat kawan kawan dimana pun kalian membaca kisah ini, Fav apalah itu namanya semua sebagai wujud saling mendukung antar umat beragama juga sesama anak bangsa, makasih.


Kita lanjut..

__ADS_1


like, komen, Vote untuk tetap dukung karya receh author satu ini ya kakak..


Sankyuuu.....


__ADS_2