
Mengetahui kebenaran bahwa apa yang Yuli rencanakan berbeda hasil dengan akhirnya, ia pun kembali mencari informasi di mana korban tabrak lari itu di rawat. Menaiki sepeda motor setelah mengembalikan mobil milik bos tempat ia bekerja.
Setelah sampai di lokasi kejadian dan mendapat informasi dimana korban di rawat, Yuli bergegas untuk melihat kondisi Ray.
Sesampainya di halaman rumah sakit, bergegas menuju meja recepcionist "Permisi, ruangan rawat pasien yang baru mengalami kecelakaan dimana ya suster?"
"Sebentar ya, Bu." Melihat daftar nama pasien.
"Dengan pasien bernama Ray, betul?"
"Iya, suster."
"Saat ini pasien berada diruangan 179 dan sebentar lagi akan menjalani operasi jika keadaan memungkinkan."
"Makasih suster." Berjalan penuh gemetar mendekati ruangan rawat Ray.
Yuli tak begitu menyadari keberadaan Alisa walau jarak mereka begitu dekat. Pikiran Yuli terus dipenuhi penyesalan memikirkan apa yang telah ia lakukan. Sedang Alisa menunduk lemah di bangku depan ruangan menutup muka dengan kedua telapak tangan.
Dengan nada suara begitu kecil penuh penyesalan, banjir air mata Yuli tak terbendung ketika melihat Ray dalam keadaan kritis, "Mas, kamu harus bangun, kamu harus kuat mas."
30 menit sebelumnya Fendi dan Fii pamit untuk kembali masuk kantor memberitahukan keadaan yang Ray alami. Sementara Mia dan Erlin bergegas kembali menemui klien di perusaahan yang mereka pimpin. Begitupula dengan Aldo yang pergi menghilang tak percaya ingatan Alisa pulih. Hanya tinggal Alisa sendiri yang menunggu Ray saat itu.
Dokter tiba beserta keempat perawatnya menuju kamar rawat Ray. Setelah mendapatkan persetujuan, operasi akan di mulai.
Ketika sampai di pintu kamar rawat, Yuli menghentikan dokter untuk menanyakan sesuatu, "Dok sebentar, kenapa ini rombongan dok?"
"Hari ini operasi pasien akan di mulai, dengan keadaan seperti itu kalau tidak segera di tangani bisa berakibat fatal."
"Apakah sampai separah itu, Dokter? Bukannya kondisi pasien gak memungkinkan untuk menjalani operasi?"
"Maaf kami tidak punya banyak waktu. Kami harus segera memindahkan ruang kamar pasien, permisi."
"Maafin aku mas Ray, maaf," lirih Yuli mengisak tangis.
Mendengar suara tangis seorang wanita, Alisa menoleh ke arah tersebut. Itu kali pertama Alisa melihat seorang wanita yang begitu depresi selain dirinya. Jelas hal itu sedikit membuatnya bertanya-tanya dalam diri, siapakah wanita itu?
Dokter keluar dari pintu kamar, membawa Ray menuju ruangan operasi beserta para perawat.
Melihat Yuli mengisak tangis memegang erat tangan Ray, Alisa segera bangkit dari duduknya menyusul mendekati Ray yang masih terbaring tak sadarkan diri.
"Baik sampai di sini dulu, mohon silahkan menunggu di ruang tunggu yang telah kami sediakan," ujar salah satu perawat menghentikan langkah Alisa dan Yuli di depan ruang operasi.
Dengan mata berlinang, Alisa menanyakan sesuatu kepada Yuli, "Maaf kamu siapa ya?"
"Aku Yuli, kamu Alisa bukan?"
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa tahu namaku?"
"Aku mengetahui dari mas Ray, dia begitu mencintai kamu Alisa. Kamu wanita beruntung yang bisa memiliki cinta darinya. Tapi kamu jangan berbangga diri dahulu, karena aku begitu mencintai mas Ray dan gak akan pernah melepaskannya."
"Kenapa kamu begitu jahat sama aku, aku pernah berbuat salah apa sama kamu, Yuli?"
"Kamu gak salah apa-apa, yang salah itu Mas Ray, dia telah memberiku arti sebuah kebahagiaan."
"Kamu berbohong, mas Ray bukan lelaki murahan seperti yang kamu ucapkan, dia gak akan pernah menghianati hubungan kami, jaga mulut kamu!"
"Lisa, Lisa, kamu gak tau kan betapa depresinya mas Ray melihat kamu menjadi kekasih Aldo? Dasar wanita murahan, sudah beruntung dicintai eh malah berkhianat."
Plakkkkk.......(Tamparan keras Alisa membuat Yuli semakin menggila).
"Jaga ucapan dari mulutmu! Jangan menyebarkan gosip seakan-akan aku wanita yang buruk!" kecam Alisa.
"Heh wanita sialan! Kamu pikir aku bodoh apa bisa kamu bohongin? Kamu itu lebih memilih Aldo dibanding mas Ray, jangan berdusta! Sebaiknya kamu tanyakan Aldo sendiri," balas Yuli mencekik Alisa sekilas kemudian pergi meninggalkannya.
Uhuk uhuk.... (Batuk Alisa merasakan sakit sebentar di area leher).
Ceklek.....
Dokter keluar dari ruang operasi, Alisa berjalan menghampiri.
"Dokter gimana kondisi mas Ray, dia baik-baik saja kan dok?"
"Pasien mengalami pendarahan yang cukup banyak, saat ini pasien kekurangan darah, sedangkan stok darah di rumah sakit ini habis, jadi kami akan mencari donor darah terlebih dahulu, kemudian segera melanjutkan operasinya."
"Ambil darah saya sebanyak mungkin dokter, asal bisa melancarkan operasi mas Ray," ujar Alisa menangis kembali.
"Maaf sebelumnya Ibu, golongan darah pasien adalah O, apakah sama dengan Ibu?"
Alisa terduduk di lantai begitu mengetahui berbeda golongan darah dengan Ray.
"Kenapa kamu bisa seperti ini mas, kenapa!" teriak Alisa tak sanggup menahan kesedihan.
Dokter berjalan pergi meninggalkan Alisa yang masih meratapi kisahnya.
Disisi lain Aldo, sore itu di sebuah cafe.
"Apa yang harus aku katakan ke Alisa nanti masalah pertunangan ku dengan dia? Bagaimana kalau dia tau bahwa aku yang memanfaatkan tidak sadarnya itu dengan melamar agar bisa menikahi dia?"
Berfikir tenang, coba mengendalikan panik dalam diri.
"Gak, gak, aku harus tetep tenang gak boleh gegabah, semoga saja operasi Ray gagal dan dia mati. Terus Alisa bakal tetap memilih aku. Enak saja mau lepasin lagi setelah aku mendapatkannya.
__ADS_1
Lebih baik aku samperin saja sekarang."
Aldo bergegas menghampiri Alisa yang saat itu masih menunggu Ray terbangun dari tidur panjangnya.
Setibanya Aldo di rumah sakit, menghampiri Alisa.
"Lisa, kita pulang yuk. Kamu juga harus banyak istirahat." Merangkul Alisa.
"Jangan rangkul aku, apa yang telah terjadi pada kita Aldo? jawab! Apa yang kamu sembunyikan dari ku?" Tegas Alisa ekspresi penuh emosi.
"Lisa, ini semua terjadi begitu saja, aku pikir saat itu kamu gak kehilangan ingatan. Kamu mengigau memanggil namaku dan semuanya berjalan begitu saja, hingga kita bertunangan."
Plakkkkkk.........!!!
"Jahat kamu Aldo, kamu jahat, kamu manfaatkan kondisi aku, demi turuti ***** dalam diri kamu."
Tamparan keras Alisa justeu memancing emosi dalam diri Aldo keluar tanpa menyembunyikan sifat asli yang sebenarnya.
"Dengar ya Alisa, kita sudah bertunangan dan acara pernikahan kita gak akan aku batalin selama kamu belum bisa buktikan kalau aku bersalah. Jangan sampai penolakanmu itu membuatku melakukan hal yang lebih gila, ingat itu baik-baik!" Mencekan kedua sisi pipi Alisa menatap begitu dekat.
"Demi lelaki itu kamu sampai seperti ini? Pokoknya aku gak mau tau. Terserah kamu mau bilang apa tentangku, intinya pernikahan kita akan di gelar 2 minggu lagi," lanjut Aldo.
Dari kejauhan, Fendi dan Fii berjalan mempercepat langkah melihat Alisa berdebat hebat dengan Aldo.
"Cih, para sialan datang. Aku pergi dulu, jangan anggap remeh apa yang barusan aku ucap," sambung Aldo kemudian pergi.
Mendapat perlakuan kasar Aldo terhadap dirinya untuk pertama kali, Alisa terduduk lemah menangis.
"Kamu baik-baik saja kan Alisa?" ujar Fendi menyentuh pundak Alisa.
Tak berkata, Alisa terus menangis.
"Apa yang barusan Aldo lakukan sama kamu Lisa? dia gak sedang mengancam kamu kan?" sahut Fii.
Menghapus air mata sembari mengisak tangis, Alisa berbicara lemah, "Aku baik-baik saja kok, gak ada apa-apa antara aku dan Aldo barusan. Jangan khawatirkan aku, yang terpenting sekarang mas Ray membutuhkan banyak darah untuk melakukan operasi lanjutannya."
"Baik lah kalau begitu, Fendi akan antar kamu pulang untuk beristirahat, sisa nya percayakan sama kami ya Lisa, Ray juga bakalan sedih kalau liat kamu seperti ini, kamu juga harus sehat demi kebaikan dia." pungkas Fii.
Setelah memberitahukan golongan darah yang Ray butuhkan, Fendi bergegas mengantar Alisa pulang untuk beristirahat.
Dengan tubuh yang terlihat sangat lemah, Alisa memaksakan hati tetap tegar berdiri menjalani kisah rumit yang ia hadapi.
Disaat ingatannya tentang Ray kembali, dirinya kini berada dalam dekapan Aldo. Hatinya kian hancur setelah menyadari sebuah cincin putih melekat di jari manisnya.
***
__ADS_1
Sampai sini dulu kak akak. Fav, komen atau apalah itu oke sep lanjut. Makasih...